43. Entahlah .... "Sebetulnya----" Kalimat Ola langsung terjeda saat pintu ruang perawatan terbuka dan menampilkan sosok lelaki yang tak asing lagi buatku. Aku tidak tahu bagaimana mendefinisikan perasaanku. "Selamat siang semuanya, boleh saya masuk?" Sepasang mata bak lorong magnet itu menatap lurus ke arahku. Dadaku berdesir halus. Aku tercekat. Entah kenapa, sejak beberapa waktu belakangan ini, sosok dan suara dokter Sean kerap membuatku merasa 'entah' .... Detik pada jarum jam berhenti berputar saat keheningan menggantung untuk beberapa jenak lamanya. Ola, Dea dan Tia yang biasanya ramai, harus terdiam tanpa kata. Mereka seolah kompak mengunci mulutnya. "Te--terimakasih, Dok. Maaf merepotkan saja---" "Justru saya sedang merasa kaget, saat Ibu harus ditangani oleh dokter u

