Dan aku memilih Maldives.
Maldives atau bisa disebut juga dengan Maladewa adalah negara yang berada di barat daya India. Negara ini mempunyai suguhan keindahan alam yang sangat menakjubkan, terutama pantai berpasir putih dengan laut biru seperti kaca. Tidak hanya elok di pandang, Maladewa juga mempunyai alam bawah laut yang sangat cantik dengan taburan spot snorkeling dan diving.
Kenapa aku memilih negara ini? Jawabannya sangat sederhana.
Merujuk dari keteranganku di atas, Maldives adalah negara yang terkenal dengan berkat pantai dan laguna biru yang memanjakan sejauh mata memandang, itu sama artinya dengan negara itu adalah negara yang pariwisatanya identik dengan air. Dan jika kami berlibur di tempat seperti itu tentu kami akan sering basah-basahan dan itu bisa meningkatkan hormon libido kami. Dan siapa tahu nanti kami bisa melakukan malam pertama yang tertunda selama empat tahun di tempat itu.
Apakah kalian ( para pembaca ) berpikir aku m***m? Yah mau gimana lagi. Bukannya aku sudah bolak balik bilang kalau aku ini m***m dan b******k. Tentu saja ketika aku memilih tempat untuk bulan madu maka aku akan memilih tempat yang berpotensi besar aku bisa melakukan 'itu'. Kalau sampai nggak bisa ya rugi dong aku. Hahahaha.
Setelah pemberitahuan kalau kami akan bulan madu, dalam jarak tiga hari saja, Mama datang ke apartemen kami dan memberikan dua tiket pesawat. Mama berpesan, kami nggak usah bawa barang apapun. Semua kebutuhan kami sudah tersedia di sana. Kami hanya tidak boleh lupa membawa handphone, visa dan juga ATM. Hanya itu.
Ah ... Mamaku ini memang yang terbaik dalam segala hal. Aku jadi semakin mencintai Mamaku ini. Hehehe.
Karena ini masih panas jadi kami pun segera berangkat ke Maldives untuk bulan madu. Waktu terbaik untuk berkunjung ke negara yang dikelililigi samudera hindia itu adalah ya musim panas kayak gini. Jadi nggak terlalu takut air laut pasang. Selain itu, angin berhembus di Maldives ketika musim seperti ini membuat yang para wisatawan begitu betah. Angin laut yang semilir lembut dan begitu menenangkan tubuh dan pikiran. Benar-benar tempat yang sempurna.
Pukul tujuh pagi, aku dan Yani berangkat dengan naik maskapai penerbangan Scoot Airlines dengan kelas bisnis. Transit di Singapura terlebih dahulu sebelum ke Male, ibukota Maldives. Dan tujuan kami selanjutnya adalah Kodhipparu. Jika biasanya wisatawan naik pesawat dari bandara ke resort yang di tuju, Kodhipparu berbeda. Untuk bisa ke sana harus menempuh perjalanan selama dua puluh menit dengan kapal speedboat untuk bisa sampai ke sana. Dan resort yang ku pilih adalah Grand Park Kodhipparu Maldives, dan memilih vila yang berada di atas laut. Tentu kalian tahu kan kenapa aku memilih vila yang ada di atas laut? Jadi nggak perlu aku jelaskan secara lebih detail lagi. Hihihi.
Menjelang sore kami sudah sampai di vila resort dan aku segera memesan candle light dinner untuk makan malam. Sedangkan Yani pamit mandi dan ingin istirahat sejenak sebelum makan malam. Dan aku membiarkannya.
Setelah malam tiba, kami pun mulai menyantap makan malam kami yang di antarkan pelayan ke vila kami.
"Wow, makan malamnya sedikit ... aneh." komentar Yani ketika kami sudah berada di meja makan dengan suasana yang sangat romantis. Aku sama sekali nggak bisa berpaling dari istriku yang berpakaian tidak seperti biasanya. Malam ini dia benar-benar terlihat sangat cantik. Pakaian yang di pakai Yani pun terlihat begitu cantik dan elegan. Gaun biru terusan sampai mata kaki dengan belahan sampai paha, memamerkan kakinya yang putih dan jenjeng. Serta bagian depan atasnya yang membentuk seperti huruf V, sedikit menonjolkan belahan dadanya yang aduhai. Pakaiannya itu benar-benar membuatku seperti kena serangan jantung mendadak. Jantungku serasa berdebar hebat dan sangat keras. Bahkan rasanya aku seperti mendengar detak jantungku sendiri saking kerasnya.
Seperti kata Mama, kami memang berangkat tanpa persiapan apapun. Dan baju itu pun aku yakin Mama yang menyiapkannya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Yani dengan gestur tubuh yang terlihat nggak nyaman. Tangannya selalu berusaha menutupi pahanya. Karena baju yang di kenakannya, bagian belahan bawahnya selalu jatuh ke samping, mengekspos pahanya yang begitu mulus. "Apa pakaian ini aneh?" tanyanya lagi. "Tadi aku sudah mengobrak abrik lemari pakaian. Tapi nggak ada baju lagi yang lebih cocok untuk di pakai saat dinner begini. Aku juga baru pertama kali dinner secara resmi kayak gini. Jadi aku nggak terlalu begitu tahu dengan apa yang harus ku pakai. Apa aku perlu ganti pakaian?"
Aku tahu, semua ini adalah kerjaan Mamaku. Di lemari pakaianku, juga hanya ada baju yang aku kenakan ini dan baju tidur saja. Pakaian yang aku kenakan ini adalah pakaian formal kemeja biru dan jas warna biru juga, senada dengan gaun yang dipakai Yani saat ini. Mungkin saja, di lemari pakaian Yani juga ada dua baju saja. Pakaian yang dikenakannya saat ini dan baju tidur. Yang membuatku penasaran adalah baju tidur Yani itu baju tidur biasa atau lingerie?
"Tidak perlu. Kamu terlihat sangat cantik dengan gaun itu." jawabku dengan senyum yang paling manis yang bisa kuberikan pada gadis yang gugup ini.
"Tapi ..."
Aku tahu kalau gadisku ini belum terbiasa, malu dan belum nyaman. Jadi yang aku lakukan adalah, berdiri dan melangkah mendekat padanya, membuka jasku. Aku berlutut di kaki Yani seperti seorang pangeran yang akan melamar kekasihnya. Tapi yang aku lakukan adalah menutup paha Yani dengan jasku dan menepuknya dua kali. "Bagaimana kalau begini? Apa masih nggak nyaman?"
Raut wajah Yani agak kaget dengan perlakuanku, wajahnya saja sampai merona. "Makasih." Hanya itu yang diucapkannya.
Aku tersenyum dan berdiri, duduk kembali ke kursiku.
"Apakah semua makanan ini adalah khas daerah sini?" Tanya Yani menutupi kegugupannya.
Entah mengapa, di mataku, gadis ini begitu terlihat imut jika bertingkah gugup kayak gini.
"Ya. ini nasi dengan taburan daun kelor goreng." Terangku menunjuk nasi di atas piringku. Dan tentu saja di piring Yani juga ada.
"Bukan bawang goreng tapi daun kelor goreng?" Dan ketika mata Yani membelalak takjub seperti itu, di mataku, gadis ini jadi seperti bocah yang menggemaskan. Alih-alih makan makanan di meja ini, aku ingin sekali aku memakan istriku yang cantik ini.
"Ya. Dan ini adalah garudhiya." Tunjukku pada sayur yang tersedia di meja. "Sekilas, seperti opor ayam ya?"
Gadisku ini langsung mengangguk antusias. "Iya. Seperti opor ayam."
"Tapi sayangnya ini bukan opor ayam."Aku terkekeh. "Makanan ini disebut juga dengan sup tuna dengan berbahan dasar ikan tuna."
"Apakah enak?" Tanya Yani agak ragu.
Aku tak langsung menjawab. Aku malah mengambil sendokku dan menyendok sedikit kuah dari garudhiya dan menyuapkannya pada Yani. "Gimana?"
"Wow sangat enak dan ... menyegarkan." Yani terlihat begitu senang. "Seperti ada jeruk-jeruknya."
Aku mengangguk setuju. "Ya. Salah satu bahan untuk memasaknya memang ada jeruk limaunya."
"Bagaimana kamu tahu?"
Karena indera perasaku yang sangat tajam hingga tanpa bertanya pada kokinya pun, aku sudah tahu apa saja bahan yang di buat untuk memasak makanan mereka.
Ingin sekali aku memberi tahu jawaban seperti itu, tapi belum saatnya Yani tahu tentang rahasiaku. Mama saja, walau sangat menyayangi gadis ini tapi Mama juga nggak ngasih tahu tentang kelebihaku ini padanya. Jadi biarlah nanti saja dia tahuya.
Ah ... andai saja gadis ini tahu kalau aku punya kelebihan panca indera yang lebih tajam dari pada kebanyakan orang lain, gimana ya reaksinya?
"Karena aku sudah bolak balik datang ke tempat seperti ini. Jadi seperti sudah biasa aja." Jawabku pada akhirnya.
"Ohh ... begitu." Gadis ini lalu menunjuk salah satu makanan yanga ada di meja. "Kalau ini namanya apa?"
"Kalau itu namanya Mas Riha dan ini," Tunjukku pada makanan yang di sebelah makanan yang ditanyakan Yani. "Mas Huni.''
"Mas Riha? Mas Huni?" Gadis ini menatapku dengan memicingkan matanya yang indah padaku. "Kamu lagi ngerjain aku ya?" Tuduhnya.
Dan aku tertawa sangat keras. "Tidak. Aku tidak lagi ngerjain kamu. Ini benar. Dua makanan ini memang namanya Mas Riha dan Mas Huni."
"Lalu apa yang ini namanya Mas Galih?" Sindir Yani sambil menunjuk makanan lain.
"Kalau itu namanya bajiya." Aku kembali tertawa walau nggak sekeras tadi. "Hampir sama dengan samosa, cuma isiannya ikan laut, karena negara ini memang dikelilingi oleh laut dan terkenal dengan hasil lautnya." Walau aku sudah menerangkan tentang makanan bajiya tapi sepertinya Yani masih belum puas. Dia masih terlihat cemberut.
Ihhh ... gemesnya. Hehehehe.
"Yang ini namanya Mas Huni." tunjukku lagi pada makanan yang berbentuk seperti taburan. "Makanan ini juga berbahan utama ikan tuna yang dicincang dan juga kelapa yang diparut lalu dicampur dengan bumbu-bumbu yang lain seperti bawang bombay, cabai, penyedap dan lain-lain. Biasanya makanan ini disantap dengan Chapati atau juga dengan jenis roti pipih yang biasanya digunakan sebagai makanan oleh masyarakat India.
Yani masih belum merespon. Sepertinya dia masih kesal walau sudah nggak sekesal tadi.
"Kalau yang ini Mas Riha." Tunjukku pada makanan berkuah kedua setelah garudhiya. "Ini sejenis makanan kari ikan. Hampir sama dengan garudhiya tadi."
"Jadi kamu serius tadi, waktu bilang kalau makanan ini namaya Mas Huni dan Mas Riha? Kamu bukannya lagi ngerjain aku?" tanyanya masih ragu.
Aku tersenyum geli dengan sosok Yani yang baru aku tahu ini. Sungguh, dari pada sosok Yani yang selalu bersikap tenang dan seolah dia lebih dewasa, aku lebih suka sosoknya yang seperti ini. Sosoknya ini seakan membuatku ingin selalu melindunginya.
''Tidak, sayang. Buat apa aku ngerjain kamu coba? Makanan ini memang namanya seperti itu."
"Oke. baiklah. Aku percaya."
"Jadi bisakah kita makan sekarang?" tanyaku. "Aku sudah sangat lapar."
Yani pun tersenyum mendengar rengekanku. "Oke. Ayo kita makan. Kamu mau makan yang mana? Aku ambilkan."
"Yang itu dan yang itu."
Dan malam ini pun kami menikmati makan dengan santai walau tanpa kesan romatis. Ini sudah cukup bagiku.
***
"Kamu ... mandi duluan aja!" Suruh Yani agak ragu. Setelah kami makan malam di teras Vila dengan pemandangan laut malam, kami pun kembali ke dalam kamar.
Aku sedikit memicingkan mataku menatapnya. Curiga. Tapi aku nggak membantah. "Baiklah, aku akan mandi lebih dulu." Dan aku pun segera mandi dengan cepat dan keluar lagi.
"Kenapa kancingmu kamu biarkan terbuka seperti itu?" Protesnya agak histeris dan gugup. "Sebelum keluar dari kamar mandi seharusnya kamu pakai bajumu yang benar."
"Tadi aku ..." kalimatku terhenti. Sebenarnya tadi aku memang sengaja cepat-cepat menyelesaikan mandiku, Aku khawatir jika Yani nanti terlalu lama menungguku mandi, jadi niatku tadi cepet keluar dulu. Kancing baju tidur kan bisa aku kancingkan di dalam kamar, Dan yani bisa segera gantian mandi. Tapi semuanya buyar ketika aku melihat rona wajah Yani yang sangat merah ketika melihat kancing baju tidurku yang terbuka. tak ayal mempertontonkan tubuhku yang memang kokoh. Gadis ini ternyata terpancing juga.
Melihatnya seperti itu malah membuatku ingin menggodanya saja.
Aku pun melangkah mendekat secara perlahan pada gadisku yang gugup itu,
"Aku memang sengaja nggak mengancingkan bajuku." Kataku yang pasti membuatnya semakin gugup. "Aku hanya ingin membantumu agar nanti kamu nggak perlu membuka kancing bajuku dulu. Gimana? Aku penegertian kan?"
Tapi gadis ini tidak menjawabku sama sekali. Tatapannya sama sekali nggak fokus.
Ya Tuhan. Lucu amat sih istriku ini. Hihihi.
"Atau kamu ingin aku mengancingkan bajuku dulu, agar nanti kamu bisa merobeknya jika kamu sudah nggak tahan?" tawarku dan sukses membuat gadisku menahan napas kaget.
Kini aku sudah berdiri tepat di depan Yani.
"Atau kamu mau merasakannya lebih dulu agar nanti kamu nggak terlalu terkejut?" Aku meraih tangannya dan menempelkan telapak tangannya di dadaku. Dingin. Telapak tangan Yani begitu terasa dingin. Apa ini karena angin laut atau karena kegugupannya?
Aku menggerakkan tangan Yani ke bawah, mengelus permukaan dadaku hingga ke perutku. "Bagaimana? Apa terasa kuat?" tanyaku dengan suara yang sedikit serak. "Bagian bawahnya lagi juga sangat kuat lho. Mau merasakannya juga?" tanyaku lagi. Kini dengan suara agak mendesah.
Sreeett ...!
Yani langsung menarik tangannya dengan sekuat tenaga hingga lepas dari genggamanku. "Dasar gila!" umpatnya. "Apa pun yang akan kamu lakukan, aku nggak akan tergoda. Mengerti?" Saking gugupnya, bahkan kata-katanya bertolak belakang dengan rona wajahnya yang semakin memerah. "Minggir! Aku mau mandi dulu!" Gadis itu langsung berderap, melangkah setengah berlari ke kamar mandi.
Dan aku pun tersenyum melihat tingkah imutnya yang kayak gitu.
Sekarang aku makin penasaran. Setelah dia mandi, dia akan memakai baju tidur seperti apa ya? Baju tidur apa yang sudah disiapkan Mama untuk Yani? Baju tidur biasa atau lingerie?
Ahhh ... aku sangatt berharap kalau itu adalah lingerie yang seksi dengan warna merah tua. Pas banget untuk kulit Yani yang putih bersih. Memakai itu pasti Yani terlihat sangat cantik dan seksi.
Baru juga membayangkannya saja dan belum melihatnya, si junior udah bereaksi duluan.
"Hei, o***g, tenanglah!" ucapku pada juniorku sendiri, "Kita tunggu aja si cantik pakai apa? Piyama tidur atau lingerie? Ahh ... nggak sabar banget aku rasanya. Heheheh!"