“Yah, gagal dong gue jadi seleb Tok Tok,” Ribka manyun.
Ribka dan Lusi mulai memasuki kamar tidur serba putih, warnanya hampir menandingi warna kulit Lusi. Ribka tetap melirik ke seluruh ruangan, decak kagum sampai geleng-geleng kepala beberapa kali membuatnya seperti berada di dunia bidadari.
“Lo suka warna putih?” tanya Ribka yang mengitari kamar Lusi, memang kebanyakan warna putih.
“Tidak terlalu, Nyokap dan Bokap gue yang ngatur semua ini,” jawab Lusi yang sedang menyangkutkan tasnya di dalam lemari putihnya.
Ribka geleng-geleng kepala, “Oh gitu, segitu perhatiannya ya orang tua lo. Kalau orang tua gue di kampung mah, yang penting barangnya murah dan bisa dipakai, ya itulah yang ada di kamar gue,” terang Ribka.
“Gak masalah, yang penting kan bisa dipakai,” balas Lusi.
“Iya, tapi gampang banget rusaknya,” ucap Ribka yang membuat Lusi terkekeh.
Sembari Ribka masih asyik nengok-nengok dan pegang-pegang semua barang Lusi yang ada di kamar, Lusi melemparkan satu setel baby doll yang masih tersegel.
“Cepetan ganti baju, udah malem banget waktunya tidur,” kata Lusi.
Ribka berhasil menangkapi baby doll yang dilempar Lusi, ia melihat-lihat baju yang masih tersegel rapi, “Ini baru?” tanya Ribka yang menemukan segel harga satu juta lima ratus rupiah dipinggir bajunya.
“Iya, Nyokap gue nyuruh nyetok baby doll buat teman-teman yang nginep di sini,” jelas Lusi.
Perasaan Ribka yang baru pertama kali melihat baju seharga jeti-jeti, ditambah baju itu diperawani oleh dirinya, sontak tercengang abis. Bibirnya sampai kaku dan getar-getar…….
“Lus, gue kok norak banget ya,” kata Ribka sambil melihat tangannya yang gemetar.
Lusi juga melihat itu, “Lo kenapa? Sakit?” Lusi khawatir.
Ribka menggeleng, “Jiwa kismin (miskin) gue tiba-tiba berontak saja gitu.”
“Ya elah!” Lusi menepok jidatnya. “Sekarang lo ke kamar mandi gue, yang ada di pojok sana tuh tulisannya “TOILET” dan cepetan ganti baju.”
“Tapi Lus, gue—“
“Udeh, cepetan ganti baju ya Rib, gantian sama gue. Gue udah ngantuk banget,” Lusi mendorong-dorong tubuh Ribka hingga ke depan kamar mandi. “Masuk, ya!” kata Lusi lalu meninggalkan Ribka.
***
Dinginnya kamar Lusi karena dua air conditioner di dalam kamarnya, membuat Lusi dan Ribka enggan membuka matanya. Mereka masih asyik bergelayut di dalam mimpinya dan selimut yang melindungi tubuh mungil mereka. Tiba-tiba saja, seseorang mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok.. setengah sadar, Ribka lah yang pertama kali mendengarnya. Karena Ribka enggan lancang membuka pintu, Ribka mencolek bahu Lusi.
“Lus, Lus, ada orang yang ngetuk pintu, tuh,” kata Ribka.
“Huaaaaaaah,” Lusi membentangkan dua tangannya ke atas. “Siapa?” tanya Ribka yang matanya masih tertutup.
“Gak tau, coba buka aja,” kata Ribka.
“Hmm, ganggu orang tidur aja,” Lusi berdecak. Lusi menendang selimut yang tadinya mendekap. Ia menjatuhkan kakinya ke lantai, hingga menggapai sandal plastik khusus dalam ruangan. Jalannya masih sempoyongan ke arah pintu, sambil mengucek kedua matanya.
CEKLEK! Pintunya terbuka seperti biasa, hanya dengan sentuhan gaib kunci.
