Siwon kembali ke ruangan dengan mimik cemas. Dia menggigit bibirnya sendiri, lalu kedua tangannya saling bertautan. Jari-jarinya menekan ujung satu sama lain.
Aydan yang sedang mengecek isi materi rapat itu pun mengalihkan perhatian ke Siwon.
“Pak, bisa kita bicara sebentar?” tanya Siwon, tidak mau mengatakan hal yang dilihatnya di ruangan itu karena masih menghormati serta menghargai dia sebagai atasan.
Aydan mengangguk, menutup laptopnya dan meminta ketiga orang yang masih ada dalam ruangan itu merapikan hal yang dirasa kurang baik. Apalagi Siwon mengetahui satu dari tiga orang di ruangan seperti seorang mata-mata atau kibus yang bisa menyebarkan berita ini.
Aydan keluar dari ruangan kemudian melihat sekitar sana sepi. Siwon belum bicara, tetapi ekspresi Aydan kaget. Dia menunjuk ke arah lokasi keramaian yang mirip seperti lorong UGD rumah sakit tersebut, tapi kini malah kosong melompong.
"Mereka, ke mana?" tanya Aydan pelan.
"Saya kurang tahu, Pak. Saat saya keluar tadi, situasinya sudah begini," jawab Siwon melirik ke dalam ruangan untuk memantau kalau ketiga orang itu tidak menguping.
Terdengar hela napas kecewa juga sedih. "Kabari lagi pada mereka untuk segera ke ruangan. Bagi yang menolak, pecat!" perintahnya tidak ada ampun. "Tetapi, kabar pemecatannya akan diumumkan saat rapat selesai, jangan sekarang," lanjutnya lagi.
Siwon segera menurut dan menyebar perintah itu melalui via udara. Satu per satu ditelepon dan menunggu respons-nya.
Aydan sudah tidak bisa menolerir kebusukan orang yang telah menghasut. Siapapun yang terhasut, sama busuknya dengan penghasut itu.
Aydan menunggu di dalam ruangan dan meminta 3 orang yang telah mengurus peralatan sejak pagi untuk keluar dan menyisakan satu saja, yaitu wanita yang berinisiatif mengambil kabel baru.
Kedua pria lain segera meninggalkan ruangan dan kembali bekerja di bagian operasional lainnya.
Sambil menunggu, Aydan berbicara serius pada wanita yang dipersilakan duduk olehnya itu.
"Boleh saya tahu nama anda, Bu?" tanya Aydan.
"Saya Celo, Pak," jawabnya.
Aydan melihat dirinya bukan seorang berkebangsaan Korea. "Dari mana asal anda?" tanyanya.
"Saya dari Rusia," jawabnya tersenyum tipis.
"Bagaimana bisa tinggal di sini?" tanya Aydan lagi.
"Ikut suami. Saya sudah menikah dan punya tiga orang anak." Wanita itu jujur pada atasannya. Saat bicara dengan Aydan pagi ini, tanggapannya perlahan berubah. Orang-orang mengatakan dia adalah pemimpin yang tidak bisa diajak bicara.
Aydan membalas senyumnya dengan normal tanpa melebihkan sedikitpun. "Anda pasti bekerja baik demi keluarga."
"Benar, Pak! Sekarang kalau kedua orang tua tidak bekerja, sulit untuk membiayai kehidupan." Celo tersenyum, lalu menunduk. Tidak berani terlalu lama menatap pria itu.
Aydan mengangguk setuju. "Semoga Tuhan memberikan rezeki mengalir pada Anda," doanya.
"Amin, Pak! Terima kasih atas doanya."
Aydan mencoba menaikkan tingkat obrolan karena merasa wanita itu sudah mulai nyaman dan tidak takut.
"Saya bukan baru kali ini memegang jabatan tertinggi. Di Indonesia saya juga pernah mengurus perusahaan ayah angkat saya. Mungkin ibu sudah dengar rumor tentang saya." Aydan membuka satu rahasia yang mungkin belum diterima banyak orang di perusahaan.
"Ah, begitu. Memang benar saya mendengar kalau bapak mengalami tragedi saat masa kecil." Celo mengangguk mengingatnya.
"Ya, itu benar." Aydan tidak menepisnya. "Anda nyaman bekerja di sini?" tanyanya lagi.
"Sangat nyaman, Pak. Saya sudah 5 tahun di sini." Celo menjawabnya kemudian menautkan jari di bawah meja.
"Anda pernah dengar kalau saya kejam?" tanya Aydan terus dan membuat wanita itu tercekat. "Jawab saja, saya tidak akan marah pada anda."
Celo mengangguk. "I-iya, Pak."
"Rumor itu benar. Saya orang yang kejam, tetapi hanya pada orang-orang yang bersalah. Paham, ya, maksud saya?" Aydan menatap wanita itu dengan alis menanjak tinggi.
"Iya, Pak, saya mengerti."
"Oleh karena itu, ibu jangan jadi orang yang berpihak pada mereka yang berusaha menjatuhkan saya."
Celo menunduk, memejamkan matanya karena merasa takut. "Tapi saya tidak memihak yang salah, Pak."
"Bagus, saya hargai itu. Jadi, bisa anda katakan pada saya, dari kedua orang teman anda tadi, mana yang tidak menyukai saya? Jawab jujur," pinta Aydan.
Wanita itu pun mengatakan bahwa dari ketiga orang tadi yang tidak menyukai Aydan adalah pria yang lebih tua darinya maupun anak muda pendiam itu. Mendengar jawaban dari Celo, Aydan langsung menelisik kembali siapa-siapa saja orang-orang terdekat pria yang ternyata bernama Bon Hwa tersebut.
Aydan mencatat nama-nama yang disebutkan tersebut dan mengingatkan pada Celo untuk tutup mulut karena dia sudah menanyakan hal ini padanya. Aydan memberi peringatan bila ternyata Celo membocorkan masalah ini, konsekuensi dipecat akan hadir di depan mata.
Celo paham dan memohon pada Aydan untuk tidak dipecat karena dia butuh dana agar bisa membiayai anak perempuannya yang sakit keras.
Aydan berjanji tidak akan memecat Celo bila wanita itu mau diajak bekerja sama.
Tidak lama setelah itu, orang-orang yang sudah melarikan diri dari jadwal rapat itu pun berdatangan kembali. Celo menyingkir dan Aydan memintanya duduk di kursi sudut sebagai tim yang berjaga-jaga bila saat proses rapat berlangsung ada kendala di bagian operasionalnya.
Celo duduk di samping karyawan teknisi dan mengikuti acara rapat.
"Kenapa kalian lama sekali masuk?" tanya Celo ke pria yang terlihat terengah-engah itu.
"Tadi kata pak Dong Sun, rapat dibatalkan," jawabnya.
"Huh? Siapa bilang? Pak Aydan menunggu selama 10 menit setelah semua selesai diperbaiki," sahut Celo.
"Aduh, entahlah!" pria itu juga tidak paham.
Setelah semua masuk, Siwon melihat area lorong telah kosong. Dia menyusul ke dalam dan mengunci pintu agar tidak ada lagi yang masuk.
Dari 30 kursi yang disiapkan ada sekitar 24 orang yang kembali. Itu tandanya ada 6 orang yang mengabaikan perintah. Mereka adalah ketua gudang peralatan, ketua lapangan bagian 2, anggota dari beberapa tim perencanaan serta dari kepala teknisi.
Keenam orang tersebut sekarang sedang berada di ruangannya masing-masing. Menatap layar ponsel dan berbicara di grup khusus bagi orang-orang yang punya satu pemikiran. Termasuk si Bon Hwa.
Mereka menertawai Aydan dan menduga kalau semua orang di ruangan rapat saat ini sedang diserang amarah bosnya karena mereka sempat meninggalkan lokasi rapat. Mereka saling balas pesan dan tidak sabar menatap wajah-wajah korban dari perilaku buruk mereka yang sudah mengompori karyawan lain untuk kembali ke ruangan.
Namun, sayangnya dugaan mereka salah. Aydan bukan tipe orang yang melampiaskan kemarahan pada mereka yang masih mau menuruti perintahnya.
Rapat berlangsung aman, walau tim perencanaan yang harusnya maju sekitar 6 orang, hanya tersisa 4 saja dan tetap meneruskan proses pemaparan.
Siwon memberikan daftar nama peserta rapat yang hadir dan tidak hadir. Aydan melihatnya dan memberi tanda di nama-nama yang sudah berani melawan serta membuat kekacauan di perusahaannya.
Aydan kembali memperhatikan jalannya rapat dan memberikan apresiasi besar atas ide yang mereka hasilkan.