"Waduh-waduh, hebat bener nih ya. Ada perempuan miskin sedang jalan-jalan, sambil membawa keluargannya. Dapat uang dari mana tuh? Jangan-jangan uangnya, dari hasil meminta ke suami orang lagi," hina Risma. "Kamu bener, Dek. Darimana coba dia punya uang, kalau bukan dari morotin uang suami orang. Orang dia bisanya juga cuma nampan doang. Beda dong sama kita, yang sudah terbiasa bekerja dan menghasilkan uang sendiri." Rita juga menimpali adiknya, ia menghinaku habis-habisan. Mereka berdua dari dulu memang seperti itu, mulutnya itu memang nggak bisa dikontrol. Apalagi, jika aku berbuat tidak sesuai hatinya. Seperti sekarang, yang dalam sepengetahuan mereka, aku tidak mau mengurusi Ibunya lagi. Padahal aku tetap merawatnya, walaupun kali ini aku meminta bayaran, atas tenaga yang aku kelu

