Bab 3

1650 Kata
Aydan menikahi Dara Anita belum sampai dua tahun. Wanita manis berdarah jawa itu memang dulunya berhijab. Namun, setelah menikah dengan Aydan, tanpa paksaan-dia pun memilih menggunakan cadar. Alasannya yang aneh. Awalnya sekadar percakapan ringan terkait rasa cemburu. Aydan takut kalau istrinya dilirik oleh pria lain karena kecantikannya. Dan, Dara sangat pengertian. Tidak mau membuat suaminya gundah gulana, keputusannya bercadar juga ikhlas. Memang sedikit aneh ketika Dara datang ke Korea dengan penampilan seperti itu. Berada di wilayah yang mayoritas bukan muslim, pasti beberapa saat akan menjadi pusat perhatian. Namun, Dara yakin kalau Allah akan melindunginya. Ikut bersama suami ke tanah kelahiran yang telah lama ditinggalkan akibat tersesat di negara orang membuat Aydan sendiri masih asing pada semua tempat yang dilihatnya. Seberapa kuat daya ingat anak berumur 3 tahun ketika terpisah dari orang tuanya? Tentu saja masih sangat lemah. Dan, sekarang mereka telah berada di sini, di kota kelahiran Aydan alias Min Joon. Menapaki lantai perusahaan milik papanya yang akan mulai dialihkan padanya sebagai pewaris tunggal. Dua perusahaan sekaligus, Malam Kemuliaan atau Glory Night dan Malam Berbintang atau Stary Night. Mereka tiba di lantai 1. Aydan terus menggenggam tangan Dara dengan erat. Pengawal dari pamannya keluar terlebih dahulu untuk mengawasi sekitar. Setelah berkoordinasi dengan pengawal lain, Jae Sun dan Min Joon serta istrinya dipersilakan berjalan. Sekretaris pamannya Aydan, Kim Hae Won, segera menghampiri bosnya yang sampai detik ini belum dapat informasi kalau pemilik perusahaan akan berpindah tangan pada Aydan. Wanita itu terkejut sekali ketika melihat ada dua orang di belakang Jae Sun berwajah tidak asing. Bukankah dia klien pak Jae Sun beberapa minggu lalu? tanyanya dalam hati sambil mengingat. Hae Won mengerjap beberapa kali kemudian bicara pada Jae Sun. “Pak, Saya ingin menyampaikan sesuatu,” katanya. “Pentingkah?” tanya Jae Sun. “Ya, Pak! Ini penting.” “Ditunda selama 10 tahun, bagaimana?” tanya Jae Sun bernegosiasi. Hae Won mengangguk setuju kemudian memberikan ruang untuk bosnya melakukan aktivitas. “Temani saya dan juga tamu spesial kita hari ini mengelilingi perusahaan,” pinta Jae Sun. “Siap, Pak!” sahut Hae Won sambil melirik ke arah Aydan serta istrinya. Hae Won baru ingat pada ucapan Jae Sun mengenai pria yang akan datang dengan ciri berwajah tampan. Sempat terpesona, tetapi begitu melihat tangannya memegang erat jemari wanita yang menutup wajah di sampingnya, Hae Won merasa tidak akan punya harapan merebut perhatian pria tersebut. “Nona Kim Hae Won, apa anda mengenal pria di samping saya ini?” tanya Jae Sun. “Ya, beliau klien bapak beberapa waktu yang lalu,” jawab wanita itu. Jae Sun pun tertawa kecil, memuji ingatan sekretarisnya yang masih bagus. “Otakmu masih remaja ternyata,” sahutnya. Hae Won tersenyum. “Bapak bisa saja,” ujarnya malu. “Ingat baik-baik ucapan saya, Hae Won, mulai sekarang perusahaan ini akan dikelola oleh Kang Min Joon, pewaris tunggal perusahaan yang selama ini hilang,” kata Jae Sun. Spontan wanita itu tercekat, mulutnya menganga dan tidak percaya. “Bapak serius? Jadi bapak Kang Min Joon adalah pemilik perusahaan yang asli?” tanyanya sambil menggaruk kepala. Hae Won bingung. “Bukankah pemiliknya telah-“ putusnya merasa tidak enak mengatakan lanjutannya, lalu dia pun tersenyum saja. “Kau benar, Hae Won. Kang Dae Jun, papa dari Kang Min Joon sudah meninggal.” Aydan tersenyum simpul pada Hae Won. Mengangguk sebentar sebagai bentuk rasa maklum. Mereka semua pasti sangat syok, tetapi pelan-pelan pasti akan menerima semua kenyataan. “Kalau begitu, saya minta maaf, Pak Jae Sun dan Pak Min Joon!” ucap Hae Won membungkuk beberapa kali. Aydan tersenyum lebar. “Sudah, jangan begitu. Wajar jika anda merasa demikian,” sahutnya. “Kita juga belum berkenalan secara resmi, benar ‘kan?” lanjutnya. “Benar juga!” Hae Won segera meluruskan lengan ke arah Aydan untuk bersalaman, tetapi Aydan tidak membalas jabatan tersebut dan melihat pria di depan itu malah menyatukan kedua tangan di tengah tubuh. “Saya membatasi berjabat tangan pada wanita yang bukan mahram saya,” kata Aydan. “Mahram, apa itu?” Hae Won tidak mengetahui kata tersebut. Aydan menjelaskan dengan hati-hati agar Hae Won dan orang di sekitar yang mendengarnya ikut mengerti. Hae Won pun paham kemudian meminta maaf kembali. “Saya Kang Min Joon dan ini istri saya, Dara Anita,” jelas Aydan. Dalam percakapan bahasa Korea, Dara tidak mengerti sedikitpun artinya. Menanti Aydan menerjemahkan pada sang istri, barulah mengetahui maknanya. Hal itu membuat Hae Won sedikit cemburu. Masih ada pria selembut dan sebaik Aydan di muka bumi. Perkenalan diri dan perusahaan berjalan lancar. Hari ini berlalu dengan hati gembira. Tidak terlalu lama, hanya sekejap saja karena Jae Sun tahu kalau keponakannya itu baru tiba di Korea. Pasti lelah dan ingin istirahat. Vila mewah di daerah Hannam-Dong, menjadi pilihan kediaman Jae Sun sekarang. Mereka akan menginap di sana nantinya sampai kondisi mulai stabil. Jae Sun belum membebani Aydan dengan pekerjaan karena masih baru permulaan. Jae Sun akan mengajari keponakannya mengenai perusahaan terlebih dahulu agar tidak salah jalan. "Mengenai apartemen kedua orang tuaku, apa aku bisa melihatnya?” tanya Aydan penasaran, mereka masih dalam perjalanan menuju vila. “Tentu bisa! Kau akan ke sana dalam waktu dekat. Kau pasti merindukan rumahmu, ya?” tebak Jae Sun. "Ya, aku sangat rindu sekali,” sahut Aydan. Percakapan mereka terpaksa berhenti sebentar karena Aydan menerima panggilan dari Raihan, papa angkatnya. Aydan bicara dengan suara pelan karena istrinya sedang tertidur. Raihan dan Hanin bersyukur sekali karena mengetahui mereka telah sampai. Aydan cekikikan dan minta maaf karena tidak memberi kabar pada mereka. Akibat Aydan lupa, Hanin jadi hilang selera makan. Aydan harus tanggung jawab dengan mengeluarkan kata-kata pamungkasnya agar mama tersayang bisa kembali bersemangat. “Kau tahu kalau mama selalu memasak untukmu, tetapi begitu kau pergi, semua masakan mama hari ini terasa tidak enak,” kata Hanin. Aydan cekikikan mendengarnya. “Astaghfirullah, Mama sayang! Mengapa bisa jadi tidak enak? Setahu Aydan, masakan mama itu paling lezat di dunia.” “Uh, Aydan!” Hanin meneteskan air mata. Baru beberapa jam pisah, rasanya sudah sangat rindu. Anak angkat serasa anak kandung. Hanin dan Raihan memang begitu menyayangi Aydan. Sesampainya di vila, mereka pun keluar dari lift kemudian berjalan sama-sama menuju pintu masuk. Supirnya membawakan barang mereka kemudian menaruhnya di dekat pintu, lalu pergi karena tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi sang pemilik rumah. Biarlah tas itu diangkat lagi oleh pelayan yang ada di dalam. “Bibi di dalam, Paman?” tanya Aydan. “Sepertinya tidak, tapi kita lihat saja. Paman takut bibimu sedang mandi dan tidak mendengar suara bel.” Jae Sun menunjukkan kartu pembuka kunci pintu secara otomatis hanya dengan mendekatkan layar ponselnya saja ke sensor yang ada dekat pegangan kemudian menekan jempolnya sebagai kunci ganda. Pintu berbunyi dan celahnya pun terlihat. Canggih