26. Doa Bu Kepala Panti

1195 Kata
"Kak Yani!" "Kak Yani!" "Mbak Yayan!" Aku mendengar para anak kecil itu bersahutan menyebut nama Yani dengan segala tingkah polah mereka. Dan Yani sendiri, menyambut segala kehebohan mereka dengan senyum dan tawa yang ceria. Di bantu Pak sopir taksi, Yani mengeluarkan semua barang yang dibelinya tadi dari bagasi dan menyerahkannya pada para anak panti. Tentu saja mereka sangat senang atas semua hadiah itu. Sampai di sini ada rasa sesal yang menyelimuti hatiku ketika menyadari bahwa perkiraanku salah. Gadis ini tidak sama dengan kebanyakan gadis lainnya. Cewek ini sungguh spesial. Setelah Pak sopir taksi mengeluarkan semua barang belanjaan Yani, beliau pamit mengundurkan diri. Yani terlihat segera memberikan ongkos taksi, tapi Pak sopir itu menolaknya. Dengan indera pendengarku yang tajam aku dapat mendengar alasan pak sopir taksi menolak ongkos taksi dari Yani. "Nggak usah mbak. Selama ini aku belum pernah berbagi dengan anak yatim seperti mbaknya. Jadi tolong anggaplah ongkos taksi ini sebagai sumbanganku dengan cara mengantarkan mbak memberikan hadiah untuk anak anak ini." Tapi aku tidak bisa mendengar apa balasan Yani atas permintaan Pak sopir itu. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau panca indera tajamku ini sama sekali tidak mempan pada istriku itu. Kulihat Yani hanya tersenyum pada Pak sopir taksi dan mengembalikan uangitu ke dalam dompetnya. Sepertinya gadis itu menghargai usaha si pak sopir yang ingin ikut menyumbang ke panti asuhan. Tak lama kemudian mereka berpisah dan anak-anak kecil itu melambai senang pada pak sopir yang sudah membawa pergi taksinya dari panti asuhan. Terlihat, Yani masih berada di depan gerbang dengan anak-anak itu. sepertinya mereka sangat senang sekali. Dan itu membuatku ingin mendekat pada mereka. Kubuka mobil. Dengan perlahan aku keluar mobil dan menutup mobil dengan hati-hati. Aku nggak mau Yani menyadari keberadaanku yang mengikutinya sampai ke sini. Dan aku nggak bakal mengakui kalau aku menguntitnya setelah kejadian di kantin tadi siang. Jadi rencananya, aku akan berpura-pura tidak sengaja bertemu Yani di sini. Kami kebetulan bertemu di sini, karena secara tidak sengaja aku diminta Mama untuk melihat keadaan panti. Gimana rencanaku? Sempurna kan? "Hai!" Sapaku ketika aku sudah sampai di dekat Yani dan anak-anak. Yani terlihat kaget ketika menoleh ke asal suaraku dan mendapatiku berdiri di belakangnya. "Dokter Ariel! Bagaimana anda bisa ke sini?" Entah kenapa, panggilan Yani yang formal untukku agak membuat hatiku terasa ganjal. Aku kira panggilan formal itu hanya berlaku ketika kami berada di rumah sakit saja. Ternyata di luar rumah sakit dan di luar apartemen panggilan formal itu masih berlaku. "Bukankah ini di luar rumah sakit?" protesku pada akhirnya. "Bisakah kita hilangkan panggilan formalnya. Aku nggak suka." Yani terdiam sejenak. Matanya menatapku dalam keheningan. Aku sama sekali yang bisa menebak apa yang ada di pikiran gadis itu. "Baiklah." jawab Yani pada akhirnya. "Tapi kenapa kamu bisa ada di sini?" "Aku?" Jari telunjukku menunjuk ke hidungku sendiri. "Aku sedang dalam tugas dari Mama. Beliau menyuruhku untuk melihat keadaan panti." jawabku sesuai rencanaku tadi. "Biasanya tiap beberapa bulan aku juga ke sini untuk mengecek keadaan anak- anak panti." tambahku berbohong. Padahal yang sebenarnya adalah Mama menyuruh Bu Adisty untuk mengecek panti. Karena setiap menyuruhku, aku pasti akan selalu menolak perintah Mama. "Benarkah?" tanya Yani ragu pada kata kataku. "Tentu saja benar. Walau pun gini-gini, aku juga suka anak-anak panti tahu!" kilahku sombong. "Lalu untuk apa kamu ke sini? Bagaimana kamu tahu panti ini?" "Aku kan tinggal di sini sudah empat tahun. Kamu lah yang menelantarkanku di sini kan. Masak kamu lupa?" Doeeennggggg ....! Jawaban Yani terasa sangat menohok jantungku. Selain karena aku ketahuan berbohong, ternyata selama empat tahun ini dia tinggal di panti auhan ini. Bukannya tinggal di apartemen yang layak tapi di panti asuhan Mama. Ahhh ... makanya