SEISTIMEWA YOGYAKARTA | 4

1552 Kata
     Senyum Rindu merekah sempurna saat dia dan Bhanu sampai di Candi Prambahan. Bhanu hanya menggeleng melihat tingkah Rindu. Gadis yang Bhanu yakini lebih tua darinya itu sudah berjalan lebih dulu di depannya. Bhanu buru-buru menyimpan helmnya dan menyusul Rindu.     “Sesenang itu?” tanya Bhanu. Dia berjalan di samping Rindu yang tidak kehilangan senyumnya. Mata Rindu berkilat penuh binar seolah dia baru saja menemukan kebahagiaannya yang baru.     “Gue baru tahu Candi Prambanan nggak jauh dari kampus lo,” ucap Rindu. Dia sedikit mendongak mengingat tinggi Bhanu yang cukup keterlaluan menurut Rindu. Rindu tidak bohong, mereka hanya menempuh kurang lebih empat puluh menit dan sekarang Rindu bisa menikmati keindahan Candi Prambanan.     “Mbak terlalu banyak main di Jakarta,” jawab Bhanu, dia memberikan selembaran tiket masuk pada Rindu. Rindu menerima itu dengan antusias.     “Apa yang wajib banget gue lakukan di sini?” tanya Rindu, dia berjalan mundur sambil bertanya pada Bhanu.     “Tahu sejarah Prambanan,” jawab Bhanu. Langkahnya sedikit lebar untuk menyusul Rindu. Entah kenapa Bhanu merasa sedikit khawatir melihat Rindu berjalan mundur seperti itu.     “Gue nggak tahu banyak sih sejarahnya, seingat yang gue pelajari waktu SMA Candi Prambanan itu di bangun untuk menandingi kemegahan candi Borobudur. Candi Prambanan itu candinya umat Hindu, seingat gue itu aja,” ucap Rindu. Kini dia berjalan dengan benar, menyamakan langkahnya dengan langkah Bhanu. Bhanu menatap Rindu. Senyumnya ikut mengembang melihat senyum gadis di sampingnya ini. Bhanu baru tahu, di balik wajah murung Rindu beberapa hari yang lalu terdapat keindahan yang seperti ini. Rindu mungkin gadis dengan senyum terindah yang pernah Bhanu temui.     “Sudah siap keliling?” tanya Bhanu. Rindu mengangguk antusias.     “Waktu saya kecil eyang uti sering menceritakan cerita rakyat pada saya. Kata eyang uti Candi Prambanan di bangun karena syarat yang di ajukan oleh Roro Jongrang. Pada saat itu Roro Jongrang di lamar oleh Bandung Bandawasa, Rara Jongrang meminta 1000 candi dalam satu malam sebagai syarat lamaran Bandung Bandawasa. Bandung Bandawasa menyanggupi syarat dari Roro Jongrang. Dengan bantuan jin, Bandung Bandawasa hampir menyelesaikan 1000 candi permintaan Roro Jongrang tapi di gagalkan oleh Roro Jongrang sendiri. Roro Jongrang menumbuk lesung hingga ayam berkokok lebih cepat. Bandung Bandawasa hanya mampu membangun 999 candi. Bandung Bandawasa murka saat itu,” ucap Bhanu. Mereka menelurusi pelataran candi. Rindu sedari tadi menyimak perkataan Bhanu sambil menikmati keindahan candi di hadapannya.     “Dan kemudian Roro Jongrang di kutuk menjadi arca terakhir dari seribu candi yang di bangun oleh Bandung Bandawasa selama satu malam,” lanjut Rindu. Langkah mereka terhenti di depan Candi Syiwa. Keduanya saling tatap lalu terkekeh pelan.     “Gue pernah baca cerita itu di perpustakaan sekolah walau hanya ingat endingnya aja,” ucap Rindu. “Menurut lo itu nyata atau enggak? Kadang gue bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang bisa membangun bangunan semegah ini dalam waktu satu malam. Itu nggak pernah bisa di terima oleh logika gue,” ucap Rindu. Bhanu mengangguk.     “Itu hanya cerita rakyat, Mbak. Saya juga sulit mempercayai itu. Tapi mau bagaimana lagi cerita itu memang sudah hidup dalam masyarakat kita,” ucap Bhanu. “Tapi setelah mengenal pelajaran sejarah, sedikit demi sedikit saya bisa menerima. Sejarah aslinya lebih masuk akal,” lanjut Bhanu.     “Tapi tetap aja di beberapa sisi nggak bisa di telan mentah-mentah. Lo bayangin aja. Memang di jaman itu populasi manusia sudah sebanyak sekarangkah? Kenapa mereka bisa membangun candi sekeren ini? Itu pertanyaan gue. Tapi gue sadar, sejarah akan tetap menjadi sejarah,” ucap Rindu. Bhanu menangguk.     “Lo kayaknya lebih paham sejarah di bandingkan gue, bisa kita mulai kelilingnya. Lo udah janji jadi tour guide dadakan gue,” ucap Rindu.     “Baik mbak Rindu, kita mulai dari candi paling inkonik di sini. Di hadapan kita ini namanya Candi Syiwa,” ucap Bhanu dengan wajah dibuat seserius mungkin, Rindu yang melihat itu tertawa ngakak.     “Nggak usah gitu juga. Biasa aja. Jelasin ke gue sekarang juga,” ucap Rindu.     “Saya boleh lihat google nggak sih mbak?” tanya Bhanu. Rindu melotot.     “Lo nggak usah pura-pura b**o lagi di hadapan gue. Udah tunjukin aja kesaktian lo,” ucap Rindu.  Gadis itu tanpa sadar menarik lengan Bhanu. Bhanu sempat tersentak kaget namun pada akhirya dia mengikuti langkah Rindu.     “Arca Roro Jongrang ada di dalam candi ini, Mbak,” ucap Bhanu. Rindu mengangguk. Matanya menatap ukiran relief  ramayana yang dibuat searah jarum jam. Rindu mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bhanu. Rindu tidak pernah menyangka sosok slengehan itu akan begitu memahami sejarah. Bhanu bahkan menceritakan setiap detailnya tanpa ada yang terlewati.     “Kayak gue harus foto deh, Nu,” ucap Rindu tiba-tiba setelah mereka selesai berkeliling Candi Syiwa, Candi Wahana dan sekarang mereka ada di Candi Apit.     “Sini saya fotoin,” ucap Bhanu. Rindu mengangguk dan memberikan ponselnya pada Bhanu. Rindu berpose dengan banyak gaya, mulai dari yang elegan sampai konyol bahkan Bhanu sediri dibuat menahan tawa melihat tingkah dan berbagai ekspresi yang di buat Rindu.     “Kayaknya ada yang kurang,” ucap Rindu setelah melihat hasil jempretan Bhanu yang patut di acungi jempol.     “Fotonya jelek?” tanya Bhanu dengan dahi berkerut.     “Lo,” jawab Rindu.     “Maksudnya mbak?” tanya Bhanu semakin bingung. Namun, kebingungan itu sirna ketika Rindu menarik lengannya dan memposisikan kamera di depan wajah mereka.     “Lo belum foto bareng sama gue, kita harus foto yang banyak. Belum tentu kan kita bisa ketemu lagi suatu hari nanti,” ucap Rindu. Bhanu menoleh menatap Rindu yang sudah siap berpose di hadapan kamera. Bhanu jadi berpikir, lelaki b******k mana yang tega meninggalkan gadis seperti Rindu. Rindu ada sosok sempurna yang Bhanu temukan. Rindu bahkan tidak mengusir atau merasa takut pada Bhanu yang urakan. Gadis itu justru minta tolong padanya. Rindu membuat Bhanu merasa di butuhkan dan di hargai.     “Senyum Bhanu! Jangan bengong terus!” seruan Rindu membuat Bhanu tersentak dan kembali ke alam sadarnya. Dia sedikit gelagapan ketika menatap kamera. Jujur Bhanu adalah manusia yang sangat jarang berpose di depan kamera.     “Cheese,” ucap Rindu namun Bhanu terlihat masih sangat kaku.     “Senyum Nu senyum!”  seru Rindu. Dia menarik kedua sudut bibir Bhanu dengan tangannya. Tatapan mereka bertemu. Jantung Bhanu mendadak berdetak lebih kencang.     “Senyum oke! Kita harus punya foto bagus sebelum benar-benar berpisah dan nggak tahu kapan bisa bertemu lagi,” ucap Rindu. Bhanu mengangguk. Kemudian mereka berpose dengan beberapa gaya, mulai dari tersenyum biasa, tersenyum konyol, tertawa lebar sampai saat Bhanu merangkul pudak Rindu. Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Orang asing yang tidak sengaja bertemu itu kini benar-benar menjelma menjadi sosok teman, sahabat bahkan mungkin sudah terlihat seperti pasangan yang berbahagia.     “Lo kelihatan keren di sini,” ucap Rindu sambil memperlihatkan hasil fotonya dan Bhanu.     “Aslinya lebih keren, Mbak,” ucap Bhanu. Rindu terbahak. Puas berkeliling dan berfoto. Rindu dan Bhanu menuju kios yang menjual souvenir khas Prambanan.     Mereka hanya berkeliling dan melihat-lihat.     “Mbak mau beli apa?” tanya Bhan melihat Rindu yang sedari hanya melihat-lihat saja. Rindu menoleh dan menggeleng.     “Kayaknya nggak ada,” jawab Rindu dengan santai. Dia membenarkan tas selempangnya.     “Gantungan kunci?” tanya Bhanu. Dia mengambil dua gantungan kunci bentuk candi prambanan dan memberikannya satu pada Rindu.     “Kenang-kenangan dari saya,” ucap Bhanu. Rindu menatap gantungan kunci itu sebentar sebelum tersenyum lebar.     “Makasih Bhanu. Sebelum ke Borobudur, kita bisa makan siang dulu? Gue laper,” ucap Rindu dengan wajah merengut kearah Bhanu.     “Bisa banget, Mbak. Saya juga lapar,” ucap Bhanu. Dia dan Rindu kemudian melangkah ke parkiran. Motor vespa Bhanu perlahan bergerak meninggalkan kawasan Prambanan.     “Bhanu,” ucap Rindu.     “Ya?”     “Terimakasih sudah menemani gue hari ini. Lo berhasil mewujudkan mimpi gue. Dan terimakasih karena membuat gue lupa sama masalah gue untuk beberapa waktu,” ucap Rindu. Bhanu mengangguk di balik kaca helmnya. Tidak hanya Rindu yang berhasil melupakan masalahnya hari ini tapi Bhanu juga. Bhanu merasa lepas. Tertawa bersama dengan Rindu. Gadis yang kini duduk di boncengannya itu tanpa sadar memberikan kehangatan pada Bhanu. Gadis itu membuat Bhanu merasa tidak sendirian lagi.     “Nggak perlu terimakasih mbak. Saya juga butuh liburan. Suntuk mikirin skripsi terus,” ucap Bhanu. Motor vespa itu berbelok ke arah warung lesehan yang tampak sederhana namun terlihat sangat nyaman.     “Semoga skripsi lo cepat selesai,” ucap Rindu. Dia melepaskan helm nya dan memberikannya pada Bhanu.     “Emang mbak mau datang ke wisuda saya?” tanya Bhanu. Rindu terpaku. Sekelebat bayangan kesibukannya tiba-tiba bergerak di kepalanya. Rindu menatap Bhanu tidak enak tapi Bhanu terkekeh melihat ekspresi Rindu.     “Nggak usah di pikiran mbak. Saya becanda. Saya tahu gimana kesibukan seorang yang bekerja di sebuah perusahaan,” ucap Bhanu. Dia menuntun Rindu untuk duduk sedangkan Bhanu pergi memesan makanan untuknya dan Rindu.     “Bhanu, gue air mineral ya,” ucap Rindu sebelum Bhanu menjauh darinya. Pria itu terlihat mengangguk. Rindu melebarkan senyumnya. Warung lesehan sederhana ini benar-benar terasa nyaman dan menyejukkan.     Bhanu sesekali menoleh pada Rindu. Senyumnya tersungging sedikit. Bhanu serius dengan pertanyaannya tadi. Entah mengapa Bhanu ingin Rindu datang ke wisudanya nanti tapi Bhanu sadar, Rindu tidak akan bisa datang. Gadis itu pasti memiliki banyak kesibukan. Lagian memangnya Bhanu siapa? Bhanu hanya orang asing yang memiliki keberuntungan bisa bertemu dengan gadis sebaik Rindu. Rindu. Nama itu seolah sangat cocok untuk Rindu. Rindu memang sosok yang mungkin akan Bhanu rindukan suatu hari nanti.     “Semoga bisa ketemu lagi suatu hari nanti mbak Rindu.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN