Uuuhh ... tubuhku terasa sakit semua.
Tadi malam seharusnya menjadi malam yang paling indah karena aku baru bertemu dengan istriku yang sudah empat tahun tak bertemu. Seharusnya tadi malam menjadi malam yang penuh b*******h mengingat kami adalah suami istri. Tapi tadi malam justru menjadi malam-malam panjang yang benar-benar tidak mengenakan sama sekali.
Awal dari semua bencana ini adalah gara-gara selimut sialan itu. Gara- gara selimut yang tak tahu mana yang harus ditolongnya.
"Apakah aku harus ganti sprei dan selimut dulu?" tanyaku ketika kami mau beranjak tidur. Masuk ke dalam kamarku yang sangat amat berantakan. Baju berseliweran di lantai, di ranjang dan di segala penjuru kamarku ini. Bahkan celana dalam juga tergeletak sembarang tak tentu arah. "Ah ... maaf. Kamarku seperti habis kena angin tornado." Dan dengan serampangan, aku mengambili semua baju-baju itu dan aku masukkan ke dalam keranjang baju kotor.
"Bisa minta tolong ambilkan sprei dan selimut di dalam lemari, di dalam kamar m**i. Pintu lemari yang paling dekat tembok, laci ke dua dari bawah."
"Oke."
Yani pun melakukan apa yang kuminta. Masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah gadis itu pergi, aku, dengan secepat kilat segera mengambil parfum dari meja yang di dekat ranjang. Menyemprotkan pada bajuku. Semprotan mulut dan juga semprotan ruangan. Aku harus tampil memikat dan wangi.
"Yang warna apa?" teriak Yani dari dalam kamar mandi. Mungkin dia bingung karena banyaknya sprei dan selimut yanga ada.
"Terserah." balasku berteriak.
Tapi ... tunggu. Ranjangku kan single bed. Ranjang kecil. Jadi tentu saja nanti kami, mau tak mau, akan tidur saling berdekatan dan saling melekat satu sama lain. Membayangkannya aku sudh kesenangan dan senyum-senyum sendiri.
Tak salah aku selama ini memilih ranjang kecil untuk hidup sendiri. Karena, aku, memang selama ini belum pernah tidur dengan seseorang. Setiap habis b******a dengan para wanita, aku pun juga nggak tidur. Aku langsung pulang jika kami b******a di hotel, dan wanita yang b******a denganku langsung pergi jika kami b******a di apartemenku. Karena yang kubutuhkan adalah ketika b******a dengan mereka. Aku tak butuh tidur dengan para wanita itu. Makanya hingga saat ini aku hanya memakai ranjang yang kecil.
"Ambil selimut yang warna biru laut aja. Itu baru saja aku laundry dan masih wangi. Kalau sprei terserah. Nggak usah pakai warna yang sama nggak papa." ralatku dan itu hanyalalh alasanku. Sebenarnya selimut itu bukannya baru aku laundry tapi karena selimut itu adalah selimut yang tidak terlalu lebar. Aku membayangkan, karena ranjang yang single bed dan selimut yang kecil, maka kami pastilah akan semakin menempel dan erat. Kesempatan dalam kesempitan. Cerdik kan aku? Hehehe.
Setelah yakin kalau tubuhku, mulutku dan ruangan wangi, aku segera melanjutkan acra bersih-bersihku kembali. Dan tak lama kemudian, Yani pun keluar dan dalam kamar mandi. Ketika kakinya baru melangkah masuk ke dalam kamar tidur lagi, dia berhenti sejenak. Aku sangat yakin, dia berhenti itu karena mencium aroma wangi tersebar di seluruh ruangan. Lalu aku melihat, walau samar, aku melihat Yani menaikkan ujung bibirnya. Dia tersenyum.
Dan satu rencanaku berhasil.
"Tolong gantikan sprei sekalian ya! Aku masih belum selesai memberesi pakaianku!" pintaku lagi.
"Baik." Dan dengan patuh, Yani pun mulai menarik selimut dan sprei di ranjang dan menggantinya.
Aku kira, setelah melihat ranjangku yang kecil, gadis ini akan merengek dengan malu-malu meminta dia tidur di sofa aja. Tapi ternyata aku salah. Yani, istriku ini, ternyata adalah gadis yang pemberani. Dalam diam, dia dengan mengganti sprei, sarung bantal dan juga selimut yang akan kami kenakan.
Apakah ini kode?
Apakah ini lampu hijau kalau aku boleh melakukan 'itu'?
Plak!
Plak!
Aku menampar pipiku sendiri dua kali.
Sadar ... Ariel! Sadarlah! Bagaimana mungin kamu ingin melakukan itu padahal kamu sendiri telah menyakitinya dengan meninggalkannya empat tahun lalu. Kamu kira dia bakal mau begitu saja? Memangnya dia tidak marah padamu? Sadarlah Ariel! Sadaaarrr!
"Kenapa?" tanyanya menatapku tak mengerti.
Aku pun juga menatapnya tak mengerti. Kenapa dia bertanya padaku 'kenapa?'. "Maksudmu?"
"Kenapa kamu menampar pipimu sendiri?" tanyanya dengan mata yang polos.
"Ah ... ada nyamuk." Alasanku. "Ada nyamuk yang mengigit pipiku dua-duanya." Dan aku tersenyum kayak orang bodoh.
Sial ... Siaaallll. Kenapa aku malah jadi kayak gini? Mana Ariel yang selalu keliatan keren dan berwibawa selama ini? Kenapa di depan gadis ini aku malah jadi kayak orang bodoh gini ya? Aaaarrrggghhhtt ... Sial memang!
"Oh ... nyamuk." katanya menanggapi alasan absurdku.
"Sudah selesai?" tanyaku setelah aku menyelesaikan acara membuangi pakaianku ke keranjang kotor.
"Sudah."
"Aku juga sudah. Yuukkk kita tidur!" Aku pun melangkah mendekat ke arah Yani, yang berdiri di dekat ranjang.
"Kamu nggak mandi dulu?"
"Eh? Apa?" Aku ngebleng. Dan baru ingat kalau sejak pulang dengan wanita diskotik, ketemu Mama dan juga gadis ini, makan malam dengan Yani, aku belum mandi.
"Kalau nggak mau mandi, kamu bisa cuci muka saja, gosok gigi dan ganti baju yang lebih nyaman untuk tidur. Memangnya kamu mau tidur dengan memakai kemeja seperti itu?"
"Eh iya juga. Hehehe." Dan untuk kedua kalinya aku kembali tersenyum kayak orang bodoh. Siaaaaalllll ....!!! Lama-lama aku akan jadi orang bodoh beneran dech kalau kayak gini terus. "Aku mandu dulu aja!" putusku kemudian. Lalu berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Apes bener aku malam ini. Percuma saja aku sudah menyemprot perfum ke baju dan tubuhku, kalau ujung-ujungnya aku mandi dan ganti baju. Apeessss .... apeeesssss!
Menuruti keinginan Yani, aku pun mandi dan ganti baju tidur yang lebih santai. Memang sih, benar juga kata istriku itu. Tak apalah kalau tubuh dan bajuku tidak wangi, tapi paling nggak tubuhku beraroma dan terasa segar setelah mandi.
"Sudah?" tanyanya ketika aku keluar dari dalam kamar mandi. "Sekarang ganti aku yang mandi dulu ya." Katanya tanpa menunggu respon dariku.
Dan aku hanya melongo dibuatnya.
Bagaimana bisa ada cewek yang sesantai ini bilang mandi pada cowok yang baru temuinya. Okelah aku memang suaminya, tapi kan kami baru saja bertemu setelah sekian tahun, dan juga kami belum pernah melakukan 'itu'. Apakah gadis ini tidak takut ya? Apa dia tidak berdebar mau tidur sekamar denganku? Apa dia nggak grogi akan tidur seranjang denganku? Kenapa dia bisa santai dan tenang seperti itu? Kok kenapa malah aku yang grogi dan deg-deg an sih?
Ah ... bodo amatlah. Terserah dia mau gimana aja.
Sambil menunggu dia mandi, aku pun berencana ingin tetap terlihat keren di matanya. Jadi aku mengambil buku tentang pelajaran kardiologi, naik ke ranjang dan membacanya. Biar nanti, ketika dia keluar dari kamar mandi, dia akan terpesona padaku yang terlihat cerdas, menunggunya selesai mandi sambil membaca buku.
Dan tak lama kemudian, gadis itu benar-benar selesai mandi dan keluar. Aku menatapnya dan dia balas menatapku. Dan seperti dugaanku, gadis ini melirik buku yang aku pegang.
Yeeesss! Rencana terlihat keren sepertinya berhasil.
Aku pun menggeser tubuhku, memberinya ruang agar bisa ikutan naik ke ranjang. Dan dia mengerti arti gerakan tubuhku ini.
Gadis itu tanpa canggung, berjalan ke arah ranjang dan langsung naik begitu saja.
Siaaalll ... Kenapa malah jantungku yang berdetak keras seperti ini? Seperti mau keluar dari cangkangnya saja. Jangan sampai Yani mendengar detak jantungku yang sangat kuat ini. Bisa malu aku.
"Maaf ... ranjangnya kecil." kataku basa basi.
"Ya nggak papa."
Kenapa di saat seperti ini indera pendengarku tidak berfungsi seperti biasanya ya? Kalau indera pendengarku tidak eror kayak gini, aku pasti sudah bisa mendengar detak jantung Yani yang sangat keras. Tapi ini sama sekali tidak berfungsi. b******k memang!
Kulihat Yani, menata bantalnya dan bersiap berbaring.
"Mau pakai bantal lenganku?" tawarku menggoda, walau nada bicaraku aku tekan agar terlihat seperti tawaran biasa.
"Memangnya kenapa bantalnya? Bukannya ada dua bantal? Untukmu satu dan untukku satu."
Dan aku speechless. Gadis ini sama sekali nggah ngeh dengan kode yang aku berikan. Dengan tatapan polosnya itu, dia menjawab dengan benar.
"Y-ya. Tentu saja." jawabku sedikit salah tingkah. "Bantalnya ada dua jadi nggak perlu bantal lengan."
Dan aku semakin speechless melihatnya tersenyum mengangguk membenarkan.
Sambil berbaring, Yani juga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan secara otomatis, tubuhku juga ikut terselimuti karena aku juga ikut berbaring.
Walau sudah sedekat ini tapi entah mengapa rasanya masih kurang dekat. Padahal lengan kami sudah bersentuhan tapi aku merasa masih kurang. Aku ingin mendekapnya, aku ingin memeluknya dan aku ingin merasakan hangat tubuhnya.
Dan untuk mewujudkan hal itu, aku pun menarik selimut sedikit demi sedikit. Karena AC dalam kamar sangat dingin, jadi dia pasti tidak akan tahan jika tidur tanpa selimut dan akan mendekat padaku untuk mencari kehangatan dalam tubuhku. Aku memang sangat cerdaskan kan? Hehehehe.
Dan aku masih saja terus menarik selimut. Sedikit ... sedikit ... sedikit ... Dan
Bruk!
"Aduuuhhh ...!"
Aku melotot kaget dan kesakitan ketika tubuhku malah melayang jatuh dari ranjang.
Yani terlihat bangun dan melongok kaget ke bawah ranjang. Melihatku. "Ups! Maaf! Aku melepaskan pegangan pada selimutku. Aku kira kamu kedinginan jadi menarik selimut terus. Makanya aku lepaskan begitu saja selimut yang aku pegang!"
Kali ini nada bicara Yani sangat terlihat jelas kalau dibuat-buat. Apalagi dengan senyum tertahannya itu. Seakan dia memang sengaja membuatku seperti ini.
"Apa aku perlu membantumu untuk kembali ke atas ranjang?" tawarnya. Yang kali ini tanpa menyembunyikan senyum jahatnya itu. Senyumnya itu seakan berkata padaku, 'salah siapa macam-macam denganku, tahu sendiri kan akibatnya. hehe'
Siiiaaaalllll ... apeeeesssss ...!!!
"Tidak perlu. Aku akan tidur di sofa depan TV saja." ngambekku.
"Oh ... oke!"
Apa?
Oh ... oke, saja? Cuma itu? Apa dia nggak berniat mencegahku yang akan tidur di sofa?
"Nih!"
Dan gadis ini malah memberikan bantal yang satu padaku begitu saja.
"Semoga tidurmu nyenyak dan mimpi yang indah ya!" Katanya sambil tersenyum. Senyum yang bikin hatiku dongkol setengah mati.
Dan akupun, dengan kemarahan mencapai puncak level sepuluh, aku berjalan penuh kejengkelan menuju sofa depan TV. Melemparkan bantal begitu saja serta melemparkan tubuhku yang sakit karena jatuh tadi ke sofa juga.
Siaaallllll...!
Brengseeeeeeekkkkk ....!
Ternyata sikap santai dan tenangnya itu hanya untuk menjebakku saja.
Ternyata sikap tanpa grogi dan tidak canggungnya itu hanya untuk mengelaguiku saja, agar dia bisa mengerjaiku seperti tadi.
Siaaalllll... siaaaallll banget memang!
Dan aku malah masuk dan terperangkap dalam jebakan mata polosnya.
Dasar brengseeekkkkkk ....!!!