Kaiden tak bisa menjauh lagi. Tangannya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat bekerja.
Tubuh Aluna menempel di tubuhnya. Seketika rasa panas di tubuh Kaiden memuncak, napasnya berubah, lebih dalam, lebih cepat. Matanya tidak lagi ragu. Ada sesuatu di sana yang membuat Kaiden kehilangan sisa kendali yang ia punya.
“Kamu masih bisa berhenti,” bisik Kaiden, saat dia mendorong tubuh Aluna rebah di atas ranjang king size itu. Suaranya nyaris tidak terdengar.
Aluna menggeleng pelan.
“Kalau aku berhenti sekarang,” jawabnya lirih, “aku bakal balik jadi aku yang tadi, menyedihkan. Aku nggak mau.”
Kalimat terakhir itu menghancurkan kewarasan Kaiden sepenuhnya. Hasrat yang sedang membara butuh dituntaskan.
Tergesa, pria itu membuka pakaian sang gadis, dan seketika matanya menyaksikan pemandangan yang benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Kulit putih yang halus lembut, dua tonjolan di dad@ yang padat kenang dan pas di tangannya, serta pinggang ramping, b****g lebar dan bulat yang membuat tubuh itu tampak sempurna.
Kaiden menelan saliva. Tidak menduga gadis putus asa yang menantangnya ternyata sedahsyat ini.
Aluna menggeliat, merasakan dorongan aneh di dalam tubuhnya yang perlahan bangkit seiring sentuhan pria itu yang semakin intens. Dia memeluk leher pria itu, tak lagi sepenuhnya sadar, di bawah pengaruh alkohol. Ia hanya ingin melupakan sakit hati ini, juga ingin membuktikan kalau dirinya juga bisa memuaskan lelaki.
Tangan dan bibir Kaiden terus bergerak, meninggalkan jejak hangat dan basah di kulit bak pualam Aluna.
“Jangan salahkan aku, Nona!” Bisik Kaiden serak, sambil menghujamkan dirinya ke dalam tubuh gadis itu dengan satu dorongan kuat.
Nafsu yang menguasai membuat telinganya tidak mendengar lagi teriakan kesakitan gadis itu. Yang terpikirkan hanya terus mendorong dengan cepat untuk mengejar puncak kenikmatan.
Tubuh Aluna tersentak-sentak, rasa sakit itu menyengat, tapi dia tak begitu peduli lagi. Dia juga seorang wanita yang bisa memuaskan pria. Tidak ada orang yang boleh menyakitinya lagi.
“Balikkan tubuhmu!” Perintah Kaiden.
Dia sedang dikuasai hasrat. Beberapa hari tidak melakukan ini karena kekasihnya, lebih tepatnya friends with benefits yang sudah dua tahun ini berbagi ranjang dengannya. Wanita itu pergi dengan seorang lelaki tua yang lebih pantas dia panggil ayah, hanya untuk memaksa Kaiden menikahinya.
Kaiden menggeram, campuran amarah dan hasrat yang semakin mendorongnya ke dalam pusaran kenikmatan. Gadis ini sangat luar biasa, Kaiden merasakan dirinya tenggelam dalam ruang hangat yang sangat sempit. Dia pun terus bergerak, berusaha meraih puncak kenikmatan.
‘Apakah aku benar-benar yang pertama?’
Pertanyaan itu terlintas setelah ledakan dahsyat itu terjadi dan mereka berakhir sambil berpelukan erat.
Dia merasakannya.
**
Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Aluna. Hangatnya bukan menenangkan, justru terasa mengganggu—seolah menariknya paksa keluar dari sisa kabut malam yang belum sepenuhnya hilang.
Aluna mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya sedikit berdenyut, dan tubuhnya terasa asing. Ada sensasi tidak nyaman yang langsung menyentak saat ia mencoba bergerak.
Ia menatap langit-langit kamar hotel yang tidak dikenalnya, berharap semua itu hanya mimpi yang terlalu nyata. Namun tubuhnya berkata lain. Dan itu yang paling tidak bisa ia abaikan.
Ia menarik napas pelan, tapi terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Perasaan yang datang pun campur aduk, antara malu, bingung, menyesal, dan sesuatu yang lebih rumit dari itu semua.
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Lalu, perlahan, ia menoleh.
Pria itu sudah bangun dan sedang duduk di tepi ranjang, membelakanginya, dengan postur tegap, bahasa tubuh seseorang yang terbiasa memegang kendali atas hidupnya. Bahunya lurus, kepala sedikit menunduk, dan jelas ia sudah terjaga cukup lama.
Dia sudah mandi, terlihat dari rambutnya yang masih agak basah, dan sudah mengenakan pakaian.
Tidak ada lagi aura malam tadi. Tidak ada kabut. Yang tersisa sekarang hanya sosok pria yang dingin, rapi, dan… sulit dibaca.
Aluna menahan napas sesaat. Perasaan canggung datang tanpa permisi, mengisi ruang di antara mereka yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.
“Sudah bangun?”
Kaiden memecah keheningan dengan pertanyaan terlalu basa-basi, namun sedikit menyelamatkannya dari kecanggungan.
Aluna tidak langsung menjawab. Tangannya refleks menarik selimut lebih rapat, seolah kain tipis itu bisa melindunginya dari situasi yang terasa terlalu nyata.
Beberapa detik berlalu. Kaiden akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk menangkap sosok Aluna di belakangnya.
Tatapannya tajam, bukan menekan, tapi jelas sedang menilai sosok gadis muda itu.
“Namamu siapa?” tanyanya singkat.
Pertanyaan sederhana, namun akan mengubah sesuatu yang seharusnya tetap anonim.
Aluna terdiam. Ia menatap pria itu beberapa detik, lalu menggeleng pelan.
“Apalah arti sebuah nama?” jawabnya lirih, mencoba terdengar ringan meski suaranya sedikit serak.
Kaiden tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Aluna lebih lama, seolah mempertimbangkan apakah ia ingin memaksa atau tidak.
Namun akhirnya, ia memilih diam. Tidak mendesak. Dan justru itu membuat suasana terasa semakin aneh.
Aluna mengalihkan pandangan lebih dulu. Ia tidak ingin terlalu lama berada dalam tatapan itu. Perlahan, ia mencoba bangkit. Gerakannya hati-hati, tapi tetap saja—
begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya langsung bereaksi.
Aluna mengernyit. Napasnya tertahan seketika. Rasa nyeri yang datang tiba-tiba membuatnya berhenti di tempat, jari-jarinya refleks mencengkeram ujung selimut. Dan dalam satu detik itu, rasa malu menjalar lebih dalam dari sebelumnya.
Kaiden melihatnya. Tidak dengan ekspresi terkejut, tapi jelas memperhatikan.
Aluna cepat-cepat membalikkan tubuh sedikit, seolah ingin menyembunyikan reaksi itu, lalu berdiri lebih tegak meski masih terasa tidak nyaman.
“Aku… ke kamar mandi,” gumamnya singkat, tanpa benar-benar menunggu respons.
Langkahnya sedikit tergesa. Pintu kamar mandi tertutup lebih cepat dari yang seharusnya.
Begitu pintu itu menutup, Aluna langsung bersandar di baliknya. Matanya terpejam. Tangannya naik menutup wajah. Dan di situlah, semuanya datang sekaligus.
Apa yang ia lakukan di sini?
Siapa pria yang sudah menjamah tubuhnya untuk pertama kali itu?
Kenapa ia nekad melakukannya?
Semua pertanyaan itu menghantamnya seperti banjir, membuat napasnya bergetar pelan.
Ia ingin menangis. Namun air matanya tidak langsung jatuh, seperti ada bagian dari dirinya yang masih menahan.
“Gila…” bisiknya pelan, hampir tanpa suara.
Ia menurunkan tangannya, menatap bayangannya di cermin.
Wajah itu terlihat masih sama, tapi Alya tahu, ada yang sudah berubah sejak semalam. Namun yang membuatnya semakin bingung, ia tidak sepenuhnya menyesal.
Itu yang paling mengganggu. Ia seharusnya merasa hancur sepenuhnya. Menyesal, menyalahkan diri sendiri. Namun di balik semua itu, ada bagian kecil dalam dirinya yang justru merasa lebih hidup. Dan ia tidak tahu harus membenci itu atau tidak.
Aluna menghembuskan napas panjang, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin.
“Udah… cukup,” gumamnya pada diri sendiri, seolah itu bisa mengakhiri semuanya.
Di luar, Kaiden masih duduk di tempatnya. Tidak banyak bergerak, namun pikirannya jauh dari tenang. Tatapannya lurus ke depan, tapi sesungguhnya tidak benar-benar melihat apa pun.
Ia mengingat semuanya. Detail demi detail. Dan yang paling mengganggunya bukan kejadian itu sendiri, melainkan bagaimana ia membiarkan dirinya terlibat. Ia kehilangan kendali. Dan itu bukan sesuatu yang biasa terjadi.
Tangannya mengepal pelan di atas lutut. Ia terbiasa membaca situasi, mengendalikan arah. Namun malam tadi… ia justru ikut terbawa.
Pandangan matanya tertahan di arah pintu kamar mandi, seolah berharap akan ada sesuatu—suara, gerakan, atau apa pun—yang bisa menjelaskan situasi yang baru saja terjadi. Namun yang ia dapat hanya keheningan, dan itu justru terasa lebih berat dari suara apa pun.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia menghembuskan napas panjang, mengangkat tangan, dan mengusap wajahnya kasar.
“Sial…”
Kata itu keluar pelan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri.
Ini seharusnya tidak terjadi. Bukan karena ia orang yang selalu sempurna. Ia tahu betul hidup tidak pernah berjalan lurus seperti garis. Ia juga bukan pria yang asing dengan kesalahan. Tapi kali ini… rasanya berbeda. Terlalu banyak hal yang keluar dari jalur yang biasa ia kendalikan.
Dan yang paling mengganggu, ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan keadaan.
Kaiden kembali menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dia tidak mendengar suara apapun dari dalam sana.
‘Apa yang dilakukan gadis itu di dalam sana?’ alis tebal Kaiden bertaut.
Dia sudah cukup lama di dalam sana. Rasanya ia ingin membuka paksa pintu itu, hanya untuk menemukan gadis itu dan mengajaknya bicara.
Namun ponselnya tiba-tiba berdering, memecah keheningan.