35. Pesan Dewa

1543 Kata
"Kak Dewa." Rintih Yani dalam dekapan Dewa. Gadis itu masih menangis. Seakan baru saja menemukan seseorang yang yang begitu dirindukannya. "Kak. Yani kangen banget sama Kakak. Kangeennn banget." Lah. Tebakanku kok benar? mereka berdua ini sebenarnya punya hubungan apa? Dan ngapain juga Dewa ada di Maldives? Apa dia menguntit kami sampai sini. "Kakak juga. Kakak juga kangen banget sama Yani. Maafin kakak ya Yan, Kakak benar-benar minta maaf." Kini keduanya malah menangis bersamaan hingga sesenggukan. Jiah, kenapa aku merasa di kacangin ya? Asyem memang! *** "Jadi apa hubungan kalian?" tanyaku ketika kami berada di pinggiran pantai dekat dengan restoran tempat kami makan siang tadi. Aku dan Dewa duduk di pasir pantai yang putih, memandang Yani yang sedang bermain air laut sendirian agak jauh dari kami. Aku lah yang memintanya. Aku menyuruh yani untuk menjauh sebentar dari kami, memberikan kami privacy untuk bicara berdua saja sebagai sesama pria. "Seperti yang lo dengar tadi, gua Kakaknya." Dewa menjawab acuh tak acuh. "Lo pikir gua bodoh? Lo pikir gua percaya kalau lo cuma nganggep Yani adik?" "Lalu apa mau lo sebenarnya?" Dewa menatapku sedikit emosi. "Bukannya sekarang Yani sudah hidup dengan lo setelah lo mencampakannya dengan begitu sadis? Dan sekarang lo mau mencurigainya hanya karena dia memanggilku kakak dan menangis dalam pelukanku? Apa lo emang masih sebrengsek itu?" Aku diam. Tak menyangka kalau Dewa akan seemosi ini. Bocah ini dulu tidaklah gampang marah kayak ini. "Apa lo menyukai Yani?" "Ya." Dewa langsung menjawab tanpa berpikir lebih dulu. Dan itu agak membuatku kaget. "Lo bilang dengan segampang itu kalau lo menyukai Yani, bahkan pada suaminya sendiri?" "Memangnya kenapa?" Cowok itu kembali menatap laut lepas yang berada di depan kami, atau lebih tepatnya menatap Yani yang bermain air laut di depan kami. "Toh suaminya b******k dsn meninggalkan gadis secantik itu sendirian." "Kenapa lo blak-blak an kayak gini? Pakai perumpamaan kek biar gua nggak terlalu merasa bersalah." Dewa menatapku dengan mata menyipit. "Lo bisa merasa bersalah juga?" "Apa lo kira, sekarang gua hidup dengan Yani tanpa ada rasa bersalah sama sekali? Walau mungkin nggak besar, aku masih punya sisi kemanusiaan yang membuatku merasa bersalah padanya." Dewa kembali lagi menatap Yani yang menendang-nendang air secara nggak jelas. "Oke. Aku percaya." Lalu kami diam. Aneh, padahal dulu kami sangat akrab dan sangat dekat. Tapi entah kenapa kini seperti ada rasa canggung yang menggelayut di sekitaran kami. Membuat kami agak bingung ingin memulai percakapan lagi. Dan semua itu terjadi empat tahun lalu, setelah aku kembali pulang dari desa pedalaman tempat asal Yani. Sejak itu, kami sama sekali tidak berhubungan. Bukan. Bukan begitu. Dewa sama sekali nggak mau menerima usahaku untuk menghubunginya. Dia menjauhiku. Dan aku tahu alasannya. Cowok itu marah padaku sekaligus merasa bersalah pada Yani. Dewa berpikir, jika saja dia nggak mengajakku pergi ke desa itu, maka Yani nggak perlu mengalami penderitaan ini. Dia nggak perlu mempunyai suami b******k kayak aku. Lalu jika dia masih berada di desa itu, apakah dia akan bahagia dinikahi oleh Pak Tua tukang tanah itu? Dan pertanyaanku itu terjawab langsung olrh pikiranku sendiri. Jika seumpama Yani jadi menikah dengan Pak Takur, paling nggak, dia nggak akan merasakan rasanya ditelantarkan oleh suaminya. Walau Pak Takur memang punya banyak istri, pria tua itu juga terkenal memperhatikan semua istri-istrinya. Ah ... kenapa di sini aku sekan jadi pemeran antagonisnya ya? Kayak aku yang jahat saja. "Wa, apa selama ini lo yang jagain Yani?" tanyaku tanpa menatap Dewa. "Nggak. Yani menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik. Tanpa aku jaga pun dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri." "Mau kah kamu cerita?" pintaku. Aku tak mendengar jawaban Dewa sama sekali. Tapi aku mendengar helaan napasnya yang seperti tertekan. "Aku ingin mendengar kisah Yani selama aku telantarkan, agar rasa bersalahku semakin besar. Jika rasa bersalahku semakin besar, kemungkinan aku akan lebih keras lagi untuk minta maaf pada Yani dan mencoba mengobati lukanya. Luka yang disebabkan oleh keegoisanku." Dewa kembali menghela napas lagi lalu mulai bercerita. "Ketika gua liburan dari tempat tugas. Yang pertama kali gua lakukan adalah mencari Yani. Gua nggak langsung nyari lo di rumah sakit. Tapi gua nyari lo ke rumah lo. Tapi kata Nyokap lo, lo udah mulai tinggal sendiri di apartemen dan nggak mau serumah dengan Nyokap lo lagi. Lo beralasan kalau lo pengen hidup mandiri dengan mencoba hidup sendiri." Dewa berhenti sebentar, menatapku dengan tatapan yang aneh. "Tapi gua kenal lo. Alasan lo itu sama sekali nggak bisa di terima. Mungkin jika alasan lo ingin pisah rumah sama Nyokap lo itu karena ingin bebas atau ingin mencoba hidup dengan Yani, aku bisa percaya. Tapi alasan lo itu bikin orang bertanya-tanya. Apa yang lo lakuin sebenarnya?" Setelah bercerita dengan sedikit menggebu-gebu gitu, Dewa kembali menatap Yani di kejauhan. "Akhirnya gua tanya tentang Yani pada nyokap lo." "Apa?" Aku kaget. Sangat-sangat kaget. "Jadi Nyokap gua tahu tentang Yani gara-gara lo?" "Nggak." Dewa menjawab santai. "Bahkan sebelum aku bertanya pun Nyokap lo udah tahu tentang Yani." "Berarti yang ngasih tahu Nyokap gua pasti Bu Adisty." tebakku. Siapa lagi kalau bukan sekretaris ibu itu. yang tahu tentang aku dan Yani kan cuma Dewa dan Bu Adisty. "Lo kira Bu adisty akan menuruti kemauan lo yang seenaknya itu. Beliau kan tangan kanan Nyokap lo. Otomatis apa pun yang lo lakuin tentu saja dilaporin ke nyokap lo?" Dewa bersidekap. Dari nadanya cowok itu merasa sangat puas melihatku dihianati oleh sekretaris Mamaku itu. "Seneng lo?" sindirku nggak suka. "senang lah." "Dasar teman laknat." Tanpa sadar, seperti kembali pada masa-masa di mana kami dulu akrab. Tanganku langsung terulur untuk memiting leher Dewa dan tertawa keras. Setelah beberapa menit tawa kami pun reda dan kembali duduk bersisihan. Tapi kali ini tanpa jarak. "Lalu gimana ceritanya lo bisa akrab sama Yani?'' tanyaku melanjutkan interogasi tebtabf meraka. "Yani pernah mencari lo satu kali." Dewa melanjutkan ceritanya. "Dan dia pulang dalam keadaan terluka dan menangis. Di saat itulah gua datang menemaninya." Apa yang Dewa maksud itu adalah ketika Yani menangkap basah aku ke diskotik dulu saat pertama kali? Sepertinya begitu. Karena dari cerita yang aku dengar, cuma sekali itu saja Yani mencariku dan nggak pernah mencariku lagi. "Waktu itu, setelah gua tahu kalau Yani tinggal di panti asuhan, gua langsung menyusulnya ke sana. Dan ketika gua tiba di sana, gua ngelihat Yani menangis sambil berjongkok di depan gerbang panti asuhan. Ketika gua deketin dia, Yani langsung bisa ngenalin gua sebagai dokter tugas di desanya." Dewa terdiam sejenak. Seakan mengenang bagaimana pertemuan mereka yang sama sekali nggak menyenangkan. "Ketika gua tanya dia kenapa. Yani sama sekali nggak mau jawab. Tapi Bu Adisty lah yang menjawab pertanyaan gua. Bu Adisty ngelakuin itu karena beliau sudah dipesan sama Nyokap lo untuk mengatakan apa pun pada gua. Di situlah gua baru tahu kalau nasib Yani begitu mengenaskan di tangan lo. Dan saat itu juga gua berjanji kalau gua akan nemenin Yani apa pun yang terjadi. bahkan gua pernah hampir berantem dengan cowok yang deketin Yani. Kalau nggak salah namanya Dafa." Dafa? si bocah perawat misterius itu? "Cowok itu, walau masih bocah tapi dia sangat gentle. Cowok itu bahkan nggak menjaga jarak dari Yani sedikit pun ketika gua cerita kalau Yani adalah gadis yang masih bersuami." Ada nada kagum sekaligus iri dari nada Dewa ini. "Gua dan dia sama-sama menyukai Yani. Tapi kami juga nggak bisa memaksa Yani yang masih terikat pada lo dan masih selalu berharap serta menunggu lo. Gua dan Dafa nggak bisa berbuat apa-apa selain menyukai Yani dalam diam." Kami terdiam lagi. Sama-sama meresapi cerita dari Dewa. "Lalu sebulan yang lalu, ketika Nyokap lo bilang kalau ingin mempertemukan Yani dengan lo dan ingin mempersatukan kalian, gua mundur. Gua pergi dari hidup Yani dengan berpamitan, walau nggak bisa bersamanya, gua akan tetep menjadi kakak untuk gadis itu. Itu lah janji gua. Janji seorang Dewa. Dan sepertinya Yani memegang janjiku padanya." "Lalu sekarang, apa yang akan lo lakukan?" tanyaku. "Apa lo akan mencoba mendekati Yani lagi?" "Buat apa?" Dewa bertanya miris. "Toh, dari awal hatinya memang cuma buat lo. Kalau memang Yani bisa di dekati dengan mudah, tentu saja sekarang dia nggak akan bersama dengan lo. Jika hati Yani nggak kuat, tentu saja dia pasti sudah bersamaku sejak dulu. Tapi sayangnya, hati Yani begitu teguh, Hatinya begitu setia. Bagaimanapun bentuk perhatian gua dan rasa kasih sayang gua, dia hanya menganggap gua kakaknya saja. Nggak lebih." "Lalu lo sendiri gimana?" "Gua?" tanyanya sambil menyentuh hidungnya sendiri. "Ya." "Mau gimana lagi, gua nyerah lah. Mau lawan lo juga gua pasti kalah." Aku diam. Sebenarnya aku agka tersanjung ketika mendengar cerita dari Dewa kalau yani begitu setia terhadapku. Tapi dalam waktu yang bersamaan juga, aku sedikit miris dengan yani. Aku yang selalu bersenang-senang sendiri dan nggak memikirkan Yani sama sekali, bagaimana mungkin dia bisa begitu setianya padaku. Dan untuk kesekian kalinya, aki merasa seperti orang yang sangat jahat. Tiba-tiba Dewa berdiri, menepis pasir yang mengotori celananya. "Aku titip Yani." Kataya tanpa melihatku. "Bagiku sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan gadis itu. Aku nggak peduli jika kebahagiaannya itu ada padamu atau ada pada bocah yang bernama Dafa itu. Yang penting di bahagia." Setelah berkata seperti itu, tanpa menunggu tanggapanku, cowok itu langsung berjalan menjauhiku dan mendekat pada yani yang sepertinya mulai bosan bermain air sendiri. Dan di sini, aku melihat istriku tersenyum sangat bahagia ketika melihat Dewa yang menghampirinya. Dan mereka pun bermain air bersama. Dan akan selalu kuingat pesan Dewa ini. Pesannya yang memang seharusnya jadi kewajibanku padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN