Dikira Penjaga Vila padahal Seorang Bos
[Sayang, kamu di mana sih? Angkat dong teleponnya!] Sherly berkali mengirim pesan, menanyakan di mana keberadaanku.
Dia keluar masuk perusahaanku seenaknya saja, kian hari kian menyebalkan, merasa seperti istri boss, tapi diajak nikah ngeles terus, banyak alasan.
Belum lagi sifat cemburunya yang berlebihan hingga permintaannya yang lama-lama tidak masuk akal.
Tiap bulan kalau dihitung-hitung, biaya dan gaya hidup Sherly butuh kurang lebih enam puluh lima juta. Ibuku saja tak pernah kuberi uang sebanyak itu di setiap bulannya. Belum lagi minta tambahan ganti hape, mobil, laptop dan lain-lain.
Bukannya aku tidak ikhlas, tapi muak. Muak dengan diriku sendiri yang 'buta' dan nggak bisa move up dari Sherly. Ketidaktegasan dan kebucinanku dimanfaatkan olehnya. Ia tak membuatku maju tapi justru sebaliknya.
Setiap kali kuajak ke jenjang yang lebih serius, dia selalu saja berkelit kalau dia belum siap sebab terikat kontrak dengan perusahaannya.
Profesinya sebagai model tak mengizinkannya menikah selama 2-3 tahun ke depan. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi yang jelas ... aku sudah lelah dengan semua sikapnya.
Aku memang sangat mencintai Sherly. Oleh sebab itu, nggak masalah aku dibilang bucin paling bodoh sedunia selama tiga tahunan ini oleh orang-orang terdekatku.
Ketika aku sudah terlanjur jatuh cinta, tidak bisa aku main-main, berharap Sherly bisa berubah jadi lebih baik dan mandiri, tapi ternyata aku salah. Caraku yang salah, aku terlalu memanjakan dia, jadinya dia makin kebablasan seperti ini.
Namaku Juna. Aku seorang pengusaha kaya raya di bidang makanan dan minuman ternama di Indonesia. Dilahirkan di keluarga berada, namun kekayaan yang kumiliki tak bisa membeli manisnya kesetiaan dan ketulusan dalam kisah cintaku.
Semua wanita yang mendekatiku hanya silau dengan kekayaan yang kumiliki, awalnya saja manis, tapi ujung-ujungnya duit. Salah satunya kekasih terakhirku bernama Sherly.
[Mas, bulan ini kamu belum transfer ya, kamu lupa ya sekarang tanggal berapa?]
[Mas, apa-apaan ini? Kok cuma 5 juta? Biasanya 65 juta? Jangan bercanda deh, nggak lucu! Aku mau beli tas ama baju, Mas! Udah kadung pesen, temenku udah pulang dari Paris bawa baju pesenanku!]
[Mas, aku butuh duit nih buat bayar SPP semester ini, sama beli beberapa buku, minta 10 juta ya, please, kalau bisa hari ini, love you Baby ... muah.]
[Besok lusa aku ultah, Mas. Kamu udah siapin kado apa buat aku? Tahun ini apa aku boleh minta sesuatu lagi? Ganti mobil Sayang, bosen sama yang ini, Juke dong Mas ... yah?]
Masih banyak lagi permintaan-permintaan ngelunjak lainnya. Sudah cukup kebucinan ini, aku sudah muak.
Penat rasanya, aku butuh sesuatu yang baru. Kuserahkan urusan perusahaan sementara kepada adikku—Bravo, dia yang selama ini selalu berusaha menyadarkanku untuk meninggalkan Sherly.
Sengaja aku menenangkan diri di sebuah desa cukup terpencil. Desa di puncak gunung, hamparan kebun teh dan berbagai kebun sayur-mayur selalu membuatku merasa lebih damai dan tenteram.
Melarikan diri ke desa adalah jalan ninjaku untuk saat ini, setidaknya untuk menetralisir hati dan pikiranku kepada Sherly.
Di desa ini, aku menyewa villa milik saudara dari salah satu karyawanku—Taufan.
Di tempat baru ini aku berharap bisa mengumpulkan kekuatan untuk bisa putusin Sherly tanpa perasaan kasihan, tergoda atau tidak tega lagi.
[Yang! Sekali lagi kalau kamu nggak angkat teleponku, kita putus!] ancam Sherly.
Alhamdulillah, akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.
[Alhamdulillah. Terima kasih, Sher. Iya aku turutin maumu, kita putus. Maaf ya jika selama ini aku ada salah sama kamu. Semoga bahagia.]
Sent.
Belum tiga detik setelah pesanku centang biru dua, Sherly meneleponku berulang kali. Aku matikan saja handphoneku dan fokus menikmati masa menyendiriku di gunung ini.
Move on, Juna!