anak-anak panti tadi terlihat sangat akarb dengan Yani. Ternyata karena Yani juga tinggal di sini. "Aku ..." "Tuan muda Ariel!" panggil seseorang. Baik aku atau pun Yani sama-sama menoleh ke asal suara. "Bu Dian!" Yani menyebut nama kepala panti itu dengan senyum sumringah dan langsung menghambur dalam pelukan wanita setengah baya itu. "Baru dua hari aku pergi dari panti, tapi rasanya aku udah kangen banget!" kata Yani begitu manja pada bu kepala panti. Jadi selama ini Yani selalu tinggal di panti? Dan pergi dari panti karena harus tinggal denganku sejak kemaren? Tapi melihatmya bisa manja seperti itu entah kenapa membuatku senang. "Benarkah? Bukankah kamu seharusnya senang karena sudah tinggal bersama suamimu?" Goda Bu kepala panti. "Selama ini kan kamu selalu bilang menunggu suamimu yang ganteng itu dan nggak sabar ingin bertemu dengannya. Mana mungkin kamu sampai bisa kangen ibu." Si ibu kepala panti masih terus menggoda Yani, bahkan sekarang dia tersenyum geli sendiri. Sepertinya ibu kepala panti tidak tahu kalau Yani adalah istriku, dan dia adalah menantu pemilik panti ini. Satu lagi fakta yang membuatku kagum pada sosok istriku ini. Ternyata dia suka sekali menyembunyikan identitasnya sendiri. "Ibu jangan bicara seperti itu." Malu Yani mencubit pinggang bu kepala panti. Dan malah membuat tawa bu kepala panti itu semakin keras "Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Yani malah melirikku. "Oh ya, tuan muda Ariel. Apa kabar?" Bu Dian. Bu kepala panti yang di beri mandat Mamaku untuk mengurus panti sejak pertama kali panti ini dibangun, menghampiriku dengan sopan dan mengulurkan tangannya padaku. "Alhamdulillah, baik Bu. Ibu sendiri sma anak-anak gimana kabarnya?" "Alhamdulillah kami semua sehat, Tuan. Berkat kemurahan hati Mama Tuan Muda." Aku hanya tersenyum, tak tahu harus menjawab apa lagi. "Ngomong-ngomong, tumben Tuan Muda ke sini, ada apa?" tanya Bu kepala panti merasa aneh. "Dua hari yang lalu Bu Adisty sudah ke sini, mengecek kondisi anak-anak sambil menjemput Yani. Katanya dia mau dipertemukan dengan suaminya." "Oh begitu." Aku melirik Yani yang diam seribu bahasa. "Apa Yani sangat mencintai suaminya, Bu?" tanyaku memancing. Dan lihatlah bola mata cantik yang melebar itu! Yani semakin terlihat cantik dengan ekspresi kaget dan protes secara bersamaan kayak gitu. "Tentu saja gadis nakal itu mencintai suaminya. Coba anda bayangkan! Wanita mana yang bisa bertahan menunggu suaminya yang tak kunjung menjemputnya selama empat tahun. Hanya mengirimkan uang tanpa tahu mau keadaan istrinya. Yani dengan begitu setianya, selalu menunggu kedatangan suaminya itu tanpa lelah. Gadis itu bahkan pernah mencoba mencari suaminya sendiri dan berakhir pulang dengan menagis meraung-raung." Apa waktu itu ketika dia diantar Bu Adisty ingin bertemu denganku tapi malah mendapatiku di diskotik bermain dengan para wanita? ""Dan ketika aku tanya kenapa dia menangis. Yani hanya menjawab, bahwa dia kehilangan suaminya, dia belum menemukan suaminya dan itu membuat hatinya terluka dan sakit. Tapi walau pun begitu, Yani bilang padaku bahwa dia akan tetap menunggu suaminya apa pun yang terjadi." Aku menatap Yani kaget. Benarkah gadis ini berkata seperti itu? Benarkah gadis ini masih menjaga nama baikku padahal aku sudah sangat menyakitinya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada gadis dengan hati yang begitu baik ini ada? Dan Yani hanya menunduk, menghindari tatapan mataku. Bu kepala panti meraih tangan Yani dan menariknya mendekat padanya. Mengelus gadis itu penuh rasa sayang. "Siapapun suami Yani, walau yani belum pernah mengatakan siapa suaminya sekalipun, di manapun dia berada, aku hanya ingin dia tahu bahwa dia sangat beruntung mempunyai istri seperti Yani. Dan aku sangat berterima kasih padanya, siapapun pria itu, karena telah menjemput Yani setelah penantian panjangnya selama empat tahun. Dan aku berharap Yani bisa bahagia dengan suaminya. Dan suaminya bisa membahagiakan Yani dengan layak. Aamiin. Hanya itu doaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN