Bu Masya dan Pak Oki duduk manis di atas tempat tidur Lusi, dan memandang Lusi yang masih menutup matanya. Bye bye Fever yang melekat di kening Lusi, dilepas oleh Bu Masya. Seraya menunggu Lusi membuka matanya, dan memberi penjelasan pada kedua orang tuanya itu.
“Lusi?” seru Bu Masya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lusi.
“Em … em … “ pandangan Lusi masih kabur, matanya dikedipkan beberapa kali dan mencoba memfokuskan matanya yang terpejam cukup lama.
“Mama? Papa?” sahut Lusi dan langsung duduk.
Bu Masya memegang pundak Lusi, “Apa keadaan kamu sudah baikan?” tanya Bu Masya sambil memegang kening Lusi.
Lusi mengangguk, “Kenapa Mama dan Papa bisa ada di kamar Lusi?” tanya Lusi dengan polosnya.
Pak Oki yang menyilakan tangan sambil menatap Lusi pun menjawab, “Kamu semalam kemana saja? Jam berapa kamu pulang? Apa sih yang kamu kerjakan di kampus hingga kamu lupa pulang ke rumah?” Pak Oki malah melempar pertanyaan bertubi-tubi ke Lusi yang baru saja sadar.
“Papa!” tegur Bu Masya yang menyeritkan dahinya, dan menatap tajam ke suaminya itu.
“Papa mau dengar penjelasan dari dia, Ma. Papa rasa, dia sudah melangkahi nasihat Papa dengan hal yang gak berguna—“
“Pa! cukup Pa, bisakah Papa memberi waktu Lusi sebentar untuk menenangkan pikiran dan raganya? Lusi baru saja demam semalaman, masa iya Papa langsung mencerca Lusi dengan pertanyaan itu?” ungkap Bu Masya meninggikan nada bicaranya.
Pak Oki tak menjawab, ia memincingkan kedua matanya ke Bu Masya dan Lusi secara bergantian. “Kalian berdua sudah tau kan bagaimana aturan yang ada di rumah ini? Setiap orang yang melanggar, Papa akan—“
“Mengusir ketika orang itu melanggar lebih dari sekali. Benar begitu, Pa?” sahut Lusi yang berhasil memberhentikan ucapan Pak Oki.
“Nah! Itu kamu pintar, kenapa malah melanggar?” tanya Pak Oki.
“Karena Lusi sedang mengkoordinir acara dan pengumpulan dana, Pa. Lusi satu-satunya orang yang ditugaskan sebagai koordinator. Masa Lusi mau mangkir dari tugas?” jawab Lusi.
“Papa nanya sama kamu, penting kah tugas itu kamu kerjakan hingga larut malam begitu?” tanya Pak Oki lagi.
“Penting, karena itu berkaitan dengan rasa tanggung jawab, kepercayaan orang lain terhadap Lusi, dan kebersamaan. Sederhana sekali, Pa,” jawab Lusi cepat.
“Hahahaha!” Pak Oki menertawai Lusi.
“Pa, sudah ya, lebih baik Papa segera balik ke kantor. Katanya ada meeting yang mau dilakukan sama Pak Anwar,” Bu Masya berusaha menghentikan perdebatan itu.
“Iya, memang ada. Tapi Papa mau mendengar penjelasan Lusi sekarang!” tukas Pak Oki dengan nada yang lebih tinggi lagi, tidak seperti biasanya.
Lusi dan Bu Masya tersentak mendengar ucapan Pak Oki, dan otomatis mata mereka menjalar melihat Pak Oki yang sedang dilanda api amarah. “Ayo Lusi, jawab!” kali ini Pak Oki menghentakan kaki kanannya, hingga menciptakan bunyi yang menggelegar hingga lantai satu rumahnya.
“Pa, itu tadi sudah Lusi jelasin kenapa Lusi mau melaksanakan tugas itu hingga larut malam,” Lusi meyakinkan papanya.
“Alah! Alasan apa itu!” jawab Pak Oki dan langsung membalikan badannya menuju pintu kamar.
BRAK! Pak Oki pun menutup pintu kamar Lusi dengan lemparan yang kencang.
Bu Masya cepat-cepat duduk di samping Lusi dan mengelus rambut anak semata wayangnya itu, “Lusi, sabar ya … kamu kan tau sendiri gimana sifat Papamu. Gimana, kamu sudah enakan belum keadaannya?” tanya Bu Masya lembut.
“Sudah, kok Ma. Mama jangan khawatir gitu,” jawab Lusi sambil tersenyum dan mentoel hidung Bu Masya.
“Mama khawatir karena ini pertama kalinya kamu sakit ketika kuliah. Dan gara-gara organisasi, itu membuat papamu begitu geram,” tutur Bu Masya.
“Udah lah Ma, marahnya papa itu hanya sekejab. Paling kalau Lusi lihatkan IP semester ini bagus, papa udah gak marah lagi, kok,” balas Lusi penuh percaya diri.
Bu Masya tersenyum dan mengelus rambut putrinya lagi, “Lusi anak pintar … sekarang kamu istirahat lagi ya. Kamu mau makan apa? Biar Mama belikan,” ucap Bu Masya.
Lusi menyeritkan dahinya, “Kok dibelikan makan sih? Lusi mau makan masakan Mama aja, boleh ya?” balas Lusi.
“Waduh,” Bu Masya tersentak. “Mama gak jago masak yang enak, nanti kamu malah tambah sakit, loh!”
“Enggak, Mama itu jago masak kok. Lusi pernah lihat album foto Mama waktu masih kecil juara 1 lomba masak,” ucap Lusi.
“Astaga Lusi … “ Bu Masya menepok jidatnya. “Itu foto Mama lomba tujuh belas Agustusan, itu pun lombanya tingkat RT doang,” tambah Bu Masya.
“Dan … nenek kamu main curang waktu itu, hahaha,” bisik Bu Masya.
“Oh ya? Apa yang dilakukan nenek sehingga Mama bisa menang?” tanya Lusi penasaran.
“Dia memasukan bumbu instan yang enak pada zamannya itu ke makanan Mama, dan peraturan saat itu tidak memperbolehkan memakai bumbu jadi. Ya kamu tau sendiri kan artinya apa,” cerita Bu Masya sambil menahan tawanya. “Dasar itu nenek kamu,” Bu Masya geleng-geleng kepala mengingat kejadian berpuluh tahun silam.
“Ternyata kelakuan nenek begitu ya,” kekeh Lusi.
Dari mata Lusi, tiba-tiba saja wajah Bu Masya tampak samar, tidak sejelas ketika mereka berdua ngobrol tentang lomba masak tujuh belasan itu. “Aduh … “ ucap Lusi lirih. Lusi memegang keningnya lagi, mencengkram pelipisnya dengan kedua tangannya.
“Lusi … kamu kenapa, Lus?” tanya Bu Masya panik.
“Em .. kepala Lusi pusing sekali, Ma,” jawab Lusi mencoba menahan perih dengan menggigit giginya.
“Tahan ya … tahan,” Bu Masya beranjak dari duduknya dan pergi ke kotak P3K yang sudah terpasang di belakang pintu kamar Lusi. Bu Masya lantas mengambil obat paracetamol tablet yang disiapkannya jauh-jauh hari di dalam kotak P3K Lusi.
“Aku baru tau kalau Mama meletakan obat paracetamol di kotak P3K,” ucap Lusi sempat-sempatnya padahal sedang menahan pening di kepalanya.
“Iya, kamu memang jarang buka kotak itu. Kamu malah langsung ambil paracetamol di ruang makan, kan? Padahal di kamar kamu sudah ada,” kata Bu Masya. Bu Masya pun menuangkan air mineral yang ada di dalam teko kuning ke dalam gelas kaca yang ada di atas meja.
“Ini, diminum dulu obatnya, dan ini minumannya,” Bu Masya menyodorkan satu tablet obat dan segelas air ke Lusi. Lusi mengambil itu dan menjalankan perintah mamanya.
Glek! Glek! Glek! Obat dan segelas air itu berhasil masuk ke dalam kerongkongan Lusi tanpa tersendat sedikitpun.
“Udah, kamu langsung istirahat dan tidur ya. Mama mohon hari ini jangan mengerjakan apapun yang berat-berat,” ungkap Bu Masya.
“Ma … tapi Lusi ada tugas kuliah,” ucap Lusi pelan.
“Kalau itu boleh saja dikerjakan, tapi jangan sampai larut malam ya. Kerjakan sebisamu dulu, dan jangan lupa dilanjutkan besok pagi,” saran Bu Masya.
“Kalau dikerjakan besok, pasti gak selesai, Ma, ini tugasnya harus butuh waktu banyak,” Lusi ngeyel.
“Lusi, keadaan kamu sekarang ini tidak sesehat yang sebelumnya. Kamu harus istirahat, cintai kesehatanmu, kalau kesehatanmu sudah buruk sekali, nanti kamu kena batunya, loh,” Bu Masya memperingatkan Lusi yang terlalu ambisius mengerjakan tugas kuliahnya. Namanya juga mahasiswa perfeksionis, selalu punya nilai kuis A, dan nilai IPK lebih dari tiga koma tujuh terus.
Lusi menyun, ia menelaah lagi ucapan Bu Masya. “Betul juga kata Mama,” ucap Lusi sadar.
“Nah iya kan, lebih baik utamakan kesehatanmu dulu, ya,” balas Bu Masya.
“Iya deh, Ma,” Lusi terpaksa karena kepalanya semakin pening, obat paracetamol yang barusan diminumnya itu belum bekerja.
“Janji?” kata Bu Masya sambil mengacungkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Lusi.
Lusi mengangguk.
“Mana kelingkingnya, kaitkan di kelingking Mama,” pinta Bu Masya sebagai bentuk kesungguhan Lusi.
Lusi mengabulkan permintaan Bu Masya, hal itu membuat Bu Masya tersenyum padanya.
“Anak cantik Mama pinter,” kata Bu Masya mencium rambut Lusi. “Kita kan sudah sepakat ya tadi, kalau begitu Mama mau keluar sebentar, mau ikut arisan di rumah Tante Mirna. Kamu di rumah saja ya, tetap istirahat dan mengerjakan tugas kuliahmu. Ingat! Jangan terlalu tegang dan memberatkan pikiranmu, ya, kalau merasa kesulitan mengerjakannya, tanya sama teman yang kamu rasa pintar di kelas,” pesan Bu Masya.
Lusi menyeritkan dahinya, “Hah? Nanya sama teman pintar di kelas?” Lusi menggeleng. “Kayaknya malah teman-teman di kelas selalu menunggu jawaban tugas kuliahku, Ma,” pungkas Lusi yang membuat Bu Masya tertawa.