Dokter?
"23 24 25"
Dia mau manggil aku dokter juga di rumah?
"26 27 28 29"
Lalu apa bedanya di rumah sakit dengan di rumah? Amarahku ingin meledak rasanya.
"30 31 32 34 35"
Jadi pembicaraan semalam tentang mencari panggilan yang enak dan nyaman, sama aja bohong dong kalau di rumah istriku sendiri masih saja memanggiku dokter. Lalu jika begitu kapan kami akan makin romantis?
"36 37 38"
Arrrggghhhtttt .... Sebel banget aku rasanya. Sebel, kesel jengkel dan pengen ngumpat sangat keras.
"39 40 41 42"
"Lo lagi ngapain Ril?" tanya Bagas yang baru saja masuk ke dalam kantorku.
"Emangnya lo nggak lihat, gua lagi push up." jawabku sewot. Hari ini aku lagi sangat amat bad mood. Dan algi ngak pengen di ganggu. "43 44 45"
"Widih ... sampek hitungan empat puluh lima lo push up nya? Kuat bener lo?"
"Cerewet lo!" sebalku. Dan aku masih terus menghitung.
"Makanya banyak cewek yang bilang lo ganas dan kuat di ranjang, apa karena rajin olahraga kayak gini?" cowok ini malah tertawa geli.
"Haahhh ..." aku bernapas keras untuk mengeluarkan emosiku. Kuhentikan olahragaku pagi ini. Gara-gara nih bocah ngajak ngobrol terus, hitunganku jadi kacau dan lama-lama ngeladenin nih bocah bikin naik darah juga. "Lo mau apa? Masih pagi kayak gini udah ke kantorku? Lo mau ngajak ribut?"
"Nggak. Gua mau mastiin satu hal aja. Makanya gua ke sini."
"Mau mastiin apa? Cepetan bilang. Gua mau ngecek kondisi pasien yang operasi kemarin."
Awalnya Bagas nampak ragu, tapi ketika aku memperlihatkan gelagat nggak sabar menunggunya bicara, cowok ini langsung angkat suara. "Katanya lo kemarin di pake rebutan Dokter Inez dan juga Dokter Nilam? Benarkah itu?"
"Kayaknya lo ke sini emang ngajak ribut ya?" sindirku tanpa menghiraukan pertanyaannya. Aku berpindah tempat. Menyalakan kipas angin, lalu melepaskan bajuku yang penuh keringat. Melemparnya ke atas sofa di dekatku.
Di dalam kantorku sebenarnya sudah ada AC juga. Tapi karena aku tadi olahraga, hanya AC aja nggak bisa mengeringkan keringatku dengan cepat. Jadinya aku pakai kipas.
Kubiarkan tubuh telanjang dadaku terkena hembusan kipas yang kencang. Untuk mengeringkan keringatku dengan cepat.
"Ya nggak lah. Ngapain juga gua ngajak ribut lo?" Bagas melangkah mendekat padaku. "Tapi ngomong-ngomong badan lo bagus juga ya Ril. Ada berapa roti sobek ini di perut lo." Bagas mengulurkan tangannya, dengan jari telunjuknya bocah ini menoel perutku.
Dan tiba-tiba, ketika cowok ini lagi asyik menoel-noel, pintu kantorku terbuka. Dan ada Yani yang terlihat syok melihat kedekatanku dengan Bagas. Apalagi dengan jari Bagas yang ada di perutku serta dadaku yang telanjang.
"Ma-maaf Dokter. Sepertinya saya mengganggu Anda berdua. Nanti saja, saya akan kembali kemari." Dan setelah berkata seperti itu, Yani langsung menutup pintu kantorku kembali dari luar.
"Tu-tunggu, Yan!" Teriakku tapi sepertinya gadis itu langsung ngacir pergi. Tak ingin terjadi salah paham, tanpa sadar aku langsung berlari keluar. Maksudku adalah ingin mengejar Yani dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Tapi aku lupa akan satu hal.
"Wow ... badannya seksi banget."
"Ah ... perutnya. Amboiiii ...!"
"Ya Allah sejak kapan rumah sakit ada peragaan cowok seksi kayak gini?"
Aku lupa kalau aku masih belum pakai baju dan mengekspos tubuhku sendiri.
Malu, dengan kedua tanganku aku berusaha menutupi dadaku dan kembali ke dalam kantor.
Terlihat Bagas yang masih berdiri di dekat kipas. Takut.
"Lo ...!" kataku menahan amarah.
"So-sorry Ril. Aku benar-benar nggak nyangka kalau tiba-tiba aja ada yang masuk ke kantor lo. Sumpah! Tadi gua hanya becanda aja. Beneran! Sorry!"
"Sini lo! Gua bunuh lo sekarang juga!"
"Ampun Ril! Ampun!"
***
"Kamu nggak salah paham kan?" Tanyaku pada Yani ketika kami duduk di sofa ruanganku.
"Salah paham apanya?"
"Tadi pagi, ketika kamu ke sini, pas sekali Bagas sedang berbuat konyol yang gila."
"Oh itu ... tenang saja! Jika pun itu benar. semuanya terserah padamu kok. Mungkin menyerahmu pada gadis lain memang lah berat. Tapi kalau menyerahkanmu ada Dokter Bagas mungkin lebih ringan."
"Yani ...!"
"Pfffftttt!" Dan gadis itu tertawa tertahan. Berhasil mengerjaiku.
"Kenapa sejak semalam kamu seneng banget sih ngerjain aku?" tanyaku cemberut.
Yani masih berusaha untuk menahan tawanya. Dia bahkan kesulitan untuk menjawab pertanyaanku karena dia masih mencoba menahan tawanya yang susah berhenti.
"Satu yang baru kusadari setelah kejadian semalam."
Cih ... bukannya langsung menjawab, gadisku ini malah memberiku teka teki aneh. "Memangnya apa yang baru kamu sadari itu?"
"Kamu lucu." Dan lagi-lagi gadis ini tertawa tertahan lagi.
Aku mengerutkan alis. Menatap Yani dengan agak ngeblank. "Ha? Apa?"
"Iya. Kamu lucu banget kalau lagi cemberut gitu. Hahahaha. Apalagi lagi dengan bibirmu yang manyun dan matamu yang tak fokus. Di tambah lagi alismu seakan menyatu saking sebelnya. Benar-benar lucu. Hahahaha."
Ah ... apakah begini yang dirasakan Dafa setelah berhasil membuat Yani tertawa bahagia kemarin-kemarin? Ternyata bisa membuat orang yang dekat dengan kita bisa tertawa, rasanya begitu membahagiakan ya. Tawa orang itu seakan menular pada kita. Itu lah yang aku rasakan ketika menatap Yani yang tertawa karenaku.
"Apakah kamu senang?" tanyaku ikutan tersenyum melihat tawa Yani.
"Ya. Aku senang."
"Kalau gitu, kamu boleh ngerjain aku lagi jika bisa membuatmu tertawa senang kayak gitu."
Dan seketika tawa Yani langsung terhenti dan berubah ekspresi jadi tenang lagi. Gadis ini seperti orang memaksakan dirinya agar tidak terhanyut oleh perasaan ketika bersamaku. Seakan dia memaksa dirinya sendiri untuk bisa selalu tenang dan terkendali jika berkaitan denganku.
Kenapa? Kenapa dia seperti itu? Apa karena dia takut kecewa lagi padaku?
"Kok berhenti tertawa?" Tanyaku. Walau mungkin aku sudah tahu alasan garis besarnya kenapa Yani membatasi diri kayak gitu, tapi aku masih ingin mendengar alasan pribadinya secara langsung.
"Tidak. Bukan apa-apa."
Aku terdiam. Aku kira dia akan menjawab pertanyaanku secara blak-blakan seperti tadi malam. Ternyata aku salah setiap akan memprediksi balasan sikap Yani dari sikapku. Gadis ini memang penuh kejutan dan tak terduga. Kalau begini terus, bisa-bisa nanti aku jatuh cinta padanya.
Kali ini aku tidak boleh memaksanya menjawab pertanyaanku tadi. Hari ini aku sudah cukup dengan mendapatkan tawa bahagianya saja. Untuk urusan alasan kenapa Yani seperto orang yang membatasi diri, aku akan minta jawabannya lain kali saja.
"Oh ya, tadi pagi kan kamu nyari aku. Ada apa?" Dan untuk itulah aku mengalihkan pembicaraan, siapa tahu nanti Yani bisa santai lagi berhadapan denganku dan kembali menjadi dirinya sendiri.
"Aku mau menyampaikan pesan dari Mama untukmu."
"Pesan? Kenapa Mama bukannya langsung menelponku dan memberikan pesan itu padaku secara langsung?"
Yani menggeleng. "Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tadi pagi ketika aku baru mau mulai sif, Mama tiba-tiba menelponku dan membriku pertanyaan yang sulit kujawab."
"Memangnya apa pertanyannya?"
Yani tak langsung menjawab. Gadis itu malah merogoh saku seragam perawatnya dan mengambil ponsel. Memberikannya padaku. Aku pun menerimanya.
"Karena aku susah mengingat apa aja pertanyaan Mama, jadi aku meminta Mama untuk mengirim pertanyaan itu lewat pesan WA saja."
"Oh ... gitu." Aku pun membuka handphone Yani dan mencari aplikasi WA di sana. Dan ketemu.
Alisku sedikit mengerut lagi membaca pesan Mama. "Lake McKenzie, Australia? Maldives? Amalfi Coast, Italia? Chefchaouen Morocco? Waiheke Island, New Zealand? Nihiwatu, Sumba? Paris, Perancis? Hawai? Kyoto, Jepang? Kakslauttanen Arctic Resort, Finland?"
Ah ... ini kan ....
"Apa maksud pesan Mama itu?" tanya Yani setelah aku selesai membaca semua pesan Mama. "Kenapa Mama menyebutkan beberapa nama negara?"
"Apa kamu mau?"
Yani kini menatapku dengan bola mata yang terlihat lucu. "Mau apa?"
"Apa kamu tahu tempat apa aja ini yang ditanyakan Mama?"
Yani menggeleng. "Aku sama sekali nggak paham."
"Oke. Kalau gitu biar aku aja yang memilih untuk kita."
"Memilih apa?"
"Tempat bulan madu untuk kita."
"Apa?"