Pertemuan Lagi

1185 Kata
Ribka dan Lusi memasuki ruang analis laboratorium yang sama. Untungnya, Ribka masih mampu berjalan sendiri. Sementara Lusi terkulai lemah di atas tempat tidur dorong itu. Ribka menatap teman seperjuangannya itu, yang ia temui di koridor kampus. “Lo kok gak kayak biasanya, Lus. Biasanya aja lo ceria banget! Lo pasti kecapean, kan?” bisik Ribka sambil memandang wajah kaku Lusi. Dua orang perawat memasuki ruangan analis, mereka menuju ke tempat tidur Lusi dan Ribka satu per satu. Tirai berwarna biru muda digeser oleh perawat. Sekrang, Ribka dan Lusi dipisahkan oleh tirai itu. “Kita mulai ambil darah sekarang ya, Mbak,” ucap perawat yang berada di samping Ribka. Mungkin, hal yang sama juga dikatakan oleh perawat yang bersama Lusi di sana. Ribka pun mengangguk. Sebelum menekankan jarum suntik ke lengan Ribka dan Lusi, perawat itu membasuhkan cairan alkohol yang sudah dituangkan ke kapas sedikit. Dan, Ribka pun terbangun. “Mbak, yang tenang ya … kita ambil darahnya sebentar saja, kok,” kata perawat yang masih mengoles kapas di lengan kiri Ribka. “Saya di mana, Mbak?” tanya Ribka yang melihat langit-langit, sama sekali tak mengenal tempat itu. “Mbak ada di Rumah Sakit Karya Husada, kondisi Mbak diharuskan untuk periksa laboratorium, Mbak,” jawab perawat dan mulai mengambil suntikan. Nyut …. Nyut … nyut … Jarum suntikan itu masuk ke dalam kulit milik Ribka dan Lusi, rasa yang cukup menggelitik disertai ngilu itu, sama-sama dirasakan oleh Lusi dan Ribka. “Awww … “ seru Ribka pelan. Lusi yang tidak mengeluarkan bunyi apa-apa dari mulutnya, merasa santai. Rasa jarum suntik itu tidak ada apa-apanya dibanding cidera kaki atau tangan saat tidak pemanasan pencak silat. “Oke, hasilnya bisa ditunggu satu jam lagi, Mbak,” kata perawat ke Ribka. Ribka pun mengulurkan senyumnya, “Baik, Mbak, oh ya teman saya di sebelah apa sudah selesai juga?” tanya Ribka. Sssrrtttt …. Ssrrrttt … sssrrrtttt … Tempat tidur itu terdorong dari tempatnya semula, melewati tempat tidur yang direbahkan oleh Ribka. “Lusi!” panggil Ribka pada Lusi. Lusi menengok, “Ribka, lo kok ada di sini?” tanya Lusi bingung. “Nanti kita ceritakan di luar ya, masa iya mau di dalam sini?” jawab Ribka dan membuat Lusi tersenyum. *** “Hasilnya berapa lama keluarnya, Mbak?” tanya Bu Wati yang sudah duduk paling depan, dekat meja pendaftaran. “Satu jam lagi, Bu,” jawab Ribka ketika keluar dari ruangan. “Aduh Mbak, Ibu bener-bener khawatir dengan hasilnya. Semoga gak terjadi apa-apa sama Mbak Ribka ya,” Bu Wati mengelus rambut Ribka. “Udah gak ada rasa pusing, atau semacamnya kan Mbak?” tambah Bu Wati. “Gak ada, Bu, semuanya aman terkendali. Saya masih bisa mengendalikan diri saya, kok,” Ribka nyengir dan mengelus bahu Bu Wati agar beliau tenang. “Syukurlah … “ balas Bu Wati. “Oh ya, Bu Masya mana ya, Bu?” Ribka mencari ibu dari Lusi, yang memiliki rambut pendek sebahu itu. “Gak tau ya Mbak, tiba-tiba langsung ngilang aja gitu,” jawab Bu Wati. “Lusi! Lusi!” Ribka memanggil Lusi yang berdiri di dekat pintu. Salah seorang laki-laki menemaninya di sana, Pak Oki. Lusi pun melambaikan tangannya. “Halo! Ribka … “ Ribka membalas dengan lambaian tangannya pula, dan menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya. “Sini … duduk sama gue!” tawar Ribka. Lusi seperti membisikan sesuatu ke Pak Oki, dan membuat Pak Oki menganggukan kepalanya. Tak lama, Lusi pun mendatangi Ribka yang duduk di depan sana bersama Bu Wati. “Eh, lo belum jawab pertanyaan gue, nih. Kenapa lo bisa di tempat ini?” tanya Lusi menagih jawaban Ribka. “Kata Bu Wati,” Ribka melirik Bu Wati. “Udah dua hari ini panas badan gue gak turun-turun, hal itu diketahui Bu Wati saat gue pulang latihan pencak silat malam-malam. Untung aja ada Tono yang bantuin gue pulang sampai ke rumah, kalau enggak pasti gue udah pingsan di jalan!” cerita Ribka. Lusi menggelengkan kepalanya. “Makanya Rib, lo itu jangan terlalu keras kalau latihan. Seharian penuh lo udah sibuk sama kegiatan kampus, malam ditambah dengan latihan. Badan lo lama kelamaan akan protes, nih buktinya!” ungkap Lusi memegang bahu Ribka. “Kan gue mau ikut kompetisi nasional pencak silat, otomatis gue harus latihan ekstra, lebih dari yang bias ague lakuin,” timpal Ribka. “Tetap dengan porsi yang normal, dong. Jangan terlalu diporsir!” bisik Lusi. “Baik, Mbak asisten dosen! Lah, lo sendiri kenapa ke sini?” tanya Ribka balik. “Karena … kata nyokap dan bokap gue sih, gue ini udah dua hari panas terus. Pernah sudah turun, tapi naik lagi nyatanya,” jawab Lusi. Ribka menyeritkan dahinya. “Kok bisa? Lo udah minum obat juga, kan?” tanya Ribka lagi. Lusi mengangguk. “Udah, minum obat, vitamin, istirahat dan makan masakan nyokap ya udah. Tetep aja naik turun gitu. Dan untungnya sekarang agak mendingan sih,” jawab Lusi yang memegang keningnya. “Nih panasnya sisa separuh,” tambahnya. “Ini adalah waktu lo istirahat, agar penyakit itu lari begitu saja dari tubuh lo. Kasihan banget ini tubuh diajak rapat malam-malam terus!” bisik Ribka. “Sebentar lagi ada acara besar-besaran di kampus dan organisasi, gue harus cari dana dan menyiapkan semuanya agar berjalan lancar. Dan, tidak ada salahnya ketika gue harus menyelesaikan itu hingga larut malam,” ucap Lusi. “Nah, hal yang sama yang lo bilang ke gue. Jangan terlalu diporsir, Lus!” Ribka mengulang pernyataan Lusi beberapa menit lalu. Lusi terkekeh dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya, “Gue yang bilang, malah gue yang lakuin, ya.” “Iya nih! Ternyata kita sama-sama sakit ya, dan keluhannya juga sama. Semoga hasil lab yang muncul satu jam lagi gak kenapa-kenapa bagi kita,” ucap Ribka.   Tidak lama kemudian, Lusi melengkungkan senyumannya. “Namanya juga teman, yang sama-sama super sibuk bikin kita sakit, hehe. Dasar kita!” ledek Lusi membuat Ribka dan Bu Wati terkekeh. “Lusi!” seorang perempuan memanggil nama perempuan berkacamata itu, ia melambaikan tangan. Perempuan yang cukup modis dengan senyumannya yang lebar itu sangat tak asing bagi Ribka dan Lusi. “Mona?!” balas Lusi dan melambaikan tangannya. Mona menghampiri Lusi. “Gak nyangka kita ketemu di sini lagi,” ucap Mona. “Lo sakit juga?” tanya Lusi to the point. Mona mengangguk, “Untung aja ada papanya Kak Ardin, jadi beliau yang nganter gue ke sini,” jawab Mona. “Cie! Udah akrab nih sama papa mertua?!” tanya Lusi merayu. “Apaan sih lo … “ Mona menyenggol bahu Lusi dengan bahunya. “Lo juga tau kalau Ribka ada di sini juga?” tanya Lusi. “Tau, tadi ketemu di ruang pendaftaran,” jawab Mona. “Kalian berdua … udah banyak ngobrol dong ketika nunggu di ruang pendaftaran tadi?” tanya Lusi. Mona melirik Ribka sinis, begitupun Ribka. “Iya, ngobrolnya gak enak!” ungkap Mona. “Iya … gak enak gak enak kalau apapun yang berhubungan sama lo!” timpal Ribka tak kalah judesnya. Bu Wati menenangkan Ribka, dengan mengelus pada Ribka. “Udah, gak usah cari masalah sama gue!” tegas Mona lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN