Tanpa keduanya sadari, walau mereka melangkah sedekat ini tapi kenyataan masih banyak rahasia yang tidak bisa mereka bagi. Mereka berteman layaknya orang yang baru berteman. Saling mengenal dari luarnya saja. Apa yang wajib mereka ketahui. Nama, tempat tinggal, makanan kesukaan, kebiasaan buruk dan hal yang paling di sukai. Namun, tidak ada yang mereka tutupi tentang rasa yang mereka rasakaan saat ini. Mereka sama-sama merasa senang. Merasa bebas dan merasa di butuhkan. Rindu dan Bhanu bahkan tidak segan melempar ejekan yang kemudian membuat tawa mereka sama-sama pecah.
“Gue baru tahu makanan kesukaan lo itu semur jengkol. Gue kira orang jaman sekarang udah nggak makan jengkol,” ucap Rindu. Beberapa menit yang lalu mereka sudah sampai di komplek Candi Borobudur. Sudah hampir sore namun tidak membuat semangat dan atusias Rindu menyurut.
“Ya kali saya bisa melupakan semur jengkol gitu aja mbak. Pada awalnya saya juga nggak suka sama semur jengkol tapi karena eyang uti dulu sering masak semur jadi mau nggak mau saya harus makan dan akhirnya ketagihan,” ucap Bhanu. Mereka mengantri di loket pembelian tiket.
“Jujur lo orang paling merakyat yang gue temui,” jawab Rindu. Dia menerima tiket masuk yang disodorkan oleh Bhanu.
“Nggak juga mbak. Saya nggak sedekat itu sama budaya. Saya banyak nggak tahunya tentang negeri saya sendiri,” jawab Bhanu.
“Setidaknya lo mengenal dengan baik tradisi daerah yang lo tempati. Nggak kayak gue. Selama ini gue nggak pernah berusaha keras mencari apa yang terjadi di sekeliling gue. Gue nggak tahu kebiasaan masyarakat yang tinggal di sekeliling gue. Kayaknya kapan-kapan gue harus jalan-jalan di sekitaran rumah biar lebih mengenal lingkungan gue dengan baik,” ucap Rindu. Kenyataannya memang seperti itu. Rindu ingat betul, dia masih bermain-main dengan bebas saat dia TK sampai SD. Setelah memasuki SMP Rindu sudah mulai sibuk dengan kegiatan sekolah, pulang sekolah langsung istirahat dan kembali mengerjakan tugas, semua berlanjut saat SMA, teman-teman Rindu rata-rata orang kalangan atas Jakarta, mereka selalu berselancar di sosial media, belanja ke mall, nongkrong di kafe dan sibuk mengikuti trend tanpa repot-repot mengingat tanah yang mereka pijak penuh dengan kebudayaan dan tradisi.
Setelah menjadi Mahasiswa, waktu bermain Rindu semakin terbatas, teman-temannya sudah mulai meninggalkannya, Rindu di paksa keras untuk belajar supaya bisa mempertahankan beasiswanya sampai lulus. Itu berlanjut ketika dia memasuki dunia kerja. Waktu Rindu untuk bergaul semakin tidak ada, dia hanya memiliki Gentara dan Bonar yang selalu ada di sisinya namun semua perlahan hilang saat Gentara sedikit demi sedikit memberikan jarak dan berakhir Rindu mendapatkan surat undangan pernikahan Gentara dan Hapsari.
Rindu menghela napas, berusaha menghalau bayangan dua orang yang berhasil membuat Rindu merasa sesak di dalam dadanya. Rindu masih belum bisa menerima keadaan dengan ikhlas. Ada luka yang tergores begitu dalam, Rindu sendiri tidak yakin dia akan berhasil sembuh. Tidak, Rindu mungkin tidak akan pernah sembuh dan kembali membuka hati untuk orang baru.
Rindu takut jika suatu hari nanti dia kembali di campakkan dan di tinggalkan.
“Mbak Rindu,” Bhanu menepuk pundak Rindu membuat Rindu tergejolak kaget.
“Ada masalah?” tanya Bhanu. Dia sedari tadi memperhatikan Rindu yang asik dengan pikirannya sendiri. Tdak ada lagi wajah berbinar dan penuh antusias Rindu bahkan mereka sudah sampai di tangga candi Borobudur.
Rindu menoleh ke arah Bhanu, perempuan itu tersenyum lalu menggeleng pelan.
“Mbak jangan galau, kalau mau gandengan seperti yang lain mbak boleh pinjem tangan saya,” ucap Bhanu, dia menyodorkan tangannya di hadapan Rindu. Rindu yang melihat tingkah Bhanu hanya terkekeh tapi tangan gadis itu bergerak menggenggam telapak tangan Bhanu. Mereka saling tatap untuk beberapa saat. Senyum mereka merekah semakin lebar. Dan dengan tangan yang saling menggenggam mereka mulai menaiki satu persatu tangga. Menikmati keindahan Borobudur yang tidak pernah lengkang dari popularitas. Bagaimana relief-relief terukir pada pagar langkan dan dinding candi menambah keindahan Borobudur.
