19. Kamu Adalah Suamiku

1064 Kata
"Jadi kamu adalah Yani? Gadis berwajah arang di desa pelosok yang dulu pernah aku nikahi?" tanyaku masih tak percaya kalau gadis cantik ini adalah istri yang aku tinggalkan. Gadis yang ada di sampingku ini tidak langsung menjawab, Matanya hanya balas menatapku tajam. Entah apa yang ada di pikirannya. aku sama sekali tidak dapat memprediksi perasaan gadis yang ada di sampingku ini. Biasanya kalau seseorang sedang marah, maka deru nafasnya akan semakin cepat. Kalau panik, detak jantungnya akan bertambah cepat. Kalau kecewa maka dia pasti menghela napas kecil. Tapi aku tidak menemukan satu tanda pun dari sikap gadis yang duduk dengan tenang ini. Dia sama sekali nggak memperlihatkan emosi apapun, cuma pandangannya saja yang tajam. Atau aku yang memang tidak bisa merasakan emosi dia ya. Panca indera tajamku sama sekali tidak berpengaruh untuk istriku ini. Merasa canggung karena dia tidak menjawab pertanyaanku. Akupun mengubah pertanyaan. "Bagaimana kamu bisa menemukanku? Apakah Bu Adisty yang membawamu ke rumah sakit sebagai perawat magang di sana?" Lagi, gadis ini tidak menjawab dan malah mengerutkan alisnya. Membuat tatapannya semakin tampak tajam. Apa? Kenapa? Apa pertanyaanku salah? Terdengar Mamaku yang malah menghela napas kesal. Kualihkan tatapanku melihat ke Mama. Meminta petunjuk, apa yang harus kulakukan. Sungguh, baru pertama kali ini aku merasa begitu kesulitan menghadapi perempuan. Kutatap lagi gadis di sampingku dan kuganti lagi pertanyaanku. "Mengapa kamu masih terlihat cantik? Seingatku dulu, katanya, kalau gadis yang meninggalkan desa pedalaman itu akan berubah menjadi jelek dan tidak cantik lagi. Tapi kenapa kamu masih terlihat begitu sangat cantik?" Kini, ekspresi gadis itu malah nampak kaget. Bahkan dia sampai membelalakkan matanya yang yang indah. Kenapa lagi? Apa pertanyaanku salah lagi? Sebenarnya kenapa jadi seperti ini sih? "Ariel!" panggil Mama dan aku menoleh menatap wanita pahlawanku itu. "Sebelum memberi istrimu pertanyaan, bukankah kamu harus mengatakan 'sesuatu' dulu untuknya?" Mengatakan sesuatu? Apa ya? Aku terdiam, berpikir sangat keras. Apa yang harus kukatakan padanya? Setelah sekian lama, kami baru bertemu dan pertemuan itu pun bukan pertemuan yang manis. Ini benar-benar terasa agak canggung. Mana Mama masih terus mengawasi gerak gerikku. Aku kan jadi nggak bebas. "Hai ... " Ucapku sambil melambaikan tanganku pada Riri atau Yani. Entahlah, aku masih bingung harus memanggilnya seperti apa. Lalu setelah ini aku harus mengatakan apa? Kata-kata apa yang bisa aku ucapkan pada istri yang sudah lama tidak bertemu ini? Ayolah Ariel ... kamu pasti bisa. Bukankah kamu ini cowok jenius? Kemana segala kecerdikan, kepiawaian, serta kejeniusanmu selama ini? Bukankah menangani cewek itu adalah keahlianmu. Kenapa sekarang kamu kesulitan hanya dengan menangani satu cewek saja? "Kamu cantik." pujiku. Mencoba memakai kata-kata yang biasa aku gunakan untuk merayu para cewek. Tapi sayangnya sepertinya rayuanku ini tidak mempan pada gadis ini. Riri atau Yani ini sama sekali tidak berespon pujianku. "Tidak bisakah kamu mengatakan sesuatu yang lebih baik, putraku?" tanya Mama, terlihat sekali sedang menahan rasa jengkel yang kuat. Gejolak emosi Mama, perubahan ekspresinya, bisa dengan sangat mudah aku rasakan. Dan setiap sikapnya bisa aku baca hanya dengan merasakan aura yang terpancar dari gelagatnya, tapi kenapa gadis ini tidak bisa k****a sama sekali ekspresinya. Apa karena dia begitu marah padaku sehingga menutup segala ekspresinya dari panca inderaku. Eh? Apa tadi? Marah? Jika benar gadis ini sedang marah padaku maka aku akan menenangkanya dengan jurus andalanku. Aku yakin setelah ini gadis ini pasti melunak padaku dan bertekuk lutut hanya untukku. Kumantapkan hatiku, dengan penuh keyakinan akan segera aku keluarkan seluruh kemampuan jurus merayuku. "Riri." panggilku dengan suara yang lebih besar dan lebih macho. Mataku aku buat sehangat mungkin untuk menatapnya. Dan aku sunggingkan selarik senyum yang paling menggoda dan paling menggairahakan. 'I love you. Aku mencintaimu." Dan ... krik krik krik krik krik krik Lalu ... Buk! Satu bantal sofa melayang dan memukul kepalaku sangat kuat. "Ma- ..." Hampir saja aku berteriak marah pada Mama yang sudah melempar bantal sofa padaku. Tapi ketika melihat mata Mama yang berkobar penuh amarah membuat nyaliku langsung menciut. "Putraku yang jenius!" panggil Mama penuh sindiran. "Dan Yani!" Mama berusaha sangat keras menekan nada amarahnya. "Sepertinya kalian butuh waktu untuk berdua saja. Akan kutinggalkan kalian saat ini. Setelah ini aku harap kalian akan menemukan solusi untuk masalah kalian dan segera menyelesaikannya." Kemudian, Mama bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar apartemen. "Satu lagi." Mama berhenti melangkah dan berbalik menatap kami berdua. "Mulai hari ini kalian akan tinggal bersama dan hidup bersama. Karena kalian sudah suami istri jadi itu tidak akan jadi masalah." "Tapi, Ma ..." Ini bukan aku yang ingin membantah, tapi gadis yang duduk di sampingku. Aku sedikit kaget karena gadis ini ternyata sudah memanggil Mamaku dengan sebutan Mama juga. Apa karena sebenarnya dia adalah menantunya? Apa Mama yang menyuruh gadis ini untuk memanggil Mama dengan sebutan Mama juga? "Tidak ada tapi-tapian, Yani. Kalian harus tinggal bersama dan memperbaiki hubungan kalian." Mama menatap pada gadis cantik menantunya ini. "Dan kamu." Mama ganti menatap padaku. "Jangan biarkan Yani tinggal di apartemenmu yang lain! Aku ingin kalian tinggal bersama dalam satu apartemen. Aku nggak ingin melihat kalian tinggal terpisah lagi. Sudah cukup kamu menjadi suami b******k yang tidak bertanggung jawab selama empat tahun. Aku nggak akan membiarkan putraku menjadi lebih bremgsek lagi. Tidak akan kubiarkan papamu kecewa karena mempunyai putra b******n sepertimu." Kata-kata Mama memang sangatlah pedas. Tapi aku tidak bisa membantah karena itu memang benar. Mungkin saja aku telah mengecewakan papa yang telah beristirahat dngan tenang di alam sana. "Aku juga ingin kalian memikirkan masa depan untuk kalian sendiri. Apa kalian akan mempertahankan pernikahan ini atau akan mengakhirinya, itu semua terserah kalian. Mama nggak akan ikut campur. Tapi jangan menggantungkan hubungan seperti saat ini. Sudah cukup empat tahun lamanya hubungan kalian terombang ambing dengan tidak jelas. Sudah waktunya kalian menentukan sikap yang harus kalian ambil. Apa kalian mengerti?" "Iya, Ma." jawabku dan gadis ini bersamaan. "Baiklah, sekarang Mama akan pulang dulu. Kalian baik-baiklah hidup bersama." Setelah kalimat terakhir itu, Mama benar-benar pergi keluar dari apartemen, meninggalkan kami berdua sendiri di sini, masih dengan keadaan yang canggung. "Riri ... " "Panggil aku Yani." sela gadis itu. "Riri hanya panggilan untuk teman dan orang yang tidak dekat denganku." Ada senyum yang tiba-tiba saja merekah ketika aku mendengar bahwa aku disuruh memanggil namanya yang hanya diketahui oleh orang terdekatnya, Dan pikiran menggodaku pun kembali muncul. "Jadi, apakah aku termasuk orang yang spesial karena memanggilmu dengan nama Yani?" "Tidak." jawabnya tanpa ragu. Membuat senyumku seketika memudar. "Lalu kenapa kamu memintaku memanggilmu dengan nama Yani?" "Karena kamu bukanlah temanku tapi kamu adalah suamiku." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN