Pertemuan saat insiden
Pagi ini cuaca sedang tidak begitu baik,angin berhembus, langit yang mendung dan titik air yang mulai turun, menunjukkan bahwa hari ini harus dilewati Liora dengan usaha lebih.
Liora Valencia Garvita atau akrab dipanggil Ara, gadis berusia 20 tahun itu berwajah cantik dengan rambut panjang melewati bahu, berbadan mungil dengan hidung mancung dan matanya yang bulat jernih, sayang sorot matanya yang dulu memancarkan kebahagiaan sudah hilang, senyum merekahnya pun sekarang sudah hampir tak terlihat. Dia hanya berusaha untuk hidup sesuai jalannya, tidak ingin menolak, bersedih, kecewa bahkan bahagiapun tidak ia harapkan.
Berlari dari halte bus menuju restoran tempatnya bekerja secepat ia bisa sebelum rintik yang jatuh mulai membasahi tubuhnya.
Brak
Liora bergegas masuk lewat pintu belakang khusus pegawai. Terengah-engah lalu menengadah ke sudut ruang ganti, ia menghela nafas lega karena tidak terlambat.
Bergegas berganti pakaian dengan seragam kerjanya dan mengerjakan tugas seperti biasanya.
"Ga bawa payung Ra?" sapa Andin diruang ganti.
"Iya..lupa"
"kebiasaan deh, ayo cepet udah buka.. biasanya kalau hujan pelanggan suka pada betah" katanya sambil berlalu.
"iya" sahutnya pendek sambil bersiap menyusul teman kerjanya itu.
Inilah Liora sekarang,yang berbeda dengan dirinya empat tahun lalu. Remaja yang periang dan cantik itu berubah menjadi gadis yang jarang tersenyum dan irit bicara, tidak mempunyai teman bahkan tidak berniat berteman.
Menjalani hidup mengikuti arus, berusaha menghidupi diri sendiri dan tidak bergantung pada siapapun, wajahnya memang menarik banyak perhatian kaum adam yang berusaha dekat dengannya untuk menjalin hubungan asmara bahkan wanita pun sangat ingin mendekatinya untuk menjadi teman dekat gadis cantik itu, namun sifat dingin dan terkesan tak ingin didekati sangat melekat pada diri Liora, sehingga mereka mundur teratur dan hanya berinteraksi seperlunya.
Karena setelah duka empat tahun lalu itu, setelah kehancuran itu, rapuh bukan hanya fisiknya tapi hatinya bahkan hancur.
Kepergian sosok ibu tercinta penguat satu satunya telah merubah Liora sepenuhnya.
Patah hati yang diciptakan oleh ayahnya turut serta mengikis pancaran harapan dimatanya. Tidak ada siapapun yang bisa Liora percaya sekarang.
Dan diapun tidak banyak berharap.
Karena merasa bahwa harapannya tidak pernah terkabul.
Puk
"Hayo malah melamun, cepetan..!" Seru Andin seraya menepuk bahu Liora
"Ah iya" Tersadar dari lamunan, Liora pun bergegas melakukan pekerjaaanya di pagi itu.
***
Ternyata hujan tidak kunjung turun, hanya langit yang masih betah dengan selimut awan mendungnya. Namun bukannya sepi, malah pelanggan di restoran itu semakin ramai saja, bahkan pegawai tampak sibuk kesana kemari melakukan tugasnya, begitupun Liora.
Liora mengerjakan tugasnya dengan cekatan, dia sudah bekerja disini dari empat tahun,
Mulai dari pegawai paruh waktu saat masih duduk dibangku SMA sampai saat ini menjadi pegawai full time.
Setelah lulus SMA 2 tahun lalu, dia tidak berniat melanjutkan kuliah setidaknya sampai uangnya cukup.
Ia, uangnya. Karena uang dari Anthony Wijaya yang merupakan ayah kandungnya sebenarnya lebih dari cukup untuk membiayai sekolah nya, hanya saja ia tidak mau menggunakan uang itu, oh bukan... ia tidak boleh menggunakannya.
Karena hubungan mereka tidak sedekat dan sebaik itu.
***
"Anterin pesanan meja no 17 tolong ya Ra,aku kebelet"
Andin menepuk bahu Liora lalu berlari ke toilet.
"Oh..iya"
Mengambil nampan pesanan yang dimaksud dan bergegas menghampiri meja no 17.
"Permisi mas, mbak ini pesanannya"
Liora membungkuk dan meletakkan pesanan.
