33. Ciuman VS Kecupan

1703 Kata
Ah ... jam berapa ini? Apa aku ketiduran? Bukannya aku sedang menunggu Yani mandi? Ahhh ... sial! Kenapa aku bisa ketiduran kayak gini sih? Alamat gagal dong! Kuedarkan pandanganku pada kamar yang masih temaram. Lampu kamar memang dimatikan, tapi sinar matahari pagi sudah mulai bersinar menembus tirai yang tertutup. Ah ... apa aku sangat kecapekan ya semalam? Memang sih kemarin sebelum berangkat aku beberapa kali aku melakukan operasi dan ketika naik pesawat aku tidak tidur sama sekali karena menjaga Yani. Lalu semalam setelah kami dinner, karena menunggu Yani yang mandi sangat lama, aku jadi tertidur. Atau jangan-jangan Yani memang sengaja mandinya lama. Oh ya, bukannya aku semalam begitu penasaran dengan baju tidur Yani. Piyama tidur atau lingerie? Kugerakkan tubuhku yang terasa pegal semua, apalagi tanganku juga terasa kram. Apa semalam aku tidur tanpa berganti posisi saking capeknya. Menilik aku bangun dengan posisi yang sama sama. Tidur miring menghadap kamar mandi karena menunggu Yani. Aku membalikkan tubuh dan melihat Yani yang tidur di sampingku dengan selimut yang sampai leher. Aku begitu penasaran, di dalam selimut itu ada baju apa ya? Aku benar-benar menyesal kenapa semalam aku ketiduran. Arrrgghhh ... Kalau saja aku nggak tidur, tentu saja semalam aku sudah mendapatkan sesuatu yang indah. Lalu sekarang, apa yang harus kulakukan agar dapat melihat sesuatu yang ada di dalam selimut itu. Apa aku harus menyingkap selimutnya atau meraba tubuh Yani dari dalam selimut, memastikannya memakai lingerie atau tidak. Tapi jika aku melakukan salah satunya apakah gadis ini akan marah? Arrrgggghhhh ...! Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar penasaran dengan apa yang dipakainya. Dengan sedikit frustasi aku pun akhirnya bangun dan duduk. Tubuhku terasa panas lagi karena membayangkan tubuh istriku sendiri yang tak berani kusentuh. Karena rasanya panas, aku pun melepas piyama tidurku dan melemparnya ke segala arah. "Ahhh ... o***g! Kayaknya aku harus nenangin kamu di kamar mandi dech. Tadi malam rencana kita gagal total." Sejenak aku ingin melihat tidur yani yang begitu nyenyak tapi ketika mataku menatapnya, aku langsung membelalak kaget dan juga senang. Yani pakai lingerie warna biru dan sangat seksi. Jantung dan pikiranku serasa langsung berlompatan nggak karuan. Ternyata ketika aku duduk tadi, karena kami memakai satu selimut, selimut yang menutupi tubuh Yani pun ikut tersingkap berebarengan gerakan dudukku tadi. Walau yang terlihat sebagian tubuhnya saja tapi aku sudah bisa menebak kalau gadisku ini memakai lingerie yang sangat seksi. Makasih Mama. Makasih atas ide cemerlang Mama ini. Aku nggak menyia-nyia kesempatan yang Mama kasih. Dan aku juga nggak akan menyia-nyiakan tubuh aduhai yang seranjang denganku ini. Asyeeeekkk ...!!! Tapi gimana aku memulainya? Kalau Yani terkejut dan marah gimana ya? Terus kalau dia tiba-tiba nendang aku gimana? Ahhh .. aku tahu! Dengan perlahan aku menarik selimut Yani semakin ke bawah. Walau tak tahan karena melihat tubuh Yani semakin terekspos, tapi aku harus lebih bersabar. Usai ini aku akan mendapatkan kehangatan dari istriku. Hahahah. Hatiku tertawa jahat. Setelah selesai menurunkan selimut sampai pinggang, aku mencari remot AC dan menurunkan suhunya sampai pol rendah. Lalu aku kembali tiduran di ranjang. Mendekat pada Yani, dan menempelkan tubuh bagian atasku yang telanjang pada tubuhnya Yani. Ketika aku melihat Yani yang mulai terusik dengan gerakanku, aku kembali memejamkan mataku. Pura-pura tidur. "Dingin ... dingin ...!" gumamku seperti orang yang mengigau ketika sedang tidur. Tubuhku semakin aku dekatkan pada tubuh Yani, bahkan sampai nguyel di dadanya. Aku nggak tahu bagaimana reaksi wajah istriku ini. Bahkan aku nggak tahu apakah dia berdebar dengan sentuhanku atau tidak. Bukankah dulu aku pernah bilang, kalau panca inderaku nggak berfungsi padanya. Makanya aku nggak bisa mendeteksi gimana perasaannya padaku. Dan itu benar-benar membuatku kesulitan mendekatinya. "Dingin ... dingin banget!" Gumamku lagi. Tapi tubuh Yani seakan nggak merespon. Tubuhnya hanya diam saja dan terasa begitu kaku. Eh? Apa tadi? Kaku? Apa istriku ini baru pertama kali merasakan tubuh laki-laki di tubuhnya? Atau ini adalah sentuhan intim pertamanya? Tak lama kemudian, tubuh Yani terasa bergerak. Dia berganti posisi menghadapku dan memeluk kepalaku yang ada di dadanya dengan erat. "Apakah sudah hangat?" tanyanya. Aku tersenyum dalam kepura-puraan tidurku. Aku tak menjawab tapi aku melingkarkan tanganku di pinggangnya yang ramping. Dengan sekali tarikan, aku membuat tubuhnya melekat erat di tubuhku. "Kamu nggak tidur?" tanyanya kaget. "Tadi aku tidur tapi terbangun karena merasakan hangat dan aroma tubuh yang begitu enak." bohongku. Tapi aku nggak bohong tentang hangat dan aroma tubuh Yani yang terasa begitu enak. Dari awal bertemu sampai sekarang, hanya indera penciumanku yang berfungsi pada Yani. Hanya untuk mencium aroma tubuhnya yang khas. "Kalau kamu udah bangun, lepasin aku sekarang!" "Dan kehilangan momen romatis ini?" tanyaku tak terima. "Tidak akan. Tidak akan pernah aku lepaskan pelukan pertama denganmu ini." "Tapi ini sudah pagi. Lihatlah! Matahari saja sudah muncul." Elak Yani, masih meronta berusaha lepas dari pelukanku. "Tidak mau!" Aku mendongak. Mencoba melihat ekspresi wajah Yani dan senyumku semakin terkembang melihat wajah Yani yang memerah karena malu. Dan aku takjub, dengan posisi melihat dari bawah kayak gini, Yani semakin semakin terlihat mempesona. Tak tahan aku menggeser tubuhku naik agar sejajar dengan istriku ini. Dan akibat dari pergerakan geseran itu adalah, tak sengaja juga kau malah menyentuh dadanya walau masih tertutup baju. Membuat darahku semakin berdsir dan otongku semakin kuat. Dan sepertinya Yani merasakannya. Buktinya, gadis ini me natapku dengan mata yang melotot kagt dan mulut yang sedikit menganga. Tak membiarkan kesempatan hilang begitu saja. Aku langsung melahap bibir ranum yang sedikit terbuka itu. Mengulumnya. menjilatinya, dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, Tangan Yani yang berada di punggungku terasa mencengkram kuat. Menyadari reaksinya, aku pun memeluknya semakin erat dan mendekapnya semakin kuat, Membiarkan tubuhku yang menekan tubuhnya. tak hanya sampai di situ, tanganku mulai bergerilya, ke bawah, mengelus pahanya. Memasukkan tanganku ke dalam lingerie nya dan merasakan kulitnya yang lembut. Dan gadis ini mendesah. Aku pun tersenyum di sela ciumanku yang lumayan ganas. Cuma rasanya ada yang aneh. Kubuka mataku. Menatap mata Yani yang terpejam sangat erat dengan wajah yang semakin ke sini semakin memerah. Jangan-jangan ... Segera kulepas ciumanku dan menepuk pipi gadisku dengan pelan. "Hei ... bernapaslah! Bagaimana kamu ciuman tanpa bernapas?" Tapi sepertinya gadis ini tidak bisa mendengar suaranya. Matanya masih terpejam rapat dan tubuhnya agak bergetar. "Hei!" Kini aku menepuk kedua pipinya sedikit keras. "Bernapaslah!" Pats! Seketika mata Yani langsung terbuka dan gadis ini langsung bernapas dengan terengah-engah. "Huf hah huf hah huf hah ..." gadis ini benar-benar nggak bernapas selama beberapa menit kami ciuman tadi. Lihatlah sekarang dia. Seperti orang yang habis tenggelam dan kehabisan napas. "Kamu nggak papa?" tanyaku khawatir. Gadis ini belum menjawab dan masih berusaha menetralkan pernapasannya. Aku menggeser tubuhku sedikit ke tepi ranjang. Mengambil gelas minum air putih yang ada di atas nakas dekat dengan ranjang. Memberikannya pada Yani. Gadis itu menerimanya dan meminumnya sedikit lalu menyerahkan gelas itu lagi padaku. "Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanyaku. Yani mengangguk. "Ya. aku sudah baikan." Tapi dalam penglihatanku masih belum. Napasnya masih belum begitu teratur. "Mau minum lagi?" "Tidak. Terima kasih." "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Kini Yani mendongak, menatapku dengan alis dengan alis bertaut. "Boleh. Tanya aja." "Apa ini ciuman pertamamu?" "Tidak." Entah kenapa ada sesuatu yang terasa tercubit ketika mendengar jawaban Yani ini. Jadi sebelum ini, dia sudah pernah berciuman? "Dengan siapa?'' tanyaku lagi. Yani menatapku semakin berkerut. "Dengan kamu lah." jawabnya sedikit emosi. "Dengan siapa lagi memangnya." "Apa? Aku?" "Bukannya kemarin di kamar apartemen kita sempat berciuman?" Aku ngelag. Aku dan Yani pernah berciuman di apartemen? Kapan?" Ahhh ... apa maksudnya kecupan singkat itu?'' "Itu namanya bukan ciuman." Terangku. "Itu namanya kecupan." "Apa bedanya? Sama-sama menempelkan bibir juga." "Kalau kecupan seperti ini." Dengan secepat kilat, aku menempelkan bibirku pada bibir Yani, kemudian langsung menariknya lagi. "Kalau ciuman, seperti ini." Kini tanganku meraih belakang kepala Yani dan mendorongnya ke arahku. Meraup bibirnya dengan bibirku dan kembali melumatnya. Memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Dan kali ini dengan sedikit memaksa, menarik lidahnya dan memasukkanknya ke dalam mulutku sendiri. Menyedotnya kuat tanpa ampun dan kembali melumatnya. Saking kuatnya ciumanku, hingga terdengar suara lenguhan dari kami berdua. Tak lama kemudian, tangan Yani bergerak dan memukuli dadaku. Segera aku melepas lagi ciuman yang begitu terasa hangat dan enak itu. "Huf hah huf hah huf hah ..." Dan gadis ini kembali kehabisan napasnya. Aku hanya tersenyum melihat kepolosan istriku yang imut ini. Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada rasa syukur yang masuk menelusup ke dalam hatiku. "Sepertinya butuh berkali-kali untuk mengajarimu agar bisa ciuman sambil bernapas." Kataku membuat matanya melotot menatapku. Dan belum sampai gadis ini mengeluarkan protesannya karena peringatanku tadi, aku sudah naik ke atas tubuhnya lebih dulu, membungkam bibirnya dengan kecupan. "Jangan bicara apa pun, Kita lakukan saja. Oke?" "Tapi ..." Cup! Lagi aku mengecupnya. "Jika kamu bicara lagi sekarang juga, aku nggak cuma akan menciummu tapi membuka lingeriemu. gimana?" Dan lucunya, dengan ancaman seperti itu, gadisku langsung bunglam dan tidak berbicara lagi. Aaahhh ... gemesnya! Dan aku pun mulai menurunkan wajahku. Mendekat ke wajahnya. Yani langsung saja menutup mata begitu melihat aku mendekati wajahnya. Gadis ini benar-benar membuatku jadi nggak karuan. Ketika bibir kami hampir bersentuhan, tiba-tiba ... Ting tong Ting tong Dan yani kembali membuka mata ketika mendengar bel berbunyi. "Sepertinya ada tamu." katanya. "Aku nggak peduli." Tapi Yani menahan dadaku ketika aku ingin mendekat lagi. "Temui dulu!" "Nggak!" "Siapa tahu penting." Aku menyerah. Walau sambil mengumpat-ngumpat dalam hati aku pun beranjak turun dari tubuh Yani dan dari ranjang juga. Berjalan menuju pintu kamar resort dan membukanya. Seorang pelayan laki-laki berdiri di depan pintu dengan meja dorongnya. "Mr. Ariel?" "Yes." "Indonesia?'' "Yes." "Ini ada kiriman dari Ibu anda, Tuan. Sarapan dan pakaian yang akan Anda dan istri Anda pakai untuk hari ini. Ada juga tiket untuk perjalanan berkeliling Anda dan istri Anda." "Oke." "Kalau gitu, saya pamit Tuan. Maaf mengganggu waktu anda." Bukan hanya mengganggu tapi kamu udah menghancurkan waktunya yang sangat berharga. Ingin sekali aku mengumpati pelayan ini dengan kalimat itu. Tapi aku sadar, Ini bukanlah salahnya. Salahku sendiri melepaskan kesempatan tadi malam dan malah tertidur sampai pagi. "Ya." Dan pelayan laki-laki itu pergi. Aku membuka pintu lebih lebar untuk membawa meja dorong ini ke dalam kamar. Tapi ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, aku tidak menemukan Yani di atas ranjang. Dan pintu kamar mandi pun tertutup rapat. Apa gadis itu melarikan diri? Pfffttttt ...! Lucu juga istriku itu. hehehehe. Tapi ... Apakah aku perlu menyusulnya masuk ke kamar mandi juga? Haruskah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN