Ardin, Wira, dan Jacob menerobos jajaran para penonton yang memadati depan panggung pameran malam itu. Senggol antar penonton itu sudah biasa, terlebih Ardin yang sudah melihat cara melewati “gerombolan orang” yang baik dan benar. Rupanya, semalem sudah dicarinya lewat YouTube seperti biasanya.
“Lo ucapkan permisi sama orang yang ada di depan lo. Kalau belum berhasil juga, lo pelan-pelan memiringkan badan lo dan lewat di sela-sela orang itu,” ucap Ardin pada dua sobatnya, Wira dan Jacob.
“Terus, kalau belum berhasil juga gimana?” tanya Jacob yang pesimis duluan.
“Aduh, Jac. Otak lo ini dirancang untuk pesimis duluan atau gimana sih? Optimis dong! Coba aja dua langkah yang sudah gue sebutkan tadi,” jawab Ardin yang meyakinkan sekali langkah itu.
“Kalau gak berhasil juga, kita bisa maksa lewat dengan cara memiringkan badan kita. Cari saat-saat orang lengah, bodo amat lah kena sedikit sikut sama orang di sebelahnya,” timpal Wira.
“Nah, itu Wira pinter … tumbenan lo mikir, Bro!” bisik Ardin sambil mengelus kepala Wira.
“Ya ini demi-demi aja loh. Demi bisa nemenin lo di depan sana ngelihat Mona mondar-mandir,” sahut Wira.
Penonton semakin memadati pameran, udah gitu badan para penonton itu besar-besar banget. “Gimana kalau lo sendirian aja yang ke depan, kayaknya gak memungkinkan,” ucap Wira sambil melirik enam orang laki-laki berbadan kekar, yang sudah memaksa masuk ke bagian depan panggung.
Salah seorang laki-laki kekar itu menatap Jacob dan mengedipkan mata kanannya. Jacob menelan ludahnya, “Iya deh, sebaiknya lo aja deh yang ke depan sana, Din! Gue sama Wira nunggu di belakang sini aja deh,” tukas Jacob dengan matanya yang penuh cemas.
“Aduh, kalian ini gimana sih! Niat gak sih nemenin gue ke sini?” Ardin mulai geram dengan tingkah Wira dan Ardin yang tidak sesuai kesepakatan di awal. “Katanya demi teman ke sini, eh nyatanya … “ Ardin benar-benar kecewa.
Tanpa mengikuti kedua temannya, Ardin memutuskan untuk menerobos jajaran penonton itu. “Liat nih, hanya gue yang punya jiwa gentleman!” serunya.
Ardin pun pelan-pelan mencoba langkah pertama yang sudah disebutkannya tadi, yakni meminta izin.
“Permisi, Mbak, gue mau lewat dong,” pinta Ardin penuh senyum.
Wanita di samping Ardin pun memincingkan kedua matanya, “Apaan sih, sok kenal banget. Pakai senyum segala, lagi!” wanita itu tampak ketus.
“Permisi ya, maaf,” Ardin rasa ia sudah mendapatkan izin dari wanita itu, langsung masuk ke dalam barisan dan terlihat lebih maju dari barisan awal.
Ardin melirik Wira dan Jacob yang menunggu di barisan paling belakang, ujung pula. Ardin menengadahkan wajahnya dan berkata tanpa mengeluarkan suara, “Gue bisa! Gue bisa!”
Wira dan Jacob saling pandang dan tetap santai melihat cara Ardin yang menyerobot itu. “Kita lihat aja, apa bisa sampai depan ngambil posisi laki-laki yang badannya kekar itu,” ucap Wira.
“Iya, terus pas sampai depan si Ardin di toel-toel sama orang yang itu tuh … “ Jacob tiba-tiba menundukan kepalanya, menendang-nendang angin yang ada di kakinya.
“Apaan, Jac?” tanya Wira bingung.
“Noh … yang pakai baju merah,” ungkap Jacob.
“Laki-laki yang ngelirik ke sini terus?” tanya Wira memastikan.
Jacob mengangguk tanpa melihat laki-laki yang dimaksudnya. Wira mengerutkan dahinya melihat Jacob yang menunduk, tidak seperti biasanya berbicara dengan Wira tanpa melakukan kontak mata.
“Lo kenapa, Jac? Ketakutan?” Wira pelan-pelan memperhatikan laki-laki di depan sana, memang tampak melirik ke Jacob melulu.
“Haha, apaan sih lo, gak mungkin gue takut,” balas Jacob. “Eh gimana tuh si Ardin udah sampai mana?” tanya Jacob.
Wira melihat langkah Ardin, “Masih di belakang enam laki-laki kekar itu. Sepertinya … “
“Heh! Apa-apaan lo?! Kenapa lo main nyerobot aja?!” gertakan dari laki-laki berbadan kekar, tampak membuat Ardin melangkah mundur.
“Em … gue cuma mau ke depan aja, kok!” balas Ardin.
“Gak bisa! Ini tempat kita duluan. Lo jangan seenaknya main ngambil tempat kita!” gertakan itu menimpa Ardin lagi.
“Sebentar, aja, Mas. Lagian gue mau liat teman gue yang mau catwalk, kok,” ucap Ardin tak menyerah.
“Gak bisa gak bisa!” dua laki-laki mendorong Ardin, Ardin jadi berada di barisan agak belakang karena tak sanggup menangkal dorongan dari laki-laki yang berbadan dua kali lipat darinya.
Ardin tak menyerah, ia membusungkan dadanya ke laki-laki yang mendorong dirinya di bagian d**a.
“Gue mau lewat!” seru Ardin.
PLAK!
Laki-laki itu rupanya mendorong Ardin lebih keras lagi, hingga membuat Ardin benar-benar mundur dari tapakannya.
Melihat tampang Ardin yang lesu karena dorongan itu tepat mengenai dadanya, Wira melangkahkan kakinya. Akan tetapi, Jacob menahannya, “Udah, dia bilang kan dia bisa, biar aja,” kata Jacob.
Wira yang gak biasanya mendengar respon Jacob yang seperti itu, merasa bingung, “Lo kenapa? Bukannya kita berdua selalu sigap tiap diantara kita ada yang kesusahan. Apalagi kayak Ardin tuh, dia kedorong!” tukas Wira.
Tanpa mempedulikan Jacob, Wira langsung menuju tempat di mana Ardin berdiri. “Lo gak apa-apa?” tanya Wira yang melihat Ardin memegangi dadanya.
“Kita ke belakang aja, yok,” ajak Wira yang sudah merangkul Ardin.
Ardin pun menggelengkan kepalanya, “Gak. Gue mau di depan sana, biar bisa ngeliat Mona sepenuhnya,” elak Ardin.
Wira lantas melepaskan rangkulannya, “Serius? Itu penuh banget, sesak tau di depan sana. Lo nanti kehabisan napas!” tutur Wira sebelum Ardin membulatkan keputusannya.
“Gak apa-apa, kok, gue bisa kali. Udah, lo sana sama Jacob di belakang,” Ardin mendorong pelan Wira yang hendak menolongnya itu.
Wira menghembuskan napasnya. “Ardin … Ardin … mau ditolong tapi kok,” Wira pun menggelengkan kepalanya.
“Udah, jangan terlalu mengkhawatirkan gue,” ucap Ardin. “Sana tuh temani Jacob, kasihan dia di belakang sana kayak anak hilang,” tambah Ardin.
“Ya terserah lo deh,” kata Wira yang menyerah tak bisa menghentikan langkah Ardin.
Ardin menaikan kerah baju pinjamannya itu, memperbaiki kusutnya kemejanya akibat dorongan tadi. Ia merenggangkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah. Tak lupa ia jalan di tempat dulu
“Heh! Lo mau ngapain? Senam jasmani?” tanya Wira sambil menepuk pundak Ardin.
“Kagak! Gue mau pemanasan doang,” jawab Ardin santai dan masih jalan di tempat.
“Iya, habis pemanasan lo mau senam, ya kan? Ya elah Din, kalau gak mampu nyerobot gak usah dipaksa lagi. Lagian Mona juga tau kan kalo lo datang ke sini buat nontonin dia,” ungkap Wira.
“Sssst, mending lo diem deh. Gue lagi ngelakuin apa yang menurut gue benar,” Ardin menepis segala ucapan Wira.
“Ya serah lo lah, bae-bae di sana,” Wira pun memutuskan untuk kembali ke tempat semula menemui Jacob.
Musik di dalam ruang pameran itu memainkan melodi yang semakin kencang. Dua orang presenter malam itu berpakaian batik warna cokelat muda, lengkap dengan hiasan pita di kepala mereka keluar dari bilik belakang panggung.
“Selamat malam semuanya! Selamat datang di acara pameran batik nasional dua ribu dua puluh satu!!!” sapa presenter perempuan yang meliukan bibirnya yang telah dilipstick merah itu.
“Siapa sih model yang paling kalian nanti-nantikan?” seru pula presenter pria yang berdiri di sebelah perempuan itu.
Penonton mulai menyebutkan nama-nama model yang malam ini akan tampil di atas panggung.
Arini …
Susan …
Merinda …
Ririn ….
Mona …
Beberapa nama model sudah disebutkan oleh penonton dengan berbagai yel-yel yang sudah mereka buat. Ada pula penonton atau fans berat yang mencetak banner besar dengan menampilkan nama dan foto model pilihan mereka.
“Wah, meriah sekali kalian semua!!!!! Apa kaliah siap menyambut para model malam ini?!” seruan yang keluar dari microphone yang dipegang oleh presenter perempuan di atas panggung itu, terus mengundang teriakan penonton.
“Baik kita hitung mundur dari tiga untuk menyambut model ternama kita, tiga … dua … satu … tepuk tangan yang meriah untuk semua model kita!!!” presenter perempuan itu menepukkan tangannya diikuti pula oleh penonton yang menyambut.
Sepuluh perempuan cantik yang tingginya setara dengan seratus tujuh puluh sentimeter, masuk secara bergantian dengan riasan dan gaun batik yang memukau. Tangan para model dihinggapkan di pinggang, dan berjalan lenggok seperti kucing yang sedang berbunga-bunga. Anggun, cantik, centil, dan menggoda.
Ardin yang tadinya jalan di tempat tanpa merebut barisan di depan, tiba-tiba saja terdiam dan menatapkan fokus kedua matanya pada perempuan yang sudah berjalan di atas panggung, Monalisa. Senyuman yang diciptakan dari bibir tipis Mona yang berbalut lipgloss merah muda, membuat Ardin terdiam seribu bahasa. Wira mempercepat langkahnya, dan memberikan tisu pada Ardin yang sudah melamun sejak Mona muncul dari bilik panggung.
“Anjir lo ya! Gue gak lagi mau ngocok!” ucapan frontal muncul dari mulut Ardin disela-sela music tetap bergema.
“Heh! Gue bukan ngira lo mau ngocok, Din!” Wira menampol pelan kepala Ardin.
“Pegang ini! Ntar liur lo jatuh ke lantai kenain orang banyak!” seru Wira yang memaksa Ardin menggenggam tisu yang sudah ia siapkan.
“Astaga!” Ardin geleng-geleng kepala. “Ngerti aja lo, Wir!” tambah Ardin.
Wira pun balik ke tempatnya bersama Jacob.
Musik-musik mulai bermain dengan penonton, sangat akrab di telinga penonton. Sambil para model berjalan ke depan satu per satu dan melakukan gaya yang memikat mata penonton.
I love it when you call me señorita …
I wish I could pretend I didn't need ya …
But every touch is ooh, la-la-la …
It's true, la-la-la …
Ooh, I should be running …
Ooh, you know I love it when you call me señorita …
Ardin yang mendengar musik itu masuk ke telinganya tanpa permisi, mulai menggoyang-goyangkan bahunya mengikuti alunan musik. Ardin yang terlanjur nyaman dengan musik yang didendangkan, tak sengaja menyenggol laki-laki kekar yang sempat mendorong dadanya tadi.
“Heh! Apaan sih lo!” sahut laki-laki kekar itu. Rupanya, memang terbawa suasana panas, sehingga laki-laki itu menggertak Ardin.
“Maaf gak sengaja,” kata Ardin yang masih berjoget ria.
Dengan kesengajaan, Ardin menyenggol laki-laki itu tadi. Kali ini, mengenai bagian bo-kong laki-laki itu.
“Hey anak muda! Jangan kira gue gak tau kelakuan lo ya! Lo dari tadi kenapa sih ke sini terus? Gak sopan banget!” rupanya laki-laki itu naik pitam.
“Itu karena lo gak mau bagi tempat nonton sama gue,” cerca Ardin tak kalah galak.
“Heh heh! Liat kelakuan teman lo, ngapain dia?!” Jacob was-was, ia menyolek Wira dan member tahukan bahwa Ardin sedang cekcok dengan penonton di depan sana.