Tanpa Liora sadari dia tengah berada di tengah tengah perdebatan antara sepasang kekasih dihadapannya. Sang wanita yang sedang dikuasai amarah melirik Liora sinis sementara sang pria bersikap tenang tanpa ekspresi.
"Pokoknya aku gamau tahu, kamu ga boleh dijodohin sama siapapun, kamu ga boleh nikah selain sama aku Sean!"
Teriakan wanita tersebut membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka,bahkan membuat Liora menghentikan pekerjaannya karena kaget.
"Tenangkan dirimu Bian,ini ditempat umum. Aku hanya menikah bukan meninggal, bahkan aku tidak akan menghiraukan dia nanti. Percaya padaku kalau aku akan tetap bersamamu"
Sang pria menatap tajam perempuan dihadapannya,sedikit terpancing emosi karena wanita dihadapannya membuat mereka jadi bahan perhatian.
"Tidak! aku tetap tidak setuju,aku ga mau tahu pokoknya bilang pada ibumu kamu tidak setuju Sean! bantah ibumu dan nikahi aku!"
Teriaknya malah makin memancing rasa penasaran para pelanggan, Liora berusaha secepat mungkin meletakkan semua pesanan agar bisa segera berlalu, tetapi kejadian berikutnya tidak disangkanya.
"Aku tidak akan melawan ibuku Bian! aku berjanji tidak akan meninggalkan mu!"
Tekan lelaki itu menatap wanita dihadapannya tajam.
Tapi amarah yang memuncak membuat wanita itu tidak bisa mengendalikan emosinya, dia berteriak sembari menarik taplak meja makan dan menghamburkan segala yang ada diatasnya.
"Tidak! Aku tidak mau!!" jeritnya dan mengamuk.
srakkk brakk prang
"Akh"
Liora yang masih meletakkan pesanan tidak bisa mengindar dari lemparan sup panas dan makanan lain yang berhamburan ke arahnya. Tangan kanannya tersiram sup panas dan kakinya terkena goresan pecahan gelas dan piring yang terjatuh berserakan.
Liora tidak pernah menyangka bahwa hari ini benar-benar akan berat ia lalui.
"KENDALIKAN DIRIMU SEBELUM BERTEMU DAN BICARA DENGANKU BIANCA! SEKARANG PERGI DAN TENANGKAN DIRIMU DULU!"
Usir Sean kepada wanitanya yang dibalas oleh tatapan amarah dari sang wanita, bergegas ia mengambil tas tanganya dan berlalu pergi dengan penuh emosi.
Sean menarik nafas dan menghembuskannya mengontrol emosinya, kemudian bergegas menolong Liora yang masih berdiri mematung memegangi tangannya yang sakit.
"Kau tidak apa? maaf atas kesalahan kami, aku akan membawamu ke rumah sakit dan mengganti segala kerugian disini, mari ikut aku nona"
Sean meraih bahu Liora sebelum dia sadar dari keterkejutan nya.
"Ah.. tuan tidak apa, saya bisa mengobatinya sendiri, cukup mengganti segala kerusakan saja. Terimakasih"
Tersadar dari keterkejutan nya,Liora reflek mundur menjauh dan membungkuk enggan menatap pria itu, segera berlalu pergi sebelum pria tersebut bisa menahannya.
"Wanita aneh, padahal aku hanya ingin menolong nya kenapa dia bersikap angkuh seperti itu"
Sean yang tersinggung kemudian berlalu dan mengurus segala ganti rugi yang Bianca sebabkan.
"Aku titipkan sedikit uang untuk berobat pelayan yang tadi terkena imbas dari keributan yang kami sebabkan"
Ucap Sean kepada kasir di restoran tersebut sembari menyimpan beberapa lembaran uang merah diatas meja dan segera berlalu disana, untuk kembali ke kantor dan memenangkan fikirannya sebelum kembali bicara dengan kekasihnya.
Ia tahu ini tidak akan berjalan mudah karena watak Bianca yang keras kepala dan barbar, hal inilah salah satu penyebab ibunya tidak merestui hubungan mereka dan memilih menjodohkan Sean dengan wanita pilihannya.
Sean belum ingin menikah, belum ingin terikat, bukan dengan wanita pilihan ibunya atau Bianca sekalipun. Ia tidak berniat menjalani hubungan yang serius dan terkekang oleh status.
Tbc
*Mohon dukungannya ya teman, jangan lupa love nya, terimakasih ?