Bab 4

1321 Kata
Momen yang ditunggu-tunggu oleh Rin Rin pun tiba. Saat mereka semua mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu, ada oleh-oleh yang lupa dibelinya. Tak hanya Rin Rin, tetapi semua orang yang ikut pun tidak membeli oleh-oleh dari Medan akibat sibuk menangani masalah kehidupan Aydan dan Dara. Baju batik motif ulos pun diberikan pada Rin Rin. Remaja itu kesenangan bukan main. Dia langsung memakainya di depan tubuh, pamer pada mama dan papanya. Dara tertawa kecil, senang melihat ekspresi sepupu suaminya yang suka dengan oleh-oleh tersebut. “Baju ini akan aku pakai pada acara sekolah hari minggu,” kata Rin Rin. “Ah, jadi kau mau memamerkan pada teman-temanmu kalau kakak sepupumu datang dari Indonesia?” tanya Jae Sun, papanya. “Jelas!” sahutnya sombong. Aydan mendinginkan suasana dengan memberikan baju batik motif ulos juga pada paman, bibi dan satu keponakannya yang lain-kakaknya Rin Rin, Seung Hun. Sontak mereka pun bergembira bersama. Namun, tetap ada yang melirik dengan harapan penuh karena tidak mendapat apapun. Dara mencolek suaminya dan memberi isyarat kalau sahabat almarhum papanya serta sang istri belum dikasih oleh-oleh. “Astagfirullah, maafkan aku, Paman!” Aydan mengambil dua bungkusan lagi untuk diberikan pada Seo Jun dan istrinya, Ae Ri. Pria itu sangat senang, terlebih ketika melihat motifnya yang elegan, tak kalah bagus dengan kepunyaan Jae Sun, Micha, Rin Rin dan juga Seung Hun. “Terima kasih, Min Joon!” ucap Seo Jun untuk buah tangannya. Ternyata tak hanya itu saja, mereka juga membawa oleh-oleh yang bisa dikonsumsi bersama. Ada bika ambon yang menjadi ciri khas makanan dari Medan. Meski namanya tidak berkaitan dengan kota tempat makanan itu terkenal, tetapi tetap saja kalau mau beli bika Ambon ya harus di Medan. Menurut pendapat masyarakat, katanya dulu yang membuat kue tersebut adalah orang Ambon. Ada juga yang mengatakan dulu banyak yang jual bika di jalan Ambon. Ah, ya begitulah! Asal muasalnya masih simpang siur, yang penting makanan itu sudah menjadi menu khas buah tangan dari Medan. Dara tak lupa menitipkan milik anak Seo Jun agar tidak merasa cemburu. Kehadiran mereka ke Korea adalah membawa persaudaraan. Jika di awal saja sudah membuat tidak enak hati, maka selanjutnya pasti akan terus begitu. “Bibi, ini untuk Nara juga Dong Yul,” kata Dara. “Ah, terima kasih banyak, Dara. Kau ingat juga ternyata pada mereka,” sahut ibu dari dua anak yang tidak bisa ikut karena punya kegiatan sendiri. “Sebenarnya kami sudah menyiapkannya, tetapi Mas Aydan memang selalu begitu. Suka membuat orang lain merasa sedih,” ujarnya. Spontan mereka semua tertawa mendengar perkataan Dara. “Tidak seperti itu, Dara,” potong Jae Sun. “Aydan itu suka humor, jadi senang membuat hati orang bergejolak dengan pemikiran sendiri sebelum disetel ulang menjadi bahagia karena ternyata dugaan kita salah padanya,” lanjutnya. Aydan jadi malu, dirinya malah terjebak dalam bahasan tentang oleh-oleh. Akhirnya Micha mencari topik lain agar mereka semua bisa bergembira. Sambil makan bika Ambon, mereka bercengkrama tentang banyak hal. Aydan sangat senang bisa berkumpul dengan keluarga aslinya setelah selama ini hidup dengan orang tua angkat yang sangat menyayanginya. Hingga pertemuan mereka terpaksa berakhir, mengingat besok harus menjalani aktivitas seperti biasa. Seo Jun dan Ae Ri pamit pulang, sementara Micha mempersilakan dua keponakannya itu beristirahat. Di kamar tidur tamu yang berisikan Aydan serta Dara. Keduanya sama-sama merebahkan diri, menatap dua sudut berbeda. Aydan melihat ponsel dan mengecek surel maupun pesan, sementara Dara masih melayang pada momen kebersamaan tadi. Aydan melirik istrinya yang senyum-senyum sendiri. “Bibir manis milik istriku masih tertarik tinggi, apa yang Dara pikirkan?” tanya sang suami. Dara mengulum bibirnya, lalu menjawab, “Dara ingat dengan cerita paman tentang almarhum papa Dae Jun,” jawabnya. “Oh, itu-“ Aydan menurunkan ponselnya sejenak. “Papa memang lucu. Mas saja baru tahu kalau papa itu dulu jahil, tetapi disenangi banyak gadis di sekolah,” lanjutnya. Dara mengangguk. “Ya, bahkan papa itu orang yang cerdas.” Aydan tersenyum, lalu menyandarkan tubuh istrinya ke pelukan. Selain itu antara Aydan dan papa kandungnya, ada kesamaan, yaitu sama-sama kehilangan orang tua kemudian hidup sendiri. Bedanya dulu Dae Jun hidup dengan susah payah. Tanpa orang yang mau menanggung dirinya. Sementara Aydan diurus oleh keluarga kaya raya yang menyayanginya bahkan tidak pilih kasih dalam memberikan pendidikan. “Semoga anak kita nanti tidak mengalami hal serupa,” kata Aydan. “Astagfirullah, Mas! jangan bicara begitu, Dara tidak suka ada ucapan seperti itu,” sahut Dara spontan dengan terkejut. “Iya, Mas juga gak mau kalau anak kita kekurangan kasih sayang.” Aydan mencium kepala istrinya. “Amin, Mas! semoga Allah mendengar doa kita.” Dara mengelus perutnya yang sudah semakin membesar. Keesokan paginya, saat kedua pasangan suami istri muda itu bersantai di taman belakang, tiba-tiba dihampiri oleh Micha yang membawakan minuman serta makanan. “Terima kasih, Bi!” kata Dara. “Minumlah!” pinta Micha. “Iya, Bi!” sahur Aydan. “Rumah sepi, paman sudah berangkat ke kantor?” tanya Aydan. “Ya, dia niatnya mau pamit pada kalian, tapi sepertinya ada hal mendesak dan akhirnya pergi saja,” jawab Micha. “Haha, tidak masalah. Seingatku memang akan ada pertemuan pagi ini,” sahut Aydan. Micha ikut duduk bersama mereka. “Bibi, kalau Dara masak sendiri, boleh?” tanya wanita yang duduk di samping Aydan. “Wah, jangan! Kalian ‘kan tamu, kenapa malah sibuk?” jawab Micha tertawa. “Haha, tidak masalah, Bi! Setidaknya Dara bisa bantu-bantu menyediakan makanan.” “Tidak perlu. Ada pelayan khusus yang sudah bibi bayar untuk memasakkan makanan yang halal,” kata Micha. Dara pun tidak bisa lagi memaksa karena segan. Sehabisnya teh dan cemilan yang dibawa Micha, wanita itu mengajak Dara dan Aydan untuk berkeliling Seoul. Tentu saja mereka setuju dan segera bersiap untuk jalan-jalan. Saat mereka hendak pergi, Micha melihat putrinya masih di rumah dan sedang memasukan tempat bekal makanan. “Mama mau ke mana?” tanya Rin Rin. “Mengajak kakakmu berkeliling agar mereka mengenal tempat ini,” jawab Micha, membantu anaknya mengancing tas. “Kalau begitu, aku pergi, ya, Ma!” kata Rin Rin. Tidak lama setelah itu, pada Aydan dan juga Dara terucap kalimat pamit. Micha akan menyetir mobilnya dan meminta Aydan menemaninya di samping.. Sementara Dara akan berada di belakang. “Min Joon, urus sim Korea-mu. Penting untuk mengendarai kendaraan,” kata Micha mengingatkan. “Iya, Bi, nanti aku akan coba cari informasi tentang itu,” sahut Aydan. “Haha, Seo Jun tahu segalanya. Kau bisa tanya padanya,” kata Micha memberi solusi. Aydan pun tersenyum. Sahabat papanya itu memang luar biasa. Relasinya sangat banyak. Dalam perjalanan, Micha menceritakan tentang pendidikan putra dan putrinya. Seung Hun yang sedang kuliah selalu membutuhkan banyak biaya, sementara Rin Rin masih kelas 12 dan bersiap untuk masuk ke perguruan tinggi. Anehnya ketika Micha mengatakan pada Aydan kalau Seung Hun adalah mahasiswa seni, Aydan langsung terperanjat. “Bibi serius?” tanya Aydan. “Iya, kenapa kau kaget? Tidak percaya?” tanya Micha balik. “Haha, ternyata Seung Hun meneruskan bakat papa,” jawab Aydan. “Nah, itu juga pernah kami bahas. Pamanmu memang langsung ingat pada almarhum papamu, Dae Jun, yang sangat pandai bernyanyi juga bermain alat musik. “ tukas Micha. “Dulu, bibi juga pernah satu panggung dengan papamu,” sambungnya. “Wah, luar biasa!” puji Aydan tidak percaya kalau Micha dan papanya punya bakat yang sama. Dara yang tidak paham percakapan dua orang itu, langsung disibukkan untuk melihat perkembangan perusahaan di Indonesia. Huh, pelakunya sudah ditangkap? Cepat sekali? masyaAllah! gumamnya menanggapi sebuah artikel di internet yang bisa dipercaya. Dara langsung mengatakan kabarnya pada Aydan. “Mas,” panggil Dara mengejutkan Aydan. “Ya?” sahut suaminya. “Coba Mas baca ini,” jawab Dara, lalu memberikan ponselnya pada Aydan kemudian pria itu segera mengambilnya. Sepasang mata indah berbulu mata lentik itu menatap ke arah layar gawai punya istrinya. Keningnya mengerut dan mulutnya bercelah terbuka sedikit. Aydan tidak tahu secara pasti masalah tentang NJO. Tidak ada kabar dari paman-pamannya, mau pun mertuanya di Medan-mengenai masalah yang telah berjalan selama beberapa hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN