Pukul delapan malam kami pulang dari panti. Kami pulang bersama.
Awalnya Bu Dian, Bu kepala panti, agak merasa aneh karena kami pulang bersama. Tapi dengan cepat aku menjawab kalau aku kenal dekat dengan suami Yani, Dan suaminya menitipkan Yani padaku.
Karena memang pada dasarnya Bu kepala panti adalah orang yang baik, Bu kepala panti pun percaya dengan apa yang aku katakan. Bahkan beliau berpesan padaku agar menjaga Yani dengan baik, selamat sampai bertemu dengan suaminya lagi.
Aku pun menjawab dengan tulus, kalau aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku.
"Kenapa kamu nggak bilang sejujurnya kalau kamu adalah istri dari anak yang punya panti?" tanyaku ketika kami sudah berada di mobil, perjalanan pulang.
"Dan membuat seluruh penghuni panti segan padaku?"
Pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan juga oleh istri cerdikku ini.
"Tidak. Terima kasih. Aku lebih nyaman tinggal dengan seseorang yang menganggapku sama dengan mereka." jawabnya dengan serius.
Lalu kami kembali diam. Sepertinya gadis ini masih memendam marah padaku. Wajahnya terus saja ditekuk sejak kami keluar dari panti.
"Apa kamu mau makan di luar dahulu sebelum pulang?" aku bertanya untuk memecah kesunyian.
"Kenapa kamu tidak bertanya kenapa Dafa memukulmu tadi?"
Ah ... ternyata ini yang dipikirkan gadis ini. Memang sih aku ingin tahu kenapa cowok itu memukulku tanpa sebab setelah aku bilang kalau Yani adalah istriku. Mungkin saja dia tahu tentang hubunganku dengan Yani. Jika benar seperti itu, berarti mereka sangat dekat sampai Yani menceritakan kehidupan pribadinya pada cowok itu. Dan aku nggak suka itu. Aku belum sanggup untuk mendengar kisah mereka. Seberapa dekat cowok bernama Dafa itu dengan Yani. Aku masih harus mempesiapkan diri. Karena aku sadar, aku mulai cemburu pada cowok itu. Cemburu karena milikku bisa saja menjadi miliknya.
"Tidak." jawabku pada akhirnya. "Aku tidak akan bertanya kenapa temanmu memukulku. Karena aku nggak ingin dengar kamu bercerita tentang dia. Aku nggak mau kamu bercerita tentang seberapa dekat kalian selama ini. Dan aku nggak mau tahu itu. Aku masih menikmati cerita dari Bu kepala panti kalau cintamu hanya untukku, tanpa ada cowok lain." jujurku.
"Dasar egois!" rutuk Yani.
"Apa?"
"Ya. kamu egois. kamu senang sekali ada wanita yang mencintaimu dan menunggumu, tapi kamu sendiri nggak suka terikat, nggak bisa mencintai satu wanita saja dan nggak bisa menunggu hanya untuk satu wanita. Apa itu namanya kalau bukan egois?"
Aku diam. Rasanya sekarang ini, Yani sedang meluapkan kekesalannya karena harus menantiku lama. Dan aku akan menerima seumpama dia ingin memukulku atau memarahiku. Aku nggak akan protes. Karena aku sadar, kalau aku lah yang salah.
"Maaf!" Dan hanya itu yang bisa kukatakan.
"Ah ... akhirnya aku mendengarnya juga." kata Yani membuatku reflek menatapnya. Gadis itu menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di kursi jok dengan lebih rileks.
"Apa maksudmu?"
"Ya. Kata maaf yang terucap dari bibirmu itu. Akhirnya aku mendengarnya juga. Yah walau butuh hampir tiga hari untuk mendapatkannya tapi tak apa lah."
"Maksudmu?"
"Apa semua laki laki memang nggak peka terhadap kata maaf? Apa kamu kira walau aku setia menantimu aku nggak mengharap kata maaf yang terucap darimu? Sayangnya aku tidak sebaik itu."
"Maaf aku terlambat menyadarinya."
"Bukankah aku sudah bilang nggak papa. Lebih baik terlambat dari pada nggak mendengarnya sama sekali."
Entah kenapa, aku sedikit tersentuh dengan kelapangan d**a Yani. Gadis ini dengan mudahnya bisa memaafkankuk yang ceroboh ini.
"Dan maaf lagi untuk ke depannya."
