Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Orang selalu mengatakan bahwa ‘kok tiba-tiba udah tahun segini, sih?’ atau ‘kok tiba-tiba kita udah umur segini, sih?’ Jane gak menyalahkan. Pun ia juga merasakan hal yang sama. Rasa-rasanya, seperti baru kemarin ketika ia bertengkar dengan mamanya karena ia ingin kuliah di luar negeri, meninggalkan Indoesia, lalu menikahi bule saja. Sungguh, rasanya baru kemarin dia bertemu Hanna yang membuatnya berusaha ikhlas karena dia udah terlanjur di terima kuliah di kampusnya yang sekarang, di jurusan Psikologi. Dia masih gak menyangka. Atas keputusan paksaan ibunya yang sama sekali tidak mau mengerti, dia betulan bisa lulus dari sana. Tanpa harus menunda-nunda kelulusan pula. Jujur saja, dari awal mamanya memaksa Jane untuk menuliskan pilihan Psikologi di

