15 : soft competition

1733 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Balik sekarang?” Ryan menanyakan pertanyaan tersebut kala mereka bertiga sudah selesai makan malam dan berbincang semenjak sepuluh menit yang lalu. Pun Jane juga sudah kembali dari toilet dari tadi. River mengangguk. “Iya, sekarang aja.” “Oke, gue ke kasir bentar, lo sama Jane ke mobil duluan aja.” “Nungguin lo aja,” River menyahut lagi. Ryan mengedikkan bahu kemudian bangkit dari kursinya untuk pergi ke kasir dan membayar bon. Sementara Jane masih diem aja dari tadi, kini dia menyibukkan diri dengan memasukkan ponsel dan powerbank yang sempat dia pasang di ponselnya barusan karena dia kehabisan baterai. River berdiri lebih dulu tapi gak kemana-mana, membuat Jane jadi angkat kepala. “Ayo,” ujar River mengajaknya untuk berjalan bersama. “Nunggu di depan aja.” Jane mengangguk singkat. Kemudian ikut berdiri dan keduanya berjalan beriringan. Mereka berhenti di sebelah pintu masuk restoran. Tapi gak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Entah hanya firasat Jane saja atau gimana, tapi Ryan lama banget gak balik-balik padahal cuman bayar pesanan doang. “Lo tinggal dimana?” Jane akhirnya berinisiatif buat buka suara aja dari pada diem-dieman kayak orang musuhan. “Gue ngekos. Deket kampus, kok. Di tengah kota.” Jane menganggukkan kepalanya mengerti. “Lo sendiri tinggal sama orang tua, ya? Atau ini tadi kebetulan pulang ke rumah?” “Ah, iya,” Jane menjawab. “Gue ngekos juga deket kampus. Tapi kemarin kebetulan pas balik ke rumah.” “Hmm, gitu. Kenapa gak sekalian apartemen aja? Di deket kampus kan ada apartemen diskon buat mahasiswa.” “Kegedean kalau buat tinggal sendiri.” River manggut-manggut. “Dulu Ryan juga bilang gitu pas ditawarin nyokap bokapnya buat beli apartemen. Sebenernya mau ngajakin gue tinggal di apart dia aja, karena dia bilang kasihan kalau gue ngekos. Well, tapi gue juga gak enak lah kalau numpang di apart temen. Jadi, ya... you see, dia sekarang di apart sendirian doang.” Jane menelengkan kepala untuk menatap River yang berdiri di sampingnya itu. “Thanks for information.” jawab Jane sarkas. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Cross my heart, hope to die To my lover, I'd never lie He said "be true, " I swear I'll try In the end, it's him and I He's out his head, I'm out my mind We got that love, the crazy kind I am his, and he is mine In the end, it's him and I, him and I My '65 speeding up the PCH, a hell of a ride They don't wanna see us make it, they just wanna divide 2017 Bonnie and Clyde Wouldn't see the point of living on if one of us died, yeah Got that kind of style everybody try to rip off YSL dress under when she takes the mink off Silk on her body, pull it down and watch it slip off Ever catch me cheating, she would try to cut my (ha-ha-ha) Crazy, but I love her, I could never run from her Hit it, no rubber never would let no one touch her Swear we drive each other, mad, she be so stubborn But, what the f**k is love with no pain, no suffer Intense, this s**t, it gets dense She knows when I'm out of it like she could just sense If I had a million dollars or was down to ten cents She'd be down for whatever, never gotta convince (you know?) * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sejutek-juteknya Jane sama orang, apa lagi orang asing, dia gak pernah berbuat gak sopan tanpa alasan. Sumpah, Jane gak bohong. Lagi, karena dia pun juga tahu kalau udah jadi kewajiban buat manusia berbuat baik. Kalau versi Jane, itu emang berlaku. Tapi beda lagi kalau ada yang cari perkara duluan. Dia udah sebel gara-gara tadi sempet dikacangin pas di restoran, terus sebel lagi karena dia gak bisa ngelak kalimat Hanna bahwa dia emang lagi cemburu, dan dibuat makin sebel karena entahlah, menurutnya River tadi bahas soal apartemen dan keinginan Ryan buat ngajakin dia untuk tinggal bareng itu adalah salah satu cara River buat manas-manasin Jane. Sebagai sesama perempuan, tentu Jane peka sama hal-hal kayak gini. Klasik dan sangat tipikal. River memang bukan sosok menyebalkan, tapi River bertindang persis seperti Jane. Hanya berbuat baik untuk formalitas. River menghargai keberadaan Jane sebagai gebetan Ryan disini, tapi bukan berarti River gak panas karena ada Jane. Yang mana hal itu juga dirasakan sama persis sama Jane. River dan Jane sebenarnya banyak kesamaan. Salah satunya adalah karakter yang tadi dia sebutkan. Keduanya sama-sama keras kepala dan suka bermain licik dalam diam. Emang bermain di bawah tanah emang lebih seru dari pada blak-blakan, kan? Jadi Jane juga akan melakukan hal yang sama. Detik dimana Ryan akhirnya keluar dari restoran dan mereka bertiga berjalan ke arah tempat mobil diparkir, River langsung jalan di samping Ryan. Beda sama tadi pas mereka berangkat kesini, River memilih buat jalan di belakang mereka berdua. “Yan, tadi pas di rumah bokap lo, katanya minggu depan lo mau ke Manado?” Ryan noleh ke arah River. “Nyokap yang ngasih tahu lo?” “Iya. Dia bilang jadinya lo dua hari rencana skip kuliah.” “Izin kelas,” ralat Ryan. “Bukan bolos.” “Ooh.” River manggut-manggut. “Eh, by the way, lo udah pernah kenalin Jane ke rumah?” Jane yang dari tadi mendengar dalam diam, kini jadi ikut noleh ke River karena namanya disebut-sebut. Tapi dia gak menyahut. Toh itu pertanyaan untuk Ryan. “Hmm, belum.” “Kenapa?” “Ya... belum waktunya aja.” Ryan menggosok hidungnya sambil melirik Jane. “Kapan-kapan pasti gue ajakin ke rumah, kok.” “Jangan bilang Jane juga gak tahu kalau lo mau ke Bandung minggu depan?” Jane menghela nafas. Apa dia bilang. River lama-kelamaan emang bakal menunjukkan sikap resenya. Cewek itu gak menyebalkan, tapi hanya sedang melindungi diri sendiri dengan menyerang secara tersirat pada Jane. Jangan dikira Jane gak tahu maksudnya River ngomong begitu. “Emang kalau Ryan belum ngasih tahu gue kenapa?” Jane jadi jawab. Tapi nadanya santai banget. Dia bahkan jalan sama bersidekap d**a, mengamati jalanan tanpa menghadap ke arah Ryan dan River. “Gue emang gak pernah protektif ke dia. What he gonna do, just do. Kenapa pula pamitan ke gue? Ibunya juga bukan.” “Maksud gue, kan, lo gebetannya. Bukannya harusnya—“ “Dia cuman mau ke Bandung. Gue nyusulin langsung juga bisa. Hal kayak gini gak perlu dibahas, sih. Kecuali kalau lo pacarannya sama anak SMA yang apa-apa harus pamitan detik itu juga biar ceweknya gak ngambek.” River langsung diem. Bukannya lanjut bahas, cewek itu langsung ambil topik lain. “Yan, ini mau lanjut kemana?” Jane memutar bola matanya jengah. Ryan yang masih agak bingung karena barusan terjadi lempar bom antara dua perempuan di kanan dan kirinya agak gak ngeh. “Apa?” “Abis ini mau kemana?” ulang River. “Oh, gue mau ngajakin ke Bukit Tinggi. Bagus gue lihat reviewnya di Google Maps. Baru buka sebulan yang lalu juga.” “Bukit Tinggi yang di daerah Utara itu?” “Iya.” “Yan, lo gak lupa kan gue gak bisa ke daerah dingin? Alergi gue bisa kambuh,” ujar River menatap Ryan penuh protes. “Gue punya alergi dingin. Lo inget, kan?” Jane bener-bener gak tahan buat gak memutar bola matanya. Dia seratus persen benci banget sama cewek caper kayak begini. Mana yang katanya River adalah cewek gak menyebalkan? Jane menarik semua kalimatnya di awal tadi! “Ryan nganter balik lo duluan aja gak papa. Kasihan juga kan elo kalau harus ke tempat begitu?” Jane menarik sudut bibirnya untuk tersenyum manis, memasang topeng. “Dari pada asmanya kumat.” “Maksud gue kita bisa pindah ke tempat—“ “Lagian malem ini niatnya Ryan kan emang mau ngedate sama gue. Bukan sama lo.” Dan River berhasil dibuat bungkam untuk yang kedua kalinya, membuat Jane langsung menyeringai penuh kemenangan. Well, bukan Jennie Laura namanya kalau mau ngalah gitu aja. Dia harus selalu jadi pemenang atas kompetensi apapun, apa lagi yang melibatkan miliknya. Uh-oh, apa perempuan itu baru saja mengklaim Ryan sebagai miliknya? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN