Dafa. Sejak mendengar cerita tentang pertemuan pertama Yani dengannya, entah kenapa pikiranku nggak bisa lepas dari cowok itu. Cowok perawat itu entah kenapa terlihat begitu mencurigakan. Sejak pertama kali aku melihatnya di halte dulu, aku memang sudah sudah mencurigainya. Dan sekarang, setelah aku mendengar ceritanya, aku makin curiga.
Mungkin jika cowok itu adalah teman kampus Yani, maka wajar jika dia bisa satu rumah sakit magang dengannya. Tapi cowok itu bukan teman kampus Yani, Bahkan Yani mengetahui kalau cowok itu adalah perawat ketika dia sudah mulai magang di rumah sakit. Ini lah yang juga membuatku merasa aneh.
"Ya. Setelah pertemuan pertama kami, aku juga sering bertemu dengannya tanpa sengaja ketika sedang di luar." jawaban Yani ketika aku bertanya, apakah dia bertemu sering bertemu dengan Dafa setelah itu. "Ketika aku sedang ke tempat penyewaan buku, kadang kami nggak sengaja bertemu di sana. Atau kadang dalam bus, ketika aku dalam perjalanan untuk pulang ke panti. Kadang ketika kami bertemu di bus, Dafa ikut sekalian ingin melihat panti."
"Dan di panti itulah Dafa bertemu dengan Kak Dewa." Lanjut Yani. "Ketika mereka bertemu, Kak Dewa terlihat sangat kaget dan langsung minta izin padaku untuk mengajak Dafa keluar dan berbicara berdua. Karena aku nggak mengerti urusan cowok, jadi ya aku biarain aja."
Dewa. Ternyata pria itu tahu sesuatu tentang si Dafa. Jika memang mereka nggak saling kenal, atau belum pernah bertemu sebelumnya, nggak mungkin Dewa sekaget itu sampai mengajak Dafa berbicara dengan pribadi. Sebenarnya siapa Dafa itu? Makin ke sini, cowok itu semakin mencurigakan.
Nggak tahan aku akhirnya menghubungi Bu Adisty, dan meminta tolong padanya untuk menyelidiki siapa itu Dafa.
"Nggak mandi?" pertanyaan Yani menyadarkanku.
Kami memang baru pulang dari dua pasar paling terkenal Di Maldives untuk membeli oleh-oleh. Sesampainya kami di resort, Yani memang ijin menggunakan kamar mandi lebih dulu, dia bilang kalau tubuhnya merasa gerah setelah berjalan-jalan malam di pasar yang ramai.
Dan selama menunggu Yani mandi itulah, sambil berbaring di ranjang, aku kembali mengingat ceritanya tentang Dafa hingga tak sadar kalau Yani sudah selesai mandi.
Makin ke sini, aku juga merasa makin aneh dengan Yani. Dari awal kami berjumpa stelah empat tahun, aku sama sekali belum bisa merasakan gerakannya dengan panca inderaku yang tajam ini. Padahal panca inderaku ini masih berfungsi dengan sangat baik jika untuk mendengar atau merasakan tentang orang lain. Tapi entah kenapa, aku nggak bisa merasakan gerakan istriku ini. Hanya satu yang bisa kurasakan, harum tubuhnya. Hanya itu, tak ada yang lain.
Jika dengan orang pada umumnya, aku bisa mendengar detak jantungnya, mendengar hembusan nafasnya, langkah kakinya bahkan setiap gerakan kecil dari orang lain aku bisa tahu. Cuma gadis ini saja yang nggak sanggup di tembus panca inderaku. Membuatku agak sulit untuk mendekatinya.
"Ariel." tangan Yani melambai di depan wajahku, mungkin karena aku nggak segera merespon pertanyaannya, Yani jadi berjalan mendekat padaku dan kembali menyadarkanku dengan cara melambaikan tangannya di depan wajahku. Padahal yang sebenarnya menyadarkanku itu bukannya lambaian tangannya, tapi aroma tubuhnya yang tercium semakin uat setelah dia mandi.
"Kamu nggak papa?" Tanyanya dengan mimik wajah khawatir.
Tidak. Aku tidak apa-apa. Rasanya aku ingin meledak gara-gara mencium aroma tubuhnya yang begitu memikat.
"Ariel." dan panggilannya terhenti ketika aku mendadak duduk dan tanganku dengan cepat meraih tangannya dan menarik tubuhnya hingga terjatuh di atas pangkuanku. Ketika tubuhnya terasa akan memberontak, aku segera mendekap erat tubuh yang hanya berbalut handuk kimono itu sampai Yani tak berkutik.
"Hei, lepaskan!"
Tapi aku nggak peduli. Mau Yani memberontak seperti apa pun, mau Yani berteriak sekeras apa pun, aku nggak peduli. Malam ini aku hanya ingin memeluknya seperti ini, kalau bisa aku ingin memilikinya malam ini juga. Bukannya Mama meminta kami untuk berbulan madu memang untuk itu kan. Untuk membuatkan cucu bagi Mama. Dan aku sudah nggak sabar ingin membuatkan cucunya Mama.
"Yan. Bukannya kita sudah terlalu lama menundanya?" tanyaku penuh mode.
"A-apa maksudmu?"
Jiah ... pura-pura nggak tahu dia. Dasar cewek!
"Bikin cucu buat Mama. Bukannya Mama menyuruh kita ke sini buat bikin cucu untuk Mama."
"I-itu ..." Yani kembali memberontak dalam dekapanku.
Jangan panggil aku Ariel jika ku nggak sanggup untuk menahan gerakan berontaknya dan meluluhkannya malam ini. Aku yakin, malam ini kami pasti bisa goal dan membuat cucunya Mama.
Tanpa bicara lagi, aku menjatuhkan tubuhku sendiri ke atas kasur dengan Yani yang berada di atasku. Tapi posisi itu hanya sekejab saja. Tak lama kemudian, aku menggulingkan tubuh Yani di atas kasur dan secepat kilat aku langsung naik ke atas tubuhnya dan langsung mengunci kedua tangannya dengan mengaitkan kedua tanganku ke jari-jarinya yang lembut.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanyanya kaget.
"Pemanasan."
"Memangnya ini olahraga?"
"Kan kita memang mau olahraga." balasku dengan senyum penuh kemenangan.
"I-itu kan beda." Yani mulai terlihat gugup, dan itu sangat menggemaskan.
"Apanya yang beda? Kan sama-sama bikin kita berkeringat." godaku. "Mau bukti?"
"Tapi a-aku ..."
Tapi kalimat Yani terpotong karena aku sudah membungkamnya dengan bibirku. Tak hanya membungkamnya, tapi aku juga menciumnya dengan penuh kelembutan.
Kenapa aku menciumnya dengan lembut? Bukannya menciumnya dengan kasar dan penuh hasrat?
Seperti kataku tadi, ini kan baru pemanasan. Dan aku ingin Yani menikmati setiap sentuhan yang aku berikan secara perlahan. Cuma masalahnya, situasinya agak berbeda dengan ciuman-ciumanku kemarin. Kali ini, Yani tidak terhanyut dengan ciumanku. Gadis ini malah berusaha mendorong dadaku agar menjauh darinya. Dan tubuhnya terus saja bergerak liar di bawah tubuhku, kayak belut kepanasan, yang meronta ingin segera lepas dari cengkraman. Apa Yani nggak sadar ya? Tindakannya ini justru malah makin memancingku ingin segera menerkamnya. Bagaimana tidak? Setiap dia menggerakkan tubuhnya, secara otomatis malah membuat tubuh kami saling bergesek. Apalagi gerakan memberontaknya ini terlalu fokus pada pinggulnya. Mungkin maksud Yani menggerakkan pinggulnya dengan sedikit keras itu, agar bisa lebih cepat lepas dari dekapanku, tanpa menyadari itu juga bisa menggugah si kecil yang masih tertidur pulas jadi terbangun.
Dan itu malah makin menyiksaku, karena aku masih berusaha menjaga ritme ciumanku agar tetap lembut dan biar nggak berubah jadi ciuman yang ganas. Tapi jika Yani terus menerus seperti ini, aku nggak akan bisa menahan diri lagi.
Untuk mengakalinya, akhirnya tanganku pun ikut bermain. dan itu berhasil.
Yani langsung terdiam begitu merasakan sentuhan tanganku yang ada di pahanya, mengelusnya dengan lembut dan sangat penuh perasaan. Sepertinya Yani mulai terbuai dengan sentuhan tanganku, tubuhnya terasa semakin menghangat di bawah tubuhku. Dan gerakan frontalnya yang ingin lepas dariku pun sudah usai. Dan aku semakin bisa mengfokuskan diriku pada ciuman lembutku dan juga usapan tanganku.
Tapi tanganku mulai nakal. Sekali merasakan kulit paha Yani yang lembut, tanganku seakan meminta yang lebih. Dan akhirnya, secara perlahan tanganku pun naik ke atas. naik dan terus naik hingga jari jemariku merasakan kain tipis di balik handuk piyamnya.
Semakin penasaran dan semakin nakal, tanganku pun memulai merayap ke area yani yang lebih sensitif.
Tapi sampai sini, aku merasakan ada hal yang agak aneh.
Kok rasanya tebak banget ya? Kayak ada yang mengganjal?
Dan ketika aku mencoba mengelusnya, mataku yang awalnya terpejam karena sedang menikmati ciuman, langsung saja terbelalak kaget. Tak tanggung-tanggung, aku pun langsung beranjak dan menjauh dari tubuh Yani. dan yani juga dengan perlahan kembali duduk dan menutup pahanya yang sempat tersingkap tadi.
Masih dalam kondisi agak syok, aku menatapnya, "Ka-kamu ..."
"Ya. Aku baru saja mendapat jatahku. Aku sedang datang bulan. Baru saja."
Ya Tuhan ...!
Kenapa deritaku tanpa akhir begini?
Gagal maning. gagal maning.