SEISTIMEWA YOGYAKARTA | 3

1617 Kata
    Rindu duduk di depan salah satu ruang yang ada di kampus nomor satu yang ada di Yogyakarta. Rindu bahkan tidak pernah mengira seorang Bhanu adalah mahasiswa di kampus favorit semua orang itu bahkan kampus itu menjadi salah satu incaran Rindu sejak dulu. Rindu pernah merencanakan untuk melanjutkan S2 di sini namun semua mimpi itu harus dia kubur dalam-dalam mengingat kondisinya sekarang. Biaya pengobatan ibunya tidak sedikit. Rindu di paksa harus mengontrol keuangannya dengan baik bahkan Rindu sangat jarang menikmati gajinya. Rindu hanya akan mengambil gaji itu untuk makan dan keperluan sehari-harinya. Rindu jarang belanja atau membeli berbagai macam skincare dan makeup    Pagi ini, Jogja sangat cerah, angin berhembus pelan membelai kulit wajah Rindu. Mata Rindu cukup sembab karena menangis semalaman. Untung saja Bhanu tidak menanyakan apa-apa. Pria itu hanya tersenyum kemudian membawa Rindu ke kampusnya untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya sebelum mereka pergi ke candi borobudur dan prambanan. Membayangkan dua tempat bersejarah itu membuat Rindu merasa senang, dia tidak sabar berkunjung ke sana.     Rindu menoleh ke samping, ketika pintu yang sedari tadi tertutup rapat kini terbuka, menampilkan sosok yang Rindu tunggu sejak tadi. Pakaian Bhanu pagi ini cukup rapih sampai tato-tatonya tidak terlihat. Setelan kaos di lapisi kemeja dan celana jeans. Rambut yang biasanya acak-acakkan di sisir rapih ke belakang. Bhanu tidak menakutan lagi untuk Rindu.     “Maaf mbak, nunggu lama,” ucap Bhanu. Dia duduk di samping Rindu. Membuka ranselnya dan memasukkan skripsi yang hampir sempurna itu ke dalam sana.     “Gimana hasilnya?” tanya Rindu penasaran. Rindu sudah pernah ada di posisi Bhanu. Di mana dia harus revisi berkali-kali sampai skripsinya di nyatakan layak dan di acc oleh dosen pembimbingnya bahkan dulu Rindu di buat menangis karena mendapat banyak coretan, tapi kala itu tidak terasa berat ketika ada Gentara di sampinganya. Gentara. Ya, pria sialan yang mungkin sedang menerima selamat dari tamu yang berdatangan di tempat resepsi atau sudah menghabiskan malam panas dengan istrinya. Membayangkan itu membuat sesak kembali menyelimuti rongga d**a Rindu. Rasanya masih sangat menyakitkan.     “Ada beberapa revisian, tapi nggak sebanyak kemarin. Bisa jadi beberapa minggu lagi saya sidang dan wisuda,” jawab Bhanu. Dia tersenyum pada Rindu. Semacam senyum lega seolah dia sudah bebas dari penderitaan yang selama ini dia alami.     “Semangat revisinya!” seru Rindu dengan senyum cukup lebar. Bhanu terkekeh. Rindu terlihat sangat konyol di matanya. Bagaimana dengan mata sesembab itu Rindu bisa tersenyum lebar. Bhanu hanya terkekeh dan kembali menggendong ranselnya.     “Makasih mbak, jujur mbak kelihatan konyol di mata saya. Masih menangisi jodoh orang semalaman suntuk?” tanya Bhanu dengan tatapan jahil. Rindu merengut. Dia pikir Bhanu tidak akan berbicara tentang itu tapi kenyataannya pria itu tetap membahasnya.     “Rasanya masih sakit, Nu,” ucap Rindu. Dia memeluk tas selempangnya tanpa menatap Bhanu. Tatapan Rindu jatuh pada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di depannya. Anak teknik umumnya memang laki-laki tapi melihat ada seorang perempuan di antara gerombolan laki-laki membuat senyum Rindu sedikit tertarik. Rindu sangat yakin perempuan itu akan sangat bahagia, di sayangi oleh teman-teman laki-laki sebanyak itu.     “Di terima pelan-pelan aja mbak. Berpikir positif kalau nyatanya dia bukan jodohnya mbak. Di ikhlaskan. Siapa tahu Tuhan sedang menyiapkan jodoh terbaik buat mbak di sana,” ucap Bhanu. Rindu menoleh. Dia tidak menyangka cowok slengehan seperti Bhanu akan memiliki pemikirian seperti itu. Senyum Rindu kembali tertarik. Dia menatap Bhanu dengan mata berbinar.     “Sekarang gue tahu, kenapa lo bisa di terima di kampus sekeren ini. Lo terbaik Bhanu. Gue pikir cowok kayak lo nggak akan mengerti hal seperti itu. Gue kira lo akan menjatuhkan dan memandang sebelah mata kaum lemah dan galau kayak gue,” ucap Rindu.     “Orang lagi sedih itu ya di hibur mbak. Di beri dukungan biar bisa bangkit lagi untuk memulai sesuatu yang baru dan lebih baik,” ucap Bhanu. Rindu di buat semakin kagum. Bhanu orang yang berpikir sangat realistis menurut Rindu.     “Gue kira orang kayak lo hanya bisa mainin perasaan cewek doang ternyata lo bisa memandang lebih dari itu, ya,” ucap Rindu. Bhanu menoleh dan terkekeh. Pria itu berdiri dari tempat duduknya.     “Kalau saya bilang, saya belum pernah pacaran kayaknya mbak nggak akan percaya. Jadi yaudah, ayo kita berangkat sekarang. Saya juga butuh liburan,” ucap Bhanu. Rindu mengikuti langkah Bhanu dari belakang.     “Walaupun mustahil sih. Tapi gue percaya-percaya aja kalau lo belum pernah pacaran. Kadang itu menjadi prinsip seseorang. Pacaran sama dengan menghambat kesuksesan. Atau belum mau pacaran karena nggak mau menyakiti hati seseorang. Atau nggak mau pacaran karena merasa belum pantas. Orang punya alasan sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu,” ucap Rindu, “jadi alasan lo belum pernah pacaran apa?” tanya Rindu. Bhanu menghentikan langkahnya. Dia menatap Rindu lamat-lamat membuat Rindu salah tingkah sendiri.     “Karena saya nggak mau berakhir dengan mata sembab seperti, Mbak,” ucap Bhanu dengan tatapan jenaka. Rindu melotot galak. Dia tidak menyangka jawaban Bhanu akan seperti itu.     “Cowok itu nggak nangis, Nu,” ucap Rindu tidak terima. Bhanu tertawa. Dia memberikan helm pada Rindu.     “Laki-laki juga manusia, Mbak. Saya mungkin juga akan menangis seperti mbak kalau di tinggal nikah sama orang yang begitu saya sayangi dan saya cintai. Walaupun terlihat kuat, nyatanya nggak ada larangan untuk seorang kali-laki menangis. Saya juga bisa nangis mbak, walau tatoan gini,” ucap Bhanu. Rindu mau tidak mau mengangguk. Tapi selama ini yang Rindu tahu laki-laki itu kuat, Rindu tidak pernah melihat ayahnya menangis bahkan sekalipun tidak pernah, Gentara, pria itu juga tidak pernah menangis. Yang sering menangis selama ini adalah Rindu.     “Mungkin iya, sih, tapi masih sulit di percaya untuk orang seperti gue. Selama ini gue hidup di antara laki-laki kuat. Gue nggak pernah lihat mereka menangis,” ucap Rindu. Dia naik keboncengan vespa Bhanu.     “Suatu hari nanti, mbak pasti akan bertemu seorang cowok yang menangis karena tidak kuat jauh-jauh dari mbak atau mungkin karena tidak bisa melihat mbak sedih. Akan ada masanya kok. Tungguin aja,” ucap Bhanu. Motor vespa itu bergerak pelan meninggalkan parkiran kampus.     “Lo udah cocok jadi pujangga. Kenapa lo tiba-tiba masuk fakultas teknik?” tanya Rindu.     “Sebenarnya saya punya dua opsi jawaban, yang pertama karena saya ingin mendapat selamat dari seseorang dan yang kedua karena kebetulan saya lolosnya di teknik,” jawab Bhanu.     “Jurusan apa?” tanya Rindu. Rindu bahkan baru menyadari belum tahu jurusan Bhanu.     “Arsitektur,” jawab Bhanu. Vespanya berlenggok membela jalan Jogja di pagi hari dengan tujuan kabupaten Sleman.     “Seriusan lo?” tanya Rindu. Bhanu mengangguk. Rindu benar-benar di buat kaget. Arsitektur. Menurut Rindu itu salah satu jurusan sibuk. Kantong mata hitam identik dengan jurusan satu ini. Keren. Itu satu-satunya kata yang terselip di benak Rindu.     “Gue bingung mau bilang apa lagi sama lo. Jurusan itu setahu gue jurusan sibuk. Gue jadi mikir, apalagi yang lo sembunyikan di balik penampilan serampangan lo ini?” tanya Rindu penuh selidik. Bhanu menatap wajah Rindu dari kaca spionnya dan tersenyum geli.     “Nggak ada lagi mbak, saya nggak pernah menyembunyikan apa-apa,” jawab Bhanu.     “Tapi penampilan lo bikin orang mikir  jelek tentang lo,” ucap Rindu, dia menikmati semilir angin yang menyapa lembut kulit wajahnya. Bhanu mengendarai motornya dengan santai. Yang namanya liburan tidak boleh terburu-buru nanti tidak dapat nikmatnya itu prinsip Bhanu sejak dulu dan mungkin juga prinsip semua orang.     “Saya hidup bukan untuk mendapat penilaian baik orang mbak. Cara saya seperti ini. Kalau orang tersebut nggak suka sama saya yasudah. Saya bisa apa,” ucap Bhanu. Rindu tanpa sadar mengangguk. Tiga hari bersama Bhanu dan mengobrol dengan cowok itu. Rindu jadi mengerti bagaimana cara memandang seseorang dengan lebih baik. Tanpa mencela, tanpa menghakimi. Bhanu adalah sosok yang mendadak Rindu kagumi. Pria yang bahkan lebih muda darinya memiliki pemikiran jauh lebih terbuka di bandingkan Rindu.     “Lo pernah di pandang sebelah mata sama orang karena penampilan lo seperti ini?” tanya Rindu, dia meringis dengan pentanyaannya sendiri. Rindu sendiri bahkan sempat berpikir buruk tentang Bhanu di awal pertemuan mereka tapi Rindu tidak merasa takut.     “Kayaknya pertanyaan gue udah ada jawabannya. Gue sempat mikir buruk sama lo awal ketemu tapi entah kenapa gue nggak merasa takut sama lo. Alih-alih takut gue malah merasa sebaliknya. Gue merasa mendapatkan teman baru,” lanjut Rindu menjawab perntanyaannya sendiri.     Bhanu tersenyum geli melihat Rindu yang mendadak panik. Gadis itu mendadak terlihat sangat lucu dan konyol.     “Santai aja mbak, nggak ada yang boleh di salahkan. Seperti yang sudah saya bilang. Orang bebas memberikan penilaian terhadap saya. Bahkan ada yang terang-terangkan menunjukkan rasa tidak sukanya pada saya,” ucap Bhanu. Rindu sedikit mencondongkan badannya ke depan. Mendekat pada Bhanu dan jelas masih terhalang oleh ransel yang ada di punggung Bhanu.     “Siapa?” tanya Rindu penasaran. Menunjukkan rasa tidak suka secara terang-terangan? Apa orang tersebut tidak memiliki perasaan? Rindu benar-benar tidak habis pikir.     “Ayah, saya.”     “Orang-orang yang nggak sengaja lihat saya ngamen di lampu merah atau teman-teman kampus atau orang yang nggak sengaja saya temui di jalan,” jawab Bhanu. Rindu hanya mengangguk. Dia mencoba berpikir keras. Kalau di lihat-lihat wajah Bhanu bahkan tidak seburuk penampilannya. Pria ini memiliki ukiran sempurna pada wajahnya. Bhanu mungkin di pandang sebelah mata hari ini tapi Rindu sangat yakin, suatu hari nanti Bhanu akan bersinar terang dan di cintai oleh banyak orang.     “Gue yakin lo akan bersinar dan di cintai banyak orang suatu hari nanti,” ucap Rindu.     Bhanu terpaku tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan juga tidak mengharapkan apa-apa untuk masa depannya. Seperti ini Bhanu merasa sudah sangat cukup. Sejak dulu Bhanu memang hidup seperti itu. Selalu berusaha merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Bhanu pernah berharap terlalu tinggi, namun setelah dua puluh dua tahun berlalu, kenyataanya harapan itu hanya menjadi harapan dan pada akhirnya Bhanu menyerah pada harapan yang dia ciptakan sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN