Bab 1
“Ciee… yang lagi kasmaran.”
Suara itu datang dari belakang, disertai tepukan ringan di bahunya.
Aluna menoleh.
Deasy, sahabatnya, berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di da-da, senyum jahil yang sudah sangat ia kenal terpasang di wajahnya.
“Apaan sih?” Aluna mendengus pelan, bukan kesal, lebih ke merasa jengah.
“Apaan? Dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang dapat beasiswa full ke luar negeri. Padahal cuma mau ketemu pacar, kan?” goda Deasy seraya mengerling, menikmati wajah jengah Aluna.
Aluna memutar mata, tapi pipinya bertambah hangat.
“Lebay banget.”
“Yang lebay itu kamu,” balas Deasy cepat. “Baru juga selesai bimbingan, bukannya nongkrong bareng kita di kafe depan kampus, eh malah kabur.”
Aluna mengatupkan bibir rapat. Lebih baik diam, kalau ditanggapi lagi, sahabatnya ini bakal lebih gencar menggoda.
"Ada acara spesial berdua ya? Sampai tega ninggalin sahabat yang paling cantik dan baik hati ini,"
Tuh kan, beneran makin menjadi.
Memang tadi, teman-temannya sudah merencanakan untuk berkumpul di kafe depan kampus. Katanya mau sekalian diskusi strategi penulisan tesis, saling tukar referensi, dan ujung-ujungnya curhat sambil ngemil.
Biasanya Aluna tidak pernah absen. Tapi hari ini berbeda.
“Aku ada urusan,” ujar Aluna akhirnya, singkat, mencoba terdengar santai.
Deasy langsung menyipitkan mata.
“Urusan atau… lagi ngerencanain momen spesial sama Fandy?”
Aluna tidak langsung menjawab.
Namun ekspresi wajahnya sudah cukup untuk memberi jawaban.
Deasy langsung terkekeh.
“Ya ampun, kelihatan banget,” katanya sambil menggeleng. “Serius deh, kamu ini kalau soal Fandy, jadi beda banget.”
Aluna menunduk sedikit, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal dalam hati ia tidak menyangkal. Fandy memang berbeda. Sejak awal mereka bersama, ada perasaan nyaman yang sulit ia jelaskan. Tidak selalu penuh drama, tidak selalu manis setiap saat, tapi cukup untuk membuatnya ingin bertahan.
“Cuma mau kasih kejutan kecil aja,” gumam Aluna akhirnya. Memilih jujur, bagaimanapun Deasy sahabatnya yang tahu betul hubungannya dengan Fandy.
Deasy langsung mendekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
“Wih, kejutan apa nih?”
“Mau masak buat dia,” jawab Aluna jujur.
“Masak?” Deasy mengangkat alis. “Kamu?”
Aluna langsung mencubit lengan sahabatnya itu. “Eh! Aku bisa masak, ya!”
“Iya, iya… bisa. Tapi biasanya kan kamu cuma jago masak mie instan,” goda Deasy lagi, tidak mau kalah.
Aluna mendesah panjang, tapi akhirnya ikut tertawa.
“Ya namanya juga usaha.”
Deasy mengangguk-angguk, masih dengan senyum jahil.
“Romantis juga kamu ya. Diam-diam siapin kejutan buat pacar. Moga aja Fandy benar-benar se-worth it itu, sampai kamu bela-belain masak segala.”
Aluna tidak menjawab. Namun kali ini, ia tidak bisa menahan senyumnya.
Di kepalanya, sudah terbayang bagaimana nanti malam akan berjalan.
Ia datang tanpa memberi tahu.
Sejak Fandy menempati unit griya tawang itu, Aluna hanya sesekali datang ke sana bersama pria itu. Sekarang dia akan masuk ke sana dengan kunci yang ada padanya, lalu mulai memasak makan malam spesial untuknya.
Pasti saat pulang, Fandy akan kaget.
Aluna membayangkan kekasihnya yang berwajah tampan itu akan tersenyum dan memeluknya dari belakang sambil memuji dirinya.
Pikiran itu membuat da-da Aluna terasa hangat. Tanpa sadar ia kembali senyum-senyum sendiri.
“Fix,” kata Deasy tiba-tiba, memotong lamunannya. “Ini sih udah parah.”
“Apa lagi sih?” Aluna meliriknya.
“Kasmaran stadium akhir.”
Aluna tertawa kecil, menggelengkan kepala. Namun kali ini, ia tidak menyangkal. Karena memang seperti itu yang ia rasakan.
*
Taksi yang ia pesan akhirnya tiba. Mobil itu berhenti tepat di depan mereka.
Aluna merapikan tasnya, lalu menatap Deasy. “Aku duluan ya.”
Deasy mengangguk. “Have fun,” katanya sambil mengedipkan mata. “Dan jangan lupa… kabarin kalau nanti jadi momen romantis.”
“Ish, kamu ini, pikirannya malah kemana-mana.”
"Aku hanya berharap sahabatku bahagia, emang salah?"
Aluna menghela napas pelan, lalu membuka pintu mobil. Sebelum masuk, ia sempat menoleh sekali lagi, tersenyum pada Deasy yang masih berdiri di sana.
"Makasih doanya, Des," ucapnya tulus.
"Iyaa... Buruan gih, nanti malah makan malamnya jadi makan sahur kalau kamu lama-lama perginya. Hati-hati di jalan, Al,"
Aluna mengangkat tangan, membentuk kode OK, lalu masuk ke dalam taksi.
Sementara Deasy bergabung dengan teman-teman lain yang akan ke Cafe.
Aluna melambai pada mereka sambil tersenyum lebar. Map berisi revisi outline tesis ia peluk erat. Ini salah satu alasan yang mendorongnya untuk menikmati makan malam spesial sebentar malam dengan kekasihnya.
Pertemuan dengan dosen pembimbingnya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Tidak ada tatapan tajam yang membuatnya gugup, tidak ada komentar pedas yang biasanya membuatnya pulang dengan kepala penuh tekanan.
Justru sebaliknya.
“Outline kamu sudah mulai terarah,” kata dosennya tadi. “Tinggal kamu perdalam di bagian metodologi. Jangan terlalu umum.”
Kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat da-da Aluna terasa ringan.
Ia tersenyum sendiri merasa senang atas pencapaiannya hari ini.
Akhirnya ada kemajuan.
Beberapa hari terakhir terasa melelahkan. Begadang, membaca jurnal tanpa henti, berkutat dengan kalimat yang terasa tidak pernah cukup sempurna. Tapi hari ini, seperti ada titik terang kecil di ujung jalan.
Dan mungkin karena itu juga, suasana hatinya jadi lebih baik dari biasanya.
Bukan hal besar, hanya keinginan sederhana untuk menghabiskan waktu bersama seseorang yang ia cintai.
Setelah beberapa hari tenggelam dalam revisi tesis, membaca jurnal tanpa henti, dan bergulat dengan dosen pembimbing yang perfeksionis, Aluna merasa dirinya berhak atas satu malam tenang, hangat dan sederhana.
Dan entah sejak kapan, definisi sederhana itu telah melibatkan satu nama, Fandy.
*
Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di depan supermarket.
Aluna akan berbelanja untuk rencananya itu.
Dengan senyum kecil yang nyaris tak disadari, Aluna mendorong troli menyusuri lorong di antara rak-rak supermarket. Ia mengambil bahan-bahan yang tidak terlalu rumit—ayam fillet, sayuran segar, saus pasta, dan beberapa camilan favorit Fandy.
Ia bahkan sempat berhenti sejenak di rak minuman.
Tangannya terulur, mengambil jus jeruk kemasan yang biasa diminum pria itu. Hal kecil yang ia ingat tanpa perlu berpikir.
Aluna menghela napas pelan mengingat hubungan yang sudah berjalan tiga tahun ini. Hubungan mereka tidak selalu mudah. Tidak selalu mulus. Tapi selama ini, mereka bisa terus bersama.
Walaupun ini hanya kejutan kecil, tapi ia melakukannya dengan tulus, dengan seluruh cinta untuk sang kekasih.
Dan ia membayangkan bagaimana pria itu akan tersenyum saat melihatnya berdiri di dapur, memasak untuknya.
Sederhana, tapi cukup untuk membuatnya bahagia.
Langit sudah mulai gelap saat Aluna tiba di gedung apartemen mewah itu.
Gedung itu tampak seperti biasa, tenang, dengan lampu-lampu lobi yang menyala terang. Aluna mengeluarkan kartu akses utama yang dia simpan. Lift privat bergerak perlahan, membawa Aluna naik langsung ke unit tempat kekasihnya tinggal.
Di tangannya, tas belanjaan terasa sedikit berat. Namun dia sangat bersemangat untuk rencana kejutan ini, jadi tas belanjaan beratpun tidak terlalu terasa.
Lift sampai dengan cepat. Aluna melangkah masuk ke ruang tamu dengan tenang.
Suasana sepi.
“Fandy?” panggilnya pelan. Hanya untuk memastikan kalau kekasihnya belum pulang.
Tidak ada jawaban. Dia disambut oleh keheningan.
Ia tersenyum kecil, merasa senang kekasihnya belum pulang, yang berarti dia bisa melanjutkan rencananya dengan tenang.
Tadi siang, Fandy sempat menelepon, katanya akan lembur, jadi nanti pulangnya agak malam. Ia punya waktu untuk menyiapkan semuanya.
Aluna berjalan menuju dapur, meletakkan tas belanjaan di atas meja, dan mulai mengeluarkan satu per satu bahan makanan, dan mengambil pisau dari dalam rak.
Gerakannya teratur, dan santai, seperti sudah menjadi kebiasaan. Namun gerakannya terhenti saat ia mendengar sesuatu. Seperti suara tawa cekikikan. Pelan… tapi cukup jelas.
Itu… Aluna mengernyit. Itu bukan suara televisi. Bukan juga suara musik. Tapi suara tawa. Tawa perempuan.
Tubuhnya langsung menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Tidak mungkin. Karena hanya ada dirinya di sini.
Pikirannya mencoba mencari alasan lain, mungkin suara dari unit sebelah, atau mungkin hanya ilusinya saja.
Namun semakin ia diam dan berusaha fokus, semakin jelas suara itu terdengar.
Aluna melepaskan pisau di tangannya dan melangkah ke ruang tengah.
Dia mendengar percakapan pelan, diselingi tawa. Dan kali ini… ada suara tawa lain, suara yang ia kenal.
Fandy.
Napas Aluna tertahan dan mendongak ke lantai atas. Suara itu berasal dari sana, kamar yang ditempati Fandy. Dengan langkah pelan, hampir tanpa suara, Aluna bergerak menaiki tangga menuju lantai atas.
Tangga itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu kecil di dinding memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak mulai goyah seiring pikirannya yang mulai bekerja.
Kalau tadi benar suara tawa perempuan, sedang apa mereka di sana?
Aluna sampai di lantai atas. Pintu kamar Fandy tidak tertutup rapat. Ada celah kecil. Dan dari sanalah semua suara itu berasal. Sekarang lebih kuat dan dia bahkan bisa mendengar suara desahan dan rintihan mereka.
Tubuh Aluna menjadi kaku, pikirannya terseret dalam dilema. Dari suara-suara itu, dia mulai bisa memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam kamar itu.
Ia bisa pergi sekarang dan berpura-pura tidak tahu, agar bisa menyelamatkan dirinya dari apa pun yang ada di balik pintu itu.
Namun kakinya tidak bergerak. Ada dorongan kuat untuk memastikan. Untuk tahu, meskipun jauh di dalam hatinya… ia sudah tahu jawabannya.
Dengan napas yang tidak stabil, Aluna mendorong pintu itu perlahan, lebih terbuka dan terpampanglah dua tubuh polos yang sedang bergerak menarikan tarian primitif liar.
Tubuh Aluna sulit digerakkan. Matanya terbuka lebar, tapi kosong, seolah seluruh sistem dalam dirinya berhenti bekerja.
“Terus… Faan…” Suara perempuan yang sedang bergerak liar di bawah kungkungan tubuh Fandy. “Masuk le-lebih dalam…”
Itu Sofia, teman kuliah sejak S1 hingga sekarang di pasca sarjana, yang selalu berlagak seolah teman baik.
“Iya, sayang…” Fandy yang sedang membelakangi pintu menjawab terengah, mempercepat gerakan pinggulnya.
Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Aluna. Sibuk memuaskan hasrat seperti hewan yang sedang birahi.
“Aah… Enak, Fan. Kamu juga ngerasa enak, kan?”
“Ya… Kamu sangat nikmat…” suara Fandy, terdengar seperti geraman.
“Yah… Terus, lebih dalam.. lebih keras, Faan…”
Suara desahan dan rintihan itu terus bersahutan.
“Aku bakal puasin kamu… Ouuggghh… Nggak kayak Luna yang sok suci itu…”
Aluna terpaku tepat di depan pintu. Matanya melihat jelas bok0ng pria itu bergerak cepat, membuat erangan wanita itu semakin kuat.
Aktivitas mereka terus berlanjut, tidak menyadari sedang menjadi tontonan seseorang.
Aluna gemetar, rasa jijik mengalahkan rasa sakit yang menghujam dadanya. Dia melangkah mundur, berpikir untuk segera pergi dari sana.
Langkahnya agak goyah, namun dia harus segera menjauh. Rasa mual hebat menyerangnya.
Tiba-tiba...
BRAK!