Wira melemparkan enam kemejanya secara bergantian ke atas tempat tidurnya. Kemeja lengkap berwarna merah, biru, hitam, cokelat, dan ungu itu baru dibelikan oleh mamanya dari New Zealand. Biasa, kan pecinta barang impor anti produk lokal. Setelah semua kemaja bersamaan ada di atas tempat tidur, Wira mengacak pinggangnya dan menaruh pandangannya pada Ardin yang berdiri di sampingnya.
“Lo tinggal pilih mau yang mana,” tukas Wira. ‘
“Hmm … “ Ardin mendekati baju-baju tersebut dan menggeser kemeja dengan jari telunjuknya. Matanya tampak melihat dengan tegas motif dan kain yang disuguhkan oleh Wira.
“Suka yang ungu?” tanya Wira yang melihat mata Ardin lama sekali melirik kemeja berwana ungu bermotif kotak-kotak itu.
Ardin menggeleng, “Lo gak ada baju yang lebih elegan dan catchy lagi?” Ardin malah melempar pertanyaan yang membuat Wira ….. ah sudahlah.
Wira menarik napasnya panjang, “Maksud lo?!” kata Wira sambil menepuk jidatnya. Wira yang sudah sering mendapati sikap Ardin yang “dikasih hati mintanya jantung” itu masih saja terkaget-kaget.
“Lo ini ya …. “
“Dikasih hati mintanya jantung!” balas Ardin spontan bak paham perkataan apa yang dilontarkan Wira.
“Emang!!!” tegas Wira.
Wira membalikan badannya dan menuju lemari lima pintu itu. Lemari berlapis ulin merk ternama di Indonesia, mewarnai kamar Wira yang begitu mewah. Wira memilah lima jas hitam yang tergantung di dalam lemarinya. “Ini … kayaknya terlalu bagus kalao dipakai sama Ardin,” ucapnya pelan.
“Kalau yang ini … Ardin kurang cocok, secara ini keren banget jasnya. Gak seimbang lah sama tampangnya Ardin,” ungkap Wira lagi.
“Ini … hmm … baru aja tiga hari lalu sampai barangnya, jangan ah,” tegas Wira lagi.
“Apalagi yang ini, warnanya sangat kontras dengan kulit Ardin yang …. Hm,” Wira jadi ngomong sendirian.
“Nah … ini aja, tapi … ini kan jas pemberian dari ayah, jangan deh!” kata Wira kesekian kalinya, bingung jas mana yang bisa dipakai Ardin untuk acara pameran nanti malam.
BRAK! Pintu lemari berlapis ulin itu kembali tertutup rapat. “Jas gue gak ada, masih kotor semua,” tutur Wira pada Ardin yang masih bengong melihat kemeja-kemaja yang berserakan di atas tempat tidur.
“Sumpah? Sekelas lo jasnya kotor semua? Apa lo cuma punya satu?” Ardin tak percaya.
“Iya, hanya ada satu dan kotor, lo mau pakai? Jangan deh!” tukas Wira.
“Lo bohong ya?” cerca Ardin yang melihat mata Wira berkaca-kaca.
“Kagak!” Wira menepis. “Udah lo pilih aja kemeja gue tuh, itu kemeja mahalan loh dari New Zealand,” kata Wira.
“Hmm .. ya udah yang ini aja lah,” Ardin mengambil kemeja warna merah. “Cocok banget gak sama gue?!” tanya Ardin menempelkan kemeja merah itu di badannya dan memutar-mutarkan badannya memperlihatkan kecocokannya.
“Cocok banget dah!” Wira mengacungkan jempolnya ke Ardin.
“Kalau ditambah jas, makin bagus nih,” tambah Ardin.
“Gak ada gak ada, udah siap-siap sana bikin muka lo ganteng!” tukas Wira sambil mendorong pelan Ardin menuju pintu kamar.
“Gue bawa dulu ya kemeja lo!” Ardin melambaikan kemeja yang sempat menarik perhatiannya itu, dan keluar kamar.
***
Kalian udah di mana? Gue udah di taman kota nih, kita barengan aja berangkatnya.
Pesan itu ditujukan untuk Wira dan Jacob, yang baru saja dikirimkan Ardin. Ardin yang sudah tiba di taman kota, memutuskan memberhentikan motornya. Inilah tempat janjian dengan trio wek-wek.
Oke, gue dan Jacob segera ke taman kota. Habis isi bensin. Pesan masuk dari Wira.
Kurang lebih lima belas menit kemudian, kring … kring … kring … Mona calling.
Hati Ardin yang dirundung penantian, kini berubah menjadi deg-degan gemetar untuk mengangkat telepon dari bidadarinya itu.
“Halo, Mon?” sapa Ardin yang mengusahakan sembunyikan rasa nervous-nya itu.
“Kak Ardin di mana? Sebentar lagi pameran dimulai loh!” info Mona.
“Masih di taman kota nih nungguin Wira sama Jacob datang. Tunggu aja, bentar lagi juga sampai!” balas Ardin.
“Gitu ya, jangan kelamaan, nanti Kak Ardin nyesel loh kalau melewatkan penampilan gue!” timpal Mona.
Ardin terkekeh, “Iya, gak mungkin ketinggalan lah! Gue kan udah pesan tiket VVIP sama penyelenggara pamerannya, gak mungkin tuh acara dimulai sebelum bangku VVIP terisi!”
Terdengar tertawa renyah dari Mona, Ardin pun melengkungkan senyumnya. “Ketawanya renyah banget sih … “ ucap Ardin.
“Ah Kak Ardin bisa aja deh, sempat-sempatnya ngerayu!” sahut Mona.
“Hahaha, abisnya lo duluan sih … “
Asyik telponan sama Mona tiba-tiba saja tin .. tin … tin …
Suara motor yang dinaiki dua orang laki-laki itu langsung mendekat ke Ardin yang sedang parkir.
“Ayo Din! Kita langsung jalan aja!” seru salah seorang laki-laki itu, Jacob.
“Eh, Wir, Jac, lo ngagetin gue aja deh! Bentar-bentar … “ Ardin yang masih ingat kalau telepon dengan Mona itu masih tersambung, berusaha mematikannya.
“Mon, Wira sama Jacob udah datang nih, gue mau langsung on the way ke pameran ya. Sampai jumpa di sana!” kata Ardin ke Mona.
“Oh iya Kak Ardin, hati-hati ya, sampai jumpa juga!” Mona pun memutuskan teleponnya.
Brem … brem … brem … Mereka bertiga pun langsung menuju tempat pameran yang sudah diberi tahu oleh Mona sebelumnya.
***
Panggung yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip menari di bagian background-nya. Musik ala dua ribu dua puluh satu itu, didominasi oleh musik barat yang akhir-akhir ini menduduki jajaran top chart dunia. Tampak riuh penonton yang hadir, hingga tidak ada tempat lewat untuk mengambil posisi di paling depan panggung.
“Wah udah ramai banget!” seru Ardin yang melihat para penonton sudah memadati bagian depan panggung.
“Iya, kayaknya kita telat deh,” sahut Wira.
Jacob yang berusaha mencari tempat kosong di depan, nyatanya tak mampu juga, “Dipengelihatan gue juga gak ada tempat kosong. Kita mau nonton pameran dari mana? Kalau dari belakang sini … ya keles!” sambung Jacob.
“Kalau mau di belakang sini ya gak apa-apa sih, paling cuma kedengeran musiknya aja, modelnya pun gak keliatan sama sekali,” ucap Wira.
“Ah kalian ini … jangan dong! Kita kan ke sini mau liat Mona tampil. Masa iya udah sampai ke sini malah gak keliatan si Mona!” Ardin protes.
“Ya lo pikir aja kali, gimana caranya kita mau nerobos ke depan sana? Sedangkan orang-orang mepet banget berdirinya,” Wira menunjuk gerombolan penonton yang telah hadir.
“Bisa! Kita paksa aja!” cara Ardin bisa dibilang liar.
“Gak masuk akal lo Din!” cerca Jacob.
“Gak masuk akal gimana sih? Itu satu-satunya jalan loh!” pekik Ardin.
“Yakin?!” tanya Jacob dan Wira bersamaan.
Ardin mengangguk tegas. “Mari kita coba … “ jawab Ardin menirukan sound dari Sisca Kohlang Kahling.