Pagi itu, ketika dosen belum masuk ke kelas, seperti biasa semua mahasiswa dan mahasiswi turut meramaikan kelas. Ada yang ngobrol sana-sini dengan topik trending di Twitter, ada yang nyanyi-nyanyi padahal suaranya seperti kecoa, ada yang bermain ponsel hanya scroll atas bawah demi mendapatkan foto “ngakak” dari sebuah fanbase. Namun berbeda dengan Mona yang tidak melakukan hal tidak bermanfaat itu, ia menggunakan ponselnya untuk mengirim pesan ke papanya Ardin.
Mon, anak saya itu suka puisi.
Membaca pesan itu, Mona cukup tercengang. Pasalnya selama ini, Ardin tak pernah membaca, membuat, atau apapun itu yang berhubungan dengan puisi. Mona tersenyum, merasa ia tahu lebih jauh tentang sosok Ardin.
Kalau kamu bisa membuat puisi, buatlah untuk Ardin. Dia bakal klepek-klepek tuh sama kamu.
Mona yang notabene tak suka hal-hal berbau literasi, ya iyalah baca buku aja gak sampai lima belas menit sudah perih matanya, apalagi bikin puisi yang menghabiskan waktu berjam-jam. Akan tetapi, kalau soal baca story w******p atau story i********:, Mona selalu kencang dan pengen tau betul cerita orang hari itu. Mona masih maju mundur, apakah ia bisa melakukan tugas untuk menarik perhatian Ardin.
Melirik keadaan di sekitar kelas, Mona yakin kalau dosen belum masuk ke kelas. Pasalnya, mahasiswa dan mahasiswi di kelas ini masih sibuk dengan kegiatan gak bergunanya. Akhirnya, Mona membaca pelan-pelan laman literasi yang dipenuhi puisi-puisi syahdu, lewat ponselnya.
Kau yang memang aku tunggu,
Tidak kuat hati untuk meneruskan rasa ini,
Karena kau dan aku belum sepenuhnya mencintai,
Namun izinkan aku untuk memeluk rasa ini dalam-dalam, bersamamu,
Hingga akhirnya kau tau bahwa tak ada yang bisa mengalahkan ketakutanku,
Selamat datang dalam jiwa yang sungguh aku idam-idamkan,
Terima kasih atas segala perlakuan manis yang kau tuturkan,
Aku bahagia, benar-benar bahagia menjadi orang yang dekat denganmu,
Dan aku mohon, jangan biarkan rasa ini menghilang begitu saja ke antah berantah.
Membaca sekelumit puisi yang ia temui, tak sadar Mona melengkungkan senyumnya. Getaran dijiwanya perihal Ardin bertubi-tubi menusuk, merasakan penasaran yang mendalam. Belum lagi kedua tangannya yang tiba-tiba menggetar, ketika membaca puisi itu sambil mengingat sosok laki-laki yang akhir-akhir ini selalu ada untuknya, Ardin.
Ddrrttt … ddrrttt … ddrrt… Received message from Bu Endah
Mona, jangan lupa jam dua siang sudah berkumpul di butik ya. Pameran dimulai hari ini pukul empat sore. Kamu jangan sampai telat, terima kasih ya Cantik!
Pesan yang ditunggu-tunggu Mona pun tiba jua, ia mendapatkan bahwa hari ini pameran akan segera dibuka. Hari ini, perasaan campur aduk menghiasi hati Mona. Ntah itu soal Ardin atau pameran yang menjadi idaman semua model. Dan tak lama kemudian sang dosen datang memasuki kelas untuk memberikan pelajaran.
***
“Heh! Ternyata nanti malam Mona ada pameran di nih Mall. Kalian berdua mau temenin gue, kan?” tukas Ardin pada kedua temannya yang sedang rebahan di atas sofa, Wira dan Jacob.
Wira dan Jacob terdiam, dan melanjutkan sesi rebahan yang nikmat itu.
“Wira! Jacob! Lo sebagai teman gue yang paling baik dan selalu ada, mau kan kalian temanin gue ngeliat pameran itu? Gue pengen banget ngelihat Mona jalan di atas karpet merah, dirias cantik, dan … uh gue gak bisa bayangin dah!” lanjut Ardin walaupun belum ada balasan dari dua temannya itu.
“Bro bro! Coba lo lihat deh, ini beneran nanti malam ada Mona!” Ardin tak menyerah, ia memperlihatkan pamflet acara pameran dari media sosial Butik Nyonya Endah pada Wira dan Jacob. Dan, terdapat foto Mona dengan gaya khas model, tangannya di pinggang dan merekahnya senyuman di bibirnya.
“Iya deh, ntar malam gue temenin,” sahut Jacob yang melihat Ardin berapi-api untuk menghadiri acara tersebut.
“Iya, gue juga dah, mau mau!” balas Wira yang ikut-ikutan.
“Terima kasih banget ya bro! Hahaha,” Ardin langsung loncat-loncat ketika tau Wira dan Jacob tidak keberatan untuk menemaninya ke pamerannya Mona.
***
Ardin mengobrak-abrik lemarinya untuk mencari baju terbaik yang akan ia kenakan untuk menonton Mona. Namun, di dalam lemari Ardin hanya ada lima baju kemeja yang sudah pernah ia gunakan saat bertemu atau pergi bersama Mona.
“Haduh … ternyata baju gue sedikit amat ya!” ucapnya.
Ardin terus membolak-balikan baju yang tersisa di dalam lemarinya. “Yah … warnanya itu-itu aja, gak ada yang keren buat nonton Mona nanti malam. Ya kali gue pakai kemeja ini, mana buluk amat, lagi!” ungkap Ardin.
“Aha … !” Ardin menjentikan jarinya, pikirannya sudah mendarat pada Wira, si tajir itu.
Tanpa menunggu waktu lama, Ardin segera memanaskan mesin motornya dan pergi ke rumah Wira yang tak jauh dari kostannya.
Tok … tok … tok …
Seseorang perempuan membukakan pintu rumah, “Halo, Nak Ardin,” itu adalah Mamaknya Wira yang melengkungkan senyumannya. “Masuk … masuk … “ ajak mamaknya Wira.
“Siap, Te … “ balas Ardin yang langsung mengambil posisi duduk di sofa ruang tamu.
“Kamu sendirian aja ke sini? Jacob mana?” tanya maknya Wira.
“Sengaja gak ngajak Jacob, Te … “ jawab Ardin.
“Oh gitu, tante panggilkan Wira dulu ya di atas,” maknya Wira pun langsung menaiki anak tangga untuk ke lantai tiga, dimana kamar Wira berada. Bunyi sepatu tak … tuk … tak … tuk … terdengar sempurna di telinga Ardin yang juga menyimpulkan kalau itu sepatu mahalan.
Maknya Wira pun sudah sampai di depan pintu kamar Wira, sebelum mengetuk pintu pun terdengar suara obrolan dari dalam kamar.
“Besok kita harus ketemu sama Ribka ya Lus, dan gue harus tau siapa sebenarnya Bu Andya,” maknya Wira mendengar jelas sekali soal nama “Andya” itu. Tiba-tiba saja, d**a maknya Wira terasa sesak dan ingin rasanya mendobrak pintu kamar anak tunggalnya itu.
Sret … pintu pun terbuka dengan sempurna, “Mamak?! Sejak kapan Mak ada di sini?” tanya Wira pada maknya yang berdiri tegap di depannya.
“Dari tadi,” jawab maknya singkat.
“Hah? Seriusan dari tadi di sini? Kenapa gak ketok pintu aja, Mak?!” tukas Wira.
“Tadinya Mak mau ketok pintu, tapi mendengar nama perempuan itu, jadinya … “ Maknya Wira tampak menunduk.
“Mak … mak … “ wajah Wira ikutan lesu seperti maknya, Wira mencoba memegang bahu maknya.
“Ah, tau ah! Mak benar-benar …. “ Maknya Wira membalikan tubuhnya dan menghentakan kakinya pergi. “Oh iya, di bawah ada Ardin, cepetan samperin!” tambah maknya.
Wira menelan ludahnya dalam-dalam, ia pun mementokkan kepalanya perlahan ke dinding. “Begok banget ya gue! Apa gue nyakitin hati dan perasaan mamak, ya?” pikir Wira.
Tak lama kemudian, tanpa ada hentakan kaki dari seseorang, ada laki-laki melengkungkan senyumnya ke Wira. Dia adalah Ardin yang sudah sampai di lantai tiga, tepat di seberang kamar Wira.
“Wir! Gue datang!!!!” seru Ardin yang wajahnya bahagia, berbanding terbalik dengan Wira saat itu.
“Mana Jacob?” tanya Wira.
“Gak gue ajak,” jawab Ardin.
Wira yang merasa ini bukan sembarang pertemuan, langsung menembak pertanyaan ke Ardin, “Langsung ngomong aja deh, Din. Lo mau pinjem uang atau pinjam apaan ke gue?!”
“Hehehehe,” kekeh Ardin menampakkan gigi-giginya.
“Nah kan … “ balas Wira.