Lusi, The Real Sultan

1623 Kata
Nyiiiiiiittttt… begitulah bunyi motor Lusi yang berhenti, suaranya jelek sekali. Memang, Lusi bukan perempuan yang paham segala peralatan motor, makanya alat-alat yang terpasang di motornya itu karatan. Pernah suatu ketika, kaca spion Lusi terlepas di jalan, karena ia salah mengeratkan kaca spion. Niatnya sih mau coba-coba ganti kaca spion. “Ini rumah lo, Lus?” tanya Ribka yang matanya berbinar-binar, menatap gerbang rumah Lusi yang begitu tinggi. “Rumahnya mana, ya? Gue cuma liat gerbangnya aja, udah segede gaban gini. Gimana kalau dalam rumah lo?” Ribka geleng-geleng tercengang, belum pernah ia melihat rumah sebesar ini, maksudnya gerbangnya yang besar. “Ada, rumah gue di balik gerbang ini, lah. Bentar ya gue bukain dulu gerbangnya,” kata Lusi. Lusi mematikan mesin motornya. Dan Lusi turun dari motornya, begitu pula dengan Ribka. Lusi membuka resleting tasnya, dan mencari kunci gerbang. “TARAAAA!” ucap Lusi yang berhasil menggenggam kunci beserta gantungan kunci boneka doraemon itu. Krek.. krek.. krek.. “Alhamdulillah, Nyokap dan Bokap gue gak ganti kunci gerbangnya,” lega Lusi sambil mengelus dadanya. “Ayo, masuk, Rib!” ucap Lusi menuntun motornya masuk ke dalam garasi, dan Ribka ikut mendorong motor Lusi yang sudah dimatikan mesinnya. Ribka menoleh ke kiri dan ke kanan, begitu banyak bunga-bunga mahal yang tertanam di halaman rumah Lusi. Ada bunga kapudul, Juliet Rose, Shenzen Nongke Orchid, Saffron Crocus, dan masih banyak lagi. Ribka yang hanya membaca lewat Google dan artikel Komp*s itu, jadi tahu bahwa keluarga Lusi ini adalah keluarga kaya alias konglomerat. Keren banget gak tuh? “Lus, ini yang koleksi bunga-bunga ini, Nyokap lo?” tanya Ribka. “Nyokap dan Bokap gue sih, mereka berdua senang banget beli bunga kalau lagi ke luar negeri,” jawab Lusi. “Jadi belinya langsung dari luar negeri? Gak pakai ekspedisi aja, gitu?” tanya Ribka lagi kepo. “Entah ya, gue gak begitu paham. Yang pasti bunga-bunga itu bertambah terus ketika kedua orang tua gue liburan ke luar negeri,” jawab Lusi dan melangkahkan kakinya ke teras rumah. Ribka mengikuti langkah Lusi, namun tetap melirik suasana sekitar yang menurutnya seperti dunia khayalan. “Ini rumah gedong amat dah ya, udah ada bunga mahal sedunia, pintu rumahnya marmer dan ada tiga pintu,” batin Ribka penuh kekaguman. Belum lagi luas halaman rumah yang ukurannya setengah dari lapangan bola. Mantep banget gak tuh? Bisa puas banget kalau main bola di sini, atau lari-lari gak jelas saat stress melanda. Suara sepatu Ribka nyaris tidak terdengar, gara-gara takut mengotori atau menggores lantai teras rumah Lusi. “Lo kenapa jalannya slow motion gitu? Ini bukan lagi nge-dance kali!” ledek Lusi. Ting.. nong.. ting.. nong.. dua kali itu juga Lusi menekan tombol bel yang tertera di depan pintu rumahnya. “Orang tua lo masih bangun? Ini sudah jam dua belas malam, Lus!” kata Ribka yang baru saja melihat jam tangannya. Ceklek! Pintu tiga pintu yang berada di depan Lusi dan Ribka itu terbuka lebar. Satu perempuan mengenakan jarik cokelat dan baju kemeja itu memandang Lusi penuh senyum. “Halo, Bi Ina, selamat malam!” ucap Lusi ketika pintunya berhasil terbuka. “Baru pulang, Non?” tanya perempuan berjarik cokelat yang disebut Bi Ina itu. “Iya, Bi, maklum lah kan banyak banget kegiatan di kampus, mau acara gede-gedean,” ungkap Lusi. “Oh ya Bi, ini teman Lusi, namanya Ribka. Malam ini dia mau nginap di sini juga, karena kosnya sudah dikunciin,” lanjut Lusi, Ribka melengkungkan senyum ke Bi Ina. “Oh begitu, silakan masuk, Non Ribka, Non Lusi,” Bi Ina mengulurkan tangannya ke bawah, dan mengarahkan ke ruang tamu. Ribka melangkahkan kakinya masuk ke rumah mewah penuh dengan lampu-lampu kuning bak kerajaan Inggris. Di dindingnya berhias banyak sekali corak-corak batin timbul, serba warna kuning langsat. Lampu-lampu besar nan tinggi yang berada di sudut rumah, menambah daya mewah dan keanggunan dalam rumah ini. “Huaaaaaaaa,” decak kagum Ribka. Ia yang tadinya lelah selepas latihan pencak silat, kini matanya blink-blink memasuki rumah kaum sultan. Ribka memutar-mutarkan badannya, melihat secara rinci isi rumah Lusi mulai dari lantai satu dan lantai tiga. “Mimpi apa gue bisa lihat rumah the real sultan kayak gini,” ucapnya. “Non Ribka?” Bi Ina mencolek Ribka yang dari tadi memutar-mutarkan badannya. “Non Ribka lagi nari sufi, kah? Kok malam-malam gini nari?” tanya Bi Ina dengan polosnya. Sekejab, Ribka pun memberhentikan rasa katrok-nya itu. “Eh, Bi Ina, enggak kok, Bi, gak kenapa-kenapa,” ujar Ribka. Lusi yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, tertawa melihat kelakuan Ribka. “Non Ribka silakan duduk saja sama Non Lusi, mau Bi Ina bikinkan minuman dulu,” ujar Bi Ina. Ribka pun mengangguk dan menghampiri Lusi di ruang tamu yang masih tertawa geli. “Lo kenapa sih dari tadi muter-muter gitu, Rib?” tanya Lusi terkekeh. “Hehe, enggak Lus. Gue heran dan gak nyangka aja ada rumah segede gini di sekitar kampus. Udah gitu di dalamnya mewah banget, asli! Kayak di sinetron-sinetron,” jawab Ribka jujur. “Hahaha, ini desain rumah dan interior-nya itu, Bokap gue yang bikin, maklum lah Bokap gue arsitek terkenal di Indonesia, dan berkali-kali karyanya dipentaskan di luar negeri,” jelas Lusi yang membuat Ribka terangguk-angguk. “Oh gitu? Pantesan ini desainnya mahal banget! Mulai dari corak batik di dinding, perkakas rumah lo serba putih, dan tangga yang melingkar itu, gue gak bisa berkata apa-apa lagi lah. Jago banget nge-desainnya!” ungkap Ribka. “Dan, rumah gue ini memang sering dibuat tempat syuting sinetron-sinetron Indonesia loh, contohnya kayak Suara Hati Isteri Kedua, FTV Babang Tamvan, dan Tukang Haji Naik Bubur,” Lusi menambahkan. Ribka tercengangnya makin-makin. “Keren banget sih, dan gue beruntung banget bisa diizinkan nginep di sini walau cuma semalem, hihi,” kata Ribka menyeringai. Bi Ina pun datang kembali membawa nampan berisi dua gelas s**u cokelat. “Non Lusi, Non Ribka, minum s**u dulu ya sebelum tidur dan masuk ke kamar,” Bi Ina menyerahkan dua gelas s**u cokelat ke hadapan Ribka dan Lusi. “Terima kasih ya Bi, Onah,” Lusi tersenyum dan diikuti Ribka. “Saya ke dalam dulu ya, Non,” kata Bi Ina. “Iya, Bi, Bi Ina tidur saja di dalam, bentar lagi mau tidur juga kok,” ungkap Lusi. “Oh kalau begitu terima kasih banyak ya, Non,” Bi Ina tersenyum dan membungkuk beberapa kali di depan Lusi. Bi Ina segera kembali ke dapur. Ribka dan Lusi sama-sama mengambil segelas s**u cokelat yang masih hangat itu, “Eh Lus, Bi Ina itu tante lo, atau?” tanya Ribka. “Asisten rumah tangga Nyokap gue, Rib” jawab Lusi, menyeruput s**u cokelat yang masih berasap itu. “Wuih keren banget Nyokap lo pakai asisten rumah tangga segala. Kalau di kampung gue tuh ya, pakai asisten rumah tangga udah dikatain pemalas, manja, dan banyak banget deh negatifnya,” ujar Ribka menceritakan kelakuan orang-orang di kampungnya. “Itu soal perspektif aja sih, kalau di kota besar kan diwajarkan mempunyai asisten rumah tangga. Malahan kalau gak ada asisten rumah tangga, rumah berantakan banget, kan pemiliknya jarang di rumah terus,” balas Lusi. “Berarti, Nyokap dan Bokap lo jarang di rumah, gitu?” tanya Ribka lebih seduktif. Lusi mengangguk pelan. “Eh, lo minum dulu ya susunya, habis itu kita tidur. Gue udah capek banget, Rib,” ucap Lusi. Dengan kecepatan yang biasa-biasa saja, Ribka ikut menghabiskan s**u cokelat yang disediakan Bi Ina tadi. Ketika gelas itu kosong, Lusi berdiri. “Yuk kita naik ke atas, kamar gue ada di atas,” kata Lusi. “Ini gak diangkatin ke dapur dulu, Lus?” tanya Ribka perihal gelas-gelas kosong ini. “Gak usah, biar Bi Ina aja. Tenang kok, sebelum subuh pun Bi Ina sudah bersih-bersih di rumah ini,” jawab Lusi. “Tapi, gue jadi kasi—“ “Udah, lo gak usah sok rajin, Rib. Mau ikut gue ke atas, gak?” Lusi mulai melangkahkan kakinya ke arah anak tangga yang melingkar. “Eh iya, mau, mau!” Ribka pun berdiri dari duduknya. Lusi dan Ribka menaiki anak tangga yang melingkar hingga lantai dua. Tangga yang berwarna cokelat muda, lengkap dengan motif daun lidah mertua itu, terasa semakin mewah. Apalagi dengan bahan baku anak tangga ini, marmer impor, cuy! “Eh Lus, lo pasti betah banget ya di rumah?” tanya Ribka ketika mereka berdua menaiki tangga ke lantai dua. “Dulu, betah. Tapi semenjak kuliah dan kegiatan gue di luar banyak, gue pilih membetahkan diri di luar rumah biar semua kerjaan gue di luar beres!” jelas Lusi. “Ih sayang banget, padahal di rumah enak banget loh,” balas Ribka. “Huh, kalau di rumah doang guenya gak produktif dong, Rib! Yang ada malah gue jadi hewan yang kerjaannya makan tidur makan tidur mulu tuh,” ucap Lusi dan Ribka pun tertawa. Lusi pun mengambil satu kunci yang ada di saku celananya. “Kunci lo ada berapa sih, Lus? Kayaknya banyak banget, deh. Udah kayak juru kunci aja, lo!” ledek Ribka saat melihat Lusi memilah-milah kunci yang ada di tangannya. “Hehe, ini ada kunci rumah, kamar, dan loker-loker yang ada di organisasi gue,” balas Lusi. Lusi pun berhasil mendapatkan kunci yang ia cari. TINUN… TINUN.. TINUN.. Pintu kamar Lusi terbuka lebar, suaranya agak seperti kereta api, namun ini tidak berisik. Ribka yang cengo alias katro mode on, hanya bisa melihat pintu kamar Lusi yang terbuka lebar, hanya dengan menempelkan kunci. “Uwaaaaaaaw! Eh Lus, boleh gak rumah lo gue jadiin konten di akun Tok Tok gue? Ini rumah sultan banget!” bicara Ribka makin ngelantur. Lusi hanya menyeringai. “Ngomong apaan dah lo, lo udah keduluan sama ibu-ibu arisan Nyokap gue. Mereka udah lebih dulu room tour di rumah gue, dan dimasukan ke akun Tok Tok mereka,” balas Lusi dengan santainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN