Buk!
Tiba-tiba saja Dafa langsung memberiku bogem mentah setelah aku menyebut Yani sebagai istriku. Dan tubuhku langsung tersungkur ke lantai dengan rahang yang terasa berdenyut. Dan tentu saja kami juga langsung jadi tontonan banyak orang di kantin yang masih ramai.
Kenapa? Ada apa dengan bocah ini? Kenapa aku tiba-tiba kena pukul?
Dan lucunya, istriku Yani malah memegangi tubuh Dafa yang ingin menghajarku kembali dan bukannya menolongku yang sebagai suaminya.
"Sudah Dafa, aku mohon! Cukup!" Dan istriku itu sampai memeluk Dafa untuk mencegahnya menghajarku.
Wajah cowok itu terlihat sangat marah, alisnya mengerut dan tatapan matanya sungguh tajam. Warna kulit wajahnya sampai terlihat merah karena menahan amarah.
Ada apa dengan cowok ini? Kenapa dia sangat marah?
"Apa kamu gila?" makiku ikutan marah. Sebenarnya marahku bukan karena dia menonjokku atau mempermalukanku di kantin. Tapi marahku lebih ke jengkel karena Yani memeluk bocah itu.
"Kalau bukan karena Riri, aku pasti sudah membunuhmu. Aku benar-benar muak melihat wajahmu itu. Jika saja ini bukan di kantin da Riri tidak menahanku, aku pasti sudah menghajarmu sampai babak belur." Desis Dafa. Khas orang yang berbicara sambil mengatupkan bibirnya untuk menekan rasa amarahnya.
Dan setelah berkata seperti itu. Dafa melerai pelukan Yani dan menggenggam tangannya. Menarik tubuh Yani untuk pergi dari kantin.
Sedangkan aku hanya bisa melihat keduanya meninggalkanku seorang diri dengan masih duduk di lantai kantin, memegangi lukaku. Entah mengapa di sini, aku seperti seorang antogonis yang mencoba merebut Yani dari pemeran utama prianya. Padahal di sini akulah yang jadi pemeran utamanya, akulah suaminya. Bukan b******n kecil itu.
"Anda nggak papa, dok?" tanya seseorang yang menghampiriku. Mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
Aku menatapnya, lalu menatap beberapa orang yang bergerombol menonton pertunjukan yang melibatkanku. Barulah rasa malu itu muncul.
Sial ... pasti setelah ini banyak gosip nggak mengenakan yang sebentar lagi akan beredar.
Aku pun menyambut uluran cowok yang menolongku ini. Sepertinya dia perawat magang baru juga. Wajahnya masih terlihat asing.
"Nggak papa." jawabku atas pertanyaannya tadi. "Terima kasih!"
Usai berdiri dengan benar, aku pun segera berlalu dari kantin dan pergi kembali ke kantorku. Sesampainya aku di kantor, baik Inez atau pun Dokter Nilam sudah tidak ada di kantorku lagi.
Segera aku kunci pintu kantor. Dan mengurung diri di dalamnya. Aku yakin sebentar lagi, baik Bagas atau pun Kenzo pasti mencariku dan aku malas banget debat sama mereka kali ini. Aku bener-bener bad mood. Bayangan Yani yang memeluk Dafa masih tercetak jelas dalam ingatanku. Dan itu semakin membuatku emosi.
Sore hari ketika pulang kerja, aku menunggu Yani di parkiran.
Dan seperti dugaanku, istriku dan kesatrianya itu keluar dari rumah sakit dengan berbarengan dan langsung berjalan menuju halte bus.
Melihat mereka, aku segera menstater mobilku dan mengikuti keduanya. Aku ingin melihat, apakah mereka berdua akan pulang bersama dan naik bus bersama juga. Kalau iya berarti terjawab sudah kenapa Yani selalu bilang ingin minta cerai kalau aku masih senang main wanita. Karena dia sendiri juga sudah punya kekasih lain yang bisa dipakai untuk sandarannya. Siapa lagi kalau Dafa, cowok itu. Dan jika itu seratus persen benar, maka, aku tidak perlu menunggu masa percobaan ini selesai. Aku akan menceraikan Yani besok juga jika mereka pulang bersama.
Jadi yang kulakukan adalah. Memarkir mobilku sendiri agak jauh dari halte bus untuk mengintai mereka berdua.
Aku kira mereka akan duduk saling berdekatan, atau bahkan saling memgang tangan layaknya kekasih, tapi ternyata tidak. Dua sejoli itu duduk dengan jarak satu meter. Ya, walaupun mereka tidak berhaha hihi dengan saling melempar senyum seperti tadi, tampaknya mereka mengobrol dengan normal. Kadang aku melihat Dafa bolak balik menatap Yani yang selalu menatap lurus ke jalan raya, atau menatap sepatunya sendiri. Istriku itu, bahkan tidak melihat ke arah Dafa walau mereka terlihat sedang mengobrol. tapi Dafa lah yang bolak balik menatap Yani. Kadang dengan tatapan kasian, kadang dengan tatapan sayang, kadang pula dengan tatapan kagum. Dafa seperti tak bisa melepas matanya dari sosok Yani.
Dan aku di sini, rasanya ingin menyolok mata itu yang terus menerus memelototi istriku yang cantik.
Tak lama kemudian bus datang dan menutupi pandanganku pada dua bocah itu. Sedikit was-was aku menunggu bus itu berjalan. Apakah mereka berdua naik bus, atau hanya Dafa saja? Di menit selanjutnya, pertanyaanku akhirnya terjawab.
Bus pergi dan meninggalkan Dafa sendirian di halte bus.
Lho berarti Yani naik bus dan Dafa nggak ikut?
Tapi tak lama juga, ada mobil marcedes benz A Class yang berhenti di depan halte dan di depan Dafa. Lalu dari mobil itu keluarlah seorang pria dengan memakai jas hitam menjemput Dafa. Pria itu membungkuk ke arah Dafa sejenak, Dafa berdiri dan berjalan ke arah mobil.Pria itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuk cowok b******k itu.
Dan di dalam intaianku, aku sendiri sangat terkejut mendapati kalau Dafa bukanlah anak perawat biasa. Mana ada perawat biasa tapi dilayani selayaknya tuan muda. Satu tanda tanya besar yang memenuhi kepalaku tenang Dafa. Siapa sebenarnya bocah itu?
Tapi bukan hal itu yang penting sekarang ini. Yang penting sekarang ini adalah Yani. Kemana gadis itu akan pergi? Mau kemana dia sore-sore begini? Apakah pulang ke apartemen sendiri? Tapi kan dia belum tahu paswordnya.
Akhirnya, aku kembali menstater mobilku dan mulai mengebut. Mencari bus yang dinaiki Yani tadi dan ketemu.
Dengan perlahan aku membuntuti bus itu dan setiap bus itu berhenti, maka aku pun ikut berhenti. Mengecek apakah Yani turun atau tidak.
Dan di sebuah deretan toko-toko, barulah Yani terlihat turun dari bus. Dan berjalan dengan langkah ringan menuju deretan toko itu.
Aaahhh ... ternyata semua perempuan itu sama saja. Mereka gemar sekali berbelanja. Apalagi jika hati lagi bad mood, pastilah nanti dia belanja gila-gilaan.
Tak mau hanya menunggu, akupun membuntuti Yani dari belakang dengan menjaga jarak agak jauh darinya. Ketika gadis itu berhenti di toko aksesoris, aku pun berhenti di toko topi. Membeli topi seadanya dan langsung memakainya untuk menyemprnakan penyamaranku. Dan biar nggak ketahuan.
Sebentar kemudian, Yani terlihat keluar dari toko aksesoris dengan beberapa tas belanjaan.
Nah kan apa kubilang. Gadis ini pasti belanja gila-gilaan untuk melampiskan kekesalannya. Sama seperti gadis kebanyakan.
Aku mengikuti gadis itu kembali. Kali ini dia memasuki toko boneka.
Aku menyipitkan alis. Merasa aneh dengan selera istriku itu. Kenapa dia masih ingin punya boneka. Bukankah dengan umur segitu sudah lewat masanya dia bermain dengan boneka. Karena penasaran aku pun mengikutinya masuk ke dalam toko boneka. Dan aku lihat dari kejauhan, gadisku itu dengan penih senyuman dan kebahagiaan memilih dan membeli boneka yang menarik minatnya.
Ahhh ... imutnya. Pujiku melihat Yani yang tersenyum lembut sambil mengambil satu boneka boba yang lucu. Gadis ini benar-benar terlihat sangat senang bisa membeli empat boneka sekaligus.
Apa aku perlu memborong toko ini? pikirku. Sepertinya istriku itu sangat senang dengan boneka. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena tidak menurutinya untuk saling nggak kenal di rumah sakit tadi.
Dan aku pun enelpon Bu adisty, mengatakan keinginanku lalu menutupnya. Semenit kemudian, aku menfoto plakat toko, mengirimkannya pada Sekretaris Mamaku itu dan mengetik alamat toko ini sekalian.
Dan inilah hadiah kejutan pertamaku untuk istriku yang cantik. Semoga dia suka.
Usai ritual dengan Bu Adisty, aku kembali mengikuti Yani. Kali ini dia masuk ke dalam toko cemilan. Dan tak lama kemudian, dia keluar dengan dua kantong besar camilan. Entah camilan apa saja yang diborongnya. Aku tidak tahu karena aku nggak ikut masuk ke dalam.
Setelah semua belanjaan itu, dengan susah payah membawa barang belanjaannya, Yani berdiri di pinggir jalan, menghentikan taksi.
Dan aku segera bergegas kembali ke mobilku agar aku nggak kehilangan jejak istriku ini.
Benar saja, baru saja aku akan melajukan mobilku, aku melihat Yani sudah mendapatkan taksi dan segera memasukkan seluruh barangnya ke dalam bagasi di bantu oleh sopir taksi. Setelah semua selesai, gadis itu pun masuk ke dalam taksi dan aku sudah bersiap untuk membuntutinya kembali. Hari ini aku seperti detektif pengintai. Khusus untuk mengintai istriku sendiri.
Ketika aku mengikuti taksi itu, aku merasa heran karena taksi berjalan tidak searah dengan apartemen, malah belok menjauhi arah rumah kami.
Curiga, aku tetap mengikuti kemana pun Yani akan pergi. Akan kuikuti walau ke ujung dunia sekalipun?
"Ke mana gadis itu mau pergi?" gumamku pada diriku sendiri. "Apa mau janjian ketemu sama cowok b******k yang memukulku tadi?"
Tak peduli aku terus saja mengikuti ke manapun taksi memutarkan rodanya. Dan semakin lama, aku jadi semakin merasa aneh. Karena jalan yang Yani lewati sekarang ini tampak nggak asing bagiku. Dan aku kembali kaget mendapati sisi Yani yang lain ketika taksi itu berhenti di sebuah tempat yang sama sekali nggak asing untukku.
Aku melihat, ketika Yani turun dari taksi, dia langsung dikerubungi banyak sekali anak-anak kecil yang berebutan ingin memeluknya. Anak-anak kecil yang bisa melepaskan tawa yang begitu renyah dari bibir Yani.
Ternyata tempat yang dituju Yani adalah Panti Asuhan Kasih Sayang. Panti yang dikelola di bawah naungan Mamaku. Makanya tempat ini tentu tidak asing bagiku.
Tapi kenapa dan bagaimana Yani bisa tahu tempat ini? Ada apa sebenarnya?