Setelah pembicaraan menjelang sore itu, sikapku memang aku rubah menjadi sangat perhatian dan lebih protektif lagi pada Yani. Apalagi sekarang kita sedang berburu belanja oleh-oleh di Maldives. Yani berkata, kalau dia ingin membelikan oleh-oleh untuk anak panti dan juag Bu kepala panti. Tak lupa, Yani juga ingin membelikan oleh-oleh untuk teman perawatnya. Dan tentu saja di antara teman perawatnya itu ada Dafa. Dan aku nggak terlalu suka itu. Tapi untuk saat ini aku nggak bisa protes. karena aku nggak ingin bertengkar lagi dengan Yani dan membuatnya menangis lagi. Jadi yang aku lakukan adalah memendam segala kecemburuanku pada cowok yang masih misterius itu.
Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah Chaandanee Magu. Chaandanee Magu adala tempat umtuk berburu oleh oleh khas Maldives yang cukup terkenal di kalangan para turis. Buktinya, malam ini, ketika Aku dan Yani berkunjung ke tempat ini. Tempat ini sungguh sangat ramai sekali dan berdesak desakan. Aku sampai kewalahan menjaga Yani agar tidak terpisah dengannya. Al hasil, aku menggenggam tangannya makin erat dan kadang memeluknya agar tubunya tidak di tabrak orang lewat.
Chaandanee Mago yang berlokasi di Pulau Male, kami bisa menemukan banyak kerajinan tangan yang terbuat dari kayu. Mulai dari anyaman tikar hingga miniatur miniatur lucu. Di sini Yani berbelanja banyak mainan miniatur, Dari super hero hingga mobil-mbilan. Semuanya di biin dari kayu, atau dari ayaman tangan. Yani berkata, kalau semua itu akan diberiaknnya pada anaka oanti.
Ah ... istriku ini memang lain dari pada yang lain. Dia selalu memikirkan orang lain lebih dahulu dari pada dirinya sendiri. Bahkan bisa jadi dia jarang memikirkan dirinya sebab pikirannya selalu tertuju pada anak-anak panti.
Setelah selesai di Chaandanee Mago, kami beralih tempat ke Majeedhee Magu. Majeedhee Magu yang berlokasi di Majeedhe Magu road, Male, Maldives. Di sana kami banyak menemukan penjual pernak pernik khas Maldives seperti pakaian, tas, jam tangan, hingga alat kosmetik khas wanita Maldives. Semuanya lengkap ada di sana.
"Kamu beli syal?" tanyaku ketika melihat Yani memilih syal di stand salah satu pasar.
"Ya."
"Buat apa? Di Indonesia kan nggak ada cuaca dingin ekstrim yang sampai harus memakai itu."
"Aku beli buat Dafa." katanya entang. Masih asyik memilih syal tanpa melihatku sama sekali.
"Buat apa kamu beliin kunyuk itu juga?" Tanyaku tak terima.
"Kunyuk yang kamu maksud itu adalah temanku yang selalu mendukungku ketika orang yang aku suka tidak peduli sama sekali denganku." Sindir Yani tepat di ulu jantungku. Membuatku terdiam tak bisa membantah lagi. "Jadi sudah sewajarnya jika aku berterima kasih padanya kan?"
Aku masih diam tak menjawab. Aku masih nggak suka dengan teman Yani yang bernama Dafa ini. Menyebut namanya, mengingatkanku ketika di halte bus, ketika dia dijemput mobil mewah. Di mataku cowok ini sangatlah misterius.
"Apa kamu sangat mengenal cowok yang bernama Dafa ini?" tanyaku penasaran.
"Apa maksud dari pertanyaanmu itu?"
"Maksudku, apa kamu kenal keluarganya? Kenal dengan ayah dan ibunya? kenal kerabatnya?"
Yani meletakkan syal yang sudah dipilihnya dengan jengkel. dan menatapku dengan sebal lagi. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Buat apa aku tahu tentang keluarganya? Toh aku kan cuma temannya. Kalau dia mau bercerita tentang keluarganya, maka pasti akan aku dengarkan. Tapi kalau dia nggak mau cerita tentang keluarganya, aku pun nggak bertanya. Dia juga nggak pernah bertanya apapun tentang kepridabianku atau pun ayah dan ibuku. Kami menjalani pertemanan kami seperti itu. Hanya ada kami tanpa harus memusingkan bagaimana latar belakang kami. Lagi pula aku nggak menjalin hubungan serius dengannya, jadi menurutku kenapa aku harus terlalu kepo dengan kehidupan pribadinya."
Yah, betul juga apa yang dikatakan Yani.tapi tetap saja aku merasa kurang nyaman dengan cowok itu. Apa ini karena rasa cemburuku yang terlalu besar?
"Tapi sepertinya dia tahu tentang kita. kamu ingatkan kan ketika aku menyebutmu sebagia istriku aku langsung dihajarnya hingga babak belur?" akau masih belum menyerah. Aku masih harus tahu siapa Dafa ini sebenarnya.
Yani kembali memilih syal. Di tangannya kini ada dua warna syal. Di tangan kanan warna merah, dan di tangan kiri ada warna hijau. "Bagus yang mana?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Yani malah memintaku untuk memilih warna syal untuk si b******k itu.
"Ijo." jawabku cuek.
"Kalau gitu aku ambil yang warna merah." Putus Yani.
Terus kenapa tadi minta pendapatku segala kalau sudah punya keputusan sendiri? jeritku dalam hati. Grundel setengah mati.
Gadis itu lalu berjalan menuju kasir sambil menjawab pertanyaanku tadi. "Kalau tentang Dafa yang tahu hubungan kita itu, kayaknya karena kak Dewa. Mereka pernah bertemu dan saling cemburu. Awalnya mereka berdua juga kayak kalian, berantem. Tapi pada akhirnya keduanya malah akur dan saling menjagaku bergantian. Aneh kan? kemungkinan Dafa tahu hubungan kita karena di beri tahu Kak Dewa. Soalnya aku nggak pernah cerita."
Sial ... dasar si Dewa emang ember.
"Lalu bagaimana kalian dekat. Apa kalian satu kampus atau gimana?"
"Nggak. Aku tahu kalau Dafa juga seorang perawat itu juga baru-baru ini. Ketika kami sama-sama magang di rumah sakitmu." jawab Yani setelah membayar syal di kasir.
Kenapa sampai sini kok aku makin curiga pada Cowok bernama dafa ini ya? Batinku merasa makin nggak nyaman.
"Lalu bagaimana pertama kali kamu ketemu dengan Dafa?" tanyaku lagi.
Kami keluar dari toko syal berbarengan. dan kembali menyusuri pasar dengan berjalan beriringan.
"Kamu tahu kan, kalau selama ini aku tinggal di panti?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Nah waktu itu, ada salah satu anak panti yang sakit hingga harus di bawa ke rumah sakit. Karena nggak ada yang bisa membawanya, akhirnya aku lah yang membawanya." Yani berhenti sejenak. Tampak mengingat-ingat kejadian bebarapa tahun yang lalu. "Waktu itu sudah tengah malam. Nggak ada bus dan aku juga nggak dapet taksi. Sedangkan bocah yang aku gendong di punggungku, semakin menggigil. Aku akhirnya melompat ke tengah jalan dan menghentikan segala mobil yang melintas."
"Apa? Melompat ke jalan raya?' tanyaku sedikit syok.
yani mengangguk mantap. "Ya. Karena aku nggak bisa memikirkan jalan lain. Jadi aku melakukan apa pun yang aku bisa. Dan ternyata mobil yang aku hadang itu adalah mobil dafa."
Oh jadi begitu ceritanya. Lumayan romatis juga sih. Apa karena kejadian itu, yang memperlihatkan sisi kepedulian Yani pada bocah yang sakit itu, yang bisa meluluhkan hati Dafa?
"Dan itu adalah pertemuan pertama kami. Dan sejak itu pula kami mulai dekat. Yah cuma itu saja sih."
'Cuma itu saja' kemungkinan hanyalah perasaan Yani. Beda dengan Dafa. Sepertinya pertemuan pertama mereka sangat berkesan untuk cowok itu hingga dia masih mengejar Yani walau tahu kalau yani sudah punya istri. Aku yakin itu.