Gedebak! Gedebuk! Gedebak! Gedebuk!
Tampak keributan berada di tengah-tengah kerumunan penonton. Ternyata, Ardin tidak takut melawan laki-laki kekar yang sedari tadi membuatnya pening. Terlebih lagi ketika tidak ada yang mau mempersilakan dirinya untuk menempati posisi di depan. Pukulan dan tendangan silih berganti antar Ardin dan lawannya, ikut memeriahkan pameran malam itu.
Keributan yang dibuat Ardin itu tidak menghentikan pameran yang sedang berlangsung. Walaupun, Mona dari atas panggung sudah melihat bahwa Ardinlah yang memainkan peran dalam perkelahian itu. Mona tetap professional, ia memajukan langkah kakinya ke depan spot foto yang berada di paling depan panggung.
“Mona, say pizza!” ucap Mas tukang foto lalu menangkap wajah dan pose cantik Mona lewat kameranya.
Tak … tuk … tak … tuk … kayak delman aja bunyinya, ehe. Seperti para model yang lain, setelah mengambil pose di depan panggung dan memperlihatkan gaun pada penonton, mereka segera berbaris rapi di bagian belakang. Tetap dengan tubuh yang tegak, sorot mata fokus ke depan, dan menggiring senyuman untuk penonton.
“Duh, Kak Ardin kenapa sih pakai acara kelahi segala diwaktu yang gak tepat!” batin Mona yang terus memperhatikan Ardin dari atas panggung.
Untungnya saja, perkelahian itu bisa dilerai oleh tiga satpam. Iya, laki-laki berbadan kekar itu rupanya makin geram hingga harus diamankan oleh dua satpam. Kalau Ardin mah, didatangin satu satpam aja sudah cukup, digeret aja sudah ampuh.
“Heh Jac! Lo kok diam aja, itu Ardin diamankan sama satpam, lho!” ucap Wira yang khawatir dengan Ardin saat ini.
“Udah, tenang … “ Jacob bersikap santai. Ia memang melihat Ardin yang sudah diamankan satpam. “Kita mau bantu gimana, kita ini siapa, gak punya akses apa-apa. Ntar kalau masalahnya kelar juga Ardin dilepas,” tutur Jacob.
“Hmm … sebenarnya gue betul-betul kasihan sama Ardin yang kerja keras banget buat nonton Mona. Tapi, gue geli banget kalau dekat-dekat laki-laki berbadan kekar gitu. Nanti matanya kedipin gue, lagi!” batin Jacob yang berbicara lain hal.
Lambat laun, sosok Ardin sudah tidak terlihat oleh Jacob dan Wira. Keringat Wira bercucuran di dahi dan pelipisnya, sesekali memeriksa ke bagian pintu pameran agar Ardin segera dibebaskan. Sementara Jacob masih santai menikmati model-model yang berdiri di atas panggung dan memandang satu per satu wajah yang sudah dihias lipstick, blush on, eye shadow, dan segala macamnya.
***
“Pak, lepasin gue Pak, lepasin!” tangan Ardin yang terborgol itu berusaha ia lepas dengan menggoyang-goyangkan badannya.
“Diam, cukup diam saja kamu!” balas Pak satpam.
“Gue gak ada salah apa-apa, Pak!” Ardin menegaskan.
“Udah, diam dulu, duduk di sana, cepat!” Pak satpam menuntun Ardin untuk duduk di bangku plastik yang ada di ruang interogasi. Ardin bersebelahan dengan laki-laki berbadan kekar yang ribut dengannya di bawah panggung tadi.
“Apa lo?!” cerca Ardin pada laki-laki yang sudah lebih dulu duduk.
“Hmmm … “ gerutu laki-laki itu dengan matanya yang melotot ke Ardin.
“Gue gak takut sama lo!” ledek Ardin dan menjulurkan lidahnya, “Wle!” tukasnya.
“Hm … hm ... hmmm … “ laki-laki itu enggan berbicara.
Salah seorang polisi yang mengamankan Ardin, duduk di hadapan mereka berdua. Sebelum melakukan interogasi kecil-kecilan, satpam itu memperbaiki kumisnya dulu, dan disisir dengan sisir mini yang mirip dengan punya Ardin.
“Ehem … kalian berdua ini, haduh … “ ucap satpam sambil menggelengkan kepalanya.
“Ini kan tempat umum ya, harusnya tetap menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian antar sesama. Jangan malah seenaknya ribut berdua di tengah-tengah,” nasihat yang keluar dari mulut satpam membuat dua orang pembuat keributan di depannya itu pun menunduk.
“Ayo coba ceritakan kronologi ceritanya biar saya paham mana yang harus diberi sanksi,” ucap satpam.
“Dia!” ucap Ardin dan laki-laki kekar itu bersamaan.
“Apaan sih lo!” gerutu Ardin.
“Aduh, jangan pakai drama-dramaan lah, udah malam juga ini serial dramanya bersambung, bisa dilanjut besok pagi saja. Ayo sekali lagi saya tanya, siapa yang duluan buat masalah?” tanya satpam lagi.
“Dia, Pak! Gue sudah izin mau pindah tempat malah dihalang-halangin!” cerca Ardin.
“Lah, lo itu seenaknya aja mau rebut tempat gue. Padahal gue duluan yang dapat!” laki-laki kekar itu tak mau kalah.
“Tapi kan gue duluan yang datang! Gue sengaja belum ambil tempat di situ karena acara belum dimulai!” Ardin menjadikan dirinya benar.
“Tuh kan Pak, dia duluan yang gak sopan!” timpal Ardin.
“Haduh … “ laki-laki yang berbadan kekar itu tak mau ambil pusing. Ia paham kalau Ardin yang lebih muda sembilan tahun dari dirinya itu, memang masih labil dan suka membesarkan sesuatu yang sepele.
“Ngaku gak lo!” Ardin tak gentar membuat rivalnya bersalah.
Tok … tok … tok … “Permisi,” seorang laki-laki yang familiar dengan Ardin, selalu memakai jeans hitam dan kaos abu-abu.
“Papa?!” ucap Ardin sambil berdiri dari duduknya.
“Tetap duduk!” sahut satpam pada Ardin yang setengah berdiri. Ardin pun spontan duduk.
“Maafkan anak saya, Pak,” papanya Ardin langsung menjabat tangan satpam. “Masih ingat saya kan, Pak?” tanya papanya Ardin ke satpam.
Satpam yang masih duduk manis itu memperhatikan detail wajah papanya Ardin, dan tak lupa memeriksa dibagian hidung dalam. “Laki-laki yang hobinya memakai kaos abu-abu dan jeans hitam … dan upilnya yang agak banyak itu. Lo Edi, bukan?!” satpam mencoba mengingat kembali.
“Nah betul! Hai Yono!” papanya Ardin, Pak Edi memeluk satpam itu yang ternyata bernama Yono.
“Ini anak lo?!” tanya Yono ke Pak Edi.
“Iya, anak gue. Maaf ya kalau dia bikin onar, hahaha,” jawab Pak Edi.
“Duh, kalau ini anak lo sih gue bener-bener gak heran. Mirip banget kelakuannya kayak lo, berani dan ngeselin!” celetuk Yono.
Yono melirik perempuan tinggi yang berdiri di belakang Pak Edi, wajahnya ikutan tersenyum menikmati pembicaraan Yono dan Pak Edi.
“Ini … isteri lo yang baru?” tanya Yono tiba-tiba, menunjuk Mona yang masih memakai gaun butik lengkap dengan make up-nya.
“Eeheheheh,” Pak Edi menyeringai. “Hmm .. anu .. anu … “
“Saya Mona, temannya Kak Ardin,” Mona lebih dulu mengenalkan dirinya ke Yono, ia menjulurkan tangan kanannya.
Pak Edi menurunkan tangan Mona, “Udah, yang penting kan sudah tau namanya. Gak usah pakai salam-salaman. Ini Mona, calon … “
“Calon mantu Pak Edi!” sahut Ardin yang mendengarkan percakapan sedari tadi.
Yono terbelalak. “Serius?! Mantep bener pilihan anak lo!” tukas Yono.
“Ya sebelas dua belas sama selera papanya, lah!” bisik Pak Edi ke Yono.
“Iya, asal gak diembat aja sama lo!” balas Yono dengan bisikan juga.
“Ya udah, gue kira-kira bisa jemput anak gue gak? Gak usahlah lo ngasih sanksi. Gaya amat lo!” pinta Pak Edi.
“Iya, Pak. Jangan kasih Kak Ardin hukuman kok, gue yakin kok keributan itu ada karena kesalahpahaman,” Mona ikut membela Ardin.
“Gimana ya Ed, gue harus menjalankan amanah yang sudah dikasih sama atasan. Siapapun yang membuat keributan di pameran, ada hukumannya gitu,” Yono tak menerima pembelaan atas Ardin, ia menggaruk kepalanya bingung. “Gimana ya enaknya … “
“Gimana kalau Pak Yono foto bareng sama saya? saya ini model terkenal yang lagi viral loh, banyak banget tuh yang mau endorse sama saya. Bayarannya mahal, syukur-syukur gratisan nih!” penawaran itu diucapkan Mona tanpa pikir panjang.
“Duh gak usah repot-repot Mon, ini udah tanggung jawab Om!” Pak Edi mengelak.
“Yon, lo mau kan kerja sama bareng gue? Bilang aja sama atasan lo kalau ada ODGJ yang buat keributan. Anggap aja orang berdua ini lagi stress, pasti gak ada hukumannya kan?!” saran Pak Edi melirik kedua pelaku keributan yang masih duduk manis.
“Iya, benar tuh kata papa gue!” Ardin memantapkan saran papanya.
“Iya Pak, secepat napa dibebaskan saja. Kita main damai, gak usah diperpanjang … suka banget deh lo nambah-nambahin masalah orang,” rupanya laki-laki kekar itu ikutan membela.
Yono jadi dilema, ia yang tidak enakan dengan Pak Edi, namun harus menjalankan perintah yang menjadi tanggung jawabnya sebagai penjaga keamanan pameran. “Hmm … “ Yono masih berpikir untuk memutuskan tindakannya.
“Nih nih nih!” Pak Edi mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan dan ditaruh di kantung Yono.
Yono menyeringai, “Nah kalau kayak gini kan tuntas!”
“Haduuuuh!” serentak Mona, Pak Edi, Ardin dan laki-laki berbadan kekar itu menepok jidat mereka karena melihat keputusan Yono yang mudah ditebak.
“Lepasin nih borgolnya!” kata Ardin.
“Siap!” Yono langsung mengambil kunci borgol yang ada dalam lacinya dan membukakan dua borgol pelaku keributan pameran.