sekali! sayangnya susah menerapkan teknik kunci digital seperti ini di Indonesia karena sering mati listrik. Aydan dan Dara mengucapkan salam, tetapi Jae Sun tidak mengerti arti dan cara menjawabnya walau sudah sering mendengar mereka mengatakan kalimat tersebut ketika masuk dan keluar ruangan. Jauh di kamar utama rumah ini. Suara salam dari Aydan serta Dara sampai ke telinga, Micha, istri Jae Sun yang tak lain adalah bibinya. Buru-buru Micha menyelesaikan polesan perona bibirnya dan langsung keluar dari kamar. Kedatangan mereka telah dinantikan sejak tadi. Micha menuruni anak tangga sambil memanggil nama wanita yang berdiri di samping suaminya. "Dara!" jerit Micha kegirangan dan memeluknya erat. “Bibi!” Dara tersenyum lebar menerima dekapan hangat Micha. "Perjalanan hari ini bagaimana, Sayang?” tanya Micha dengan bahasa Inggris karena tahu kalau Dara tidak tahu bahasa mereka. "Dia tidur terus selama perjalanan. Mabuk udara dan mabuk darat,” sambar Aydan. Spontan mereka tertawa bersama mendengar jawaban suaminya. Micha mengelus perut Dara. “Itu tandanya mereka yang ada di perut ini sehat semua.” Doa yang terlontar langsung di-aminkan. Tidak lama setelah itu, dua anak remaja muncul. Mereka adalah sepupu Aydan, Rin Rin dan Seung Hun pun menyapa mereka ramah, "Kak Min Joon!” jerit mereka. Kedua anak remaja itu mendekat dan sudah mengerti kalau Aydan hanya bisa menerima pelukan dari Seung Hun sementara Rin Rin memeluk Dara. “Kak, mana pesananku?” tanya Rin Rin. Jae Sun pun bingung. Kedatangan Aydan hari ini bukannya disuruh duduk, malah ditanyai masalah oleh-oleh. “Kalian sedang bicara tentang apa?” tanyanya. "Haha, papa jangan ikut campur. Ini urusan anak muda,” jawab Rin Rin tersenyum dan bermain mata pada kakak sepupunya itu. Spontan mereka semua tertawa. Tidak biasanya Rin Rin secentil hari ini. Jae Sun mengelus kepala putrinya yang sudah pandai menjaga rahasia. Jae Sun mengajak mereka bersantai sejenak dan segera dihidangkan minuman serta cemilan. Percakapan sore itu sangat seru hingga suara bel tidak terdengar sudah berbunyi sebanyak enam kali. Dara yang mendengarnya kemudian membisikkan pada suaminya. Aydan meneruskan ke Jae Sun dan segera dibuka oleh pelayan. Seorang pria berdiri di depan pintu sambil membawa makanan di tangannya. Segera dia memberikannya pada pelayan kemudian masuk ke ruang tamu. “Astaga! Kalian tidak membukakan pintu untukku?” tanya Seo Jun, sahabat papanya Aydan yang masih berhubungan baik dengan Jae Sun. Seo Jun disambut oleh Aydan dan Dara, tetapi pria itu hanya memeluk Aydan saja seperti yang dilakukan Seung Hun. Tampaknya mereka perlahan tahu mengenai mahram yang selalu diucapkan Aydan saat mereka berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. “Paman dan bibi sehat?” tanya Aydan, lalu memandang sang istri dari sahabat papanya itu, Ae Ri. “Tentu kami sehat! Sudah tidak sabar menantikan kedatanganmu,” jawab Seo Jun. Jae Sun mempersilakan mereka duduk dan melanjutkan percakapan yang sempat tertunda. Obrolan itu berlangsung selama penantian makan malam yang sedang dipesan dari rumah makan muslim yang ada di kota Seoul. Mereka paham kalau Aydan dan Dara sangat taat dalam menjalani agamanya. Micha bisa saja memasak makanan khas Korea itu di dapurnya, tetapi dia tidak mau karena semua perkakasnya pernah digunakan memasak makanan yang tidak diperbolehkan oleh Islam. Sikap toleransi beragama mulai terbentuk ketika mereka bertemu. Padahal selama ini mereka tidak pernah memperhatikan masalah itu dan merasa kalau semua agama sama saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN