Penerimaan Diri

1864 Kata
Melihat ayah dan mamanya sudah tidak terlihat lagi di pelupuk matanya, Lusi memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk menemui Ribka. CEKLEK! DOR! Ribka sudah ada di depan pintu, dengan menunjukan wajahnya yang mengagetkan. Hal itu membuat Lusi mengelus dadanya. “Rib, lo ngagetin gue aja deh!” Lusi menepuk pipi Ribka. “Hehehe, lo gak kenapa-kenapa, kan?” tanya Ribka, memundurkan langkahnya. Lusi berjalan menuju bean bag yang berwarna putih, terletak di dekat jendela kamarnya. “Sebenarnya kenapa-kenapa sih, tapi gue harus berusaha untuk tidak panik, tidak seperti di backsound yang nge-hitz di media sosial itu, panik gak panik gak?!” ujar Lusi. “Ahelah! Lo kok masih sempat-sempatnya bercanda, sih?! Lus, gue bener-bener minta maaf kalau gue ada salah, ya,” kata Ribka, memegang punggung tangan Lusi yang berada di lutut Lusi, Lusi tersenyum, “Rib, ternyata lo ini orang yang overthinking ya, pantesan aja Kak Wira lo tendang sampai kakinya keseleo waktu di koridor kampus itu, “ Lusi mengingat dirinya pertama kali bertemu Ribka. Ribka terkekeh, “Entah ya, gue emang gak bisa hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran. Selalu saja gue merasa kehadiran gue hidup itu ya sedang tidak baik-baik saja,” raut wajah Ribka kembali tegas. “Oh ya, kalau boleh tau kenapa mama dan ayah lo manggil lo pagi-pagi gini?” tanya Ribka yang akan menjawab segala rasa penasarannya. “Biasa, mama dan ayah gue memberi peringatan lagi ke gue untuk ke sekian kalinya supaya gak pulang terlalu malam lagi. Intinya soal jam malam yang gue langgar lah,” jawab Lusi. “Maaf ya Rib, gue udah bikin lo telat pulang tadi malam,” Ribka merasa bersalah. “Semua bukan salah lo kok Rib, kan sudah seperti biasanya gue pulang larut malam soal rapat organisasi. Jadi ya wajar mama dan ayah gue begitu. Udahlah, intinya semua ini bukan salah lo,” Lusi mengelus punggung Ribka, dengan maksud memberi ketenangan. Udah kayak dewa aja dengan sekali elusannya, rakyat menjadi bahagia. Lusi membalikan tangannya, sekarang ini ada Lusi yang menggenggam tangan Ribka. “Rib, lo boleh bersikap khawatir, tapi jangan terlalu berlebihan ya. Karena tiap hidup memang ada masalah yang dihadapi, tugas kita adalah menyelesaikan masalah itu sebaik mungkin, tanpa membebani kita juga,” nasihat Lusi. Ribka tersenyum, “Iya Lus, akan gue coba.” Tin… tin.. tin.. Nada dering ponsel Lusi mengagetkan Ribka dan Lusi yang sedang tegang-tegangnya, bukan sedang cinta tapi ditinggal pas sayang-sayangnya. Nomor baru itu, tidak menjelaskan siapa yang sedang mengirimkan pesan untuk Lusi. Lusi menyeritkan dahinya. “Siapa ya? Apa ini sponsor acara gue, ya?” tebak Lusi sambil berdiri mendekatkan lagi wajahnya ke layar ponselnya. Klik! Lusi berhasil membuka pesan baru itu hanya dengan sekali sentuhan telunjuknya. Hai, selamat pagi, apakah benar ini dengan Lusiana? Maaf, kira-kira gue mengganggu waktu lo nggak kalau ngirim pesan pagi-pagi begini? Bunyi pesan itu tampak seperti bukan orang-orang dewasa, apalagi sponsor yang akan member dana besar untuk acaranya. Masa iya pakai “lo gue” segala sih ngirim pesannya! “Siapa, Lus?” tanya Ribka yang melihat Lusi dengan wajahnya yang bingung. “Ada nomor baru yang masuk, Rib. Akan tetapi gue sama sekali gak pernah lihat nomor ini,” jawab Lusi sambil mengarahkan layar ponselnya ke Ribka. Ribka meraih ponsel Lusi, mencoba mengingat pemilik nomor tersebut. Dan sayangnya, “Maaf Lus, gue juga gak kenal nomor ini,” Ribka pun mengembalikan ponsel milik Lusi. “Ya udah deh, kayaknya ini orang asing. Lebih baik gue diemin aja ini orang,” tegas Lusi dan segera menghapus nomor beserta pesan yang barusan diterimanya. Tin. Tin.. tin.. Ponsel Lusi mengeluarkan nada dering lagi yang sama persis dari sebelumnya, yakni pertanda adanya pesan yang masuk. Lusi makin menyeritkan dahinya ketika pesan itu dikirim pula oleh nomor yang tidak dikenalnya sebelumnya. “Eh sumpah deh sekarang lagi musim penipu apa nomor nyasar sih? Kok nomor ini ngirim gue pesan lagi?” ucap Lusi sambil mengarahkan layar ponselnya ke Ribka. Ribka terkekeh, “Bukannya dari dulu penipu lewat sms sudah ada ya? Tapi kalau penipunya gak minta uang tebusan atau mengiming-imingi lo dapat hadiah besar, itu bukan penipu deh menurut gue,” ungkap Ribka. Lusi menaikan kedua bahunya. Lus, tolong balas pesan gue, gue takutnya salah sambung nih…. Lusi memperlihatkan isi pesan singkat itu kepada Ribka lagi. “Nih, siapa sih ni orang?” “Lo gak bakal bisa tau kalau gak balas pesan itu,” timpal Ribka. Lusi pun mengiyakan ucapan Ribka. “Ya udah gue bales aja deh ya biar tau maksud ini orang apaan.” Selamat pagi, iya benar saya Lusi. Sebelumnya mohon maaf, siapa ya di sana? Pesan terkirim. Tidak membutuhkan waktu bermenit-menit apalagi berjam-jam, nomor tadi sudah membalas pesan Lusi. Lo gak perlu tau siapa gue. Yang penting gue udah tau kalau ini nomor lo, Lus. Selamat pagi dan terima kasih banyak. Selalu jaga kesehatan ya, Lus! Kali ini bunyi pesan itu membuat Lusi keheranan, “Ini orang kesambet apaan sih?! Ditanya siapa kok jawabnya gini,” Lusi mulai kesal. “Pengagum rahasia lo kali, liat aja tuh bunyi pesannya kayak gitu,” ledek Ribka. “Apaan sih lo Rib! Gak mungkin banget kan ada orang yang naksir gue, gue aja begini…” Lusi menyangkal. “Lo kok pesimis, sih? Apa sih yang gak mungkin di dunia ini?” ucap Lusi. “Semuanya mungkin sih, tapi tidak dengan kasus gue yang akan dikagumi seseorang,” Lusi menatap ke bawah, melirik sedikit demi sedikit tubuh yang dimilikinya. “Lo tau sendiri kan kalau gue itu gemuk, jelek, dan—“ “Lus! Lo cantik, pinter, dan adaptif banget sama orang baru. Semua orang baru pasti seneng sama kepribadian lo,” Ribka menimpali. Namun, Lusi menggelengkan kepalanya. “Baru lo yang ngomong kayak gini ke gue, gue tau sih itu semua sebenarnya gak masuk ranah “real” dan lo cuma mau bikin gue semangat aja kan dengan fisik gue yang—“ “Husssst! Membahas soal fisik itu gak ada habisnya, Lus. Lo cantik dengan cara lo, versi lo! Gak usah peduliin orang lain yang ngejelek-jelekin lo!” Ribka menegaskan. “Rib, gue kan gen—“ “Gendut? Gak ada salahnya sama orang gendut. Yang penting itu ini,” Ribka menyentuh d**a Lusi. “Hatinya. Biarpun seseorang yang cantiknya kayak model video klip ST12, tapi kalau hatinya buruk dan gak disukai banyak orang, bakal buruk juga, Lus. Dan lo harusnya bersyukur punya hati yang lembut, tenang, dan menyenangkan.” Lusi tersenyum kecil, ia menatap teman barunya itu dengan penuh pengharapan. “Gue harap lo selalu kasih aura positif ke gue ya, entah itu soal apapun. Lo ngerti sendiri kan dari sekarang, kalau gue kurang percaya diri dengan fisik yang gue punya. Dan, hal itu meyakinkan pada diri gue sendiri kalau gak akan bisa mempunyai pasangan yang menerima gue apa adanya,” ucap Lusi letih. “Harus tetap semangat, Lus. Kayaknya masalah lo dan gue itu sama deh. Soal fisik. Gue juga sungguh-sungguh insecure ketika melihat wajah gue yang dipenuhi jerawat ketika berhenti menggunakan krim kecantikan. Gue berada di titik terendah banget, dihina habis-habisan tau gak! Sampai sekarang pun, gue masih berjuang nyembuhin jerawat gue ini,” ujar Ribka sambil mengarahkan wajahnya ke depan cermin. Ribka memegangi kedua pipinya yang dipenuhi dengan jerawat memerah, “Ini adalah hal tersebar dalam hidup gue, insecure soal penampilan diri,” katanya sambil tersenyum. Lusi mengikuti Ribka dari belakang, dan mengelus bahu Ribka. “Rib, sudah ya, kalau bahas soal penampilan itu gak ada habisnya. Apalagi kalau kita hidup di tengah-tengah orang yang mengamini atau menuhankan standar kecantikan industri. Kesedihan kita tidak akan pernah henti.” Ribka membalikan badannya, dan memeluk perempuan berbadan gemuk di depannya itu. “Semangat! Kita harus tetap semangat dengan kondisi yang ada,” bisik Ribka. *** Di sisi lain, trio WEK-WEK yang terdiri dari Jacob, Ardin, dan Wira itu sedang nyantai di belakang kantin kampus. Berhubung di kelas Ardin dan Wira ada guru killer, mereka memutuskan untuk bolos saja. Dan beda halnya dengan Jacob yang masuk kelas terlebih dahulu dan berkumpul bersama Wira dan Ardin di belakang kantin kampus. “Gimana rencana kalian? Sudah berjalan lancar semua?” tanya Jacob yang baru saja datang. “Lancar donggggggg!” jawab Ardin dengan percaya dirinya, ia menaikan kerah bajunya dan menjadikan lehernya tak terlihat. Jacob melirik ke Wira, “Kalau lo, gimana?” “Masih setengah jalan sih, tapi gue berharapnya berhasil. Ya entahlah lihat saja nanti,” jawab Wira yang mengarahkan pandangannya ke layar ponselnya. “Lo nanya doang, kalau lo sendiri gimana?” Ardin melemparkan pertanyaan ke Jacob. “Ehehehehe,” Jacob menyeringai. “Gue belum ada ngelakuin sama sekali,” terangnya. “Ah serius? Gak gentleman amat lo ya! Hahahaha pantesan aja itu kacamata bulat nengger terus di mata lo!” cela Ardin yang sama sekali tidak membuat hati Jacob marah. “Ye! Gak ada hubungannya kali!” balas Jacob. “Terus, lo kapan mau mulainya? Kita berdua sudah selangkah lebih maju daripada lo!” ujar Wira yang langkahnya lebih cepat namun ngesot. “Lihat saja nanti, gue masih sibuk nih,” ujar Jacob dan mengeluarkan map berisi banyak kertas-kertas putih. “Gue lagi ada projek penelitian, dan harus diselesaikan secepatnya. Itu artinya gue gak bisa ngejalanin misi yang sudah kita rencanain bertiga,” jelas Jacob. “Ah gak seru lo!” Ardin melempar bolpoin teman sebangkunya dari saku celananya. “Namanya juga orang pintar Din, wajar mah kalau dijadikan babu soal penelitian, hahaha,” cerca Wira. “Gak apa-apa, namanya juga cari pengalaman, kan,” balas Jacob dengan santai. “Selamat pagi, kakak-kakak semua….” Perempuan berhidung mancung yang dikagumi Ardin, kini hadir di hadapan trio wek-wek. Ardin melongo ketika tau Mona bisa menemukannya di tempat ini. “Lo kok bisa ke sini?” tanya Ardin heran. “Iya, gue tau aja lah, namanya juga sta—“ “Stalker?! Gila, lo udah dibuntutin sama perempuan bro!” terang Wira. Mona tersenyum menunduk. Ardin melemparkan lirikan malu ke Mona. “Kalian berdua mau kencan? Gak usah basa-basi deh di sini,” kata Wira. “Heh! Apaan sih lo!” Ardin melemparkan ke Wira sebuah bolpoin dari saku celananya. HAP! Bolpoin itu berhasil ditangkap Wira, “Ngomong-ngomong tumben bolpoin lo banyak, Din. Biasanya hanya satu, itupun macet pula,” ledek Wira seakan-akan menurunkan derajatnya di depan Mona. Jacob menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya. “Sudah sudah. Kak Ardin, gimana?” tanya Mona sambil memainkan rambutnya. Ardin yang tidak paham, menyeritkan dahinya. “Maksudnya apa ya, Mon?” “Kencan Din, kencan! Lo katanya sudah khatam kamus kode perempuan. Lah gitu aja kok gak tau,” tutur Wira. “Bener kan, Mon?” tanya Wira ke Mona. Mona mengangguk pelan. “Cieeee pagi-pagi udah kayak rezeki nomplok!” Wira menggoyang-goyangkan tubuh Ardin yang nge-frezee. “Udah sanaaaa,” sekarang giliran Jacob yang mendorong Ardin untuk berdekatan dengan Mona. Ardin malu-malu, baru kali ini ia merasa deg-degan berada di depan perempuan. Padahal, ketika hari-hari yang lalu itu biasa saja. Kenapa sekarang jadi gemetar gini, ya? Apa Ardin kurang latihan berada di dekat Mona? “I.. i.. ya deh, kita mau kemana?” tanya Ardin. “Ayo ikut aja sama gue, Kak!” ucap Mona dan menarik tangan Ardin. Denyut nadi Ardin berdetak-detak seperti genderang mau perang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN