Tanpa peringatan, tangan Zeva yang semula terlihat masih lemah tiba-tiba menarik pergelangan tangan Selina dengan tenaga yang mengejutkan. Selina terkejut, nyaris terjatuh ke atas tubuhnya. "Tidurlah di sini… di sampingku Selina, " bisik Zeva dengan suara serak namun penuh perintah. Seolah takut Selina akan meninggalkan dirinya. Selina terdiam, jantungnya berdegup cepat, antara kaget dan malu. Tatapan matanya menatap wajah Zeva yang masih pucat, namun dengan sorot mata yang begitu hidup. Tanpa berkata-kata, Selina pun naik ke atas ranjang membaringkan diri perlahan di samping Zeva dengan posisi miring, kepala mereka bertumpu pada sisi bantal yang sama, sebagian rambut Selina terurai. Kini jarak wajah mereka begitu dekat. Jari-jari Selina yang masih gemetar menyentuh pipi Zeva. "Apa tida

