Hari ini kami sudah siap untuk berangkat ke tempat wisata kami yang pertama. kali ini pun kami memakai baju couple kiriman dari Mama.
Kaus putih dengan sablon tulisan suami istri di bagian depan. Kausku bertuliskan suami sedangkan kaus Yani bertuliskan istri. Dan di bagian belakang punggung kami juga ada tulisan yang aneh. Kalau tulisan di kaus bagian belakang itu sama yaitu 'LAGI BULAN MADU, JANGAN DIGANGGU!'
Norak. Mama bener-bener malu-maluin aja. Masak iya kami di suruh pakai kaus couple kayak gini? Nanti kalau kami ketemu sama orang Indonesia gimana? malu dong! Tapi ketika aku lihat wajah Yani yang tersenyum senang tanpa henti membuat rasa maluku perlahan terkikis. Oka lah tak apa. Karena Yani menyukainya, aku akan mencoba menahan rasa malu ini.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Banana and Turtle Reef. Di sana kami melakukan snorkelling dan mengintip keindahan bawah laut Maldives yang masih sangat terjaga. Kami juga menjumpai ikan-ikan yang eksotik dan penyu berukuran besar yang asyik berenang di antara banyaknya baru karang.
Awalnya aku takut Yani nggak bisa menyelam dan takut. Tapi ternyata aku salah. Justru yang paling menikmati wisata kali ini adalah istriku ini. Dia nggak bisa berhenti tersenyum takjub pada apapun yang dilihatnya. Mungkin jika aku ke sini dengan para kekasihku, aku akan mengumpati mereka norak. Tapi ketika aku ke sini Yani, aku malah hanya bisa tersenyum dengan gaya kampungannya itu. Matanya yang memandang takjub, bibirnya yang selalu tersenyum lebar dan kadang sampai menganga saking kagumnya. Tangannya yang selalu penasaran ingin menyentuh hewan-hewan lucu di bawah laut ini, semua itu benar-benar membuatku semakin menyukainya. Yah walau kemungkinan aku belum mencintainya, paling nggak ada kemajuan kalau aku menyukai apa pun yang dia lakukan.
"Apa kamu lelah?" tanyaku ketika kami sudah selesai dari tempat wisata pertama kami.
"Nggak. Aku cuma senang aja." Gadisku tersenyum penuh kepuasan.
"Masih ingin menikmati keindahan laut dan ikannya sambil makan siang?"
"Apakah bisa?"
Lihatlah mata gadisku ini yang sangat berbinar ketika aku menawarinya makan siang di bawah laut. Ekspresinya itu benar-benar semakin membuatku terpukau dan semakin membuatku terlena dengan segala tingkah polahnya.
"Bisa dong. Apa sih yang bisa Ariel lakukan?" sombongku.
Dan Yani hanya terkikik geli melihat kecongkakanku. Sebenarnya ini bukannya sombong. Tapi aku memang sudah biasa ke sini jadi bagiku, ini tidaklah sulit. Yah ... walau aku ke sini dengan berbagai model cewek sih. Aku yang memang b******k dulu, selalu mengajak wanita-wanita itu untuk liburan romantis kayak gini. Dan siapa tahu, kini aku malah mengajak istriku ganti ke sini.
"Sebenarnya jika bukan tamu dari resort Conrad Rangali, yang mempunyai tempat makan di bawah laut yang indah itu, kita akan sulit jika ingin makan di sana, atau bisa jadi kita nggak akan bisa makan di sana. Tapi karena aku sudah bolak balik menginap di resort itu dan mempunyai kartu keanggotaan, makanya kita bisa makan di situ tanpa harus menginap di resortnya." lanjut sombongku.
"Lalu kenapa kita nggak menginap di resort itu saja jika kamu sudah terbiasa di sana?"
"Aku hanya ingin tempat baru aja. Resort yang kita tempati itu adalah resort baru. Dan aku ingin mencoba pelayanan dan fasilitas dari resort itu."
Dan juga nggak ingin ada kenangan dari cewek lain ketika aku berduaan denganmu di kamar. Lanjutku dalam hati.
"Oh ... gitu. Ceritakan tentang restoran yang akan kita tempati dong! Aku kok sudah penasaran ya."
"Nggak usah aku ceriatain. Nanti malah nggak seru. Nanti kamu lihat sendiri aja ketika nanti kita sampai di sana. Aku sudah memesan tempat untuk kita nanti."
"Benarkah? Ah ... aku jadi nggak sabar ingin segera sampai."
Dan nggak lama kemudian, taksi yang kami sewa sudah mengantarkan kami ke tempat restoran Ithaa. Restoran yang kami tuju.
Setelah aku mengkonfirmasi pesanan kami beserta memesan makanan juga, ada seorang pelayan yang mengantarkan kami ke tempat meja makan, menunggu makanan datang menikmati pemandangan bawah laut kembali.
Yani kembali ternganga dengan keindahan yang terpajang di depan matanya.
Restoran Ithaa Undersea yang terletak di Pulau Rengali adalah restoran yang berada di lima meter di bawah permukaan air laut. Para tamu di sini di manja dengan pemandangan lepas bawah laut. Di sini aneka hewan yang terlihat semakin banyak. Tak hanya ikan dan penyu. Jika beruntung, para tamu bahkan bisa melihat hiu atau ikan pari yang berenang santai di atas tempat kami berada. Dan saat ini lah saat-saat keberuntungan kami.
Ada seekor ikan hiu yang melintas di atas kami.
Dan Yani, seperti yang sudah-sudah, sangat menikmati pemandangan yang tak bisa ditolaknya ini.
Setelah menu makan siang datang, kami pun menikmatinya. Kali ini Yani nggak banyak bertanya tentang menu makan kita siang ini. Karena pikiran dan matanya terlalu fokus pada keindahan di atasnya. Sejenak aku merasa iri dengan ikan-ikan yang berenang cantik itu. Pesoanaku ternyata masih kalah dengan mereka. Nyatanya, yani hanya sebentar-sebentar saja menatapku. Kadang malah cuma melirikku saja tanpa menatap. Gadis itu benar-benar terpesona. Haisshh!
"Kak Dewa!" panggil Yani ketika kami baru saja keluar dari restoran. Gadisku itu menatap kaget pada sesuatu. Dan aku pun mengikut arah pandang istriku. Dan aku kaget ketika melihat sosok seseorang yang sangat aku kenal berdiri menjulang tak jauh dari kami.
Sosok itu, adalah sosok yang juga sudah lama tak ku lihat.
Dewa. Orang yang pertama kali mengenalkanku pada Desa pelosok itu hingga pertemuanku dengan Yani.
Aku melihat mata Dewa seperti berkaca-kaca menatap fokus pada istriku. Wajahnya menyiratkan kerinduan yang sangat amat dalam.
Cowok itu menangis sambil menatap Yani? Kenapa? Apa mereka punya hubungan khusus?
Lalu mataku beralih ganti menatap Yani. Dan anehnya, Yani pun melakukan hal yang sama. Bahkan, gadis ini bukan hanya matanya saja yang merah menahan tangis. tapi hidung dan wajahnya juga memerah.
"Kak!" panggilnya lagi. Dan ketika panggilan itu keluar, satu tetes air matanya juga turun ke pipinya yang bersih
Yani menangis? Menangisi Dewa? Kenapa?
Dewa masih berusaha menahan air matanya, walau matanya sudah sangat merah dan dalam bola matanya ada kaca-kaca dari air mata, Dewa masih menahannya agar air mata itu tak jatuh. Cowok itu sempat melirikku sekilas, tapi di detik berikutnya langsung kembali membuang pandanganya dariku. Matanya kembali menatap Yani sejenak sebelum dia membalikkan tubuh dan mulai berjalan menjauhi kami. Atau lebih tepatnya menjauhi Yani.
"Kak! Kak Dewa!" Kini Yani bahkan memanggilnya dengan berteriak. Seakan tak mau jika Dewa meninggalkannya. "KAKAAAAKKK!" Gadis itu sampai berteriak histeris.
Kulihat Dewa berhenti berjalan dan terdiam sebentar. Tapi indera pendengarku menangkap, kalau cowok itu sedang menangis. Walau dia berdiri memunggungi kami, aku tahu Dewa menangis dari suaranya. Nampak tangan Dewa terangakat ke arah wajah. Mungkin saja dia menghapus air matanya yang sudah tumpah. Dan dalam sekejab, tiba-tiba saja cowok itu berbalik lalu berlari ke arah kami.
Aku kaget. Nggak siap dengan tindakannya yang mendadak.
Ketika dia sudah sampai di depan kami, tangannya langsung terulur dan menangkap tubuh Yani masuk ke dalam rengkuhannya. Memeluknya. Dan keduanya langsung menangis bersama.
Aku ngebleng.
Dewa memeluk Yani? Memeluk istriku? di depanku? Ada apa ini?