Di Laboratorium

1694 Kata
Di dalam rumah sakit tersebut, ada tiga perempuan yang saling mengenal satu sama lain. Mereka menyimpan pertanyaan masing-masing, kenapa bisa mereka ada di sini dengan waktu yang bersamaan pula? “Eh, lo ngikutin gue sama Lusi ya di sini!” Mona menyenggol bahu Ribka agak keras. Ribka pun menengok ke belakangnya. “Lo apa-apaan sih, gak ada kali gue ngikutin lo ke sini! Gue beneran butuh kok … “ ucap Ribka tak kalah sewot. “Boong lo ya! Lo emang suka banget ya ngikutin gue sama Lusi. Lo kepengen temenan sama kita, ya?” cerca Mona. Ribka menaikan ujung bibirnya, “Mon, gue tau deh kalau lo itu model kelas kota, selalu ditontonin banyak orang. Malu kali kalo lo ngedrama aneh kayak gini,” balas Ribka memperingatkan Mona. “Omongan lo dijaga ya!” ucap Mona sambil mengacungkan telunjuknya di depan mata Ribka. Pak Edi yang di samping Mona hanya menelan ludah beberapa kali melihat perbincangan gak enak antar Ribka dan Mona. Sementara itu, Bu Wati yang berada di samping Lusi, mencoba menenangkan Ribka dengan menepuk-nepuk paha Ribka. Namun, Ribka sama sekali tidak menyadari kode yang diberikan oleh Bu Wati. “Bu, Ibu Wati pernah gak sih nemuin orang menjengkelkan kayak perempuan yang ada di belakang saya ini,” bisik Ribka ke Bu Wati. “Sssstttt, sudah Mbak, sudah. Orang kayak gitu memang banyak sekali berkeliaran di dunia ini. Tugas kita hanya tutup telinga aja, kalau didengerin mah nanti makin panas,” kata Bu Wati. Akhirnya, Ribka juga mau mendengarkan pinta dari Bu Wati. Kurang sepuluh orang lagi, giliran dia yang masuk ke ruangan dokter. Sementara itu, Mona yang nomor antriannya sangat jauh sekali, merasa kesal. Kepalanya yang perih itu kini mulai memutar-mutar tanpa ada asupan obat apapun. “Aduh … aduh … “ seru Mona memegangi kepalanya dan kedua matanya memejam. “Kenapa, Mon?” tanya Pak Edi penuh kecemasan. “Kepala, Om … kepala nih,” Mona menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri. “Sabar ya … Om beliin obat deh,” ucap Pak Edi. Pak Edi pun berdiri dari duduknya. Namun, ketika ia melihat sekantung plastik putih yang dibawa Bu Wati, Pak Edi pun mempunyai sebuah firasat. “Maaf, Bu … maaf, apa Ibu bawa obat sakit kepala, ya?” tanya Pak Edi ke Bu Wati. Bu Wati memandang Pak Edi yang mentoel bahunya. “Saya cuma ada paracetamol, mau?” jawab Bu Wati yang begitu murah hati. “Buat Mbaknya ya? Udah ambil aja, Pak!” Bu Wati yang melihat Mona menunduk sambil memegangi kepalanya, ikutan khawatir dan memberikan semua obat ke Pak Edi. “Terima kasih banyak, Om … “ Mona mengambil sekantung plastik obat itu dan mengeluarkan botol mineral dari tasnya. GLEK! Obat itu pun telah masuk ke dalam tubuh Mona. Mona merebahkan kepalanya ke belakang, menyender di kursi besi. “Duh, gak empuk banget sih,” protes Mona sempat-sempatnya. “Kamu yang tenang ya, Mon. Biarkan obat itu bekerja, istirahat di sini saja dulu sambil nunggu antrian kamu dipanggil,” kata Pak Edi. Tak lama kemudian, nomor panggilan Ribka pun dipanggil. Ribka dan Bu Wati antusias untuk memasuki meja pendaftaran untuk diperiksa dokter. “Hmm … akhirnya masuk juga ke ruang dokter. Namanya orang baik mah namanya bakal cepat kepanggil,” ucap Ribka sambil berdiri dari duduknya, berniat menyindir Mona di belakangnya. “Ssstttt Mbak!” Bu Wati menarik rompi yang dikenakan Ribka. “Dia lagi sakit,” kata Bu Wati. “Oooh … “ balas Ribka santai. “Yuk langsung ke depan saja kita Bu,” ajak Ribka. *** Mona pun sempat melirik kalau Ribka sudah lebih dulu maju ke meja pendaftaran untuk diperiksa. Mona yang kepalanya masih pening karena obat belum bekerja, hanya bisa geram di dalam hatinya sambil menatap Ribka melangkah ke depan. “Om, masih lama ya kita di sini?” tanya Mona. Pak Edi memandang kupon antrian yang ada di tangannya, “Masih, paling setengah sampai satu jam lagi, Mon,” jawab Pak Edi. Mona menghela napasnya. “Aduh, apa gak bisa minta duluan gitu? Kepala saya sakit sekali, kayaknya obat tadi gak mempan deh,” seru Mona yang berusaha menahan pening di kepalanya. “Hmm … kayaknya gak bisa. Di sini gak ada yang Om kenal,” jawab Pak Edi. “Itu, ada satpam. Kali aja Om kenal dan minta bantuan untuk didahuluin periksanya,” kata Mona dengan entengnya. Pak Edi terkekeh, “Ya gak bisa dong, Mon. Pak Satpam emang punya wewenang apaan?” “Oh iya ya, begitu dangkalnya logika saya … “ Mona pun menyadari kesalahannya. “Tunggu dulu ya, Mon, kamu masih bisa nahan sakitnya kan?” tiba-tiba Pak Edi ikutan khawatir. Mona pun mengangguk pelan namun dengan kedua matanya yang menutup. *** Di dalam ruang periksa yang penuh dengan gorden hijau muda itu, Lusi, Bu Masya, Pak Oki dan para dokter fokus kepada kondisi Lusi yang terbaring. Lusi yang masih tak sadar, membuat Bu Masya dan Pak Oki khawatir. “Kalau boleh tau keluhannya apa ya, Bu?” tanya Pak Dokter. “Dua hari yang lalu, anak saya panas badannya, Dok. Dan katanya ada pusing juga,” jawab Bu Masya. “Udah dikasih minum obat apa, Bu?” tanya Pak Dokter lagi. “Paracetamol aja sih, Pak,” jawab Bu Masya. “Oh baiklah, saya periksa dulu kondisi anak Ibu, ya,” ungkap sang dokter dan meraih stetoskop yang tercantol di dinding sebelah kanannya. Pak Dokter tersebut mengalungkan sebuah stetoskop dan menaruhnya earpieces di kedua telinganya. Pak Dokter yang sudah berumur kurang lebih enam puluh tahun itu, mengarahkan diaphragm ke perut Lusi, dengan memegang bagian bell stetoskop dengan hati-hati. Deg. Deg. Deg. Bunyi denyutan jantung milik Lusi terekam jelas lewat stetoskop yang diarahkan Pak Dokter. Setelah itu, Pak Dokter melepas earpieces-nya dan kembali duduk di kursi kerjanya. “Pak Dokter, gimana? Gimana keadaan anak saya?” tanya Bu Masya yang sedari tadi matanya berkaca-kaca melihat kondisi Lusi yang tidak biasa. “Sebenarnya tidak apa-apa, hanya perlu istirahat yang cukup,” jawab Pak Dokter, raut wajahnya begitu tenang. “Syukurlah … “ seru Bu Masya dan Pak Oki sambil mengelus d**a. “Tapi … untuk mengetahui kondisi lebih lanjut lagi, kita cek darah saja ya, Bu,” saran dari Pak Dokter. Omong-omong soal darah, Bu Masya langsung melemas. Ia yang sangat tidak bersahabat dengan yang berhubungan dengan darah, menelan ludahnya banyak-banyak. “Kira-kira kapan bisa dilakukan cek darah, Pak?” tanya Pak Oki. “Secepatnya, dan seperti biasanya harus mengantre,” jawab Pak Dokter sambil menuliskan surat rekomendasi untuk analisa darah di laboratorium. “Baik, setelah dari ruangan ini, ya Pak. Ini surat pengantarnya,” Pak Dokter menyerahkan surat pengantar yang baru ia buat, dan melipatnya rapi. “Terima kasih banyak, Pak Dokter, seru Pak Oki.” *** Hal yang sama juga menimpa Ribka, setelah selesai memeriksakan diri kepada dokter umum, dokter pun menyarankan untuk cek darah. Namun, setelah keluar dari ruang pemeriksaan itu, wajah Ribka menjadi lebih lemas dari sebelumnya. “Kenapa, Mbak Ribka?” tanya Bu Wati sambil membaca surat pengantar laboratorium. Ribka menggeleng, melirik surat pengantar yang dipegang Bu Wati. “Kita langsung ke laboratorium saja, ya,” ajak Bu Wati dengan memegang lengan kanan Ribka. Akan tetapi, Ribka tetap diam dan tak melangkahkan kakinya. “Mbak … ayok,” ucap Bu Wati sekali lagi. “Bu … bukannya saya gak mau uji laboratorium, tapi—“ “Udah lah Mbak, ayo kita daftar aja dulu nanti ngantrenya panjang loh kayak tadi,” Bu Wati menarik lengan Ribka agak keras. Ribka dan Bu Wati pun mengunjungi ruang laboratorium yang ada di rumah sakit tersebut. Sama halnya seperti di ruang pendaftaran, dipenuhi pasien-pasien dari segala kalangan. Alhasil, Ribka dan Bu Wati harus mengantre (lagi). “Kenapa rumah sakit selalu ramai?” tanya Ribka yang menggelengkan kepalanya melihat situasi sekitar. “Ya artinya banyak orang yang sakit, beres,” jawab Bu Wati yang tak ambil repot, segera menuju loket pendaftaran. Ribka pun mengikutinya. “Pagi, Mbak. Saya mau mendaftarkan pasien atas nama Ribka,” ucap Bu Wati pada petugas loket pendaftaran. “Ada kartu identitas dari pasiennya, Bu?” pinta petugas. “Ini,” Bu Wati pun memberikan kartu identitas yang dimiliki Ribka, lebih dikenal dengan sebutan kartu tanda penduduk (KTP). Petugas loket pun segera memasukan nama pasien atas nama Ribka ke dalam buku catatan dan ke dalam computer yang sudah menyala di depannya. “Bu, ini kartu masuknya, silakan masuk sesuai nomor antrean yang tertera, ya,” petugas lalu mengembalikan KTP Ribka dan menyerahkan kartu masuk. “Dan, ini biaya analisa laboratoriumnya,” petugas loket pun menyerahkan lagi sebuah kertas dengan nominal. Ribka dan Bu Wati pun membaca rincian biaya analisa yang terketik di kertas itu. Tertera tiga ratus lima puluh ribu rupiah untuk analisa laborarium lengkap. Ribka kembali menelan ludahnya banyak-banyak. “Ini dibayar kapan, Mbak?” tanya Ribka. “Sekarang, Mbak,” balas petugas. “Harus lunas atau bisa dicicil?” tanya Ribka lagi. “Maaf, Mbak pembayaran analisa harus lunas hari ini juga sebelum masuk ke ruang analisa,” jelas petugas. Ribka memandang Bu Wati dan tasnya. Ribka menggelengkan kepalanya. “Dicicil sebulan sekali apa gak bisa, Mbak?” lagi-lagi Ribka mempermasalahkan soal biaya itu. “Maaf, tidak bisa ya, Mbak,” petugas pun mengucap maaf untuk kedua kalinya. Tanpa mengeluarkan uang untuk biaya analisa, Bu Wati dan Ribka berdiam diri di depan loket tersebut. Ribka pun memikirkan cara agar bisa menyelesaikan soal pembayaran itu. “Mbak, kalau dibatalkan saja, bisa?” tanya Ribka lagi. “Hmm … nama pasien atas nama Ribka sudah terdaftar di sistem, Mbak. Tapi kalau mau dibatalkan, saya tanyakan dulu pada atasan, ya,” jawab petugas loket. Baru saja petugas itu berdiri, Bu Masya menepuk pundak Ribka. “Udah, Nak Ribka, biar saya saja yang membayar biaya analisa labnya,” ucap Bu Masya yang dari tadi sudah mengantre di belakang Ribka tanpa Ribka mengetahuinya. Ribka dan Bu Wati spontan tersenyum dan memandang Bu Masya penuh bahagia. “Bu Masya kenal saya?” tanya Ribka. Bu Masya mengangguk, “Jelas kenal. Kamu teman anak saya, Lusi. Lusi sering cerita ke saya kalau kamu itu perempuan yang pemberani, jago pencak silat dan … bikin banyak laki-laki takut sama kamu,” terang Bu Masya sedikit tentang Ribka. Ribka spontan memeluk Bu Masya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN