Si Bos Aneh!

1086 Kata
Jika atasanmu tba-tiba bersikap baik, itu wajib dicurigai! *** Senja merasa seluruh tulangnya remuk. Dia merentangkan tangan untuk melenturkan otot-ototnya yang kaku. Dia sudah bekerja lebih keras dari pada yang pernah dia lakukan sepanjang bekerja di perusahaan ini. Kebakaran itu telah membuat semua orang kewalahan. Senja mengerjap berkali-kali saat kantuk mulai menguasai. Dia bisa saja jatuh tertidur tanpa sadar sekarang. Saat dia menatap jam di atas meja kantornya desahan berat lolos dari bibirnya. Sudah jam 2 pagi. Tidak heran tubuh dan otaknya tidak bisa di ajak kerja sama. Sayangnya bukan hanya dia tapi beberapa orang—termasuk Langit juga masih bertahan di kantor untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi. Senja menatap ruangan atasannya lewat kubikelnya. Langit masih sibuk dengan pekerjaannya, sama sekali tidak peduli dengan waktu yang sudah larut. Mungkin sebaiknya dia membuat kopi. Setidaknya kafein bisa membantu matanya yang menyedihkan tetap terbuka lebar. “Kau baik-baik saja?” Senja terlonjak di kursinya. Dia melotot. “Pak, tolong kebiasaan suka muncul mendadak itu dihilangkan,” tukasnya dongkol. “Senja bukan masalahku kalau kamu suka melamun.” Melamun? Siapa yang melamun di jam akut seperti sekarang? Orang normal menggunakan jam-jam malam untuk istirahat bukan untuk melamun! “Saya sudah menghubungi semua pihak yang terkait dengan produk yang akan launching termasuk BA yang sudah kita kontrak, mereka bersedia datang di waktu yang sudah di tetapkan.” Senja menyerahkan laporan yang baru saja dia buat pada Langit. “Selain itu kepala kemanan meminta untuk bertemu dengan Anda secara pribadi dan saya sudah mengatur jadwalnya. Keluarga Anda menghubungi Anda karena—“ Senja menghentikan rentetan kalimatnya saat sadar Langit tengah mengamatinya. “Ada apa, Pak? Ada sesuatu di wajah saya?” Senja menyentuh wajahnya, memastikan tidak ada hal aneh atau hal memalukan di wajahnya. “Pulanglah.” Senja bahkan tidak menyembunyikan desah kelegaannya mendengar perintah Langit. Dia merapikan meja kerjanya dan berdiri. “Besok pagi-pagi sekali saya akan meletakkan semua materi meeting di atas meja Anda. Selain itu saya juga akan membuat—“ “Pulanglah Senja, kita bisa membahas jadwalku besok pagi.” “Terima kasih, Pak, kalau begitu saya permisi.” Langit mengangguk kemudian memberikan jalan pada Senja untuk keluar dari kubikelnya. “Apa Bapak belum pulang?” Langit menggeleng. “Ada beberapa hal yang harus kukerjakan.” Senja membuka mulut. Namun, urung mengatakan apa yang ada di kepalanya. khirnya dia hanya mengatakan, “Kalau begitu selamat malam, Pak.” Langit mengangguk singkat dan Senja pun buru-buru menjauh, takut Langit berubah pikiran. “Senja tunggu!” Senja sedang menunggu pintu lift terbuka saat suara Langit memecah keheningan yang menyelimutinya. Dia menoleh dan melihat Langit buru-buru menghampirinya. Apa lagi yang diinginkan si devilman? Batin Senja waswas. Apa pria itu menyesal memintanya pulang lebih dulu? “Jangan memasang wajah seperti itu, aku hanya ingin mengantarmu pulang bukan membawamu ke penjagalan.” Senja buru-buru memperbaiki ekspresi wajahnya. “Saya tidak—APA?” pekiknya keras mengejutkan mereka berdua. Langit menatapnya kebingungan. “Kenapa kamu terkejut?” Senja menelan ludah. “Bapak mau mengantar saya?” Langit mengangguk. “Kenapa, Pak?” “Apa aku perlu alasan untuk mengantar karyawanku sendiri?” Seharusnya iya karena itu sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Langit sebelumnya. Akan tetapi, seperti biasanya Senja tidak punya keberanian untuk membalasnya. Mereka berdua masuk ke dalam lift. Senja berdiri di sudut lift, membuat Langit melengkungkan alisnya. “Apa aku membuatmu ketakutan?” Senja buru-buru menggeleng. “Lalu kenapa kamu menjauh?” Ini hanya perasaannya atau Langit tiba-tiba bersikap aneh? Sejak kapan pria itu peduli dia berdiri di sudut mana? Atau mungkin kejadian di kantor membuat pikiran pria itu kacau? Ya, hanya itu penjelasan masuk akal atas sikap Langit yang aneh. “Bukan apa-apa hanya kebiasaan, Pak.” Untungnya kecanggungan yang melingkupi mereka tidak bertahan lama. Pintu lift terbuka dan Senja buru-buru keluar. Dia berjalan melewati lobi yang disambut anggukan penuh pemahaman dari penjaga di depan pintu. Namun, begitu melihat kehadiran Langit di belakangnya penjaga itu tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Pak Langit.” Langit mengangguk. “Selamat malam Pak Jaka.” “Ma-malam Pak.” Senja mengatupkan bibirnya rapat-rapat untuk menekan tawanya. Jadi bukan hanya dia, penjaga itu juga bisa merasakan ada yang aneh dengan Langit. Mobil Langit sudah ada di depan begitu mereka berjalan melewati pintu. Seorang pria menyerahkan kunci mobil pada Langit yang disambut pria itu dengan ucapan terima kasih. “Kenapa Bapak tidak menggunakan sopir?” tanya Senja saat dia masuk ke dalam mobil. “Ini sudah larut Senja. Aku sudah meminta Pak Sobar pulang untuk istirahat.” Rahang Senja mengeras mendengarnya. Lihatkan? Sepertinya pria itu memang hanya bersikap kejam padanya sementara terhadap orang lain Langit bisa bersikap ramah. Kenapa Langit tidak melakukan hal yang sama padanya? “Senja?” Haruskah dia protes dan mengatakan kalau itu diskriminasi kerja? Apa mungkin Langit akan memarahinya? “Senja!” Sentuhan di lengannya membuat Senja terkesiap. Saat dia berpaling Lnagit tengah menatapnya dengan ekspresi aneh. “Kamu baik-baik saja?” “Bapak sudah menanyakan hal itu tadi. Aku baik-baik saja.” Langit mulai menjalankan mobil menembus jalanan yang tetap hidup dan dipenuhi dengan banyak kendaraan. Senja memandang gedung-gedung pencakar langit yang berdiri gagah seperti pertunjukkan kekuasaan. “Alamatmu. Kamu belum mengatakan alamatmu di mana Senja.” Senja menyebutkan alamatnya dan karena tidak tahan dengan kesunyian yang menari-nari di antara mereka Senja akhirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan. “Bapak tidak perlu repot mengantar saya, seharusnya.” “Kalau ini memang merepotkan aku tidak akan melakukannya. Apa kamu tinggal sendirian?” Senja memikirkan arah pertanyaan itu sesaat. “Tidak juga. Aku punya teman satu kontrakan, Pak.” “Dan dia bekerja di mana?” “Kenapa Bapak ingin tahu?” “Hanya penasaran.” “Hati-hati, rasa penasaran bisa membunuhmu.” Langit tertawa, mengejutkan Senja. “Aku tidak tahu kalau kamu punya selera humor.” Ha? Langit menoleh dengan senyum yang masih bertahan di wajahnya. “Apa ini usaha untuk mengelak?” “Mengelak? Kenapa aku harus mengelak?” “Hanya kamu yang tahu alasannya Senja.” “Kami bekerja di perusahaan yang sama, tapi divisi yang berbeda,” terang Senja, sekali lagi kalah beradu argument dengan Langit dan ini jelas membuat dongkol. Kenapa Langit selalu tahu bagaimana membuatnya kesal? Senja melirik Langit yang kembali fokus menyetir. Dia tidak tahu kalau pria itu benar-benar serius ingin mengantarnya, padahal waktu itu Senja pikir dia bercanda. “Pak….” “Hmmm…” “Kenapa Bapak bersikeras ingin mengantarku.” Langit berpaling. “Kamu tidak akan menyerah ‘kan?” Senja menggeleng. “Tidak akan.” “Tidak ada alasan khusus hanya kurasa aku….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN