36. Kesempatan

1425 Kata
Setelah kami berpisah dengan Dewa di pantai tadi siang, kami langsung kembali ke resort. Yani yang minta. Sepertinya moodnya langsung buruk setelah bertemu Dewa tadi. Sejak kembali, gadis itu hanya duduk di kursi kayu di teras resort sambil memandangi air laut. Aku menghampirinya, menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang aku ambil dari ranjang. "Dingin." kataku. Dan tak ada tanggapan dari gadisku ini. Dia hanya merapatkan selimut ke tubuhnya, matanya tak lepas dari panorama indah yang terbentang di hadapannya. Tak ingin mengganggu perasaannya yang campur aduk, akhirnya aku hanya duduk di samping Yani dan mengikuti apa yang dilakukannya. Memandang ombak air di kejauhan sana. Tapi pikiranku mengelana ke kejadian tadi siang ketika Dewa pamit pergi. "Kakak mau ke mana?" tanya Yani ketika Dewa menghampirinya setelah menyelesaikan percakapan denganku. "Pulang. Aku ke sini hanya untuk memastikan kalau kamu tidak terluka lagi. Dan berharap kamu akan bahagia." "Apa Kak Dewa menyusul kami ke sini?" "Walau aku malu untuk mengakuinya, tapi memang itulah yang aku lakukan. Aku memang mengikuti kalian sampai ke sini karena khawatir. Aku sangat kekanak-kanakan sekali ya?" Dewa terkekeh sendiri. Menyadari tindakannya yang bodoh. Berarti tebakanku kalau si Dewa mengikuti kami sampai sini, itu memang benar adanya. Cuma yang belum aku tahu, sebesar apa rasa sukanya pada Yani sampai dia melakukan hal ini? Yah ... walau kuakui pasti rasa sukanya lebih besar dari pada aku sih. Tapi aku tetap optimis kalau Yani akan tetep memilih aku. Yani tidak sanggup menjawab. Gadis itu hanya menggeleng dengan maa yang kembali berkaca-kaca. "Jangan nangis!" pinta Dewa. "Kamu tahu sendiri kan, aku paling lemah dengan air matamu." Mendengar perkataan Dewa, Yani bukannya berhenti menangis. Air matanya malh menetes membasahi pipinya. "Hei ... jangan menangis, Sayang!" Dewa sekarang mengusap air mata gadis itu. Mendapati sikap Dewa yang sangat perhatian padanya, Yani bukannya berhenti menangis tapi makin terisak-isak. "Apa kamu belum mau berpisah denganku?" tanya Dewa, masih dengan tangan yang sibuk mengusap pipi Yani. Gadisku itu mengangguk. Dan entah kenapa, melihatnya mengangguk kayak gitu, hatiku seperti ada sesuatu yang mencubit. Sakit. "Lalu apakah kamu mau mempertimbangkan untuk hidup denganku?" Yani yang kaget, hanya menatap Dewa dengan penuh keraguan. Bukan hanya Yani yang kaget, aku pun kaget dengan pertanyaan Dewa. Bagaimana cowok itu bisa bertanya seperti itu ketika aku berada di dekat mereka? Tapi Yani kali ini tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap Dewa tanpa menggeleng atau pun mengangguk. "Ah ... ternyata seperti itu." Nada suara Dewa kini seperti orang yang kecewa. "Tapi walau pun begitu, dari dulu hingga sekarang, aku akan terus menghormati keputusanmu. Walau kamu sudah menolakku hingga berkali kali pun, aku akan tetap menghargai semua ketetapan prinsip dalam hidupmu. Karena memang sebesar itulah rasa sukaku padamu." Dewa kini ganti mengelus kepala Yani. "Selama aku masih sanggu menunggumu, maka aku akan menunggu jika kamu belum bisa bahagia. Jadi jika akan sedikit bersiap egois kali ini. Jika kamu ingin meninggalkan Ariel, datanglah padaku. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu." Cowok itu sekarang memeluk Yani. "Andai kamu mau, aku bisa membahagiakanmu dengan seluruh rasa sayangku padamu. Tapi jika kebahagiaanmu bukan ada pada diriku maka aku harap, dengan siapa pun itu, kamu akan selalu bahagia di mana pun kamu berada." Setelah berpesan panjang lebar seperti itu, akhirnya Dewa pamit pulang apada Yani dengan meninggalkan sebuah kecupan di dahinya. Sungguh, andai tadi bukan suasana yang sedih mendayu, ingin sekali aku menonjok Dewa yang lancang sudah mencium istri orang seenaknya. Aku aja belum pernah mencium keningya kok, malah dia yang udah nyosor duluan. Yah .. walau aku udah nyium bibirnya sih. Tapi kan keningnya belum. Dan gara-gara perpisahan tadi mood istriku jadi hancur kayak gini. Dia sama sekali belum berbicara sepatah kata pun setelah kami sampai di kamar inap di resort kami. "Yan." panggilku. Tapi Yani masih bungkam. "Apa kamu akan seperti ini terus? Nggak mau bicara padaku?" Belum ada sahutan. "Apakah kamu menyesal karena tadi nggak ikut Dewa saja dan masih bertahan di sini denganku?" Aku nggak tahu salahku di mana bertanya seperti itu. Setelah kalimat pertanyaan terakhirku tadi, Yani memang lah merespon. Tapi responnya itu yang bikin aku bingung. Yani tiba-tiba saja langsung menatapku tajam dengan sorot mata terluka dan begitu merasa hina Apa? Ada apa? Apa aku salah? "Setelah semua yang aku lakukan, setelah semua penantianku. setelah semua cerita yang kamu dengar, kamu masih tega bertanya kayak gitu padaku?" tuntut Yani sedikit histeris. Pertanyaanku sepertinya melukai hatinya. Dan sepertinya memang seperti itu. "Apa kamu begitu nggak sukanya padaku hingga kamu seakan mendorongku pada Kak Dewa?" Aku segera menggeleng mendengar pertanyaan Yani. Sepertinya gadis ini salah paham. Atau pertanyaan terakhirku yang membuatnya salah paham? "Tudak. Bukan begitu." sahutku cepat. "Aku bukannya mendorongmu untuk pergi ke pelukan Dewa, Bukan seperti itu." "Lalu, apa maksudmu dengan aku menyesal tidak ikut Kak dewa tadi?" "Itu ... itu ..." Dan kini, Yani menangis lagi. Jika tadi dia menangis karena akan berpisah dnegan dewa. sekarang tangisannya kali ini di karenakan terluka dengan ucapanku. "Apa kamu tahu, kenapa aku menangis histeris ketika pertama melihat Kak Dewa tadi?" Aku diam. Tak menjawab pertanyaan Yani. Karena aku memang nggak tahu apa jawabannya. "Karena, ketika kita akan bertemu setelah perpisahan empat tahun itu, aku sudah menyakiti Kak Dewa yang selama ini selalu ada di sisiku." Yani kembali bersikap histeris dan emosi. "Aku bilang padanya untuk tidak menemuiku lagi. Aku bilang padanya agar tidak mencariku lagi. Aku bilang padanya, kalau aku akan hidup bersamamu dan aku nggak mau bertemu dengannya lagi. Dan kamu ... apa kamu tahu kenapa aku melakukan itu?" Yani bertanya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. "Apa kamu tahu kenapa aku betsikap jahat pada Kak Dewa, padahal dia sangat baik dan selalu menemaniku selama ini? Apa kamu tahu, kenapa aku begitu kejam pada Kak Dewa yang tidak punya hubungan apa-apa denganku tapi dia selalu berusaha ada untukku? Apa kamu tahu kenapa?" Yabi terdiam sejenak. berusaha untuk mengatur napasnya sendiri karena terpotong-potong sebab tangisannya. "ITU KARENA KAMU." Lanjutnya berteriak histeris dan menudingku. "Itu semua karena kamu. hiks. hiks. Kamu lah penyebab kenapa aku sampai menyakiti pria yang sangat baik itu. Hiks. Hiks. kamu lah alasan kenapa aku begitu tanpa perasaan mengusirnya dari hidupku. Itu semua karena kamu. Karena aku nggak ingin kamu salah paham ataa hubungan kami. Karena aku nggak ingin kamu berpikir kalau aku berhianat darimu. Karena aku nggak ingin kamu menilaiku buruk. Itu semua aku lakukan untukmu. Dan sekarang, kamu, dengan entengnya malah bertanya padaku, apa aku menyesal nggak ikut Kak Dewa tadi?" Aku diam. Aku sadar. Aku sangat sangat salah. Ternyata, walau aku sudah banyak dengar cerita tentang masa penantian Yani dari versi banyak orang, ternyata itu belum semuanya. Masih banyak penderitaan Yani, yang harus dia tanggung untuk menjaga hubungan kami. Untuk menjaga pernikahan kami. Untuk menjaga rasa cintanya pada suaminya yang b******k ini. "Kini aku baru tahu jawaban yang seharusnya aku jawab tadi." Nada Yani kini tiba-tiba berubah tenang. Tak sehisteris tadi, tapi yang ini malah membuatku takut. "Seharusnya aku ikut Kak Dewa tadi. Seharusnya aku setuju dengan tawarannya hidup bersamanya. Seharusnya aku menyukainya karena dia menyukaiku. Tapi aku lah yang bodoh. Yang masih saja hanya menyukai satu pria dalam hatinya. Padahal pria itu sama sekali nggak peduli pada perasaanku." Yani membuka selimut yang aku pakaikan padanya dan meletakkannya di sofa begitu saja dan berdiri, menatapku yang menunduk karena aku amsih duduk di sofa teras. "Jadi buat apa lagi aku mempertahankan hubungan yang timpang ini. Sebenarnya aku sudah tahu kalau mempertahankan hubungan dengan satu tangan saja pastilah berat. Tapi aku percaya diri bahwa aku pasti bisa. Tapi sekarang sudah tidak yakin. Mungkin sebaiknya kita memang harusnya berpisah." Yani mulai berjalan melangkah akan meningalkanku t*i aku segera menangkap lengannya. "Tidak!" cegahku. "Tolong jangan bicara seperti itu! Oke. aku lah yang salah. Aku berbicara tanpa berpikir lebih dahulu. aku lah yang berbicara seenaknya tanpa memperduliakn perasaanmu. Dan aku emminta maaf atas semua hal itu. Tolong maafin aku Yan. Tolong maafin aku!" Yani masih bergeming. Air matanya masih menetes tapi kini sudah tidak terdengar isaj tangisnya sama sekali. Gadis ini seakan sudah membeku. Seakan sudah kebal denga permintaan maafku. Aku menggengam tangannya makin erat. "Yan! Aku mohon, maafkan aku dan tolong beri aku kesempatan lagi untuk berbuat baik padamu. Dan tolong ijinkan aku belajar untuk mencintaimu. Aku ingin bisa mencintaimu seperti kamu yang begitu setia dan hanya mencintaiku. Tolong ajari aku agar aku bisa membalas rasa sukaku untukmu. Tolong beri aku satu kesempatan lagi, Yan! Aku mohom! aku mohon beri aku kesempatan lagi untuk mmeperbaiki hubungan kita, Aku mohon, Yan! Please!" Dan aku, di sini, masih merintih meminta kesempatan lagi pada Yani sambil menggenggam makin erat erat dan erat lagi pada tangan Yani. Seperti seorang cowok yang sangat takut kehilangan kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN