Bab 15 Mbak Iren pun tambah melongo mendengar ucapanku, seakan ia sedang mengingat kejadian yang aku sebutkan itu. Biarin saja aku sengaja mengatakannya, supaya ia bisa mengingat kejadiannya. Biar dia sadar diri, kalau kelakuan murahannya itu, sudah terekspos oleh kamera handphoneku. "Sudahlah, Amira, nggak usah dibahas lagi. Aku mendingan pergi dari pada harus membahas itu semua, sebab aku nggak mengerti dengan alur pembicaraanmu. Karena kamu tidak jelas, orang nanya apa? Kamu malah membahas apa?" elak Mbak Iren. "Bilang saja, kalau Mbak itu takut. Benar kan, Mbak? Pokoknya awas aja ya, kalau Mbak masih berani kurang ajar kepada kedua orang tuaku dan keluargaku yang lain! Apalagi jika Mbak berani, berbuat kasar sama mereka semua. Aku bakal menjamin, kalau Mbak bakal menyesal. Karena ak