“Bi Ina?” ucap Lusi.
“Iya, Non Lusi. Non Lusi dipanggil ke bawah sama Raden dan Nyonya,” ungkap Bi Ina dengan mata sayunya.
Lusi menyeritkan dahinya, “Ada apa emangnya, Bi?”
“Entah Non, kayaknya seperti biasa deh,” balas Bi Ina, menundukan kepalanya.
Dada Lusi begitu berkecamuk, rasa berat untuk menemui Ayah dan Mamanya, datang begitu saja. “Ya udah, Bi, nanti aku ke bawah. Mau mandi dulu,” balas Lusi tanpa semangat.
“Baik, Non,” Bi Ina menunduk lagi dan berbalik badan, kembali menuju lantai satu.
Lusi ikut membalikan badannya, wajahnya murung melangkahkan kaki menuju kamar mandinya. Ribka yang samar-samar mendengar pembicaraan antara Lusi dan Bi Ina, juga menyimpan kekhawatiran.
“Lo kenapa, Lus? Gak kenapa-kenapa, kan?” tanya Ribka yang kini matanya sudah melek seratus persen.
Lusi tidak menggubris, dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, dan menarik handuk putihnya yang tergantung di samping pintu. Ribka menghela napas, perasaannya tidak enak. “Apa gara-gara Lusi ngajak gue nginep di rumahnya ya, dan itu bikin Nyokap dan Bokapnya marah?” Ribka tebak-tebakan dengan dirinya sendiri.
Pikiran Ribka mulai tidak enak, badannya tiba-tiba semakin dingin, ditambah suara perutnya yang kelaparan kriuk kriuk. Ia menurunkan kakinya dari tempat tidur mewah yang ia tiduri semalam, dan mengganti baju baby doll-nya dengan baju pencak silat yang masih bau keringat.
Ribka menatap wajahnya di cermin yang ukurannya setinggi badannya. Ia memegang wajahnya. “Muka gue di sini kok cerahan ya, jerawat gue yang merah pelan-pelan memudar,” kata Ribka sambil memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.
“Itu karena efek lampu,” sahut Lusi dari depan pintu kamar mandi.
“Eh hehehe,” Ribka tertawa malu. “Lo udah selesai mandinya? Cepet banget,” kata Ribka.
“Iya, karena kalau nyokap dan bokap gue manggil, itu artinya harus cepat dan tepat waktu,” ucap Lusi yang mengusap-usapka handuk ke rambutnya yang basah.
Ribka pun mendekati Lusi yang sedang duduk di atas kasur tidurnya. Sesungguhnya, berat pertanyaan Ribka yang akan diajukannya ke Lusi. “Lus, gue boleh nanya sesuatu, gak?”
“Boleh dong, tanya aja,” jawab Lusi santai yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Nyokap dan bokap lo apa bakal marahin lo gara-gara ngajak gue nginep, ya? Pasti mereka ngiranya lo ngajak anak nakal tidur di rumah lo, secara kan udah tengah malam masih keliaran di luar,” jelas Ribka dengan nada dan wajahnya yang melas.
Lusi menghentikan aktivitasnya, rambutnya yang sudah setengah basah itu didiamkan menggantung. “Lo lagi kesambet apaan? Gue baru lihat lo yang biasanya jagoan suka nendang laki-laki, tiba-tiba aja kayak down gitu,” Lusi terkekeh.
“Ya abisnya bangun tidur tadi lo udah disuruh menghadap orang tua lo. Apa lagi coba alasannya kalau bukan gara-gara lo ngajakin gue,” Ribka semakin memperlihatkan overthinking-nya.
Lusi tertawa, “Ribka, panggilan Bi Ina tadi bukan gara-gara lo, tapi karena gue semalem pulangnya telat. Harusnya tuh dalam kamus bokap dan nyokap gue, perempuan gak boleh pulang lewat dari jam setengah sepuluh malam. Nah berhubung semalem gue pulangnya telat, jadi bakal kena…… ya lo tau sendiri lah,” Lusi melanjutkan mengeringkan rambutnya.
Hair dryer berbentuk hello kitty itu sudah menyala. Wussss wusss wusss anginnya yang hangat itu diarahkan ke rambut Lusi. Lusi merem melek merasakan sepoi-sepoi angin yang keluar dari alat pengering rambut itu. Sementara itu, Ribka aneh dengan gelagat Lusi yang lama-lama terasa santuy.
“Terus, lo panik gak tuh?” tanya Ribka.
“Tadinya sih panik, tapi setelah gue pikir-pikir waktu mandi tadi, nyokap dan bokap gue kan sering ngomelin gue perihal jam malam. Jadi ya, gue stay cool aja…..” jelas Lusi.
“Walaupun di dalam hati gue sakit banget sih. Tapi mau gimana lagi, gue dengerin aja gimana nasihat bokap dan nyokap gue,” sambung Lusi yang mulai mematikan hair dryer-nya.
“Oh gitu…..” Ribka mangut-mangut.
“Lo tunggu di sini dulu ya, gue nemuin bokap dan nyokap gue dulu di bawah sebentar. Nanti gue antar lo pulang ke kos, oke?” ucap Lusi sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
Ribka mengangguk pelan, di dalam hatinya juga timbul rasa khawatir apabila bokap dan nyokapnya Lusi memberatkan dirinya menginap.
“Semoga gak kenapa-kenapa sama Lusi, ah,” harapnya.
***
Tuk.. tak.. tuk.. tak.. tangga yang terbuat dari marmer itu, membuat suara yang agak berisik dari kaki yang menginjaknya. Begitu juga dengan Lusi yang selalu membunyikan hentakan kakinya. Hal itu bukan karena dia mau cari perhatian, tapi karena memberi pertanda pada ayah dan ibunya bahwa ia sudah mengamini perintah mereka.
“Halo Yah, Ma,” sapa Lusi dengan senyuman khasnya hingga lesung pipinya terlihat.
Lusi pun duduk di sofa tepat di samping Mamanya, Bu Masya. Bu Masya yang sedang membersihkan kukunya, mengalihkan pandangan ke Lusi.
“Yah, tuh,” ujar Bu Masya ke Pak Oki sambil melirik Lusi.
Ayah Lusi yang bernama Pak Oki itu, segera menurunkan koran yang menutupi wajahnya. “Lusi……” Pak Oki melipat koran itu dan dilemparkannya ke atas meja.
Pak Oki menghela napasnya, Bu Masya tetap dalam tatapan nanar. “Sudah berapa kali sih Ayah bilang kalau jangan pulang ke rumah terlalu malam?” tanya Pak Oki dengan nada rendah.
Mata Pak Oki menatap Lusi tajam, Lusi seperti dibisikan seseorang bahwa gejolak dalam batin Ayahnya itu cukup kuat, penuh kekecewaan terhadap dirinya. Lusi mencoba mengikuti obrolan yang Pak Oki mulai.
“Sudah banyak, Yah,” jawab Lusi dengan tampangnya yang dasar.
“Lalu, apa kamu menuruti hal itu?” tanya Pak Oki lagi, masih dengan nada rendahnya.
“Sedikit,” kali ini Lusi menjawab sambil menunduk.
Pak Oki memincingkan kedua matanya setelah mendengar jawaban Lusi, dengan bibirnya yang kaku. “Apa kamu bilang, sekali?” Pak Oki mengulang ucapan Lusi.
Bu Masya yang berada di samping Lusi, menampilkan raut wajah yang gusar. Matanya berkali-kali melirik Pak Oki dan Lusi di sampingnya. Untuk menghilangkan rasa kekhawatirannya jua, Bu Masya mengambil ponselnya, dan buka aplikasi Phoppey untuk belanja online shop, mumpung tanggal muda, uang bulanan udah cair, ditambah diskonan dan ongkos kirim gratis merajalela.
“Lusi, jawab pertanyaan Ayah!” Pak Oki menaikan nadanya satu not. Sementara Bu Masya masih santuy men-scroll gincu-gincu pigmented masa kini.
“I… i… iya, Yah,” Lusi menekankan jawabannya.
BRAK!
“Eh, gretong ongkir gretong ongkir,” latah Bu Masya ketika mau check out belanjaannya. Hmm, d**a Bu Masya ikut berdebar-debar.
Meja yang berada di depan Pak Oki, dipukul begitu saja dengan tangan telanjang. Koran yang tadi dilipat, tiba-tiba ikut terjatuh ke belakang. Mata Pak Oki semakin suangar pol dan jika didefinisikan seperti Peter dalam serial Guardians of Galaxy yang sedang diburu penduduk dari planet lain.
“Ma.. maaf, Yah,” ujar Lusi yang semakin melemahkan suaranya,
“Kamu itu bisanya hanya minta, maaf ya?! Maaf tidak menyelesaikan masalah, Lusi. Kamu tau kan?” cerca Pak Oki yang masih menatap Lusi tajam, setajam syilet.
“Iya, Yah, Lusi berjanji akan mematuhi peraturan di rumah ini yang Ayah dan Mama buat,” jelas Lusi.
“Bagus, Ayah masih memberimu satu kesempatan lagi, jika kamu masih melanggar dan merasa tidak bersalah, kamu akan tau akibatnya.” Pak Oki mengambil koran yang terjatuh tadi, dan dihempaskannya ke atas meja. Ada bunyi byussss yang tercipta dari koran itu. Hehehe.
Pak Oki berlalu, memasuki kamar tidurnya yang memiliki pintu paling tinggi dan besar diantara kamar lainnya di rumah ini. Tangan Pak Oki melambai-lambai ke sensor berbentuk p****g (?).
Lusi menghela napasnya setelah melihat Pak Oki telah menghilang di hadapannya. Lusi mengelus dadanya. “Hufffffft,”
Bu Masya menghadapkan badannya ke Lusi, “Are you okay, Honey?” tanya Bu Masya sambil mengelus rambut Lusi dengan lembutnya.
“Yes, Mom, I am OK!” jawab Lusi sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
“Kamu semalem kemana aja sih, ayah dan mama nungguin kamu sampai jam setengah sepuluh loh di ruang tamu ini,” terang Bu Masya.
“Maaf Ma, Lusi sedang sibuk sekali di internal organisasi. Ada acara besar yang akan diselenggarakan, Lusi sebagai ketua umum tidak patut untuk meninggalkan anggota yang sedang rapat dan merencanakannya matang-matang,” jelas Lusi yang memperlihatkan sisi tanggung jawabnya sebagai ketua.
“Apa kamu gak bisa meninggalkan itu ketika malam mulai tiba?” tanya Bu Masya.
“Gak bisa, Ma,” jawab Lusi spontan.
Bu Masya memeluk Lusi yang wajahnya masih murung, dielusnya kepalanya, dan dicium kening Lusi yang segede lapangan bola itu, hmm kiasan teman sekelasnya, sih.
“Mama! Mama belanja apa lagi ini di Phoppey?! Kok ada pembayaran tujuh puluh lima juta sih?!” terdengar suara teriakan Pak Oki dari dalam kamarnya.
Bu Masya tersentak hingga melepaskan pelukan hangatnya itu. Wajah Bu Masya mulai panik.
“Mama baru saja duduk dan buka aplikasi online shop selama tiga puluh menit aja sudah habisin tujuh puluh lima juta. Gimana kalau seharian?” ungkap Lusi menggelengkan kepalanya.
“Hehehe, itu udah jadi urusan Mama dan Ayah. Ya udah, Mama mau samperin ayahmu dulu di kamar, pasti sepuluh menit kemudian nada bicaranya jadi lembut lagi,” kata Bu Masya dan mempercepat langkahnya masuk ke kamar tidur, menemui suami tercintanya.