Pulang Bareng

1541 Kata
“Nak Mona, terima kasih ya sudah memberikan penampilan yang bagus malam ini. Saya senang sekali lihat kamu di atas panggung tadi,” ungkap Bu Endah setelah acara pameran selesai. “Oh iya, ini buat kamu,” Bu Endah memberikan paper bag berwarna putih yang tertulis logo, “Butik Nyonya Endah.” Mona mengambil paper bag putih itu dan langsung mengintip apa yang ada di dalamnya, “Wah, terima kasih banyak ya Bu, saya senang sekali!” tukas Mona memamerkan kesenangannya saat itu. “Hanya itu yang bisa saya berikan untuk kamu, saya berharap kamu masih mau ikut dalam projek-projek saya selanjutnya, ya,” balas Bu Endah. Mona mengangguk spontan, “Iya Bu, iya. Pasti saya akan selalu berpartisipasi dalam setiap acara yang diikuti Butik Nyonya Endah. Saya benar-benar senang bisa bekerja di sini, Bu,” tutur Mona. “Syukurlah kalau gitu. Oh ya, saya pulang dulu ya supir sudah menunggu dari tadi di luar. Mari, Nak Mona, sampai jumpa lagi,” pamit Bu Endah dengan memberi senyuman. Mona membalikan badan, dan menghadap ke tempat Ardin dan Pak Edi berdiri. Mona mengangkat paper bag pemberian Bu Endah tadi, Ardin dan Pak Edi membalasnya dengan senyuman. “Cantik ya, Din … “ bisik Pak Edi ke Ardin. Ardin menilik sinis ke papanya, “Apaan sih Pa, gak usah aneh-aneh ya, plis!” balas Ardin. Mona yang memajukan langkahnya menuju Ardin, sontak disambut pula oleh Ardin yang sudah memekar senyumannya. “Mau pulang sekarang?” tanya Ardin. Mona mengangguk, “Barengan Om Edi?” jawab Mona sambil melirik ke Pak Edi yang ada di belakang Ardin sedang tersenyum. “Iya, bareng saya. Kebetulan saya ada pinjem mobil punya teman,” ucap Pak Edi. “Loh, Mona pulang bareng Ardin, Pa. Ardin bawa motor kok, bensinnya juga masih banyak,” Ardin protes. “Mona ini lelah habis tampil berjam-jam di acara ini, masa iya kamu tega mau ngajak dia pulang pakai sepeda motor? Mana sepeda motormu keluaran sepuluh tahun yang lalu lagi,” Pak Edi ikutan protes. “Gak masalah, yang penting mesinnya masih bagus dan aman, yuk Mon kita pulang,” Ardin mengeluarkan kunci motornya. “Hmm … em … gue ikut sama Om Edi aja, ya,” pinta Mona. Ardin tak jadi melangkah, ia melirik Mona dan papanya bergantian. “Pa, kali ini Mona pulang sama Ardin,” ungkap Ardin. “Kak Ardin, maaf ya, gue pulang sama Om Edi aja. Kasihan Om Edi udah capek-capek pinjem mobil sama temennya, masa gue nolak gitu sih. Lagian Kak Ardin bisa pulang bareng sama mereka-mereka,” tukas Mona dan menunjuk ke arah Wira dan Jacob di pojokan sana yang asyik dengan ponselnya masing-masing. “Iya, benar. Kamu sama Wira dan Jacob aja. Kalian kan datang ke sini bertiga, pulang juga harus bertiga, dong,” Pak Edi ikut memanas-manasi. “Gak ah, mereka pulang berdua sudah cukup kok, motornya memang bawa satu. Nah, kalau Ardin kan sendirian di motor, bisa tuh bonceng Mona, gimana Mon?” Ardin tak gentar untuk mempersilakan Mona pulang bersamanya. Mona melirik ke Pak Edi, Pak Edi tampak menaikan kedua bahunya. “Maaf ya Kak Ardin, bukannya gue nolak dan gak kepengen banget pulang sama Kak Ardin. Tapi, kali ini gue ada hal yang perlu dibicarakan sama Om Edi,” kata Mona. Ardin menghela napasnya, “Ya udah lah kalau mau lo begitu. Hati-hati di jalan,” Ardin akhirnya mengikhlaskan Mona tuk pulang dengan papanya. “Pa, jaga Mona ya, harus pulang ke kos dengan selamat sentosa!” pesan Ardin menepuk bahu Pak Edi. “Jelas Papa bakal bawa Mona selamat sampai tujuan, ini kan calon menantu Papa,” ledek Pak Edi, membuat Mona malu-malu hingga pipinya ikut memerah. “Ayo, Mon!” ajak Pak Edi, Mona pun mengikuti langkah Pak Edi di belakang. “Bye Kak Ardin!” Mona melambaikan tangan kanannya. Gagal mengajak Mona pulang bareng, membuat wajah Ardin tampak sayu. Langkahnya menuju Wira dan Jacob di pojokan sana tertatih-tatih. Matanya pun tidak sebesar saat antusiasnya menonton Mona di atas panggung. “Wira … Jacob,” tegur Ardin. Wira dan Jacob spontan mengarahkan pandangannya ke Ardin, dan menyetop bermain ponsel. “Kenapa lo?” tanya Jacob. “Mona mana, Din?” tanya Wira pula. “Mona pulang sama bokap gue,” jawab Ardin lalu menghela napasnya. “Gagal lagi gue pulang sama Mona,” tambah Ardin. Wira berdiri di depan Ardin, “Kok bisa sih bokap lo pulang sama Mona? Bukannya lo dan Mona udah janjian buat pulang bareng? Mona juga, kok bisa-bisanya setuju pulang sama bokap lo!” geram Wira. Ardin terkekeh, “Kok lo panas, Wir?” “Iya, gue capek buang-buang waktu di sini temenin lo buat nonton Mona. Dan hasilnya gak sesuai ekspetasi, woy! Tau gitu mending gue ke rumah Lusi,” Wira kesal. Jacob melihat Wira yang kebakar jenggot, mengelus punggung Wira. “Yang tenang, Wir … mungkin Mona sama Pak Edi lagi ada hal yang penting, makanya mereka memutuskan untuk pulang bareng,” Jacob menenangkan. “Iya, kata Jacob benar. Tadi waktu gue paksa Mona buat pulang bareng sama gue, Mona yang nolak kok. Katanya sih ada yang perlu dibicarakan sama bokap gue,” timpal Ardin. “Penting?! Kok gue kayak gak … ah sudah lah. Sekarang kita pulang saja,” Wira mengeluarkan kunci motor dari kantong jas hitamnya. Lalu, dilemparkannya pada Jacob, “Lo yang nyetir ya, gue ngantuk!” HAP! *** Malam semakin larut, begitu pula dengan suasana pada malam itu. Hanya ada bulan dan bintang yang menemani perjalanan Pak Edi dan Mona. Kendaraan tidak seriuh saat jam-jam sore menjelang senja, ketika Pak Edi baru pulang dari kerjanya yang serabutan itu. Di perjalanan, Pak Edi dan Mona tak lupa menuturkan obrolan yang begitu mengesankan. “Om Edi, terima kasih ya sudah mau datang ke pameran saya jauh-jauh. Udah gitu bantuin Kak Ardin lepas dari keamanan satpam, hehe,” seru Mona. “Iya, sama-sama Mon. Lagi pula tempat pameran kamu tadi itu tempat di mana teman saya Yono bekerja. Dan untungnya, Yono yang mengamankan Ardin, jadi tidak sulit untuk melepaskannya,” balas Pak Edi. “Kalau tadi gak ada Om Edi, mungkin Kak Ardin sudah diamankan di kantor polisi, tuh,” ucap Mona. “Ahahaha, ya mungkin. Gak apa-apa, biar dia tau rasanya gimana ditahan di polisi,” ledek Pak Edi yang membawa tawa bagi Mona. “Ah jangan gitu dong Om! Kalau Kak Ardin masuk kantor polisi, siapa dong yang temanin Mona sehari-hari?” balas Mona. “Kan ada Om yang bisa temani kamu … “ seru Pak Edi. “Hah? Maksudnya?” Mona bingung. “Om bisa temani kamu, anggap saya ayah sendiri,” lanjut Pak Edi. “Oke lah kalau begitu saya setuju!” ungkap Mona dengan polosnya. “Mon, kapan kamu dan anak saya pacaran?” tanya Pak Edi yang membuat Mona tersendak, hingga tersedak liurnya. Uhuk. Uhuk. Uhuk. “Pertanyaan macam apa itu, Pak? Saya benar-benar tidak tau harus mulai dari mana. Masa harus saya yang memulainya? Kurang etis saja, hehe,” terang Mona. “Kurang etis gimana? Kamu gak usah dengarin apa kata orang. Kalau kamu sudah nyaman dengan seorang laki-laki, dan laki-laki itu cukup bertanggung jawab buat kamu, ya udah lanjutkan saja. Kamu perlu mengatakan yang sejujurnya atas isi hatimu pada Ardin. Dan semuanya selesai, kalian berpacaran. Simpel, kan?” usul Pak Edi. Mona yang masih syok dengan pertanyaan itu, mencoba mencerna baik-baik ucapan dari Pak Edi. “T … t … tapi tidak semudah itu, Om,” ucap Mona lirih. “Jangan pesimis gitu, dong. Atau, biar Om saja yang hasut Ardin buat tembak kamu jadi pacar?” ungkap Pak Edi. “Ehehehe,” Mona menyeringai, ia menunduk sambil menyembunyikan senyum manisnya. *** “Lusi, kamu di mana? Cepat pulang,” Bu Masya berkali-kali menelpon Lusi, baru kali ini diangkat oleh Lusi. “Maaf, Ma … Lusi pulang telat. Banyak sekali kegiatan organisasi yang harus diselesaikan,” balas Lusi. “Lusi, ini sudah tengah malam, loh! Kamu jangan terlalu mati-matian menjalankan organisasi kamu. Ingat kesehatan kamu, ingat kuliah kamu, Mama gak setuju ya kalau kamu hanya sibuk ngurus organisasi dan mengabaikan segalanya,” tegas Bu Masya. “Maaf Ma, Lusi minta maaf, kali ini benar-benar—“ Tut … tut … tut … Telepon itu terputus, terlihat Pak Oki memutus kabel penghubung sinyal yang berada di belakang lemari es. “Papa?” sahut Bu Masya pada suaminya. “Sudah cukup memperingatkan Lusi. Waktu itu kan Papa bilang sudah peringatan terakhir, dan kalau ia masih tak mengindahkan jua, terpaksa Papa nyerah,” ucap Pak Oki. “Pa, Papa kok ngomong begitu? Lusi itu ingat kok apa peringatnya Papa, tapi—“ “Tapi apa? Lupa? Lupa kalau Papa pernah marah karena dia pulang larut malam? Terus diulangi lagi dengan seenaknya? Udahlah,” Pak Oki geleng-geleng kepala mengingat perbuatan Lusi yang tak sesuai dengan arahannya. “Mending sekarang Mama masuk ke kamar dan tidur saja. Biarkan Lusi pulang sendiri, biar dibukain sama pembantu,” ucap Pak Oki. “Pa! Papa!” seru Bu Masya, namun Pak Oki tetap meneruskan langkah kakinya menuju kamar tidur. Wajah Bu Masya tampak gusar, matanya berkali-kali melirik ke langit-langit rumah dan memikirkan cara agar suaminya mau memaafkan Lusi lagi. “Duh gimana ya … Lusi, Lusi, kamu terlalu sibuk dengan duniamu, Nak. Sampai Papamu sendiri saja kesal,” ucap Bu Masya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN