20. Kamu Adalah Milikku

1486 Kata
Malam hari. Di waktu yang sama. Apakah kamu bisa menebak apa yang akan aku lakukan? di malam ini? Bersama istriku yang telah lama tidak bersama? Sebenarnya aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan. Jika melakukan hubungan suami istri seperti kebanyakan pengantin, juga nggak mungkin. Kita saja belum akrab, mana mungkin melakukan hal itu. Dan juga, sepertinya istriku ini membenciku. Sejak pertama kali bertemu di UGD, tatapan Yani bukanlah tatapan seperti seorang istri yang senang bertemu dengan suaminya, tatapannya melihatku sangatlah datar. Seperti tatapan melihat orang asing yang tidak ingin dikenalnya dan tidak ingin didekatinya. Atau bisa digambarkan juga seperti tatapan untuk orang yang cuma lewat di hidupnya saja, tanpa mengendap di pikiran dan hatinya. Begitulah aku menilai diriku sendiri di mata Yani, istriku. "Apa makanannya enak?" tanyaku mencoba membangun suasana yang nyaman. Sekarang, di saat ini, kami sedang makan malam di dalam apartemen dengan memesan makanan dari luar. Dan kami memilih menu makan malam ini dengan seloyang pizza jumbo untuk kita berdua. Awalnya Yani menawarkan diri untuk memasak makan malam, tapi ketika dia membuka isi kulkasku dan melihat yang nongkrong di dalamnya kebanyakan cuma air mineral, bir dan juga cemilan, dia langsung membatalkan niatnya itu. Dan ketika aku menawarkan untuk berbelanja di mini market di lantai bawah, gadis ini menolak. Katanya untuk malam ini mereka makan makanan pesan antar aja, besok baru dia akan memasak. Aku hanya menurut. Memesan pizza sesuai dengan arahan Yani dan menunggu makanan itu datang ke apartemen. Setelah memesan aku mencoba bertanya kenapa hanya memesan satu pizza jumbo? Kenapa tidak pesan dua? Toh aku masih sanggup membayar makanan dua pizza dengan ukuran jumbo itu. Dan jawaban Yani benar-benar membuatku tercengang. "Bukankah kata Mama kita harus memperbaiki hubungan kita? Aku hanya berusaha untuk menuruti permintaan Mama saja." Jawabannya benar-benar membuatku terkejut dan dan juga terharu. Ternyata walau sikapnya dingin dan terlihat sangat membenciku, tapi gadis ini masih punya niatan untuk memperbaiki hubungan kami. Tiba-tiba saja, ada rasa sesal yang menyelusup begitu saja di dalam hatiku. Kenapa aku begitu bodoh meninggalkannya dahulu? "Ya. Enak." Yani menjawab pertanyaan basa basiku tentang pizza yang kami makan ini. Dan memang benar perkataan gadis ini tentang pesan satu pizza untuk di makan berdua. Gara-gara pizza ini yang cuma satu kotak, mau tidak mau, kami harus duduk makin berdekatan agar ketika mengambil potongan pizza agar tidak kejauhan. dan kami memakannya di ruang santai sambil menonton TV, di kursi sofa yang tidak begitu panjang. Dan entah dari mana, secara alami, suasana yang agak intim melingkupi kami selama makan malam paling sederhana selama hidup dua puluh enam tahun ini. Ketika potongan pizza yang terakhir, tak sengaja kami bersamaan mengambilnya. "Ambillah! aku sudah kenyang." kataku. Tapi gadis ini langsung berdiri dari tempat duduknya. "Tidak. Makanlah! Aku sudah cukup. Lagi pula aku harus menjaga berat badanku." Lalu dia mulai melangkah meninggalkan sofa tempat kami duduk. Menjaga berat badan? Kenapa aku merasa kalimatnya ini adalah kode ya? Sayang, jika harus merelakan suasana intim yang sudah tercipta, tangan nakalku mulai melancarkan aksinya tanpa menunggu otakku berpikir lebih dahulu. Segera kuraih tangan Yani yang hampir pergi dan menariknya agak kuat hingga dia jatuh ke dalam pangkuanku. Karena kaget dan takut jatuh, tangan gadis ini pun reflek melingkar ke leherku. Mataku bertatapan dengan mata indahnya yang terkejut, dan hangat tubuhnya terasa melingkupi area tubuh depanku hingga leherku. "Memangnya berapa berat badanmu?" tanyaku menggodanya. "Merasakan tubuhmu yang sekarang berada di pangkuanku sepertinya kamu masih kurus dan perlu makan lagi." Hilang sudah rasa canggung dan nggak enakku tadi karena suasana yang penuh romantis ini. Yang ada di pikiranku justru mencumbu istriku yang begitu cantik jelita tapi judes ini. Kuambil satu potongan pizza yang terakhir dan memakannya hingga menyisakan satu gigitan saja. Kubiarkan sisa pizza yang tinggal sedikit itu di bibirku dan mendekatkannya pada bibir gadis yang berada di atas pangkuanku ini. Awalnya Yani hanya menatap pizza yang tinggal sedikit di bibirku dengan tak mengerti, tapi lama kelamaan, dia mulai paham dan mendekatkan bibirnya sedikit demi sedikit ke arah bibirku. Makin lama bibirnya semakin mendekat ke bibirku, lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi. Bahkan aku sudah merasakan hangat napasnya yang membelai lembut wajahku. Dan sedikit lagi ... Lalu .... Ting tong ting tong ting tong Ting tong ting tong ting tong. Kaget, Yani langsung berdiri dari pangkuanku dan lari. Dan aku hanya bengong melihat buruanku melarikan diri di depan mataku. Sial sial siaaaaallllll ... Siapa sih yang malam-malam begini datang ke apartemen orang. Ganggu saja. Rutukku sangat sebal, sangat jengkel, sangat kesal. Dengan kaki yang sangat berat, aku melangkah menuju arah pintu yang sedari dari masih berbunyi dan tidak mau berhenti. Sungguh, rasanya ingin kubunuh saja orang yang membunyikan bel pintuku kayak gitu. Dan aku sudah tahu siapa pengganggu yang membunyikan bel tanpa punya aturan seperti ini. Kubuka pintu apartemenku sedikit, dan kulongokkan kepalaku keluar pintu. Bukannya aku bertindak tidak sopan, aku melakukan ini karena punya alasan. Yaitu antisipasi. "Ngapain?"tanyakku jutek. "Pulang sana! Ganggu orang aja!" Tapi tamuku ini bukannya langsung pulang mendapati wajah jutekku tapi malah mendorong pintuku agar terbuka lebih lebar, ingin masuk. "Inez!" tegurku. "Ini sudah malam. Dan kamu sebaiknya pulang dan tidur." Wajah gadis di depanku ini terlihat cemberut dan nggak terima. "Katanya Tante datang." "Siapa yang bilang?" "Ada dech pokoknya." elak gadis tukang eyel ini. "Cepat buka pintunya! Aku mau ketemu sama tante." "Mama udah pulang." "Bohong!" "Dibilangin juga ... ngeyel." "Habis kamu nggak mau bukain pintu sih." "Ngapain aku bukain pintu buatmu? Bisa-bisa kamu malah nggak mau pulang kalau dah terlanjur masuk." "Lah, kan enak kan. Kamu jadi punya temen." "Aku sudah punya temen." Inez langsung terdiam. Tatapan yang cemberut dan penuh manja tadi langsung berubah seratus delapan puluh derajad. Matanya langsung memancarkan aura nggak suka ketika aku bilang punya temen di dalam apartemenku. "p*****r dari mana lagi yang kamu bawa pulang?" tanyanya penuh dengan nada dingin. Aku diam. Walau memang biasanya dia memang benar, aku membawa gadis malam pulang ke apartemen, tapi dari dulu hingga sekarang aku masih nggak suka cara bicaranya mengenai gadis-gadis itu. Seakan dia bisa mengontrol dan seakan biasa mengaturku dengan nada nggak sukanya itu. Lagipula, yang menemaniku malam ini bukanlah p*****r, bukan pula wanita malam dan juga bukan gadis diskotik. Yang menemaniku malam ini adalah istriku. Dan aku makin nggak suka dengan nada pertanyaan gadis di depan pintu apartemenku ini. "Dia bukan pelacur." bantahku dengan nada yang nggak kalah dingin. "Dan sebaiknya kamu segera kembali ke apartemenmu. Kalau tidak, tindakanmu ini nggak akan beda dengan pelacur." "Kamu ... " Gadis ini terkesiap dengan ucapanku dan dia pasti terluka. aku tahu itu. Tapi aku nggak peduli. Aku lebih dulu terluka karena dia mengatai istriku dengan kata-kata tidak mengenakan itu. Dan aku membenci perkataanya itu. "Baiklah, aku akan pulang." putusnya tapi masih dengan hati yang berat. "Besok pagi sebelum berangkat ke rumah sakit, aku akan mampir ke apartemenmu lagi." Aku hanya diam. Tak menanggapi ucapan gadis ini lagi. Segera kututup pintu apartemen setelah gadis itu pulang kembali ke tempat asalnya. Dan aku segera mencari Yani di ruang santai lagi. Tapi kosong. Kotak bekas pizza yang kami makan pun juga sudah nggak ada. Dan akhirnya aku mencoba mencarinya ke dapur, dan terlihat gadis itu sedang mencuci gelas bekas minum kita tadi. "Biarkan saja. Besok saja bersih-bersihnya!" larangku. "Siapa tamunya?" tanyanya mengabaikan laranganku. "Bukan siapa-siapa." jawabku jujur. Karena bagiku Inez memang bukanlah siapa-siapa. Dia hanya cewek yang terobsesi padaku saja. "Benarkah?" Yani sepertinya meragukan jawabanku. Kalau benar berarti dia akan memberikan pertanyaan lagi padaku tentang keraguannya. Jadi aku hanya menunggu kalimat selanjutnya yang akan di tanyakan olehnya. "Bukankah tadi itu Dokter Inez yang tinggal di sebelah apartemenmu? Fans beratmu?" pertanyaan lanjutan Yani, dan aku takjub mendengarnya. Wow benar-benar fantastis. Memang, ilmu tentang wanita sejak dulu tidaklah salah. Sikap dan hati mereka selalu bertolak belakang. Di depan bilang nggak suka, benci dan nggak sayang. Tapi di belakang, mereka merasakan cinta pada orang yang mereka benci. Buktinya? Ya, sekarang ini, sikap istriku saat ini. Bukankah dari awal bertemu dia seakan nggak suka padaku, nggak peduli padaku dan sangat membenciku. Tapi kenapa dia sampai tahu tentang Inez? Bagaimana dia tahu kalau gadis itu tinggal di sebelah apartemenku? Bahkan dia sampai tahu kalau Inez adalah fans beratku? Bukankah itu artinya dia peduli padaku? Sayang padaku? "Bagaimana kamu tahu tentang Inez?" pancingku. "Bukankah kisah kalian paling terkenal di seantero rumah sakit?" tanyanya balik. "Si gadis cantik yang mengejar cinta pangerannya dan yang tidak segan-segan menyingkirkan semua gadis yang berani bersaing dengannya?" lanjutnya sambil mengelap tangannya setelah mencuci gelas. "Apakah kamu takut?" tantangku. Yani menatapku. "Takut apa?" "Takut bersaing dengannya untuk mendapatkanku?" Gadis ini bukannya langsung menjawab tapi malah melangkah mendekat padaku dan berhenti tepat di depanku. "Dokter Ariel." panggilnya sambil menatapku dengan sedikit mendongak. "Kamu milik siapa?" tanyanya penuh kesombongan. "Apa?" "Kamu milik siapa?" ulang Yani. "Aku?" Aku menunjuk diriku sendiri tak mengerti. "Ya. Kamu." Yani mengangkat tangannya. Menekan dadaku dengan jari telunjuknya yang lentik. "Kamu adalah suamiku, jadi kamu adalah milikku. Dan aku nggak perlu bersaing dengan siapapun untuk mendapatkanmu. Karena sejatinya, kamu adalah milikku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN