Hap!
Hap!
Hap!
“Terus, Rib! Lo pasti bisa!” seru Tono yang menyemangati Ribka sedang latihan pencak silat malam itu.
Keringat bercucuran dari kening Ribka, tak mematahkan semangat Ribka untuk memperagakan beberapa gerak untuk dikompetisikan minggu depan. Matanya tampak tegas melihat ke depan, dengan tendangan dan tangkisan yang ia lakukan. Hanya Tono yang menemani Ribka di tempat latihan itu.
“Udah, ah, gue capek!” Ribka berhenti latihan. Ia duduk di kursi yang di sana sudah ada sebotol air mineral.
Glek. Glek. Glek. Tiga tegukan air mineral menyegarkan tenggorokan Ribka yang sempat kering itu.
“Lo hebat, Rib! Kuat banget latihan malam-malam sampai jam segini,” ungkap Tono melirik jam tangannya.
“Emang udah jam berapa?” Ribka ikut melirik ke jam tangan Tono.
“Sebelas malam, mau pulang sekarang?” tanya Tono. “Wajah lo udah capek banget kayaknya,” tukas Tono yang memandang mata Ribka sayu, seperti butuh istirahat.
“Iya, pulang sekarang yuk. Gue nebeng lo, ya!” pinta Ribka.
“Dengan senang hati! Kan lo teman gue, yuk!” Tono dan Ribka pun berdiri dari duduknya dan menyangkutkan handuk putih di bahu mereka. Tak lupa sebotol air mineral dihabiskan terlebih dahulu sebelum perjalanan pulang dimulai.
Tono dan Ribka lalu menaiki motor milik Tono, dan Tono pun mengantarkan Ribka terlebih dulu.
Di perjalanan malam itu, Tono dan Ribka tanpa diam-diam saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Yang terdengar hanyalah deru motor Tono dan jangkrik yang iseng berdendang. Tono yang merasa hal itu tidak biasa, memberanikan diri melihat Ribka dari balik kaca spionnya. Di belakang Tono, Ribka terus memandang ke arah depan dengan tatapan kosong, dan bibirnya memucat. Tono terbelalak.
“Ada yang gak biasa sama Ribka, kenapa pucat gitu ya dia jangan-jangan … “ pikiran Tono mulai aneh. Ia jadi mengingat film horror yang ia tonton tadi malam, tentang tukang ojek yang membonceng hantu.
Tidak ingin kejadian di film itu menimpa dirinya, Tono pun menegur Ribka. “Rib, lo kenapa?”
Ribka mengarahkan wajahnya ke kaca spion, “Entah, badan gue lemes banget habis latihan. Ini gak kayak biasanya, deh!” seru Ribka.
“Lo gak pemasana tadi?” tanya Tono lagi.
“Gue pemanasan, cuma memang sebentar sih. Duh,” jawab Ribka dan memegang kepalanya yang terbalut helm. “Kepala gue tiba-tiba juga sakit, Ton!” serunya.
“Lo tahan ya, kita sebentar lagi ke kos lo kok!” ucap Tono yang ikutan khawatir.
“Ton … kayaknya kita harus beli obat di apotek deh,” pinta Ribka.
“Oh oke … oke … kita cari ya. Lo tahan dulu,” kata Tono.
Satu, dua, dan tiga apotek yang telah dilewati Tono dan Ribka pun tutup. Tidak ada satupun apotek yang mereka temui masih membuka gerainya.
“Rib … apotiknya tutup semua,” kabar buruk disampaikan oleh Tono.
“Aduuuuh, kepala gue makin sakit,” ujar Ribka sambil memejamkan matanya.
“Lo senderan aja di bahu gue. Tahan ya Rib, gue minta maaf gak dapat apotek nih,” Tono tampak gusar.
Lima belas menit kemudian, Ribka dan Tono sudah sampai di depan kos Ribka. Ketika Tono mematikan mesin motornya, Tono merasakan berat di bagian bahunya.
“Rib? Rib? Ribka … “ tegur Tono pelan-pelan.
Namun, Ribka tidak menyahut. Tono melirik Ribka dari kaca spionnya, dan tampak Ribka tertidur pulas di bahu Tono. Entah harus bahagia atau bagaimana, yang pasti malam itu Tono jadi nge-fly karena baru pertama kalinya Ribka mau tertidur di bahunya. Kedua tangan Ribka juga baru disadari oleh Tono, melingkar di pinggang Tono. Karena ketika dekat Tono, Ribka selalu protes, “Keringat lo bau banget! Apek! Kayak bantal guling yang gak pernah dicuci,” kata-kata itu masih terngiang di kepala Tono.
Seorang ibu berumuran empat puluh tahun keluar dari pintu kos Ribka. “Mas, itu Ribka yang ada di belakang?” tanya ibu itu dengan lembut.
“I … I … iya, Bu, maaf saya gak ngapa-ngapain kok sama Ribka, sumpah. Saya gak nyakitin Ribka juga,” pertanyaan itu membuat Tono kalang kabut. Malam hari dipergoki berdua dengan Ribka, di atas motor dan kondisi Ribka saat itu tanpa sadar.
“Iya, Mas, tenang, saya gak nuduh Mas yang macam-macam, kok. Yang pasti, saya juga tau kalau Mbak Ribka itu anak yang baik,” Ibu itu langsung menuju ke arah Tono dan Ribka.
“Saya Bu Wati, Ibu kosnya Mbak Ribka. Dari tadi saya menunggu Mbak Ribka pulang, gak biasanya jam segini belum pulang,” kata Bu Wati.
“Maaf Bu, tadi Ribka dan saya lagi latihan pencak silat sebentar lagi mau kompetisi, dan … di jalan tadi kita mutar-mutar cari apotek gak ada yang buka,” terang Tono.
“Cari apotek? Buat apa cari apotek? Siapa yang sakit?” Bu Wati ikutan gusar. Tono melirik ke Ribka yang masih tertidur di bahunya.
“Mbak Ribka … Mbak .. Mbak Ribka?” seru Bu Wati menepuk-nepuk pundak Ribka. Ribka tak memberikan respon, Bu Wati lalu membuka helm yang dipakai Ribka, dan kembali membangunkan Ribka.
“Mbak … bangun dong, Mbak … “ seru Bu Wati lagi dan kali ini melihat wajah dan bibir Ribka yang memucat. “Mbak Ribka ini kenapa, mas? Kok pucat sekali?” kata Bu Wati.
Bu Wati pun inisiatif memegang kening Ribka, “Ya Allah, Mbak Ribka ini demam. Badannya panas sekali,” ucapan Bu Wati kali ini bernada tinggi, matanya terbelalak mengetahui anak kosnya itu sakit.
“Mas minta tolong bawakan ke dalam, ya,” pinta Bu Wati.
Dengan segala kesempatan yang ia dapatkan malam ini untuk menyelamatkan Ribka, Tono sigap mengangguk dan siap melaksanakan apa yang dipinta oleh Bu Wati.
Yak! Kini Tono sudah menggendong Ribka yang masih tak sadar. Ribka yang masih mengenakan pakaian pencak silat itu, tampak lelah, keringatnya pun sampai mengering.
“Terima kasih ya, Mas. Semoga Mbak Ribka gak kenapa-kenapa, ya,” kata Bu Wati cemas.
“Aamiin, Bu. Oh ya, Bu tadi Ribka minta diberikan obat dan saya tidak mendapatkannya. Apa Ibu Wati punya obat untuk Ribka?” tanya Tono.
“Ada … ada kok Mas, saya selalu stok obat untuk anak-anak kos saya,” jawab Bu Wati yang membuat Tono lega.
“Ya sudah kalau begitu, Bu. Saya pamit pulang dulu, tolong jagain Ribka ya, Bu,” pamit Tono sambil melirik Ribka yang masih terkulai lemas di atas kasur.
“Iya, Mas, hati-hati di jalan ya,” balas Bu Wati.
***
“Ya! Sudah sampai, Om. Itu kos Mona,” Mona menunjuk kos berwarna ungu.
“Oh ini …. “ Pak Edi pun berhenti tepat di depan kos itu.
“Terima kasih banyak ya Om sudah mau anterin Mona pulang,” ucap Mona tersenyum ke Pak Edi yang ada di sampingnya.
Pak Edi menatap bola mata bulat milik Mona, ditambah lagi senyumannya yang mengakar. Polesan riasan yang belum terhapus itu membuat wajah Mona kian merona. hingga membuat Pak Edi deg-degan. Nahas, Pak Edi pun tak sanggup membalas terima kasih Mona.
“Halo, Om?! Kok bengong?” tanya Mona menepuk pipi Pak Edi.
“Ah, enggak, Mon, mungkin ini efek ngantuk kali ya jadi bengong, ehehe,” jawab Pak Edi terkekeh.
“Baiklah kalau begitu. Saya pamit ya, Om, Bye!” kata Mona melambaikan tangan ke Pak Edi dan keluar dari mobil.
Sembari Mona melangkah menuju kosnya, Pak Edi terus memperhatikan Mona. Cara liuk jalannya, dan pesonanya yang masih memakai gaun batik itu. “Mona … oh Mona … “ sahut Pak Edi pelan.