Usai para karyawan yang rapat selesai menjalani kegiatan pagi itu, terlihat ekspresi lega juga bahagia.
Ini adalah kali pertama mereka rapat dengan pemimpin baru, meski secara formal, masih Jae Sun yang berada di jabatan teratas, tetapi sebenarnya Aydan lah yang punya wewenang.
Celo mendengar ceracau kabar positif dari mereka dalam lift. Sama sepertinya, yang dulu sempat mati ketakutan karena mengira Aydan akan bicara secara lantang juga kasar, ternyata masih sopan dan juga lembut.
Jae Sun sudah menerima berita mengenai provokasi yang sedang terbentuk di dalam perusahaan. Pamannya tersebut sangat terkejut mendengar kabar yang tak seharusnya ada.
Jae Sun menghubungi Aydan ketika masih berada dalam ruangan rapat bersama Siwon. Aydan menjawabnya saja kemudian mendengar respons pamannya.
"Kau punya daftar nama yang sudah membangkang?" tanya Jae Sun.
"Sejauh ini ada 6 yang tidak kembali ke ruang rapat serta satu petugas bagian operasional yang menurut pemaparan temannya, bernama Celo, dia memang tidak menyukai aku, Paman," jawab Aydan.
"Kirim pada paman, biar segera paman lihat." Jae Sun menerima foto kertas yang sudah ditulis ulang oleh Aydan. Jae Sun bergidik ngerih. Mereka yang tidak hadir memang sudah bermasalah sebelum kehadiran Aydan di perusahaan.
"Sudah paman lihat, menurutmu apa hukuman yang pantas?" tanya Jae Sun.
"Tidak menuruti perintah atasan, terlebih dalam acara penting yang nantinya akan mereka kerjakan bersama, harusnya kita cari saja lagi pekerja baru yang bisa berdedikasi dan menyambungkan ide-ide briliannya," jawab Aydan.
Siwon merinding mendengarnya. Sejauh dia bekerja, Jae Sun hanya menegur dengan keras, lalu mereka berubah. Sekarang Aydan langsung memotong jabatan mereka dan mengeluarkan dari perusahaan.
Pak Aydan memang seperti singa, dia sangat menakutkan. Beruntung aku tidak punya masalah dengannya dan akan berhati-hati dalam bekerja kalau tidak mau bernasib sama seperti orang-orang yang mulai menggoyang nama baiknya, batin Siwon berusaha menasehati diri sendiri.
Jae Sun cukup tertegun mendengarnya, "Kau yakin, Min Joon?" tanya pamannya.
"Paman ingin melestarikan orang seperti itu di sini?" tanya Aydan balik.
"Tidak juga, biasanya paman menegurnya saja," jawab Jae Sun.
"Teguran itu berlaku untuk sesuatu yang tidak berkaitan dengan provokasi. Kalau sudah seperti ini, tidak ada ampun. Biar semuanya waspada sebelum bertindak."
"Baiklah, aku mengerti. Aku serahkan keputusannya padamu. Mereka pasti akan meminta pembelaan dariku," sahut Jae Sun tersenyum tipis.
"Paman bela pun, aku tetap tidak mau meneruskan mereka di perusahaan. Jika salah satunya adalah teman baik paman, mungkin bisa dinasehati agar menjaga sikap sebagai seorang pekerja," sahutnya.
Jae Sun sampai menahan napas. Dia keras, tetapi tidak pernah menggubris urusan provokasi karena yang dia nilai adalah kinerja bukan omongan. Namun, sejenak Jae Sun ingat pada mendiang adiknya, ayah dari Aydan.
Memang mirip sekali mereka. Dulu juga Dae melakukan itu pada orang yang menjelekkan nama istrinya. Huh, memang buah jatuh pasti tidak akan menjauh dari pohonnya.
Setelah percakapan selesai, Aydan meminta Siwon untuk membuatkan surat pemecatan atas keenam orang ini di tambah surat teguran untuk pekerja di bagian operasional bernama Bon Hwa.
Siwon mengerti kemudian membawakan barang kepunyaan Aydan. Mereka harus kembali ke lantai 11 dan menjalani pekerjaan lain sesuatu jadwal.
Setibanya lift ditujuan, Aydan menyapa ramah karyawan yang sama-sama berada di dalam sebelum keluar dari sana. “Saya duluan dulu ya, Bapak dan Ibu!”
“Iya, Pak!” sahut mereka tersenyum.
Aroma parfum Aydan masih saja tertinggal meski orangnya sudah keluar. Mereka sudah kenal dengan aroma Aydan yang sangat lembut dan memikat itu.
“Aish,” gerutu Siwon ketika melihat seorang wantia berdiri di depan meja kerjanya. Siwon bersembunyi dibalik tubuh Aydan.
“Eh, Ada apa, Siwon?” tanya Aydan bingung.
“Itu, ada si Su Jin!” jawabnya berbisik, sambil menuju kecil ke arah kanan.
Aydan sontak menahan tawa. “Kau harus tetap bekerja. Hadapi dia dan katakan kalau kau tidak suka padanya, maka semua akan beres," pintanya.
“Tidak bisa, aku juga tidak tahu hatinya terbuat dari apa? eh, salah–bukan hatinya–tapi wajahnya yang aneh itu,” sahutnya.
Aydan tersenyum. “Dia canti, hanya saja mungkin kau perlu melihat dari sisi lain," ledeknya.
“Pak, jangan menyudutkanku.” Siwon berdecak kecil.
“Haha, serius. Perhatikan lagi selama seratus kali, mungkin bisa berubah." Ayda menahan tawa.
Siwon menarik bibirnya tegas. Menurutnya tidak sama sekali! karena Su Jin berpenampilan sangat menor. Riasan ke kantor seperti mau undangan. Rambutnya yang keriting itu selalu diikat ke atas, membuat efek punuk unta. Siwon paham kalau bosnya lagi meledeknya dan Aydan langsung berbelok ke kiri, meninggalkan Siwon dengan masalah pribadinya.
Su Jin langsung melihat pria tambatan hatinya sedang berdiri di dekat ruangan wakil direktur. "Ah, Oppa Siwon! aku cinta kamu!” jeritnya mendekati pria yang menggeletar geli, pada wanita tersebut.
Siwon menyingkir dan segera memintanya menjauh. "Su Jin! Aku sedang bekerja. Jangan ganggu dulu!"
“Aku temani ya, Oppa Tampan?” tanyanya dengan nada genit.
“Tidak perlu! kembali saja bekerja.” Siwon mendengus.
“Ah, Oppa! Aku bawain sesuatu untuk kamu. Semoga kamu suka.” Su Jin menaruh bungkusan ke mejanya.
“Aigoh, tidak perlu!” tolak Siwon.
Su Jin tetap membuka kotak berisi coklat itu dan menunjukkannya pada Siwon dengan ekspresi centil.
“Tara! Rasanya enak! Aku bikin sendiri.” Su Jin mengerling genit.
“Hem,” sahut Siwon mengangguk. “Letak saja di meja,” lanjutnya biar wanita itu cepat pergi.
“Ya, Oppa! Jangan lupa dimakan, ya! Aku cinta kamu!” sahutnya tersenyum manis kemudian bermain mata.
Siwon mengalihkan tatapannya dan berdeham kuat. “Ekheem!” basnya keluar dan membuat Su Jin kaget.
Su Jin terkejut dibuatnya. “Ada apa, Oppa?"
“Kau mau aku laporkan ke polisi sebagai penguntit dan pengganggu?” tanya Siwon marah.
Su Jin yang tadinya bersandar di meja Siwon langsung berdiri tegak. “Tidak-tidak! Mengapa Oppa begitu kejam padaku?"
Kesabarannya mau meledak lama-lama melihat wanita setengah badut ini. "Kalau begitu silakan kembali bekerja sebelum aku hubungi ketua divisimu untuk membuat surat pemecatan,” lanjut Siwon.
“Siap!” Su Jin buru-buru pergi. “Ta-tapi, coklat saya dimakan juga, ya, Pak!” sambungnya menjerit kecil.
Siwon berdecak, Su Jin pun langsung lari ke arah lift. Wanita itu pontang panting kewalahan karena takut. Meski begitu tetap saja Su Jin ingin mendekatinya.
Siwon tertawa cekikikan setelah itu, akhirnya dia bisa lepas dari boneka Annabel yang hadir di depannya.