Dan aku ...
Tak sabar, aku mengangkat tubuhku sendiri untuk beranjak dan mendorong tubuh Yani dengan lembut. Membalikkannya, mengubah posisinya jadi di bawahku.
"Bolehkah?" tanyaku, tidak, pintaku dengan suara sedikit serak.
Yani tidak menjawab. Tidak menolak dan tidak mengiyakan. Matanya hanya fokus menatapku. Dan aku mengartikan diamnya itu sebagai bentuk jawaban 'ya' yang tidak terucap.
Lalu dengan memberanikan diri, aku mulai mendekatkan wajahku pada Yani. Ketika wajah kami sudah sangat dekat, Yani memejamkan matanya. Dan aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya yang lembut. Hanya sebuah sentuhan yang sangat ringan. Dan aku menarik lagi wajahku menjauh dari wajah istriku, Yani.
Dan aku lihat gadis di bawahku ini masih memejamkan mata. Mungkin merasakan sisa-sisa dari kecupanku tadi.
Kalau saja Yani adalah sosok wanita yang biasa saja dan sama dengan lainnya, mungkin saja aku sudah menerkamnya seperti kelakuanku biasanya jika sedang b*******h seperti saat ini.
Tapi Yani adalah sosok yang berbeda. Dengannya, entah mengapa, seakan aku sangat berhati-hati. Jika aku menyentuhnya dengan kasar sedikit saja, rasanya aku seperti akan merusakannya. Di mataku gadis ini seperti porselen yang begitu rapuh. Dan entah dari mana datangnya perasaan ini, Tapi aku seakan merasa aku harus memperlakukannya dengan penuh hati-hati.
Kusentuh pipinya yang lembut, dan sentuhanku itu membuatnya membuka matanya yang terpejam. Aku pun mengelus pipinya yang mulus dan terlihat sangat bersih itu. Dan tanganku berjalan ganti mengusap bibirnya yang terlihat ranum dan seksi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apanya?" Tanyaku balik. "Apakah pertanyaanmu itu kenapa aku cuma mengecupmu saja? Atau kenapa aku berhenti cuma di kecupan dan tidak lanjut ke ciuman?" tanyaku dengan sangat percaya diri.
"Tidak. Bukan itu yang ingin aku tanyakan."
Aku mengerutkan alis, heran. "Lalu?"
"Kenapa kamu menciumku?"
"Eh? Apa?"
"Kenapa kamu menciumku? Apakah kamu sudah mulai mencintaiku padaku?"
"Apa?" Sungguh, aku benar-benar nggak ngerti jalan pikiran gadis ini. Bukankah hal wajar jika suami istri aling mengecup atau mencium.
"Jadi bukan karena mencintaiku?" tanyanya lagi.
Dan aku semakin bingung. Aku pun beranjak dari atas tubuhnya. Duduk di tepian ranjang.
Yani pun melakukan hal yang sama. Gadis itu beranjak dari posisi berbaringnya dan duduk agak menjauh dariku.
"Maaf, tapi apa maksud dari pertanyaanmu, bukan karena mencintaimu?" aku bertanya karena memang tak mengerti. Pemikiran gadis ini seperti berbeda dengan pemikiran gadis-gadis kebanyakan. "Bukankah hal wajar jika suami istri berciuman? Bahkan jika b******a pun bukannya itu nggak masalah?"
"Ya, memang. Semua itu tidak masalah karena kita sudah menikah dan jadi suami istri. Tapi ... itu adalah ciuman pertamaku. Dan aku tentu senang kalau ciuman pertamaku itu dengan suamiku sendiri. Cuma pertanyaannya adalah, apakah suamiku itu menciumku karena mencintaiku atau karena gairah sesaat saja?"
Jleb!
Pernyataan yani ini seakan seperti panah yang menancap kuat di jantungku. Mematikan segala bantahanku yang ingin kuucapkan. Aku rasanya seperti orang jahat yang kalah.
"Melihatmu diam tak bisa menyanggah, sepertinya jawaban yang kedua itu adalah jawaban yang benar." Yani pun mulai turun dari ranjang. "Aku mau mandi dulu. Malam ini biar aku yang tidur di sofa." Katanya sambil melangkah ke kamar mandi.
"Yan!" panggilku membuat langkahnya berhenti. "Maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan. Siapa tahu aku bisa berubah." Pintaku dan harapku. Walau, jujur saja, aku nggak yakin bisa merubah diriku dengan cepat.
"Tenang saja!" jawab Yani. "Percobaan waktu yang diberikan Mama ini adalah kesempatan buatmu. Terserah kamu mau memanfaatkannya atau tidak. Terserah kamu juga jika kamu tetap ingin seperti dulu. Toh, aku sudah menyerah padamu dan nggak mengharapkan apa-apa lagi dari kamu. Jadi nikamati saja waktu yang diberikan Mama ini sesukamu juga. Karena aku pun juga melakukan itu."
Usai mengatakan itu, Yani pun meneruskan langkahnya, berjalan menuju kamar mandi dan menutupnya sedikit keras.
Brak!
***
"Dokter! Pasien dengan nama Danang ini di bawa dalam keadaan yang tidak sadar, tapi saya tidak tahu kenapa?" Seorang dokter magang memberikan laporan tentang pasien yang terbaring di hadapanku yang masih tidak sadarkan diri sekarang ini. "Aku memeriksa elektro dan kimianya tapi semuanya normal. Hasil pemindaian CT otak dan d**a normal"
Pemeriksaan elektro atau biasa di sebut Electroencephalography atau biasa di singkat EEG, adalah suatu tindakan pemeriksaan untuk mengetahui aktivitas listrik di otak dengan menggunakan cakram logam kecil (elektroda) yang dilekatkan pada kulit kepala.
Aku memeriksa tablet yang berisi hasil ari beberapa tes yang sudah dijalankan untuk pasien ini. Karena tidak mendapatkan sesuatu yang ganjil. aku pun mulai membuka kancing bajunya. Memeriksa dadanya dengan telapak tanganku dan merasakan hal yang ada di dalam tubuh pasien ini. Kupejamkan mataku, menfokuskan seluruh inderaku untuk mendiagnosis pria berbaring ini secara akurat.
Suara detak jantungnya, aliran darahnya, rasa kulitnya. Dan aku menemukan sesuatu.
"Beri dia dua mg nalokson." kataku.
"Nalokson?" dokter magang yang pertama memeriksanya bertanya tak mengerti. "Untuk apa dokter?"
"Pria ini memakai narkoba."
"Apa?" baik dokter magang dan dua perawat yang membantunya kaget dengan ucapanku.
"Tapi n*****a apa?"
"Fentanil. Aku yakin pria ini pasti mendapatknnya secara ilegal dan menyuntikkan n*****a Fentanil pada dirinya sendiri secara teratur." jelasku.
"Tapi bagaimana dokter Ariel tahu?" salah satu perawat yang ada di situ bertanya dengan nada takjub.
Tentu saja karena panca inderaku yang begitu kuat melebihi orang pada umumnya. Ingin sekali aku menjawab seprti itu tapi tidak kulakukan.
Alih-alih menjawab, aku malah tersenyum dan menyuruh salah satu perawat untuk menyisingkan lengan baju pasien. Dan mereka semua terkejut karena mendapati beberapa bekas suntikan di lengan pasien itu.
"Obati dia dan setelah itu telpon polisi. Setelah dia sadar biar selanjutnya menjadi urusan polisi." perintahku.
"Baik dokter." jawab dokter magang dan dua perawat tadi.
Dan aku pun segera beranjak dari ruang UGD setelah masalah yang mereka hadapi sudah ada jalan keluarnya. Tapi dalam perjalanan keluar dari ruang UGD, mataku juga awas mencari Yani di setiap sudut ruangan yang penuh itu.
Sejak kami berangkat bersama tadi pagi, hingga kami akan pulang menjelang sore ini, aku sama sekali belum menemukan batang hidung istriku itu. Dan tadi siang, yang seharusnya aku memeriksanya makan siang dengan siapa, pun gagal. Jadwal operasi yang harus ku tangani lebih lama dari perkiraan karena ada pembuluh darah yang bocor. Dan aku agak lama menemukannya, pikiranku nggak bisa fokus.
Sekilas aku melihat Dafa berjalan keluar dari ruang UGD dengan membawa tas kertas yang lumayan besar.
Apa itu kotak bekal?
Apa cowok itu sedang menuju ke tempatnya Yani untuk mengajaknya makan siang bersama?
Jadi apa jam segini gadis itu belum makan?
Agak bergegas, aku pun mengikuti ke manapun Dafa berjalan, dan dia malah menuju ke tempat prakteknya Dokter Nilam.
Lho cowok itu kok malah ke sini?
Apa dia juga sedang menggoda Dokter Nilam juga selain menggoda Yani.
Dasar b******k!
Marah, aku pun berderap melangkah semakin cepat ke arah ruangan Dokter Nilam. tapi belum sampai aku ke sana ternyata Dafa sudah keluar dari ruangan Dokter Nilam bersama dengan Yani.
Lho kok Yani ada di tempat Dokter Nilam?
Dan seketika itu juga aku teringat ucapan Yani kalau hari ini dia ditugaskan di tempat Dokter gigi tersebut.
Ah ... sial... terus ngapain aku nyari si Yani di ruang UGD tadi? Tentu saja nggak akan ketemu lah, dia nya ada di sini juga.
Tapi aku nggak rela juga jika dia harus makan siang dengan cowok b******k itu. Apalagi makan bekal yang di bawa Dafa. Aku benar benar nggak rela.
Akhirnya yang kulakukan adalah ...
"Yani!" memanggilnya.
Tak hanya Yani tapi Dafa pun ikut menoleh ke belakang, melihatku. Dan ketika aku sudah berjalan menuju ke tempat mereka, tiba-tiba ...
"Arieeelll ...
Deg!
Sebuah suara yang nggak asing dan yang nggak paling kuharapkan terdengar. Dan langsung memelukku dari belakang.
Dan kulihat lagi mata Yani. Matamya terlihat sama seperti matanya ketika berada di parkiran kemaren. Sorot mata terluka.
"Arieeeellll .. aku kangen!" Dan cewek biadap ini malah semakin memelukku sangat erat sampai aku nggak bisa bergerak.
Dan di sana. Yani tampak berbalik lagi diikuti oleh Dafa. Kembali berjalan meninggalkanku dalam pelukan gadis sialan ini.
Dasar brengseeeeekkkkkk ...!!!