"Wah ... enak nih jadi rebutan dua cewek cantik." Sindir Yani ketika kami sedang makan malam berdua di apartemen.
Malam ini Yani memasak tumis kangkung, tempe goreng dan telur orak arik. Di luar dugaan, ternyata makanan yang dimasaknya enak banget. Aku sampai ngambil tumis kangkung sampai tiga kali.
"Kamu lihat tadi?" tanyaku mendongak dari piring setelah mengambil telur orak arik yang kedua.
"Ya."
"Gimana rasanya lihat suami sendiri di buat rebutan gadis lain?" Pancingku. "Cemburu kan?" tanyaku dengan kepercayaan diri sembilan puluh delapan persen. Gadis ini nggak mungkin menyindirku tanpa ada rasa cemburu.
Aku menunggu jawabannya sambil menguyah tempe gorengku dengan perlahan.
"Nggak tuh, biasa aja."
"Yang benar?" Godaku.
"Waktu kuliah aku malah dibuat rebutan lebih dari empat cowok. Jadi kalau dibuat rebutan cuma dua cewek aja sih bagiku biasa aja."
Ha?
Senyumku langsung lenyap dan nafsu makanku langsung hilang seketika, begitu mendengar ternyata istriku yang cantik ini ternyata begitu sangat populer. Tapi tak heran juga sih jika dia jadi populer dan jadi rebutan banyak cowok. Secara kecantikannya memang sangat langka. Kecantikan yang nggak bosan di pandang. Memang sih semua gadis dari desa pedalaman itu memang cantik-cantik semua, tapi kecantikan Yani memang sedikit berbeda. Cantiknya itu seperti sebuah berlian yang terpahat menjadi perhiasan yang begitu elegan. Cantik , enak dilihat dan nggak bosenin. Mungkin karena itu dulu Tuan Tanah di desa itu begitu ngebet ingin menikah dengan Yani.
Ngomong-ngomong tentang Pak Tua Tuan Tanah, gimana ya kabarnya? Apa masih nyari gadis-gadis dengan aura menguntungkan seperti dahulu?
"Kenapa kamu secuek itu? Apa kamu rela jika aku jatuh ke dalam pelukan salah satu gadis itu?" Lagi, aku memancing. Aku ingin tahu seberapa besar Yani mencintaiku.
"Tidak!"
Aku sedikit kaget dengan jawaban gadis ini yang tanpa ragu. Aku pun mengangkat wajahku dari piringku lagi, ingin memastikan ekspresi wajahnya. Apakah dia serius dengan jawabannya itu.
Yani terlihat begitu tenang memakan makan malamnya. Jawaban tadi seprti bukan sesuatu yang malu untuk diakui. Gadis itu begitu terlihat santai dan nggak malu sama sekali.
Mungkin, karena merasa aku perhatikan, Yani pun ikutan mendongak. Melepas pandangan matanya dari makanannya. Beralih menatapku.
"Aku serius. Walau aku cuek dan tidak berharap apa pun padamu, tapi seumpama kamu jatuh ke dalam pelukan salah satu cewek itu, aku pun tidak rela. Di dunia ini, siapa istri yang rela suaminya di ambil wanita lain."
"Jadi bukan karena kamu mencintaiku? Kamu nggak rela aku direbut dua wanita itu karena kamu adalah istriku saja? Karena aku adalah suamimu? Milikmu?"
"Aku mencintaimu." Jawaban Yani membuat jantungku serasa berhenti detik itu juga. "Aku mencintaimu dari awal, sejak kita menikah, hingga kamu meninggalkanku sampai kita dipertemukan kembali, aku masih mencintaimu. Dan sekarang pun, aku masih mencintaimu. Aku sangat tahu dengan isi hatiku yang hanya ada kamu sejak awal. Yang tak tahu isi hatinya sendiri adalah dirimu sendiri Tuan Genius." Yani menjawab dengan sangat lugas pertanyaanku. Tanpa keraguan sedikitpun.
Dan aku, aku jadi mati gaya dibuatnya.
Aku hanya bisa menatap istriku tanpa berkedip, dan entah dari mana asalnya, aku malah jadi kagum pada wanita tegas ini.
Setelah mengucapkan kalimat yang sanggup menghipnotisku itu, gadis yang duduk di depanku ini, yang makan semeja dengankku ini, kembali fokus dengan makanan di piringnya.
"Yan!" panggilku dengan lembut.
"Hmm"
"Mau aku cium?"
"Nggak."
"Mau aku peluk?"
"Nggak juga."
"Mau b******a denganku?"
Kali ini Yani tak langsung menjawab. Dia kembali mendongak dan kembali menatapku. Cuma sayangnya tatapannya kali ini adalah tatapan sebal.
"NGGAK!"
"Kenapa?"
"Apa kamu udah mencintaiku?"
"Udah."
"Ck!" Gadis ini malah berdecak. "Aku tahu kamu itu pembohong ulung. Tapi asal kamu tahu juga, aku adalah pendeteksi kebohongan yang ulung juga. Jadi ke depannya ... nggak usah bilang mencintaiku jika kamu nggak mencintaiku. Nanti jika ada masanya kamu udah mencintaiku, maka ... tanpa kamu bilang pun, aku pasti tahu. Jadi kamu nggka usah repot-repot berbohong padaku." Dan setelah berkata seperti itu. Yani beranjak berdiri sambil membawa piringnya yang kosong ke wastafel. Mencucinya.
Ah ... wanita. Memang makhluk Allah paling misterius itu ya makhluk cantik ini. Kekuatan pendeteksi kebohongan. Ahhh ... ada-ada aja.
"Belum selesai makannya?" tanya Yani. "Kalau udah selesai cepet bawa sini! Aku cuci sekalian."
"Ya." Dan aku pun bergegas menyusul istri cantikku.
***
"Mau aku peluk?" tanyaku ,asih dalam tahap merayunya. Sekarang kami sedang berbaring di atas ranjang berdua. Brsiap untuk tidur. Tadi ketika Yani akan pergi tidur di sofa, aku mencegahnya an mengajaknya tidur barengan di ranjang. Aku berjanji padanya kalau aku nggak akan ngapa-ngapain dia, dan aku berjanji besok akan membeli ranjang yang lebih besar. Awalnya Yani masih ragu tidur seranjang denganku. Tapi setelah aku berjanji lagi kalau Yani yang akan memilih ranjang yang akan kubeli besok, barulah Yani mau.
"Bukannya tadi kamu udah berjanji nggak akan ngapa-ngapain aku?" Gadis ini mengingatkan.
"Hanya peluk, Yan! Nggak akan ngapa-ngapain."
"Dengan predikatmu selama ini, apa mungkin kamu akan meluk aja tanpa ngapa-ngapain? Kamu ingin aku percaya hal itu?"
"Oke. Oke! Aku nggak jadi nawarin kamu peluk kalau gitu." Aku pun berguling, berganti posisi. Yang awalnya miringv menghadap Yani, kini aku membelakanginya.
Aku kira strategiku akan berhasil. Awalnya cuma peluk, dan dalam bayanganku, setelah merasakan nyamannya dalam pelukanku, nanti Yani pasti menginginkan yang lebih dari sekedar peluk. Tapi aku harus kecewa lagi malam ini. Bayangan tinggal lah bayangan. Istriku ini begitu keras terhadapku.
"Hei!" panggilnya.
"Sampai kapan kamu nggak mau manggil namaku?" protesku. Memang sejak wal kami bertemu, bahkan sejak kami masih di pedalaman dan menikah di sana, yani sama sekali belum pernah memenaggil namaku dengan benar. Dia selalu memanggilku dengan embel-embel Dokter. Atau nggak gitu, dia akan memanggilku seperti itu. 'Hei'.
"Jujur, sebenarnya aku agak kesulitan harus menentukan panggilan untukmu dengan sebutan apa. Lebih mudah ketika di rumah sakit. Aku akan memanggilmu Dokter. Tapi kalau udah di rumah kayak gini, aku bingung mau memanggilmu kayak apa?"
Aku tersenyum, mendapat celah kesempatan. Sepertinya Tuhan memberiku tanda lampu hijau agar kami bisa berhaha hihi ria nanti.
Dengan perasaan riang gembira, aku pun kembali membalikkan tubuhku, kembali menghadap Yani yang sedari tadi terus saja telentang dengan ditutupi selimut sampai lehernya.
"Mau aku beri piihan?"
Sepertinya Yani tertarik. Buktinya, dia langsung balas berganti posisi menghadapku.
"Boleh, Apa itu?"
"Gimana kalau kita di rumah berdua kayak gini, kamu memanggilku dengan panggilan 'Sayang'?"
"Kenapa aku jadinya pengen muntah ya?"
Aku langsung cemberut mendapati respon Yani yang begitu tajam. "Ya udah. Panggil aku bebeb aja!"
"Bebeb apa bebek?"
"Ya udah mas aja."
"Kayak mas-mas tukang somay?"
"Abang aja kalau gitu."
"Kamu mau berubah kerjaan jadi abang tukang bakso?"
"Cak dech."
"Cak lontong maksudnya?"
"Oppa aja kalau gitu. Biar keren."
"Memangnya kapan kamu berubah kewarga negaraan Korea?"
"Yani ...." Aku bener-bener nggak tahan. Malam ini kenapa nih gadis nyebelin banget sih.
"Hahahaha ..." tawa Yani keras. Sepertinya gadis ini seneng banget bisa ngerjain aku kayak tadi.
"Terserah kamu aja dech mau panggil aku apa aja. Aku akan terima apa pun itu." Serahku.
"Beneran nih?"
"Iya. Apa pun panggilanmu itu. Aku akan terima dengan ikhlas."
"Oke. Aku ingin panggil kamu dengan panggilan ..."