"Kenapa?"
"Mungkin aku butuh waktu untuk menjadi suami yang baik untukmu. Dan aku tidak bisa menjamin apakah nati aku tidak akan melukaimu lagi, atau bisa saja nanti aku mengecewakan kamu lagi."
"Tak apa. Biarkan mengalir seperti apa adanya. Tapi mungkin jika seumpama nanti kita berpisah lagi, aku nggak yakin bisa menunggumu lagi." Lalu gadis itu hanya menghela napas setelah mendengar segala keraguan tentang diriku sendiri dan mengucapkan tentang keraguannya
***
"Apa semua ini?" Yani kaget ketika kami masuk apartemen, sudah banyak sekali boneka yang tertata rapi di ruang tamu.
Ahh ... iya. Boneka. Tadi kan waktu membuntuti Yani aku sempat menelpon Bu Adisty untuk memborong boneka di toko yang sempat di masuki Yani tadi.
"Ini semua ... apa?" ulang Yani menatap padaku dengan sorot mata tak percaya.
"Ini ... " Aku menjawab penuh ragu. Jika aku mengaku kalau aku yang membeli semua ini, maka pasti aku ketahuan kalau menguntitnya sore tadi. Dan alasanku yang di suruh Mama untuk mengecek panti pasti ketahuan kalau bohong.
Nggak sabar karena aku nggak segera menjawab, Yani langsung mendekat pada gunungan boneka itu, menjumputnya satu dan melihat tulisan tokonya.
"Ini bukankah boneka dari toko yang kubeli tadi?" tanya Yani sambil menunjukkan boneka yang diambilnya ke arahku.
Aku gelagapan, tak sanggup menjawab, dan aku gengsi jika ketahuan menguntitnya.
"Pfffttttt."
"Kamu tertawa?' tanyaku melihat Yani membekap bibirnya sendiri.
"Ternyata suamiku punya sisi lucu juga ya. Hahahaha."
"Jangan menertawaiku. Nggak lucu tahu." Aku malu. Sangat sangat malu. Aku, Ariel, cowok yang nggak pernah kehabisan stok cewek malah membuntuti istrinya sendiri gara-gara cemburu buta.
"Yah ... aku penasaran. Gimana reaksinya cewek-cewek yang mengejarmu jika kamu membuntutiku seperti ini ya? Apa mereka akan ilfeel padamu? Hahaha."
Aku berderap melangkah mendekat pada Yani. Dan gadis itu malah lari ke balik kursi sofa di ruang tamu. "Jangan bilang siapa-siapa tentang itu. Awas aja jika sampai ada satu cewek pun yang tahu tentang ini!" Ancamku. Karena nggak berhasil meraih tangannya.
"Mmmm gimana ya? Kayaknya besok Dokter Nilam ada jadwal dan sepertinya besok giliranku di ruangan dokter cantik itu."
Jiah ... sekarang dia malah balik mengancamku. Awas saja kamu bocah!
"Yani! Jangan macam-macam! Jangan memberitahu Dokter Nilam apa pun."
"Kasih tahu nggak ya."
Aku makin greget, Gadis ini malah meledekku sambil tertawa kayak gitu.
"Yani ... Awas kamuuuuuu ...!!!!" Dan aku pun berlari mengejarnya.
Sedangkan gadis itu masih dengan tawanya, berlari masuk ke dalam kamar. Aku berhasil menghadangnya ketika dia hampir menutup pintu kamar. Al hasil dia kembali berlari, berlindung di balik ranjang.
Aku bersyukur karena belum mengganti ranjang. Karena ranjangnya masih kecil, jadi dengan sekali lompatan aku langsung bisa menyeberang ranjang dan menangkap tubuh Yani. tapi karena lompatan yang terlalu kuat, malah membuat kami jatuh bersamaan ke atas ranjag. Dengan posisi, Yani berada di atasku.
Untuk sesaat, kami saling mengunci pandangan.
Ada debar-debar halus yang mulai merambat ke dalam d**a.
Ada rasa geli yang menggelitik perutku ketika mataku beralih menatap bibirnya.
Ada jantung yang berdentam kuat ketika aku menghirup aroma tubuhnya.
Apalagi ketika wajahnya semakin turun mendekat ke wajahku. Jantungku serasa bertalu-talu ingin keluar begitu merasakan hangat napasnya yang membelai wajahku.
Dan aku ....