Poor Ammar

1013 Kata

Ruangan itu pengap, dengan cahaya lampu redup yang menggantung di langit-langit, membuat bayangan panjang di dinding. Bau lapuk bercampur dengan aroma keringat dan ketakutan memenuhi udara. Ammar duduk di kursi besi, kedua tangannya diborgol di depan. Kepalanya tertunduk, rambutnya sedikit berantakan, napasnya berat seperti orang yang menunggu vonis mati. Pintu terbuka. Bunyi engselnya berderit panjang, lalu Zeva melangkah masuk, diikuti Selina. Langkah Zeva mantap, matanya tajam seperti pisau, sedangkan Selina berjalan pelan tepat di belakang suaminya, tatapannya penuh wibawa, dan lurus ke arah Ammar. Ammar merasakan d**a kirinya seperti diremas ketika menyadari siapa yang baru saja masuk. Perlahan ia mendongak. Pandangannya bertemu mata Selina yang tenang namun dingin, mata yang pernah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN