“Pa! Pa! Papa!!!!” teriak Bu Masya dari dalam kamar Lusi. Lusi yang terkulai lemas di atas tempat tidurnya, tak mampu berbicara apalagi membuka kedua matanya.
Pak Oki yang mendengar jelas teriakan Bu Masya dari kamar Lusi, bergegas pergi ke kamar Lusi untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
“Ada apa, Ma?” tanya Pak Oki dan mendekati Bu Masya dan Lusi di atas tempat tidur.
“Lusi, Pa, badannya makin lemas dan panasnya gak turun-turun dari tadi malam,” jawab Bu Masya yang memegang kening Lusi.
“Kita bawa ke rumah sakit aja sekarang, Ma!” pinta Pak Oki.
Pak Oki mengeluarkan ponselnya dan mengetuk beberapa nomor dari layar ponselnya.
“Halo benar ini Rumah Sakit Karya Husada? Saya Oki, ingin meminta satu kamar rawat untuk anak saya. Sekarang saya dalam perjalanan menuju rumah sakit, terima kasih,” ucapan singkat dilontarkan Pak Oki dari ponselnya.
“Ayo sekarang suruh Pak Supir mengantar kita ke rumah sakit,” tegas Pak Oki.
***
“Selamat pagi, Bu, ini saya Bu Wati ibu kosnya Mbak Ribka,” suara kalut dari Bu Wati, menelpon ibu dari Ribka.
“Iya, Bu Wati, ada apa ya?” tanya ibunya Ribka.
“Maaf Bu, ini Mbak Ribka sudah dua hari panasnya gak turun-turun. Makin hari badannya lemas, dan dua hari juga gak masuk kuliah,” ucap Bu Wati dibaluti rasa cemas akan keadaan Ribka.
“Ya Allah Gusti … Bu Wati mohon maaf saya gak bisa langsung menjenguk anak saya. Saya di sini belum cukup uang. Maaf ya Bu,” ibunya Ribka turut menguntai pilu. Rasanya ingin menjenguk Ribka nan jauh di sana, namun itu tidak bisa.
“Gak apa-apa Bu, sudah tugas saya sebagai ibu kos yang menjaga anak-anak kos di sini. Mbak Ribka akan saya bawa ke rumah sakit terdekat ya, Bu, biar diperiksa dokter,” info Bu Wati.
“Baik, Bu, terima kasih banyak ya Bu atas kebaikannya dengan anak saya selama ini di tanah perantauan. Semoga Gusti Allah membalas semuanya, Bu,” hanya doa yang bisa dilantunkan oleh ibunya Ribka, semuanya diserahkan pada Bu Wati.
“Aamiin, aamiin, Bu,” pungkas Bu Wati dan langsung menutup teleponnya.
“Mbak … Mbak Ribka bangun sebentar, Mbak,” seru Bu Wati pelan di telinga Ribka.
Ribka membuka kedua matanya pelan-pelan. “Iya … Bu,” ucap Ribka lirih. Ribka memaksa tubuhnya untuk duduk, disamping itu matanya terus kedip sayup-sayup.
“Di mana saya, Bu?” lanjut Ribka.
“Mbak, Mbak lagi ada di kos saya, jangan pura-pura amnesia ya Mbak kayak di film drama. Ini hati saya kalut banget dengan kondisi Mbak Ribka,” jelas Bu Wati.
“Iya, Bu, maaf, tadi di dalam mimpi saya lagi bersama pangeran tampan mirip mantan saya,” ungkap Ribka yang masih menghalu (sepertinya).
“Udah Mbak, udah, minum dulu ini,” Bu Wati mengambilkan segelas air mineral untuk Ribka.
Glek! “Airnya enak Bu gak gatal, isi ulang di mana?” tanya Ribka.
“Di toko sebelah, Mbak, ada pengisian air galon baru,” jawab Bu Wati.
“Nah ini enak, Bu, kalau yang biasanya itu gatal banget di tenggorokan, dan baunya apek,” jelas Ribka.
Bu Wati tak terlalu menghiraukan soal isi ulang air itu, dan mengambil topik tentang keadaan Ribka, “Mbak Ribka gimana keadaannya? Udah enakan, kah?” tanya Bu Wati sambil memijit kaki Ribka.
“Udah enak sih Bu, cuma pusingnya masih datang dan pergi gitu,” tukas Ribka.
“Gimana kalau kita pergi ke rumah sakit sekarang, ya? Kita periksa bagaimana keadaan Mbak Ribka. Kasihan kalau Mbak di kos terus dan keadaannya tidak membaik,” saran Bu Wati.
Entah ada angin apa, Ribka yang selalu menolak untuk berobat itu tiba-tiba menyetujui saran dari Bu Wati. “Boleh, naik apa, Bu?” balas Ribka.
“Saya sudah panggilkan Pak RT untuk mengantarkan saya dan Mbak Ribka ke rumah sakit, sepuluh menit lagi Pak RT sudah tiba di sini. Mbak siap-siap, ya,” ucap Bu Wati.
“Ba … ba … baik, Bu,” kata Ribka. Ribka menurunkan kedua kakinya dari atas kasur, dan mencoba berdiri. Aneh, ia menopang tubuhnya namun goyang-goyang tak seperti biasanya yang tegak.
“Aduh … gue ini kenapa ya,” ucap Ribka pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya yang dihiasi kepeningan.
***
Beberapa hari ini Mona memang punya banyak agenda yang sulit untuk ditinggalkan. Terlebih, dirinya diterima menjadi model tetap di Butik Nyonya Endah. Menjadi model sekaligus mahasiswi teladan memang bukan Mona banget. Buktinya, Mona yang setengah hati belajar di kampus pun sudah seminggu tidak mengumpulkan tugas yang diberikan dosennya. Dan pagi ini, rupanya karma mendatangi Mona …
Mona membuka kedua matanya pelan-pelan dari tidurnya. Tidak seperti biasanya, kedua matanya sulit sekali dibuka. Kepalanya pun diliputi goyangan-goyangan ilusi yang membuatnya pusing. “Aduh … semalam kan gue gak mabok, kenapa pandangan gue goyang dan pusing begini ya,” Mona bingung.
Ia mencoba duduk, namun pusingnya kepalanya itu membuatnya kembali rebahan. “Astaga … kabar buruk nih gue,” Mona pun memegang keningnya. “Tuh kan panas,” Mona pasrah.
Mona meraih laci kedua di samping tempat tidurnya dan berseru, “Ah … obat gue habis lagi. Mana kepala gue pusing parah.”
Mona mencari-cari ponselnya yang diletakan di bawah bantal semalaman. Spontan saja ia langsung mengetik nama “Kak Ardin” dan menekan ikon telepon.
Tut … tut … tut … tut … tidak ada balasan dari Ardin saat itu.
“Gak kayak biasanya nih Kak Ardin, biarpun lagi belajar di kelas pasti ngangkat telepon gue,” ungkap Mona.
Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dari Pak Edi.
Selamat pagi, Mona. Jangan lupa istirahat ya karena kamu sudah bekerja keras semalaman.
Mona tersenyum namun kepalanya pusing tak tertahankan. Sontak saja Mona membalas pesan Pak Edi untuk meminta bantuan.
Om Edi, boleh minta bantuannya, gak? Saya pusing sekali dan badan saya panas. Obat di kos sudah habis, saya meminta bantuan untuk membelikan saya obat, apa bisa? Nanti uangnya akan saya ganti.
Tak butuh waktu lama, Pak Edi membalas pesan dari Mona.
Siap, Om ke kos kamu sekarang ya. Kita langsung ke dokter saja supaya bisa tau keadaanmu.
Mona yang merasa mendapat bantuan yang besar, mengucap syukur dengan cara sujud di atas kasurnya.
Syukurlah masih ada orang baik seperti Om Edi. Baik, saya segera ganti baju dulu.
***
Di dalam Rumah Sakit Karya Husada, Ribka duduk manis di kursi tunggu pendaftaran pasien. Bu Wati yang setia berada di sampingnya, memberikan Ribka berkali-kali minum dan roti yang dibelinya dari warung sebelah. Hal itu dilakukan sampai nama Ribka dipanggil. Tak lama kemudian, perempuan bergincu merah merona dengan blush on merah setara dengan baju yang ia kenakan. Mona datang dengan Pak Edi dan langsung mengambil nomor urut pendaftaran.
“Oh lo ternyata sakit juga … “ ucap Ribka pada Mona yang duduk di belakangnya.
“Lo juga haha, kirain lo kebal sama penyakit,” balas Mona.
Bu Wati yang mendengar pembicaraan antar Mona dan Ribka tidak adem, langsung mencubit paha Ribka pelan.
“Mbak Ribka, ingat ya ini rumah sakit, jangan bikin keributan ya … “ bisik Bu Wati.
Ribka yang tidak mau berpikir keras dan melanjutkan pembicaraan menjengkelkan dengan Mona, segera membisukan mulutnya.
Mona pun menengok nomor antrian yang sudah ia pegang, “Aduh, kurang dua puluh orang lagi baru bisa masuk,” gerutu Mona. “Mana ini kepala gue sakit banget!” pekik Mona.
Tak lama kemudian, tempat tidur beroda itu tergesa-gesa didorong oleh empat perawat menuju pintu darurat rumah sakit. Ketika tempat tidur itu kembali, sudah ada satu perempuan yang terbaring di atas sana, menutup matanya. Wajah perempuan itu sempat menghadap ke kanan, dan spontan Ribka dan Mona melihatnya.
“Ribka?!” ucap Mona dan Ribka secara bersamaan.