Sebelum berangkat menyendiri ke desa Sukapura, ibuku berpesan, "Apapun pilihanmu nanti, ibu pasti mendukung. Ibu percaya kamu bisa memilih mana yang terbaik. Healinglah sejenak, nikmati hari-harimu di sana. Nggak usah khawatirin urusan perusahaan dulu. Insya Allah, adikmu Bravo bisa menangani sementara, dia bisa diandalkan. Ibu senang akhirnya kamu sadar kalau kebucinanmu kepada Sherly itu sudah di luar batas. Selama ini ibu diam, karena orang yang sedang dimabuk cinta akan sangat susah dikasihtahu."
Beliau melanjutkan, "Ibu selalu berdo'a, semoga suatu saat kamu sadar, kalau hubunganmu dengan Sherly itu sangat tidak sehat. Semoga kali ini kamu bisa lebih tegas ke dia. Sudah waktunya kamu menikah, Nak, tapi kalau bisa tidak dengan Sherly. Itu harapan ibu. Carilah istri yang mencintaimu tulus, apa adanya, bukan ada apanya, Juna."
Kalimat ibu terngiang di telinga. Setiap kali beliau memberi wejangan, hatiku lebih tenang dan mantap untuk melangkah ke arah yang lebih baik.
Ibu seorang wanita yang super sabar, setiap ucapan yang keluar dari lisannya adalah do'a dan pedoman untuk kami anak-anaknya yang alhamdulillah sudah jadi orang sukses di bidang masing-masing.
Itu berkat bimbingan ibu dan bapak, dari semasa kecil. Walaupun sejak kecil kami sudah hidup bergelimang harta, tapi bapak dan ibu mengajarkan kami kemandirian. Belajar dagang sejak kecil, seperti jualan nasi bungkus dan pisang goreng ke teman-teman sekolah secara indent atau pre order. Yang masak ya kami sendiri, sampai kewalahan saking membludaknya orderan.
Kalau inget itu, aku senyum-senyum sendiri. Bangun jam tiga pagi, kami kompak salat di sepertiga malam. Bertiga—aku, Mbak Hapsari dan Bravo. Setelah itu, baru kami masak.
Apa nggak belajar?
Ya belajar. Setiap pulang sekolah, seusai mandi dan makan siang, kami nyempetin belajar kurang lebih satu jam, menyiapkan buku-buku dan seragam sekolah, juga menyemir sepatu yang akan dipakai untuk esok harinya. Sedisiplin itu hidup kami sedari kecil.
Apa tidak pernah main dengan teman-teman sebaya di lingkungan sekitar?
Main. Kami main, kami bukan tipe anak-anak yang pilih-pilih teman dalam bermain. Maksudnya, kami diajarkan untuk merasa sama. Sama-sama hidup sederhana. Zamanku dulu tidak ada gadget, aku masih 'nututin' masa-masa main bola kasti, sodoran, lompat tali, bentengan, gogotri, pendan, dan lain-lain. Bahkan kadang kami rujakan mangga dan pepaya muda dengan anak-anak di kampung belakang rumah.
Masa anak-anak bagi kami sangat seru dan bahagia.
Kini Mbak Hapsari sudah memiliki restoran masakan Sunda di beberapa kota besar. Dia menikah dengan orang Sunda. Itu cita-citanya sejak remaja, ingin memiliki suami orang sana karena dia sangat suka bahasa Sunda dan ingin bisa bahasa Sunda, selain itu dia sangat mencintai masakan Sunda.
Lalu Bravo—adikku, dia memiliki pabrik makanan ringan dan minuman kemasan, sama sepertiku. Masih muda, salih, sukses dan mapan. Dia membeli satu unit rumah tepat di sebelah rumahku, di kawasan elite.
Ada yang tak sama antara kami, yaitu dia lebih mampu berpikir logika saat mencintai seseorang. Sangat selektif dalam memilih pasangan. Karena itu, jarang sekali kulihat Bravo memiliki kekasih. Terakhir dia pacaran semasa kuliah, itu pun hanya sebentar, nggak sampai dua tahun. Setelah itu aku tidak pernah melihatnya dengan perempuan lagi. Entah mengapa?
"Juna, kamu yakin nggak butuh mobilmu ini?" tanya bapak padaku saat mengantarku ke desa Sukapura.
"Yakin, Pak. Tolong bawa pulang saja, aku rencana beli motor bekas untuk sehari-hari," jawabku sembari tersenyum. Alis bapak mengerut sebentar lalu memaksa tersenyum.
"Motor bekas? Haha."
"Bapak jadi inget perjuangan mendapatkan ibumu dulu, Jun. Pura-pura jadi orang biasa dan sederhana, eh ndilalah ketemu ibumu—anak gadisnya Pak Lurah. Baik-baik ya di sini. Bapak pulang ya? Kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja, hati-hati di kampung orang, jangan tinggalin salat juga."
"Nggih, Pak." Aku menyalami bapak dengan takzim, kemudian beliau memelukku.
"Nanti kalau Sherly ke rumah, tolong jangan bilang Juna sedang di desa ini ya, Pak," pintaku.
"Iyalah. Tenang aja, nanti bapak akan bilang kalau kamu berlibur ke Bangkok dengan calon istrimu." Bapak terkikik.
"Jangan, Pak. Itu terdengar jahat," jawabku khawatir.
"Tuh kan, masih aja bucin, gitu aja nggak tega, gimana mau move on?" kata Bapak. Aku tertunduk.
"Udah jangan mikirin Sherly terus, perempuan seperti Sherly kurang cocok jika bersanding denganmu, bisa-bisa nanti kamu gulung tikar di usia muda. Na'udzubillaahi mindzalik." Bapak mengingatkanku lagi. Aku mengangguk.
"Sudah ya, Bapak pulang dulu, hati-hati di sini, ingat jangan pernah ninggalin salat 5 waktumu. Semoga masih istiqamah tiap Senin dan Kamis puasa. Usahakan kalau ibumu telpon segera diterima, biar Ibu nggak khawatir, ya?" pesan bapak. Sekali lagi Bapak berpamitan.
Tak lama dari itu, bapak perlahan meninggalkan area villa.
.
Hamparan kebun sayur mayur di pagi hari sungguh memanjakan mata. Kesejukan tempat ini benar-benar menyenangkan dan menenangkan pikiran. Kuhirup udara segar ini dengan khidmat dan nikmat. Subhanallah, sungguh indah ciptaan-Mu, Yaa Rabb. Udaranya sangat sejuk.
Kutapaki jalan yang menurun, pagi ini aku ingin ke pasar dengan berjalan kaki. Anehnya tak terasa capek, mungkin ini karena terbayar oleh kesejukan dan keindahan tempat ini.
Beberapa kali aku berpapasan dengan warga. Mereka melihatku sambil senyum-senyum, terutama ibu-ibu dan mbak-mbak. Aku sampai bingung, kenapa ya mereka? Apa ada yang salah dari pakaian atau rambutku?
"Permisi, Pak. Apa di sini ada dealer motor?" tanyaku pada salah seorang tukang parkir.
"Ada, Mas. Tapi agak ke bawah, tapi buka jam 11 siang, tapi mahal-mahal Mas di sana, mending langsung ke kota aja, tapi jauh" jawabnya. Hmm, bapak ini banyak 'tapi'nya.
"Oh, baik, Pak, terima kasih," ucapku.
"Mas mau cari motor apa?" tanyanya.
"Motor bekas, Pak, asal mesin bagus, insya Allah saya beli," jawabku.
"Kayak gini mau?" Dia menunjuk motor Supra bekas yang kabelnya kelihatan di mana-mana, kaca spionnya kesleo hadap ke atas, itu pun cuma kanan aja, sadelnya kelihatan busanya.
"Ini motor Bapak?" tanyaku. Dia mengangguk.
"Iya, Mas. Mau saya jual karena uangnya mau saya pake bayar utang," jawabnya.
"Oh gitu? Mau dijual berapa?"
"Empat juta aja," jawabnya dengan wajah melas.
Ini memang wajahnya melas atau emang akunya ya yang gampang kasihan sama orang?
Aku nggak tahu harga segitu untuk motor seperti ini mahal atau kelewat murah?
Tapi menurutku pribadi sih ya murah banget.
"Serius empat juta, Pak?" tanyaku.
"Iya, boleh ditawar kok, Mas."
Hah? Harga segitu masih boleh ditawar? Please, walau keadaan motornya seperti itu tampilannya, tapi ini motor, bukan sepeda kayuh, masa harganya jauh lebih murah dari harga sepeda gunung?
"Surat-suratnya ada, Pak?" tanyaku.
"Nggak ada, Mas, bodong dia, tapi mesinnya bagus Mas, nggak rewel. Buat angkut sayur atau rumput, jos dia," jawabnya dengan wajah melas lagi.
Yaa Allah, nggak bisa kelamaan. Langsung kuiyain ajalah.
"Trus Bapak nanti sehari-harinya naik apa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Ya jalan kaki, Mas."
Aku manggut-manggut sambil ngasih uang lima juta.
Bapak itu sempat tertegun.
"Ini beneran Mas motor saya udah laku? Udah Mas beli?" tanyanya seolah masih bingung.
Aku mengangguk seraya tersenyum. Kemudian dia menghitung uangnya.
"Yaa Allah, ini kelebihan 1 juta, Mas," katanya.
"Masa sih, Pak? Bapak salah itung kali, ya udah motornya boleh saya bawa sekarang?" tanyaku saat ia hendak menghitung uangnya lagi.
"Boleh banget, Mas. Oh ya namanya siapa Mas?"
"Juna, Pak. Kalau Bapak siapa?"
"Panggil aja Pak Muhib, makasih banyak ya Mas. Barokallah." Lalu dia menghitung uangnya lagi.
"Sama-sama, Pak, saya permisi ya," pamitku.
Buru-buru motornya kubawa pergi. Mudah-mudahan saja motor ini masih baik mesinnya dan nggak rewel.
.
Aku langsung mengendarai motor itu ke villa. Alhamdulillaah motornya berfungsi sangat baik. Tinggal memperbaiki spion dan memasang spion sebelah kirinya juga, oh ya mengganti sadel.
Di depan villa aku mencuci motor baruku itu.
Beberapa menit kemudian, datanglah sebuah mobil sport ke sebuah villa di sebelah villa yang kutempati.
Alhamdulillah, akhirnya aku punya tetangga, walau pun aku tidak tahu mereka akan tinggal berapa lama di villa itu.
Sambil mencuci motor, mataku sedikit-sedikit mengamati orang-orang yang turun dari mobil.
Mereka terdiri dari seorang bapak, ibu, dua putri, satu putra. Sempat beberapa dari mereka melihatku sedang mencuci motor. Hanya sekilas, tak ada senyum, apalagi sapa.
Seorang bapak yang menyetir mobil itu menghampiriku lalu bertanya sembari membenarkan kacamata hitamnya, "Mas, sorry, di sekitar sini sinyalnya bagus nggak ya?" tanyanya.
"Setahu saya kalau providernya Tilkumsil, bagus Pak," jawabku singkat sambil berdiri untuk menghormatinya. Dia melihat ke arah motorku saat menurunkan kacamatanya sedikit, lalu memasangnya lagi dengan benar.
"Oh, thank's ya, emh oh ya Masnya penjaga villa ini ya? Kalau penjaga villa sebelah sana mana ya?" tanyanya lagi.
"Maaf, Pak, saya kurang tahu," jawabku seraya tersenyum.
"Oh oke, sekali lagi thank you ya, lanjutin nyuci motornya," katanya lalu beranjak kembali ke mobilnya.
Dari kejauhan kulihat dua putri mereka nampak berbeda penampilannya. Yang satu stylish, cantik, modis, tinggi semampai. Lalu yang satu lagi sangat sederhana, berkacamata tebal, berjilbab panjang dan menarik tiga koper sekaligus.
Saudara lelakinya malah sibuk berselfie, sepertinya sedang nge-vlog.
Jarak villaku dengan mereka itu cukup dekat.
.
Tengah malam aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Kubuka pintu menuju balkon, lalu berdiri di tepian balkon sambil menatap indahnya kelap-kelip lampu kota di bawah sana. Ah, suasananya sangat romantis, andai saja ada Sher ... Hmm. Ah, ayo Juna, move on, move up! Jangan sebut nama perempuan itu lagi, kamu harus bisa melupakannya! Demi masa depanmu!
Aku memberi semangat untuk diriku sendiri.
Saat aku menunduk, bulu kudukku tetiba berdiri. Kala tak sengaja melihat sesosok perempuan berpakaian serba putih di bawah pohon cemara, duduk di kursi panjang sendirian sambil menatap ke arah lampu-lampu kota di bawah sana, sama sepertiku.
Angin gunung yang semilir mengantarkan suara-suara seperti perempuan sedang menangis.
Kuucek mata beberapa kali, tapi penampakan itu masih ada dan suara tangis makin terdengar jelas.
Aku penasaran, kuturuni tangga sambil membawa senter. Bergegas aku keluar untuk memastikan dia manusia atau dedemit.
Bismillaah ...
Kubuka pintu utama dan melangkah menghampiri sosok putih itu.
Makin kudekati, suara isaknya kian memudar. Masa iya ada demit pake jilbab? Jangan-jangan dia ....
"Permisi Mbak, sedang apa duduk di sini tengah malam begini?" tanyaku.
Suara isaknya seketika berhenti sama sekali. Dia tak segera menoleh. Aku sudah siap sekiranya saat dia menoleh dan ternyata mukanya rata, berarti fix dia hantu muka rata yang salihah.
Dia menoleh ke kanan perlahan, jantungku mendadak deg-degan, takut beneran rata wajahnya.
Belum sempat menoleh dengan sempurna, tiba-tiba dia berdiri dan berlari meninggalkanku begitu saja. Ia berlari menuju ke arah belakang villa sebelah. Aku ingin mengejarnya, tapi entahlah ... mendadak aku galau, kejar nggak ya?
Bersambung ....