"Apa yang kamu lakukan?" teriakku mencoba menahan emosi yang ingin segera meledak, berusaha meleoaskan pekukan tangan gadis ini dari perutku. "Bukankah sudah berkali-kali aku bilang, jika di rumah sakit panggil aku dengan sebutan dokter dan bersikaplah profesional!"
"Memangnya kenapa? Kita kan dekat?" rajuknya.
Aku menghembuskan nafas lelah. Salahku memang, kenapa dulu ketika Inez pertama kali masuk rumah sakit aku malah menggodanya. Aku nggka tahu kalau gadis ini seagresif. Bukan hanya agresif, cewek ini sedikit menakutkan.
"Inez! Aku mohon! Ini adalah rumah sakit.Aku nggak mau wibawaku jatuh gara-gara pelukanmu ini."
"Baiklah!" Katanya masih dengan suara sedikit merajuk. "Tapi kamu harus janji kalau kamu harus makan siang denganku!"
"Aku sudah punya janji akan makan siang dengan seseorang."
"Nggak bisa. Pokoknya kamu harus makan siang denganku!" Lagi, cewek ini mengeratkan pelukannya.
Sial ...! Kalau seperti ini kapan aku akan lepas darinya. Mana Yani pasti sudah pergi jauh dengan cowok itu.
Ah ... b******k memang! Ingin mengamuk tapi nggak bisa.
"Apa kamu anak kecil? Kenapa kamu memaksa sekali?" Lama-lama aku sedikit frustasi juga meladeni gadis ini.
"Ini karena kamu yang selalu menghindariku. Padahal dulu kamu senang sekali mengejarku. Tapi sekarang, setelah kita putus, ingin bertemu denganmu saja aku sangat kesulitan." Gadis ini kembali merajuk.
Itu karena kamu menakutkan. Mana ada gadis yang selalu minta ditiduri. Walau aku ini juga termasuk cowok b******k, tapi jika ceweknya terlalu agresif seperti itu juga takut tahu. Mana nih cewek selalu nempel kayak perangko nggak mau lepas lagi.
"Nah karena kita udah putus bukannya lebih bagus kalau menjaga jarak. Kamu kan bisa mencari cowok lain yang lebih keren."
"Tapi menurutku kamu lah yang paling keren! Aku nggak mau cowok lain selain kamu!"
Aaarrrggggghhhh ... Benar-benar apes! b******k! Siaaalaaannnn! Kenapa aku harus kenal dengan cewek ini sih.
"Dokter Ariel! Dokter Inez! Kalian lagi ngapain?" Tanya Dokter Nilam yang baru keluar dari ruangannya. Gadis kalem itu pasti kaget melihat Inez menempel padaku kayak cicak.
Aku menatap Dokter Nilam dengan tatapan memohon. Memohon agar Dokter Nilam bersedia membantuku lepas dari cewek menyeramkan ini.
"Kami hanya lagi melepas kangen aja kok, Dok. Dokter pergi aja nggak papa. Jangan memperdulikan kami." Inez kembali mempererat pelukannya dan bahkan sekarang menyandarkan kepalanya di pungungku.
Aku menggeleng samar pada Dokter Nilam agar jangan meninggalkanku. Jika Dokter Nilam sampai meninggalkanku sendirian dengan gadis nekat ini, habislah riwayatku.
"Maaf Dokter Inez, bukannya sikap Anda ini tidak sopan dan terlalu v****r? Ini kan di rumah sakit dan ini ada di depan ruang praktekku. Jadi jelas saja ini mengganggu pasien yang akan konsultasi denganku dan mengganggu pasien yang akan mendapat perawatan. Saya nggak mau karena kelakuan Anda ini. tempat praktek saya jadi bahan gunjingan."
Yes! Sepertinya Dokter Nilam menangkap kodeku dan memberi serangan balik pada Inez. Top bener dah dokter Nilam. Aku bener benar salut padanya karena bisa membaca situasi yang nggak mengenakan ini dan langsung menolongku.
"Tapi ..."
"Iya saya tahu kalau sekarang tidak ada pasien, karena sekarang adalah waktunya istirahat makan siang. Tapi ke depannya apa Anda bisa menjamin kalau Anda tidak melakukan hal norak lagi seperti ini di depan tempat praktek saya?" Dokter Nilam langsung memotong ketika Inez ingin membantah.
"Norak?" tanya Inez nggak terima. "Kamu bilang apa yang aku lakukan ini adalah hal norak?" Inez sepertinya mulai terpancing marah dan melepaskan pelukannya padaku dan sekarang jadi fokus pada Dokter Nilam.
Mereka berdua sekarang ini sedang berdiri berhadap-hadapan. Seperti dua orang yang akan saling berperang. Mungkin kalau dalam kartun, tubuh keduanya pasti terlihat mengeluarkan semacam api. Inez api warna merah dan Dokter Nilam api warna biru. Serta dari pancaran mata keduanya juga menghantarkan semacam listrik yang saling bertabrakan.
Pernah nonton dragon ball? Yah ... kuramg lebihnya sih seperti itu.
"Ya. Karena ke depannya Dokter Ariel sepertinya akan sering ke tempat praktekku." Dokter Nilam menatapku sambil tersenyum ketika bilang seperti itu.
Dan aku pun segera tersadar dari lamunan film dragon ball sejenak tadi.
Jujur, sebenarnya aku juga nggak yakin kenapa Dokter Nilam berkata seperti itu pada Inez. Cuma untuk membuatnya menjauh atau memang berharap aku akan sering mengunjunginya.
Tapi dalam pikiranku sekarang hanya ada satu hal yang harus segera aku selesaikan. Yaitu, menjauh dari gadis nekat ini secepatnya.
Jadi yang kulakukan adalah ...
"Ya. Sepertinya aku akan sering ke tempat praktek Dokter Nilam. Karena ada sesuatu dari milikku yang ada di tempat dokter Nilam." berkompromi dengan masuk ke dalam permainannya.
"Apa?" Dan sepertinya Inez mulai terpancing. Menatapku dengan sorot tak percaya. "Kamu bohong kan?"
"Tidak." Jawabku mantap. "Aku tidak sedang berbohong. Memang ada sesuatu milikku yang ada pada Dokter Nilam."
Ya. Aku memang tidak berbohong. Memang ada sesuatu dari milikku yang ada di tempat dokter Nilam. Yaitu, istriku, Yani, perawat yang ditugaskan di tempat praktek Dokter Nilam untuk membantunya. Jadi mungkin aku akan sering ke tempat Dokter cantik itu untuk mengeceknya.
Tapi sepertinya Dokter Nilam salah paham dengan perkataanku. Aku mengatakan kalau sepertinya Dokter Nilam salah paham itu bukannya tanpa alasan. Setelah aku mengatakan kalau aku akan sering ke tempatnya, Dokter gigi itu tersenyum malu-malu dengan rona wajah yang agak sedikit memerah. Jangan-jangan Dokter manis itu berharap kalau aku menggombal padanya, kalau 'sesuatu dari milikku yang ada di tempatnya' itu adalah hatiku? Wah ... bisa runyam nanti masalahnya kalau benar Dokter Nilam berpikir seperti itu.
Ah ... bodo amat lah kalau sampai dia salah paham seperti itu. Yang penting aku lepas dari Inez dulu. Gadis ini semakin menakutkan lama lama.
"Aku nggak akan menyerah!" Kata Inez penuh tekad.
Lho kok jadi begini? Nggak akan menyerah gimana maksudnya?
"Aku nggak akan membiarkan Ariel jatuh ke pelukan Dokter sok polos sepertimu." Inez meraih lenganku dan memeluknya dengan sangat erat. Tapi matanya menatap tajam ada Dokter Nilam. "Aku akan mempertahankan kekasihku apapun yang akan terjadi. Nggak akan aku biarkan Ariel-ku jatuh dalam pesona sok lugumu itu. Aku lah cinta pertamanya. Dan aku akan terus menjadi cinta pertama untuknya."
Lah ... apa apaan ini maksudnya? Jatuh ke pelukan apa? Pelukan kepemilikan apaan ini?
Dan apa gadis ini bilang tadi?
Ariel-ku?
Kapan aku jadi miliknya? Dan kapan pula dia jadi cinta pertamaku?
Hadecchhh ... Kenapa semuanya jadi ruwet gini sih?
"Tidak!" Dan tiba-tiba saja, entah sejak kapan, Dokter Nilam sudah ada di dekatku dan meraih lenganku yang satunya. Memeluknya dengan erat juga.
Kini dua juga ini sama-sama memeluk tangan kanan dan kiriku. Inez memeluk tangan kiriku dan Dokter Nilam memeluk tangan kananku. an kedua-duanya sama-sama memeluk dengan sangat erat.
"Aku juga tidak akan menyerah." kata Dokter Nilam juga penuh dengan tekad dan percaya diri. "Dokter Ariel sudah memberiku kode kalau memintaku untuk mendekat padanya dan dia nggak mau lagi denganmu. Jadi aku akan berusaha semampuku untuk melepaskannya dari jeratanmu. Dia sudah nggak menginginkanmu."
Loh ... loh ... apalagi ini?
Kode mendekat apanya? Maksudku itu hanya untuk menolongku lepas dari Inez saat ini saja, karena aku ingin mengejar Yani.
Tapi mengapa malah jadi kayak gini sih?
"Nggak akan kubiarkan kamu mengambil Ariel dariku!"
"Aku juga. Nggak akan membiarkan Dokter Ariel tersiksa dalam jeratanmu terus menerus."
"Lepaskan tangan Ariel-ku!"
"Lepaskan juga tangan Dokter Ariel dari tangan kotormu itu?"
"Apa kamu bilang? Tanganku kotor?"
"Ya. Lepaskan tangan kotormu itu!"
"Tidak. Kamu yang harus melepas tanganmu sendiri!"
"Tidak. Tapi kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
"Kamu!"
Dua gadis ini saling menarik tangan kanan dan kiriku.
Dan aku frustasi ...
Tuhan, aku mohon! Tolonglah aku dari dua wanita yang menakutkan ini! Aku mohon!