Rindu dan Bhanu berkeliling. Sesekali Bhanu menceritakan tentang sejarah candi Borobudur pada Rindu. Mereka terkadang berdebat karena perbedaan pendapat namun berakhir tertawa bersama.
Saat candi hampir tutup Rindu dan Bhanu kembali mengabadikan momen kebersamaan mereka. Mereka masih bergandengan tangan dalam foto itu. Senyum mereka sama-sama melebar. Mereka bertingkah seolah-olah hari ini benar-benar milik keduanya.
Mereka meninggalkan komplek Borobudur saat senja mulai menyapa. Mereka tidak pernah kehilangan topik pembicaraan. Mereka kembali bercerita tentang banyak hal. Tertawa saat melihat aksi lucu orang-orang yang mereka lewati sepanjang jalan. Rindu bahkan tanpa ragu berpegangaan di sisi jaket Bhanu. Sesekali dagu perempuan itu bersandar di bahu Bhanu. Mereka dalam perjalan kembali ke Yogyakarta.
***
“Mau lihat saya nyanyi nggak mbak?” tanya Bhanu. Mereka sudah sampai di Yogyakarta. Sekarang keduanya menikmati malam di Malioboro. Menikamti live music dadakan yang ada di sana. Pedagang juga sangat banyak.
“Emang lo bisa nyanyi?” tanya Rindu, alisnya bertaut seolah dia tidak yakin.
“Mereka teman-teman kuliah saya, saya gabung sama mereka dulu ya. Mbak duduk di sini saja,” ucap Bhanu. Tanpa menunggu jawaban Rindu. Pria itu berdabung dengan teman-temannya. Rindu mengamati gerak-gerik Bhanu. Pria itu mengambil gitar dan berdiri di depan microphone. Tatapannya sepenuhnya tertuju pada Rindu. Rindu di buat terpukau ketika suara Bhanu mulai mengalun. Orang-orang mulai membuat kerumunan dan malam itu Rindu menyadari sesuatu. Orang yang menemaninya selama di Yogyakarta adalah orang yang penuh kejutan. Banyak hal yang tidak Rindu tahu tentang Bhanu. Mungkin Tuhan hanya mengizinkan Rindu untuk mengenal Bhanu sampai di sini saja.
Rindu tersenyum, matanya terpejam. Dia menikmati suara indah Bhanu dan keramaian Malioboro. Rindu harus kembali ke Jakarta besok pagi. Dia tidak punya pilihan lain. Rindu memiliki banyak tanggung jawab di sana. Mulai dari pekerjaan dan menemani ibunya yang berada di rumah sakit.
Rindu membuka ponselnya. Dia mengabari Bonar bahwa dia akan kembali besok pagi. Kemudian Rindu mulai memesan tiket kereta api. Rindu tahu betul, akan lebih cepat jika dia menaiki pesawat terbang tapi Rindu lebih suka naik kereta api.
Bhanu kembali duduk di selebah Rindu ketika wanita itu menyelesaikan transaksi membeli tiket. Rindu menyimpan ponselnya ke dalam tas. Dia tersenyum pada Bhanu.
“Gue baru tahu lo bisa main gitar dan nyanyi. Apalagi yang lo sembunyikan di balik penampilan urakan lo ini?” tanya Rindu dengan wajah cemberut. Bhanu hanya terkekeh mendengar pertanyaan Rindu. Baginya Rindu hanya penasaran saja. Perempuan itu tidak benar-benar ingin tahu.
Untuk beberapa saat mereka sama-sama sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Bhanu menatap langit malam yang berhasil membuat hatinya sedikit tenang sedangkan Rindu asik mengamati keramaian Malioboro. Padahal hari sudah semakin larut namun tidak membuat semangat mereka menyurut.
“Bhanu,” panggil Rindu.
“Iya, Mbak?” tanya Bhanu. Kini fokusnya sepenuhnya pada Rindu.
“Panggil Rindu aja. Kalau di pikir-pikir jarak umur kita hanya dua tahunan,” ucap Rindu.
“Emang umur mbak Rindu berapa?” tanya Bhanu.
“Gue dua puluh lima tahun, lo?” tanya Rindu.
“Saya baru dua puluh dua tahun, Mbak, yakin mau saya panggil nama aja?” tanya Bhanu. Rindu mengangguk.
“Lagian gue merasa tua bangat lo panggil mbak. Gue bukan kakak lo padahal,” ucap Rindu. Bhanu terkekeh mendengar ucapan gadis itu. Dasar perempuan. Anti sekali di bilang tua.
“Oke, Rindu,” jawab Bhanu dengan senyum. Senyum itu langsung menular pada Rindu.
“Itu terdengar lebih baik,” ucap Rindu sambil terkekeh.
“Bhanu,” panggil Rindu lagi. Dia menatap Bhanu lamat-lamat, berusaha menyimpan wajah itu dalam ingatannya. Rindu yakin dia akan merindukan Bhanu suatu hari nanti.
“Ya,” jawab Bhanu.
“Besok pagi gue kembali ke Jakarta,” ucap Rindu, Bhanu menoleh. Wajah pria itu mendadak tanpa ekspresi. Ada rasa tidak rela ketika Rindu mengatakan itu. Bhanu merasa belum puas mengajak Rindu keliling Yogyakarta. Bhanu masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama Rindu.
“Jam berapa?” tanya Bhanu. Alih-alih memperlihatkan apa yang dia rasakan Bhanu justru bertanya jam pada Rindu. Bhanu tidak yakin dan dia juga tidak memiliki hak apapun untuk menahan Rindu.
“Jam delapan pagi,” jawab Rindu. Bhanu mengangguk mengerti.
“Besok saya antar ke stasiun, ya?” tanya Bhanu dengan hati-hati. Dia benar-benar ingin melepas Rindu dengan baik. Memastikan perempuan itu naik ke kereta dengan benar.
“Nggak negerepotin lo?” tanya Rindu. Jujur saja Rindu merasa tidak enak pada Bhanu. Dia terlalu banyak merepotkan pria itu beberapa hari kebelakang.
“Santai aja. Saya hanya ingin memastikan kamu naik kereta dengan baik,” ucap Bhanu. Rindu tersenyum.
“Terimakasih Bhanu. Lo baik bangat sama gue. Terimakasih karena sudah mau di repotkan, terimakasih sudah menemani gue jalan-jalan, terimakasih udah mengenalkan gue pada banyak hal,” ucap Rindu dengan tulus. Teman barunya benar-benar sangat baik.
“Santai aja. Saya juga mau terimakasih sama kamu. Terimakasih karena sudah menganggap saya layaknya manusia dan terimakasih karena kamu tidak merasa takut sama saya,” ucap Bhanu tidak kalah tulus. Rindu dan Bhanu lagi-lagi tersenyum. Rasanya melegakan sekaligus takut. Mereka takut jika suatu ari nanti tidak lagi di beri kesempatan untuk saling bertemu.
“Saya antar kamu pulang, sudah terlalu malam takut besok pagi kamu ketinggalan kereta,” ucap Bhanu. Rindu mengangguk dan mengikuti langkah Bhanu ke arah motor vespa yang terparkir di sana.
***
Dua orang itu saling tatap dengan pedar mata yang berbeda. Rindu berdiri di samping pintu keberangkatan. Bhanu dengan setia menemaninya.
“Gue nggak nyangka akan bertemu orang seperti lo. Baik-baik ya, Nu. Cepat selesaikan skripsinya dan wisuda,” ucap Rindu. Dia sedikit mendongak untuk menatap wajah Bhanu.
“Kamu juga baik-baik di sana. Semangat kerjanya Rindu!” seru Bhanu dia tersenyum, namun masih ada rasa tidak rela di hatinya. Ini terlalu cepat.
Saat pengunguman terdengar tentang ke berangkatan Rindu. Bhanu semakin tidak rela. Dia menatap gadis di hadapannya itu lamat-lamat.
“Gue pamit ya, sekali lagi terimakasih sudah menjadi teman gue selama disini, Bhanu,” ucap Rindu. Bhanu diam, saat pengunguman tentang ke berangkatan itu kembali terdengar, Rindu bersiap-siap, mengeluarkan tiket dan kartu pengenalnya.
“Rindu,” panggil Bhanu.
“Ya?” tanya Rindu. Bhanu terlihat sangat ragu, dia kembali menatap Rindu.
“Saya boleh peluk kamu?” tanya Bhanu akhirnya setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.
Rindu tersenyum kemudian tanpa aba-aba gadis itu memeluk Bhanu dengan erat, mengantarkan debaran yang tidak biasa pada Bhanu. Pria itu membalas pelukan Rindu. Dalam hati dia berguman, semoga suatu hari nanti dia akan kembali merasakan pelukan ini. Bhanu sangat berharap bisa bertemu dengan Rindu lagi.
“Gue berangkat, ya,” ucap Rindu. Dia mengurai pelukan melambai pada Bhanu. Bhanu membalas labaian Rindu.
“Bhanu gue kerja di PT Maju Sukses,” ucap Rindu sebelum benar-benar jauh meninggalkan Bhanu. Bhanu terpaku dan detik berikutnya pria itu pergi meninggalkan stasiun dengan banyak harapan. Ya, Bhanu tida-tiba memiliki harapan untuk masa depannya setelah bertemu dengan Rindu.